Tuesday, August 9, 2016

,

Bagaimana Cara Menghadapi Murid yang Ramai di Kelas

Dalam dunia belajar, saya sudah cukup kenyang "makan bangku sekolah" selama 17 tahun. Walaupun kalau ada kesempatan untuk "nambah" ya saya tetap siap. Tapi dalam dunia mengajar, saya benar-benar pendatang baru. Newbie. Amatir. 

Sebagai seorang guru dengan jam terbang yang belum tinggi, sering saya merasa kewalahan menghadapi murid-murid di kelas, misalnya ketika mereka ramai. Ramai di sini maksudnya adalah suasana kelas yang ramai karena siswa ngobrol sendiri-sendiri dengan temannya. 




Ngobrol memang adalah naluri, apalagi untuk orang Indonesia. Tapi ketika ngobrol dilakukan di kelas saat saya akan memulai pelajaran atau sedang menerangkan?. Saya tidak suka. Hehe, iya saya egois sekali untuk hal yang satu ini. Kenapa?. Karena:

1. Sesuatu yang belum selesai membuat mereka tidak siap menerima hal baru

2. Berbicara-dan-mendengarkan atau mendengarkan-teman-dan-mendengarkan-guru di satu waktu adalah hal yang tidak dapat dilakukan. Pasti ada satu yang "kalah", dan biasanya materi dari gurulah yang tidak terdengar.

3. Suara bising bisa mengganggu konsentrasi murid lain yang sedang menyimak pelajaran.

4. Suatu materi biasanya berhubungan dengan materi lain. Jika murid tidak paham dengan materi ini, bisa jadi mereka juga akan tidak paham dengan materi berikutnya. Akibatnya guru harus mengulang menjelaskan lagi. Sekali, dua kali, tiga kali mengulang it's okay. Tapi jika sampai berulang kali, ini tidak efektif. Belum lagi jika materinya ada banyak sekali. 

Bukan berarti saya ingin semua murid diam duduk anteng seperti robot. Tidak. Ada kalanya mereka saya beri jeda waktu bebas untuk mengerjakan soal, diskusi, bahkan ngobrol, main, dsb. Masing-masing guru memiliki batasan tersendiri kondisi seperti apa yang kondusif, tenang, ramai, gaduh, dsb. Ketika bagi saya kelas sudah termasuk dalam kondisi ramai-gaduh padahal saya sedang menjelaskan materi pokok, maka saat itulah saya mencoba mengondisikan kelas supaya kondusif.

Nah, ini adalah beberapa usaha yang coba saya lakukan dalam mengondisikan kelas:

1. Saya diam cukup lama, duduk di meja guru sambil memperhatikan kelas. 

Jika murid peka, lambat laun mereka akan sadar bahwa gurunya sedang menunggu mereka tenang. Atau jika tidak, akan ada satu-dua murid yang peka, lalu mengingatkan teman mereka untuk tenang. Iya kan?. Atau jika tidak ada yang peka sama sekali, lalu


2. Saya berdiri, bicara dengan suara yang dapat didengar oleh sebagian atau semua murid di kelas. 

"Ibu tunggu sampai kalian siap mengikuti pelajaran ya". Setelah itu perlahan murid-murid akan mulai menghentikan aktivitasnya dan memberikan perhatian.


3. Saya memberikan pertanyaan untuk salah satu murid. 

Pertanyaan yang diberikan bisa yang berkaitan dengan mereka, misal "Siapa saja yang tidak masuk hari ini? Kenapa tidak masuk?". Atau bisa juga pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran, misal "Ada yang masih ingat materi minggu lalu?", "Ada yang tau apa itu sistem komputer?", dll. 

Dengan memberikan pertanyaan, akan terjadi interaksi antara guru dengan murid. Murid pun juga akan memberikan perhatian agar mereka bisa menjawab.


4. Saya menyampaikan alasan mengapa penting belajar materi tentang ini. 

Biasanya ada murid yang mengkritisi untuk apa sih ada materi tertentu. Dulu saya saat sekolah juga sering bertanya-tanya, kenapa sih saya perlu belajar matematika persamaan garis x dan y, cos, tangen dll, emang nanti kalo udah tau terus buat apa?. Matematika yang penting udah bisa tambah, kurang, kali, bagi kan cukup. Lalu bertahun kemudian saya baru tau kalau ilmu persamaan garis x dan y itu banyak digunakan, salah satunya yaitu di pemrograman.

Nah, untuk mengantisipasi hal ini, saya menjelaskan apa tujuan dari belajar suatu materi. Jika sudah tau apa kegunaannya, mayoritas murid akan paham di awal sekaligus semakin penasaran. Dengan demikian semakin mudah untuk menarik perhatian mereka dalam mengikuti penjelasan.


5. Saya mengaitkan materi dengan apa yang mereka ketahui.

Menjelaskan sesuatu yang baru, apalagi yang abstrak akan sulit diterima oleh murid. Jika mereka sulit menerima sesuatu, akibatnya murid menjadi tidak paham, lalu kadang tidak ingin mengikuti pelajaran ("ah, nggak mudeng"). Makanya saya mencoba menghubungkan sesuatu (yang masih asing bagi murid tersebut), dengan sesuatu yang lebih familiar dengan mereka.

Misalnya ketika saya menjelaskan tentang hardware/perangkat keras komputer dengan software/perangkat lunak komputer. Saya jelaskan perumpamaannya, bahwa ibarat manusia, tubuh adalah hardware sedangkan nyawa adalah software. Tubuh bisa kita lihat, sedangkan nyawa tidak. Tapi jika tubuh tanpa nyawa, maka seorang manusia akan mati. Ada, tapi tidak bisa beraktivitas. Begitu juga dengan komputer. Lalu saya tambahkan pula dengan memberikan contoh-contoh hardware dan software. Dan seterusnya.

Memberikan perumpamaan adalah salah satu hal yang efektif. Ini sekaligus tantangan bagi guru untuk bisa mencari perumpamaan yang sederhana, tapi jelas dan bisa membuat murid paham.


6. Mengeraskan suara.

Ini bukan bagian favorit saya, tapi yaa kadang saya lakukan juga jika sudah menthok. Saya mengeraskan suara untuk bisa mengimbangi suara-suara berdengung di kelas. Dengan ini, saya bisa mendapatkan perhatian dari murid kembali.


7. Menghampiri murid

Walaupun sudah mencoba berbagai cara, kadang adaa saja murid yang ngobrolnya tidak berhenti. Biasanya saya hampiri, lalu saya tanya "Lagi ngobrolin apa to nduk?. Coba maju ke depan, biar kita semua bisa dengar".


8. Memberi peringatan

Ketika sudah pol menthok, memberi peringatan adalah salah satu cara instan menurut saya. Misalnya, "Yang ramai sendiri nanti Ibu suruh maju mengerjakan soal", "Kalau kalian masih ramai nanti pulangnya makin siang ya", dll.

---

Sekian dulu yang sejauh ini saya coba. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menunjukkan bahwa saya sudah canggih, melainkan untuk sharing. Syukur-syukur ada yang mengalami hal serupa dan saya bisa dapat tambahan masukan yang sebelumnya tidak terpikirkan. 

Menjalin hubungan dengan manusia adalah sesuatu yang kompleks. Bagi yang punya pengalaman serupa atau yang memiliki tips yang lebih efektif, bisa tuliskan di komentar ya. Terima kasih dan salam hangat :)

Share:

3 comments:

  1. Jadi ingat film Freedom Writers! Pendidik-pendidik kita ini memang harus lebih banyak mendengar, mengenal, dan memahami mereka :D

    Semangat dek Bu Guru :9

    ReplyDelete