Wednesday, September 9, 2015

Skripsi: Step by Step

Hari Senin tanggal 7 September kemarin adalah hari pertama masuk kuliah di (mantan) kampusku. Kalo masih awal kuliah gini, masih pada semangat biasanya. Selamat kuliah buat para mahasiswa semester 1, 3, 5, 7, 9 dst. 

Ngomong-ngomong soal semester berapa, mahasiswa yang masuk semester 7 ke atas berarti udah bisa dibilang mahasiswa tingkat akhir kan ya. Berhubung udah tingkat akhir, biasanya udah bebas dari beban mata kuliah teori ataupun praktek. Udah waktunya untuk mengambil 6 SKS pamungkas. Yap, Tugas Akhir Skripsi. 

"Hallo mahasiswa tingkat akhir, skripsi apa kabar?." Huehehehe *senyum manis, lalu dikeroyok rame-rame*. 

Kalau ada kata mahasiswa tingkat akhir, yang kebayang-bayang adalah seorang mahasiswa, tongkrongannya di perpus, kerjaannya buka-buka buku sama jurnal, ketik ini-itu di laptop, atau duduk anteng di depan ruang dosen, nengok mulu tiap ada yang lewat, bawa tumpukan kertas tebel yang berat, kadang piyambakan pula. Hiks lah. Sedangkan kalau ada kata skripsi, yang terlintas di pikiran adalah sebuah perjuangan yang tak henti-henti. Lebay?. Mungkin karena kamu belum ngerasain sendiri. Hihi.

Percaya deh, skripsi akan bikin kamu punya banyak hal buat diceritain. Let me share sedikit cerita tentang skripsi yang (Alhamdulillahirobbil'alamin) udah aku laluin :). Ini step by step yang kemarin mau-nggak-mau aku lewatin waktu ngerjain skripsi. Bisa jadi beda sama orang lain ya. Selain beda nasib, beda kahanan, perbedaan ini juga karena tiap program studi bisa punya kebijakan yang beda. Makan B*ng-beng aja bisa beda. Eh. 


1. Mencari Masalah (Judul)
2. Mengajukan Proposal Skripsi
3. Bimbingan
4. Validasi Instrumen
5. Mengurus Surat Izin Penelitian
6. Penelitian
7. Olah Data Hasil Penelitian
8. Bimbingan (Lagi)
9. Mengurus Izin Ujian Skripsi
10. Mengajukan Jadwal Ujian Skripsi
11. Menunggu Pengumuman Pelaksanaan Ujian Skripsi
12. Ujian Skripsi
13. Revisi
14. Jurnal

15. Mengurus Nilai Skripsi


Baru liat pintu ruangan dosbing aja rasanya udah nggak karuan
Dari 15 step di atas, kamu udah sampai poin ke berapa kaks?. Keep calm. Tep kudu semangat pokoknya. 

Oh iya, tahun kemarin ada wacana buat menghapuskan Skripsi sebagai syarat kelulusan S1 di Indonesia. Andai ada yang tanya pendapat aku setuju atau nggak, aku bakal jawab, "Nggak setuju". Why?. Karena buat aku, cuma orang-orang lemah yang pengen Skripsi dihapusin. Skripsi emang "cuma" karya ilmiah, nggak jauh beda dari karya tulis yang lain. Tapi perjuangan di baliknya itu yang bikin beda. Enam semester aku kuliah, (katakanlah) aku udah cukup banyak diajarin buat jadi pintar. Dua semester aku ngerjain skripsi, aku diajarin buat punya mental kuat. Seleksi alam kecil-kecilan dimulai. Sekian.


“Bicara tentang skripsi adalah bicara tentang mengalahkan diri sendiri” ~ Pak Djoko Santoso, 2015
Hari Senin tanggal 7 September kemarin adalah hari pertama masuk kuliah di (mantan) kampusku. Kalo masih awal kuliah gini, masih pada semangat biasanya. Selamat kuliah buat para mahasiswa semester 1, 3, 5, 7, 9 dst. 

Ngomong-ngomong soal semester berapa, mahasiswa yang masuk semester 7 ke atas berarti udah bisa dibilang mahasiswa tingkat akhir kan ya. Berhubung udah tingkat akhir, biasanya udah bebas dari beban mata kuliah teori ataupun praktek. Udah waktunya untuk mengambil 6 SKS pamungkas. Yap, Tugas Akhir Skripsi. 

"Hallo mahasiswa tingkat akhir, skripsi apa kabar?." Huehehehe *senyum manis, lalu dikeroyok rame-rame*. 

Kalau ada kata mahasiswa tingkat akhir, yang kebayang-bayang adalah seorang mahasiswa, tongkrongannya di perpus, kerjaannya buka-buka buku sama jurnal, ketik ini-itu di laptop, atau duduk anteng di depan ruang dosen, nengok mulu tiap ada yang lewat, bawa tumpukan kertas tebel yang berat, kadang piyambakan pula. Hiks lah. Sedangkan kalau ada kata skripsi, yang terlintas di pikiran adalah sebuah perjuangan yang tak henti-henti. Lebay?. Mungkin karena kamu belum ngerasain sendiri. Hihi.

Percaya deh, skripsi akan bikin kamu punya banyak hal buat diceritain. Let me share sedikit cerita tentang skripsi yang (Alhamdulillahirobbil'alamin) udah aku laluin :). Ini step by step yang kemarin mau-nggak-mau aku lewatin waktu ngerjain skripsi. Bisa jadi beda sama orang lain ya. Selain beda nasib, beda kahanan, perbedaan ini juga karena tiap program studi bisa punya kebijakan yang beda. Makan B*ng-beng aja bisa beda. Eh. 


1. Mencari Masalah (Judul)
2. Mengajukan Proposal Skripsi
3. Bimbingan
4. Validasi Instrumen
5. Mengurus Surat Izin Penelitian
6. Penelitian
7. Olah Data Hasil Penelitian
8. Bimbingan (Lagi)
9. Mengurus Izin Ujian Skripsi
10. Mengajukan Jadwal Ujian Skripsi
11. Menunggu Pengumuman Pelaksanaan Ujian Skripsi
12. Ujian Skripsi
13. Revisi
14. Jurnal

15. Mengurus Nilai Skripsi


Baru liat pintu ruangan dosbing aja rasanya udah nggak karuan
Dari 15 step di atas, kamu udah sampai poin ke berapa kaks?. Keep calm. Tep kudu semangat pokoknya. 

Oh iya, tahun kemarin ada wacana buat menghapuskan Skripsi sebagai syarat kelulusan S1 di Indonesia. Andai ada yang tanya pendapat aku setuju atau nggak, aku bakal jawab, "Nggak setuju". Why?. Karena buat aku, cuma orang-orang lemah yang pengen Skripsi dihapusin. Skripsi emang "cuma" karya ilmiah, nggak jauh beda dari karya tulis yang lain. Tapi perjuangan di baliknya itu yang bikin beda. Enam semester aku kuliah, (katakanlah) aku udah cukup banyak diajarin buat jadi pintar. Dua semester aku ngerjain skripsi, aku diajarin buat punya mental kuat. Seleksi alam kecil-kecilan dimulai. Sekian.


“Bicara tentang skripsi adalah bicara tentang mengalahkan diri sendiri” ~ Pak Djoko Santoso, 2015

Sunday, September 6, 2015

Ngomongin Media Sosial

Social Media in a Day
Apa yang tidak ada di masa sekarang, bisa saja akan ada di masa mendatang.. (Disma, 2015)

Eh, pernyataan di atas ini lagi ngomongin soal teknologi kook. Jangan baper duluan deh. Wek. Zaman sekarang emang beda banget ya sama zaman dulu. Dulu punya HP Nokiyem yang layarnya warna ijo aja rasanya udah seneng banget. Pol mentok hiburannya mainan game Snake. Kalo nggak ya ngutik-utik aransemen buat bikin ringtone monophonic. Pernah ngerasain nggak?. Yahay. Nggak kayak sekarang, bawaannya udah pada pake smartphone yang bisa buat apalah-apalah. Salah satu kebisaannya smartphone, apalagi kalo bukan buat mengakses media sosial (medsos).

Oh iya, jadi sebelum bikin tulisan ini, aku sempetin buat cari referensi dengan tanya ke temen-temen. Maklum, kebawa iklim skripsi. Apa-apa bawaannya harus ada sumber yang jelas. Begini kira-kira.

Medsos itu…?

Medsos menurut Wikipedia adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi.

Kalau menurut Rifa Afiana (2015) Medsos itu berasal dari kata sosial yang artinya: tidak sendiri, dan media: alat yang digunakan untuk menyebarkan informasi. Jadi medsos adalah: simpulkan sendiri. Ngekk.

Sedangkan menurut Akhi Haruni (2015) medsos itu gimana caranya kita mengapresiasi diri sendiri dan orang lain. Hmm, leh uga.

Pendapat paling ilmiah diperoleh dari Hanifah Fasiyani (2015), bahwasanya medsos itu tempat buat  naroh informasi, di sana kita bisa ngasih tau dan dikasih tau.

Kalau menurut aku, media sosial itu alat bantu buat kita dalam bersosialisasi via dunia maya. Secara, manusia kan emang tercipta sebagai makhluk sosial. Sosial itu pasti, sosialita itu pilihan (lan kahanan).

Punya Medsos apa aja?

Medsos zaman sekarang ada banyak macamnya. Ngitungin jumlah medsos sama susahnya kayak ngitung jumlah hari yang telah aku lewati tanpa melupakanmu (nah lho). Tanpa membedakan klasifikasinya, ada beberapa yang udah familiar buat kita, kayak Facebook, Twitter, Instagram, Path, Tumblr, Google+, Blog, Medium, LinkedIn, Ask.fm, dll. Masing-masing medsos punya karakteristik dan keasikan tersendiri. Makanya kadang ngerasa nggak cukup kalau cuma eksis di 1 akun medsos. Pagi-pagi buka IG, tutup IG, buka Path, tutup Path, buka Twitter, tutup Twitter, buka FB, tutup FB, buka IG… gitu aja terus sampai Nobita lulus SD.

Kata @akhiharuni, dia punya banyak akun medsos (dih, gayak). Ada Path, Twitter, Wordpress, Tumblr, Sebangsa, Facebook, Wattpad, Foursquare, Whatsapp, BBM, dll.  Tapi yang paling favorit buat jeng Akhi sih katanya medsos Sebangsa. Alasannya karena belum banyak yang pake jadi privasinya masih kejaga. *Sekalian promo Sebangsa*.

Kalo kata @hanijava, dia juga punya banyak akun medsos (temenku pada eksis-eksis). Dari zamannya masih pake MIRC, MXit, Friendster sampai FB, Twitter, Blog, Tumblr, Path, IG, dll dll. Dari sekian banyaknya, semua itu jadi favorit karena semua sempetin dia buka (kalo lagi ada kuota).

Ada cerita yang beda dari @Azaz_Azashi, akun medsos nya dia standar, ada FB, Twitter, Path, IG, Line, BBM, WA. Tapi lebih sering jadi silent reader, jarang update atau ngepost. Tipikal orang yang maunya kepo tapi nggak mau dikepoin nih (huu).

Ngapain aja di medsos..?

Aku sendiri termasuk cukup aktif di dunia medsos. Maklum, aku mah cah selo yang nggak punya gawean (eh kalo punya info lowongan kabarin dong *duh malah curhat*). Tapi aku pribadi senengnya membeda-bedakan perlakuan terhadap masing-masing medsos sih *macak ibu tiri*.  

  • Facebook:

Akun medsos paling senior dibanding akun medsosku yang lain (setelah Friendster). Facebook masih asik kok, karena menurutku ini medsos yang fiturnya lengkap. Fitur buat nyediain info, ada. Album foto, ada. Upload video, ada. Main game, ada. Tautan ke akun yang lain juga bisa. Ngepoin mantan juga bisa (eh). Bahayanya, karena saking lengkapnya itu tadi, kadang informasi tentang kita bisa disalahgunain sama orang lain. Jadi ati-ati aja, bijak dalam memberikan informasi.

Sekarang sih rada jarang update FB. Padahal dulu bisa betah tiap hari nongkrongin Home FB. Bosen kalik ya. Ngepost di FB biasanya kalau ada something yang penting, atau ada yang pengen banget dishare. Kalau enggak ada, ya nggak mengada-adakan.

Tambahan, sekarang males buka FB karena banyak berita hoax yang dishare di sini. Kalo boleh saran sih.. Please, read carefully and think wisely before you share something.  Sometimes, it can be annoying for other people.

  • Twitter:

Asiknya Twitter itu, kita bisa gampang update info terkini, seru, menarik dan real time. Dengan catatan: tergantung siapa yang kamu follow tentunya. Samaan kayak Ipeh, Twitter seringnya aku pake buat share apa-apa yang lagi happening atau nyepam pake curhatan dan tweet geje. Soalnya tweet kita kan makin lama bakal makin tenggelam di bawah, susah buat dikepoin. Semacam menemukan wadah buat menyalurkan galau terpendam. Watcha!.

  • Instagram:

Medsos berbasis foto ini menurutku lebih pas buat share sesuatu yang precious, lucu, unik, dan artistic (instagramable, istilahnya). Foto moment yang kece, foto yang punya cerita, foto barang yang unik, foto keren yang ala-ala prewed, foto dolan ke mana, foto meme-meme lucu, foto endorse, atau foto makanan yang seems yummy termasuk leh uga lah buat dipost di sini. Kalo kata Ipeh, buat capture gambar yang momennya priceless. Nah.

Kalau boleh sedikit bilang sih, agak zzz sama temen yang upload banyak foto dengan moment yang sama di satu waktu. Paham maksudnya?. Paham lah ya. Jarang ngepost foto, sekalinya upload bisa 10 foto sekaligus. Bikin post temen lain jadi ketutup deh. Mending satu, satu, tapi berkala, malah lebih oke. Istilahnya, istiqomah gitu. *macak syar’i*.

  • Path:


Kalau punya moment –moment yang berkesan, kayaknya cocok deh dipost di Path. Path asik karena lebih kekinian dan User Interface-nya juga kece.  Bisa share di akun lain juga, kayak Tumblr, FB, Twitter. Di sini antara kepoable tapi  privasinya tetep kejaga sih. Apalagi ada ada fitur seen nya, enak buat memantau siapa yang kepo, tapi jadi nggak enak kalo kita jadi pihak yang kepo. Ahak.

Nggak enaknya (lagi), perlu koneksi yang berkualitas buat buka Path. Selain itu, perlu nyiapin mental juga. Soalnya di sini isinya orang-orang bahagia semua. Check in atau upload foto di kafe, di tempat makan mahal, di mall, di tempat liburan kece, sama gebetan, sama temen-temen,  sama pacar,  bla bla bla gampang ditemuin di sini. Dedek mah apa bang.

  • Tumblr:

Tumblr ini semacam blog yang lebih kece kalo menurut aku. Kalau blog isinya lebih factual, di sini aku ngerasa lebih fiksi. Mungkin karena aku follow akun-akun yang isi tulisannya bikin baper kalik ya, hehe. Biasanya di Tumblr aku post dengan tulisan-tulisan yang ya-itu-tadi-bikin-baper. Bisa dibilang, bahasa yang enak dirasa gitu deh. Beda lah ya tulisan-tulisan yang ada di Medium, Blog, Kaskus sama Tumblr. Semua punya taste masing-masing.

  • Google+, ask.fm, dll :

Punya sih, tapi jarang disambangin. Boleh lah kalo ada yang mau share.

Hasil Tanya-tanya ke R. Guruh Pamungkas, S.Pd.









Hasil Tanya-tanya ke Hanifah
























Selain media sosial, ada juga beberapa aplikasi buat chatting. Kalau di sini, aku bedain ya. Kenapa? Ya suka-suka aku aja sih. Hehe. Enggak, enggak, yaa karena media sosial kan lebih ke media buat bersosialisasi ke banyak orang di satu waktu. Kalau aplikasi chatting, di satu waktu cuma buat  berkomunikasi ke satu orang (atau beberapa orang tertentu aja), gitu. Aplikasi chatting juga banyak, ada YM (eh sekarang masih jaman ga ya?), BBM, WhatsApp, Line, KakaoTalk, WeChat, Skype, bla bla bla.

So...?


It’s okay for having so many social media. Punya media sosial diniatin biar kita bisa mengikuti perkembangan saat ini, biar nggak kudet, biar nggak ketinggalan informasi. Di samping niatan yang baik, dibarengin sama bermedsos yang baik juga. Walaupun di dunia maya, tapi kan tetep aja kita lagi berhubungan sama orang lain. Kata R. Guruh Pamungkas, S.Pd. (2015), "Ati ati kalo pake medsos. Salah ngomong dikit aja bisa rame. Salah komentar aja bisa rame. Tujuannya becanda, eh yg nangkep spaneng aja bisa rame. At least semua balik ke orang2nya mau gimana". Yap, ada semacam peraturan tak tertulis yang baiknya tak kita abaikan. Oh iya, bijak dalam bermedsos itu penting. 
Think twice, thrice, and so many times before posting something. Once you post it, it belongs to others, not just yours anymore.
Social Media in a Day
Apa yang tidak ada di masa sekarang, bisa saja akan ada di masa mendatang.. (Disma, 2015)

Eh, pernyataan di atas ini lagi ngomongin soal teknologi kook. Jangan baper duluan deh. Wek. Zaman sekarang emang beda banget ya sama zaman dulu. Dulu punya HP Nokiyem yang layarnya warna ijo aja rasanya udah seneng banget. Pol mentok hiburannya mainan game Snake. Kalo nggak ya ngutik-utik aransemen buat bikin ringtone monophonic. Pernah ngerasain nggak?. Yahay. Nggak kayak sekarang, bawaannya udah pada pake smartphone yang bisa buat apalah-apalah. Salah satu kebisaannya smartphone, apalagi kalo bukan buat mengakses media sosial (medsos).

Oh iya, jadi sebelum bikin tulisan ini, aku sempetin buat cari referensi dengan tanya ke temen-temen. Maklum, kebawa iklim skripsi. Apa-apa bawaannya harus ada sumber yang jelas. Begini kira-kira.

Medsos itu…?

Medsos menurut Wikipedia adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi.

Kalau menurut Rifa Afiana (2015) Medsos itu berasal dari kata sosial yang artinya: tidak sendiri, dan media: alat yang digunakan untuk menyebarkan informasi. Jadi medsos adalah: simpulkan sendiri. Ngekk.

Sedangkan menurut Akhi Haruni (2015) medsos itu gimana caranya kita mengapresiasi diri sendiri dan orang lain. Hmm, leh uga.

Pendapat paling ilmiah diperoleh dari Hanifah Fasiyani (2015), bahwasanya medsos itu tempat buat  naroh informasi, di sana kita bisa ngasih tau dan dikasih tau.

Kalau menurut aku, media sosial itu alat bantu buat kita dalam bersosialisasi via dunia maya. Secara, manusia kan emang tercipta sebagai makhluk sosial. Sosial itu pasti, sosialita itu pilihan (lan kahanan).

Punya Medsos apa aja?

Medsos zaman sekarang ada banyak macamnya. Ngitungin jumlah medsos sama susahnya kayak ngitung jumlah hari yang telah aku lewati tanpa melupakanmu (nah lho). Tanpa membedakan klasifikasinya, ada beberapa yang udah familiar buat kita, kayak Facebook, Twitter, Instagram, Path, Tumblr, Google+, Blog, Medium, LinkedIn, Ask.fm, dll. Masing-masing medsos punya karakteristik dan keasikan tersendiri. Makanya kadang ngerasa nggak cukup kalau cuma eksis di 1 akun medsos. Pagi-pagi buka IG, tutup IG, buka Path, tutup Path, buka Twitter, tutup Twitter, buka FB, tutup FB, buka IG… gitu aja terus sampai Nobita lulus SD.

Kata @akhiharuni, dia punya banyak akun medsos (dih, gayak). Ada Path, Twitter, Wordpress, Tumblr, Sebangsa, Facebook, Wattpad, Foursquare, Whatsapp, BBM, dll.  Tapi yang paling favorit buat jeng Akhi sih katanya medsos Sebangsa. Alasannya karena belum banyak yang pake jadi privasinya masih kejaga. *Sekalian promo Sebangsa*.

Kalo kata @hanijava, dia juga punya banyak akun medsos (temenku pada eksis-eksis). Dari zamannya masih pake MIRC, MXit, Friendster sampai FB, Twitter, Blog, Tumblr, Path, IG, dll dll. Dari sekian banyaknya, semua itu jadi favorit karena semua sempetin dia buka (kalo lagi ada kuota).

Ada cerita yang beda dari @Azaz_Azashi, akun medsos nya dia standar, ada FB, Twitter, Path, IG, Line, BBM, WA. Tapi lebih sering jadi silent reader, jarang update atau ngepost. Tipikal orang yang maunya kepo tapi nggak mau dikepoin nih (huu).

Ngapain aja di medsos..?

Aku sendiri termasuk cukup aktif di dunia medsos. Maklum, aku mah cah selo yang nggak punya gawean (eh kalo punya info lowongan kabarin dong *duh malah curhat*). Tapi aku pribadi senengnya membeda-bedakan perlakuan terhadap masing-masing medsos sih *macak ibu tiri*.  

  • Facebook:

Akun medsos paling senior dibanding akun medsosku yang lain (setelah Friendster). Facebook masih asik kok, karena menurutku ini medsos yang fiturnya lengkap. Fitur buat nyediain info, ada. Album foto, ada. Upload video, ada. Main game, ada. Tautan ke akun yang lain juga bisa. Ngepoin mantan juga bisa (eh). Bahayanya, karena saking lengkapnya itu tadi, kadang informasi tentang kita bisa disalahgunain sama orang lain. Jadi ati-ati aja, bijak dalam memberikan informasi.

Sekarang sih rada jarang update FB. Padahal dulu bisa betah tiap hari nongkrongin Home FB. Bosen kalik ya. Ngepost di FB biasanya kalau ada something yang penting, atau ada yang pengen banget dishare. Kalau enggak ada, ya nggak mengada-adakan.

Tambahan, sekarang males buka FB karena banyak berita hoax yang dishare di sini. Kalo boleh saran sih.. Please, read carefully and think wisely before you share something.  Sometimes, it can be annoying for other people.

  • Twitter:

Asiknya Twitter itu, kita bisa gampang update info terkini, seru, menarik dan real time. Dengan catatan: tergantung siapa yang kamu follow tentunya. Samaan kayak Ipeh, Twitter seringnya aku pake buat share apa-apa yang lagi happening atau nyepam pake curhatan dan tweet geje. Soalnya tweet kita kan makin lama bakal makin tenggelam di bawah, susah buat dikepoin. Semacam menemukan wadah buat menyalurkan galau terpendam. Watcha!.

  • Instagram:

Medsos berbasis foto ini menurutku lebih pas buat share sesuatu yang precious, lucu, unik, dan artistic (instagramable, istilahnya). Foto moment yang kece, foto yang punya cerita, foto barang yang unik, foto keren yang ala-ala prewed, foto dolan ke mana, foto meme-meme lucu, foto endorse, atau foto makanan yang seems yummy termasuk leh uga lah buat dipost di sini. Kalo kata Ipeh, buat capture gambar yang momennya priceless. Nah.

Kalau boleh sedikit bilang sih, agak zzz sama temen yang upload banyak foto dengan moment yang sama di satu waktu. Paham maksudnya?. Paham lah ya. Jarang ngepost foto, sekalinya upload bisa 10 foto sekaligus. Bikin post temen lain jadi ketutup deh. Mending satu, satu, tapi berkala, malah lebih oke. Istilahnya, istiqomah gitu. *macak syar’i*.

  • Path:


Kalau punya moment –moment yang berkesan, kayaknya cocok deh dipost di Path. Path asik karena lebih kekinian dan User Interface-nya juga kece.  Bisa share di akun lain juga, kayak Tumblr, FB, Twitter. Di sini antara kepoable tapi  privasinya tetep kejaga sih. Apalagi ada ada fitur seen nya, enak buat memantau siapa yang kepo, tapi jadi nggak enak kalo kita jadi pihak yang kepo. Ahak.

Nggak enaknya (lagi), perlu koneksi yang berkualitas buat buka Path. Selain itu, perlu nyiapin mental juga. Soalnya di sini isinya orang-orang bahagia semua. Check in atau upload foto di kafe, di tempat makan mahal, di mall, di tempat liburan kece, sama gebetan, sama temen-temen,  sama pacar,  bla bla bla gampang ditemuin di sini. Dedek mah apa bang.

  • Tumblr:

Tumblr ini semacam blog yang lebih kece kalo menurut aku. Kalau blog isinya lebih factual, di sini aku ngerasa lebih fiksi. Mungkin karena aku follow akun-akun yang isi tulisannya bikin baper kalik ya, hehe. Biasanya di Tumblr aku post dengan tulisan-tulisan yang ya-itu-tadi-bikin-baper. Bisa dibilang, bahasa yang enak dirasa gitu deh. Beda lah ya tulisan-tulisan yang ada di Medium, Blog, Kaskus sama Tumblr. Semua punya taste masing-masing.

  • Google+, ask.fm, dll :

Punya sih, tapi jarang disambangin. Boleh lah kalo ada yang mau share.

Hasil Tanya-tanya ke R. Guruh Pamungkas, S.Pd.









Hasil Tanya-tanya ke Hanifah
























Selain media sosial, ada juga beberapa aplikasi buat chatting. Kalau di sini, aku bedain ya. Kenapa? Ya suka-suka aku aja sih. Hehe. Enggak, enggak, yaa karena media sosial kan lebih ke media buat bersosialisasi ke banyak orang di satu waktu. Kalau aplikasi chatting, di satu waktu cuma buat  berkomunikasi ke satu orang (atau beberapa orang tertentu aja), gitu. Aplikasi chatting juga banyak, ada YM (eh sekarang masih jaman ga ya?), BBM, WhatsApp, Line, KakaoTalk, WeChat, Skype, bla bla bla.

So...?


It’s okay for having so many social media. Punya media sosial diniatin biar kita bisa mengikuti perkembangan saat ini, biar nggak kudet, biar nggak ketinggalan informasi. Di samping niatan yang baik, dibarengin sama bermedsos yang baik juga. Walaupun di dunia maya, tapi kan tetep aja kita lagi berhubungan sama orang lain. Kata R. Guruh Pamungkas, S.Pd. (2015), "Ati ati kalo pake medsos. Salah ngomong dikit aja bisa rame. Salah komentar aja bisa rame. Tujuannya becanda, eh yg nangkep spaneng aja bisa rame. At least semua balik ke orang2nya mau gimana". Yap, ada semacam peraturan tak tertulis yang baiknya tak kita abaikan. Oh iya, bijak dalam bermedsos itu penting. 
Think twice, thrice, and so many times before posting something. Once you post it, it belongs to others, not just yours anymore.

Monday, January 12, 2015

Contoh Program Sorting dengan Algoritma Selection

/*Program untuk melakukan pengurutan data (sorting)
  dengan menggunakan metode Selection
  berbasis Java
*/

import java.util.Scanner;
public class selection {
    public static void main(String[] args) {
        int data[] = new int[100];
        int index;

        System.out.print("Masukkan banyak data : ");
        Scanner varinput = new Scanner(System.in);
        int n = varinput.nextInt();

        for(int i=0;i<n;i++){
            System.out.print("Data ke-"+(1+i)+" : ");
            data[i] = varinput.nextInt();
        }
       
        for(int i=0;i<n-1;i++){
            index=i;
            for(int j=i+1;j<n;j++){
                if(data[j]<data[index]){
                    index=j;
                }
            }

                if(index != i){
                    int tempdata=data[i];
                    data[i] = data[index];
                    data[index] = tempdata;
                }
                         
        }

        for(int i=0;i<n;i++){
            System.out.println(data[i]);
        }
    }

}

Output

/*Program untuk melakukan pengurutan data (sorting)
  dengan menggunakan metode Selection
  berbasis Java
*/

import java.util.Scanner;
public class selection {
    public static void main(String[] args) {
        int data[] = new int[100];
        int index;

        System.out.print("Masukkan banyak data : ");
        Scanner varinput = new Scanner(System.in);
        int n = varinput.nextInt();

        for(int i=0;i<n;i++){
            System.out.print("Data ke-"+(1+i)+" : ");
            data[i] = varinput.nextInt();
        }
       
        for(int i=0;i<n-1;i++){
            index=i;
            for(int j=i+1;j<n;j++){
                if(data[j]<data[index]){
                    index=j;
                }
            }

                if(index != i){
                    int tempdata=data[i];
                    data[i] = data[index];
                    data[index] = tempdata;
                }
                         
        }

        for(int i=0;i<n;i++){
            System.out.println(data[i]);
        }
    }

}

Output

Monday, January 5, 2015

Membuat Program Faktorial Angka

/* Tugas membuat program faktorial menggunakan java
 * memasukkan input dari keyboard berupa angka 1 sampai 20
 * lalu akan dicari hasil faktorialnya (n!)
 * jika angka yang dimasukkan di luar range, maka akan ada peringatan
 * oleh Disma Ariyanti Widodo
 */


import java.util.Scanner;
public class Faktorial {
public static void main ( String [] args)
  {
    int input;
    long hasil = 1;
    System.out.println("===========================");
    System.out.println("     Program Faktorial");
    System.out.println("===========================");
 
    System.out.print("Masukkan sebuah angka (antara 1 - 20) : ");
    Scanner varinput = new Scanner ( System.in );
    input = varinput.nextInt();
 
    //memberi batasan input        
    if(input < 0 || input <=20){

        //menampilkan nilai faktorial dari input
System.out.print(input+"! = ");
        for (int i = input;i>0;i--){
            hasil *= i;
            if(i>1)
                System.out.print(i+" x ");
            else
                System.out.print(i);
        }
     
//menampilkan hasil faktorial
System.out.println(" = " + hasil);
   }

   //menampilkan peringatan jika input yang dimasukkan tidak ada di antara range
   else {
         System.out.println("Angka yang dimasukkan hanya antara 1-20 !");
        }
}

}

Program Untuk Menampilkan Faktorial Bilangan

Program Menampilkan Pesan Error Jika Angka Tidak Sesuai Range


/* Tugas membuat program faktorial menggunakan java
 * memasukkan input dari keyboard berupa angka 1 sampai 20
 * lalu akan dicari hasil faktorialnya (n!)
 * jika angka yang dimasukkan di luar range, maka akan ada peringatan
 * oleh Disma Ariyanti Widodo
 */


import java.util.Scanner;
public class Faktorial {
public static void main ( String [] args)
  {
    int input;
    long hasil = 1;
    System.out.println("===========================");
    System.out.println("     Program Faktorial");
    System.out.println("===========================");
 
    System.out.print("Masukkan sebuah angka (antara 1 - 20) : ");
    Scanner varinput = new Scanner ( System.in );
    input = varinput.nextInt();
 
    //memberi batasan input        
    if(input < 0 || input <=20){

        //menampilkan nilai faktorial dari input
System.out.print(input+"! = ");
        for (int i = input;i>0;i--){
            hasil *= i;
            if(i>1)
                System.out.print(i+" x ");
            else
                System.out.print(i);
        }
     
//menampilkan hasil faktorial
System.out.println(" = " + hasil);
   }

   //menampilkan peringatan jika input yang dimasukkan tidak ada di antara range
   else {
         System.out.println("Angka yang dimasukkan hanya antara 1-20 !");
        }
}

}

Program Untuk Menampilkan Faktorial Bilangan

Program Menampilkan Pesan Error Jika Angka Tidak Sesuai Range