Sunday, November 3, 2013

,

Temu Inspiratif Pengurus Semangat #November

Tulisan ini adalah dokumentasi saat Temu Inspiratif Pengurus Semangat (TIPS) BEM KM UNY yang dihadiri teman-teman pengurus BEM dan dibersamai oleh mas Diar Rosdayana (alumni UNY sekaligus pernah menjabat sebagai Kadept Dagri BEM KM UNY 2012). Ada beberapa bagian yang kutambahkan pendapatku sendiri di dalamnya. Tapi semoga tidak mengubah inti materinya ya.

Sedikit Tentang Mahasiswa…

Ketika kita lulus kuliah nanti, apa sih yang biasanya ditanyakan orang lain ?
“Sekarang kerja di mana ?”
“Sekarang kesibukannya apa ?”
“Sudah menikah belum ?”
“Sudah punya anak belum ?”

Tidak ada yang bertanya “IPKnya berapa ?”, “Nilai bahasa inggrisnya berapa ?”, dll. Akademis seolah tidak penting lagi. Yang penting adalah setelah itu kamu bisa apa. Apalagi pandangan masyarakat pada mahasiswa itu bahwa mahasiswa adalah orang yang apa-apa bisa. Bisa membetulkan TV, bisa memperbaiki atap rumah, bisa mengetik, dll. Masyarakat nggak mau tau dari jurusan apa kamu, yang mereka tau adalah kamu seorang mahasiswa dan kamu bisa segalanya. Wuih, ngalahin Dewa dong. Hehe.

Mahasiswa dengan anak kuliah itu beda. Apa bedanya ?

Kalau anak kuliah itu yaa dia di kampus hanya kuliah saja. Sedangkan kalau mahasiswa, dia di kampus untuk beraktivitas, tidak sekedar kuliah. Bisa berorganisasi, bisa juga bekerja. Karena masa kuliah itu kan sebuah kesempatan untuk memperbesar peluang, bukan satu-satunya peluang. Kenapa tidak kita bekerja sambil kuliah ?. Lugu sekali jika jawabannya : takut kuliahnya terganggu.

Bicara tentang Mahasiswa, ada sebuah cerita nih.

Jadi, mahasiswa itu dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu mahasiswa dengan nilai A (ada banyak nilai A dalam KHSnya), mahasiswa dengan nilai B, dan mahasiswa dengan nilai C. Nilai D tidak usah dibahas ya karena kalau dapat D kan sudah pasti tidak lulus.

Mahasiswa dengan nilai A adalah mereka yang study oriented. Rajin berangkat kuliah, rajin belajar, rajin mengerjakan tugas, tidak pernah melampaui deadline, bahkan belum dikasih tugas oleh dosen saja sudah mengumpulkan *lhoh. Biasanya setelah lulus kuliah, si A ini akan menjadi akademisi karena kepandaian dan ketelatenannya.

Kelompok kedua, yaitu mahasiswa dengan nilai B, yaitu mereka yang aktivis. Aktivis itu bukannya tidak pandai, tapi karena kesibukan ini-itu, sering meninggalkan kuliah, tidak terlalu konsen ke kuliah sehingga mendapat nilai B. Biasanya setelah lulus, si B ini akan menjadi praktisi karena keaktifan dan banyaknya pengalaman yang dia peroleh selama di kampus.

Terakhir, yakni mahasiswa dengan nilai C, yaitu mereka yang tidak aktif di kuliah dan juga tidak aktif di organisasi. Nilainya pas-pasan, pengalaman juga minim. Setelah lulus, si C inilah yang kelak menjadi anggota DPR dan menentukan kebijakan bagi si A dan si B. Maka ya wajar saja jika banyak kebijakan maupun peraturan yang semrawut karena di belakangnya ditokohi oleh si C ini.

Percaya ?. Hehe, ini hanyalah cerita kok. Tapi, siapa pula yang tau apakah ini bisa jadi kisah nyata atau tidak ?. Coba kita renungkan saja.

Intern Organisasi

1.      1.  Niat

(Mas Diar mengubah posisi duduknya) “Jika saya duduk seperti ini, saya dapat pahala atau tidak ?”.
(Mas Diar berdiri) “Jika saya berdiri seperti ini, saya dapat pahala atau tidak ?”
“Tergantung mas”, jawab beberapa pengurus.

Berdiri, jika hanya berdiri saja ya tidak berarti apa-apa. Duduk jika duduk saja ya tidak berarti apa-apa juga. Tapi duduk ataupun berdiri saat sholat bisa jadi pahala kan. Segala sesuatu itu memang tergantung pada niat (dan konteksnya)

2.       2. Ikhlas dan Jangan Riya

Jangan deh merasa layak dianggap berjasa. Misalnya merasa “Kegiatan itu sukses karena saya tuh yang jadi ketua panitianya”, “Acara itu sukses karena saya yang jadi sie acaranya”, “BEM itu hebat karena saya yang jadi Ketuanya”. Mending buang jauh-jauh saja perasaan seperti itu supaya tidak merasa kecewa saat posisi itu dihilangkan, Syndrom Pasca Kehilangan Kekuasaan namanya.

Ibarat beton dalam sebuah bangunan. Di suatu bangunan pasti ada betonnya supaya bangunan tersebut dapat berdiri. Tapi mana ada beton yang terlihat setelah bangunan tersebut jadi ?. Jika betonnya nampak atau keluar dari bangunan yang ada beton itu malah akan digergaji karena tidak enak dilihat. Maka ambillah ilmu Beton tersebut. Tidak diperlihatkan, tapi tetap menguatkan.

Lalu setelah selesai suatu urusan, tidak perlu lah disebut-sebut apa jasa kita. Kecuali untuk kepentingan konsultasi sih tidak apa-apa.

3.     3.  Merasa Penting

Menjadi apapun kita, ditempatkan di posisi apapun kita, percayalah bahwa kita berharga. Misalnya menjadi ketua ataupun sie perkap, kita pasti punya peranan penting di dalamnya. Bayangkan jika suatu kegiatan tanpa ada sie perkap, lalu bagaimana keperluan acara-acara tersebut disiapkan ?. Menjadi ketua pun tidak semudah yang kita bayangkan. Jika staf ada kesulitan, staf bisa mengeluh ke ketua. Jika koordinator/kadept ada kesulitan, mereka bisa mengeluh ke ketua. Tapi jika ketua yang ada masalah, dia bisa mengeluh ke siapa ?. selain itu, ketua juga memiliki tanggung jawab yang amat besar dibanding yang lain.

Walaupun seringnya sih, jika suatu kegiatan itu sukses, yang dipuji adalah ketuanya. Tapi jika suatu kegiatan itu gagal maka yang disalahkan adalah orang teknisnya. Jika suatu organisasi itu hebat, yang disanjung adalah ketuanya. Tapi jika suatu organisasi itu gagal, yang diremehkan adalah staf-stafnya. Duh, jangan gitu lah ya.

4.      4. Akrab

Masih menerapkan pola komunikasi robot ?. Misalnya nih, menghubungi kalau lagi ada perlunya aja. SMS isinya undangan rapat aja. Itu tuh pola komunikasi robot. Nggak enak ya. Beda jika yang dibangun adalah pola komunikasi yang humanis, tanya kabar misalnya.

Katanya sih, orang itu bisa akrab jika sudah makan bersama, main bersama dan tidur bersama *lhoh (misalnya waktu rapat kerja atau upgrading, gitu). Untuk yang satu ini, aku tambahin poin : sholat bersama. Hehe.


Bisa juga akrab itu dengan saling mengenal, saling menolong dan saling mendoakan. Dan ketika bertemu, jangan lupa untuk memberikan perangai yang terbaik. Caranya simple : senyum.

***

Setelah mas Diar selesai menyampaikan materi, TIPS dilanjutkan dengan sharing, baik sharing dengan mas Diar maupun sharing antar pengurus. Saking serunya sharing, senja mulai pudar dan berganti malam (duih, bahasaku). Bersama teman-teman dan kakak-kakak pengurus BEM KM memang selalu berhasil membuat semakin semangat dan semakin terinspirasi. Semangat Menginspirasi !.

"Coba kita lihat suasana di rektorat pada sore ini, romantis ya seperti kita. Setiap organisasi pasti memiliki romantismenya masing-masing" ~ mas Iman.

"Saya tidak bisa tanpa kalian" ~ mas Thoriq.

"Kabinet Indonesia Romantis" ~ mas Erdi.

Dan TIPS sore lalu pun ditutup dengan romantisme ala kita. Hehe.

Rektorat UNY, 2 November 2013


Tulisan ini adalah dokumentasi saat Temu Inspiratif Pengurus Semangat (TIPS) BEM KM UNY yang dihadiri teman-teman pengurus BEM dan dibersamai oleh mas Diar Rosdayana (alumni UNY sekaligus pernah menjabat sebagai Kadept Dagri BEM KM UNY 2012). Ada beberapa bagian yang kutambahkan pendapatku sendiri di dalamnya. Tapi semoga tidak mengubah inti materinya ya.

Sedikit Tentang Mahasiswa…

Ketika kita lulus kuliah nanti, apa sih yang biasanya ditanyakan orang lain ?
“Sekarang kerja di mana ?”
“Sekarang kesibukannya apa ?”
“Sudah menikah belum ?”
“Sudah punya anak belum ?”

Tidak ada yang bertanya “IPKnya berapa ?”, “Nilai bahasa inggrisnya berapa ?”, dll. Akademis seolah tidak penting lagi. Yang penting adalah setelah itu kamu bisa apa. Apalagi pandangan masyarakat pada mahasiswa itu bahwa mahasiswa adalah orang yang apa-apa bisa. Bisa membetulkan TV, bisa memperbaiki atap rumah, bisa mengetik, dll. Masyarakat nggak mau tau dari jurusan apa kamu, yang mereka tau adalah kamu seorang mahasiswa dan kamu bisa segalanya. Wuih, ngalahin Dewa dong. Hehe.

Mahasiswa dengan anak kuliah itu beda. Apa bedanya ?

Kalau anak kuliah itu yaa dia di kampus hanya kuliah saja. Sedangkan kalau mahasiswa, dia di kampus untuk beraktivitas, tidak sekedar kuliah. Bisa berorganisasi, bisa juga bekerja. Karena masa kuliah itu kan sebuah kesempatan untuk memperbesar peluang, bukan satu-satunya peluang. Kenapa tidak kita bekerja sambil kuliah ?. Lugu sekali jika jawabannya : takut kuliahnya terganggu.

Bicara tentang Mahasiswa, ada sebuah cerita nih.

Jadi, mahasiswa itu dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu mahasiswa dengan nilai A (ada banyak nilai A dalam KHSnya), mahasiswa dengan nilai B, dan mahasiswa dengan nilai C. Nilai D tidak usah dibahas ya karena kalau dapat D kan sudah pasti tidak lulus.

Mahasiswa dengan nilai A adalah mereka yang study oriented. Rajin berangkat kuliah, rajin belajar, rajin mengerjakan tugas, tidak pernah melampaui deadline, bahkan belum dikasih tugas oleh dosen saja sudah mengumpulkan *lhoh. Biasanya setelah lulus kuliah, si A ini akan menjadi akademisi karena kepandaian dan ketelatenannya.

Kelompok kedua, yaitu mahasiswa dengan nilai B, yaitu mereka yang aktivis. Aktivis itu bukannya tidak pandai, tapi karena kesibukan ini-itu, sering meninggalkan kuliah, tidak terlalu konsen ke kuliah sehingga mendapat nilai B. Biasanya setelah lulus, si B ini akan menjadi praktisi karena keaktifan dan banyaknya pengalaman yang dia peroleh selama di kampus.

Terakhir, yakni mahasiswa dengan nilai C, yaitu mereka yang tidak aktif di kuliah dan juga tidak aktif di organisasi. Nilainya pas-pasan, pengalaman juga minim. Setelah lulus, si C inilah yang kelak menjadi anggota DPR dan menentukan kebijakan bagi si A dan si B. Maka ya wajar saja jika banyak kebijakan maupun peraturan yang semrawut karena di belakangnya ditokohi oleh si C ini.

Percaya ?. Hehe, ini hanyalah cerita kok. Tapi, siapa pula yang tau apakah ini bisa jadi kisah nyata atau tidak ?. Coba kita renungkan saja.

Intern Organisasi

1.      1.  Niat

(Mas Diar mengubah posisi duduknya) “Jika saya duduk seperti ini, saya dapat pahala atau tidak ?”.
(Mas Diar berdiri) “Jika saya berdiri seperti ini, saya dapat pahala atau tidak ?”
“Tergantung mas”, jawab beberapa pengurus.

Berdiri, jika hanya berdiri saja ya tidak berarti apa-apa. Duduk jika duduk saja ya tidak berarti apa-apa juga. Tapi duduk ataupun berdiri saat sholat bisa jadi pahala kan. Segala sesuatu itu memang tergantung pada niat (dan konteksnya)

2.       2. Ikhlas dan Jangan Riya

Jangan deh merasa layak dianggap berjasa. Misalnya merasa “Kegiatan itu sukses karena saya tuh yang jadi ketua panitianya”, “Acara itu sukses karena saya yang jadi sie acaranya”, “BEM itu hebat karena saya yang jadi Ketuanya”. Mending buang jauh-jauh saja perasaan seperti itu supaya tidak merasa kecewa saat posisi itu dihilangkan, Syndrom Pasca Kehilangan Kekuasaan namanya.

Ibarat beton dalam sebuah bangunan. Di suatu bangunan pasti ada betonnya supaya bangunan tersebut dapat berdiri. Tapi mana ada beton yang terlihat setelah bangunan tersebut jadi ?. Jika betonnya nampak atau keluar dari bangunan yang ada beton itu malah akan digergaji karena tidak enak dilihat. Maka ambillah ilmu Beton tersebut. Tidak diperlihatkan, tapi tetap menguatkan.

Lalu setelah selesai suatu urusan, tidak perlu lah disebut-sebut apa jasa kita. Kecuali untuk kepentingan konsultasi sih tidak apa-apa.

3.     3.  Merasa Penting

Menjadi apapun kita, ditempatkan di posisi apapun kita, percayalah bahwa kita berharga. Misalnya menjadi ketua ataupun sie perkap, kita pasti punya peranan penting di dalamnya. Bayangkan jika suatu kegiatan tanpa ada sie perkap, lalu bagaimana keperluan acara-acara tersebut disiapkan ?. Menjadi ketua pun tidak semudah yang kita bayangkan. Jika staf ada kesulitan, staf bisa mengeluh ke ketua. Jika koordinator/kadept ada kesulitan, mereka bisa mengeluh ke ketua. Tapi jika ketua yang ada masalah, dia bisa mengeluh ke siapa ?. selain itu, ketua juga memiliki tanggung jawab yang amat besar dibanding yang lain.

Walaupun seringnya sih, jika suatu kegiatan itu sukses, yang dipuji adalah ketuanya. Tapi jika suatu kegiatan itu gagal maka yang disalahkan adalah orang teknisnya. Jika suatu organisasi itu hebat, yang disanjung adalah ketuanya. Tapi jika suatu organisasi itu gagal, yang diremehkan adalah staf-stafnya. Duh, jangan gitu lah ya.

4.      4. Akrab

Masih menerapkan pola komunikasi robot ?. Misalnya nih, menghubungi kalau lagi ada perlunya aja. SMS isinya undangan rapat aja. Itu tuh pola komunikasi robot. Nggak enak ya. Beda jika yang dibangun adalah pola komunikasi yang humanis, tanya kabar misalnya.

Katanya sih, orang itu bisa akrab jika sudah makan bersama, main bersama dan tidur bersama *lhoh (misalnya waktu rapat kerja atau upgrading, gitu). Untuk yang satu ini, aku tambahin poin : sholat bersama. Hehe.


Bisa juga akrab itu dengan saling mengenal, saling menolong dan saling mendoakan. Dan ketika bertemu, jangan lupa untuk memberikan perangai yang terbaik. Caranya simple : senyum.

***

Setelah mas Diar selesai menyampaikan materi, TIPS dilanjutkan dengan sharing, baik sharing dengan mas Diar maupun sharing antar pengurus. Saking serunya sharing, senja mulai pudar dan berganti malam (duih, bahasaku). Bersama teman-teman dan kakak-kakak pengurus BEM KM memang selalu berhasil membuat semakin semangat dan semakin terinspirasi. Semangat Menginspirasi !.

"Coba kita lihat suasana di rektorat pada sore ini, romantis ya seperti kita. Setiap organisasi pasti memiliki romantismenya masing-masing" ~ mas Iman.

"Saya tidak bisa tanpa kalian" ~ mas Thoriq.

"Kabinet Indonesia Romantis" ~ mas Erdi.

Dan TIPS sore lalu pun ditutup dengan romantisme ala kita. Hehe.

Rektorat UNY, 2 November 2013


Monday, October 14, 2013

Pembaca Berita

Agak tercengang aku saat kemarin tau berita bahwa Om Jeremy Teti keluar dari dunia jurnalistik sebagai pembaca berita untuk lebih memilih menjadi seorang artis. Kok bisa ya ?. Apa aku sendiri di sini yang masih nggak ngerti apa lebih-enaknya profesi artis ?. Ah Disma, kamu belum paham. Iya, iya, ini salah satu bentuk keluguanku. Hehe. But it's OK. Apapun pilihannya, yang penting minumnya ... #eh.

Jeremy Teti - pic from Google


Ah Om Jeremy, padahal Disma pernah sangat ingin menjadi seperti Om. Dimix-in video terus diupload di Youtube ?. Bukan, bukan. Punya cengkok yang unik ?. Bukan juga, bukan juga. Jadi cowok ?. Wuiih, ngaco, jelas bukan. Aku ingin jadi seorang pembaca berita. It was, but I'm serious. 

Loh, katanya kamu ingin jadi Pendidik Dis ?. 
Iya, Pendidik itu cita-cita sejatiku. Tapi hampir semua orang di muka bumi ini pernah mengalami masa-masa labil cita-cita kan ? *macak Vicky Prasetyo*. Dulu pernah tu punya keinginan jadi penulis (karena aku sering curhat di buku diary dan aku pikir ini udah jadi modal yang cukup), desainer (karena aku sering ngegambar baju dengan motif sesukaku), anggota DPR (karena aku suka banget sama mata pelajaran PKN), pemain bulu tangkis (karena aku suka nonton pertandingan bulu tangkis, tapi jelas ini cita-cita yang paling liar), guru matematika (karena ada guru matematika SMP ku yang keren banget cara ngajarnya), penerjemah (karena suka belajar bahasa inggris), sutradara (karena Nia Dinata itu keren sob), dan beberapa yang lain lagi, di mana salah satunya adalah pembaca berita itu tadi.

Gimana ceritanya kamu berani ingin jadi pembaca berita ?. 
Sebagaimana anak Indonesia yang sedari kecil sudah dicekoki untuk belajar membaca, aku pun begitu. Dulu sudah cukup bangga tu bisa lancar membaca, tapi ternyata nggak cukup. Ternyata koma, titik, tanda baca dan intonasi juga harus diperhatikan. Om Ucup lah yang mengajarkanku cara membaca ideal sejak kecil dan aku bawa hingga sepanjang usia. Hingga datanglah masa di mana aku kelas 2 SMP dan didapuk untuk ikut lomba Baca Berita yang digelar SMA 1 Magelang. Lomba itu termasuk keren sih, secara yang ngadain Smansama. Dan bisa memboyong piala di antara peserta dari sekolah lain yang super keren, menurutku juga keren. Begitulah. *apaan nih, kok geje *njuk dijiwit rame-rame.

Tapi selain itu, aku ngefans tuh sama pembaca berita nya Liputan 6 SCTV, ada tante Rosiana Silalahi sama tante Rike Amru (walaupun sekarang keduanya udah nggak jadi pembaca berita lagi). Pembaca berita itu cerdas, kritis, informatif, serba tahu, kata-katanya intelek, pokoknya super ultra cool lah.

Rike Amru - pic from Google


Membaca berita itu ada tekniknya tersendiri lho. Coba deh sekali-sekali mengamati cara mereka membawakan berita. Menggunakan intonasi yang tepat untuk berita yang tepat (serius saat berita serius, rileks saat berita ringan), penekanan pada beberapa bagian tertentu yang itu artinya hal tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih, anggukan atau gerakan kepala, gerak tangan, serta tatapan mata menjadi fokus yang penting untuk dipelajari *macak ahli*.

Teknik membaca(kan) itu ada banyak, mengikuti apa yang kita baca. Membaca(kan) berita, membaca(kan) pidato, membaca(kan) puisi, membaca(kan) dongeng, dan membaca(kan) yang lain punya tekniknya masing-masing. Aku menyebutnya seni membuat orang mengerti apa yang kita sampaikan. Hal-hal yang tidak sama tidak bisa kita sampaikan dengan cara yang sama. Trust me, trust me. Aneh nggak sih kalau ada orang baca pidato malah kayak baca puisi ? Dilengking-lengkingkan gitu. Hehe.

Ngomong-ngomong soal berita, suatu waktu saat aku masih kecil, aku pernah mengajukan pertanyaan ke Mama. 
Disma : Ma, kenapa sih kok sehari harus makan 3 kali ? Kenapa nggak 4 kali ? Kenapa makannya harus pagi, siang sama malam ?
Mama  : Soalnya ngikutin tayangan berita di TV.

Dan aku percaya !. Ngek. But... it's logic, isn't it ?. Mama memang luar biasa.

Agak tercengang aku saat kemarin tau berita bahwa Om Jeremy Teti keluar dari dunia jurnalistik sebagai pembaca berita untuk lebih memilih menjadi seorang artis. Kok bisa ya ?. Apa aku sendiri di sini yang masih nggak ngerti apa lebih-enaknya profesi artis ?. Ah Disma, kamu belum paham. Iya, iya, ini salah satu bentuk keluguanku. Hehe. But it's OK. Apapun pilihannya, yang penting minumnya ... #eh.

Jeremy Teti - pic from Google


Ah Om Jeremy, padahal Disma pernah sangat ingin menjadi seperti Om. Dimix-in video terus diupload di Youtube ?. Bukan, bukan. Punya cengkok yang unik ?. Bukan juga, bukan juga. Jadi cowok ?. Wuiih, ngaco, jelas bukan. Aku ingin jadi seorang pembaca berita. It was, but I'm serious. 

Loh, katanya kamu ingin jadi Pendidik Dis ?. 
Iya, Pendidik itu cita-cita sejatiku. Tapi hampir semua orang di muka bumi ini pernah mengalami masa-masa labil cita-cita kan ? *macak Vicky Prasetyo*. Dulu pernah tu punya keinginan jadi penulis (karena aku sering curhat di buku diary dan aku pikir ini udah jadi modal yang cukup), desainer (karena aku sering ngegambar baju dengan motif sesukaku), anggota DPR (karena aku suka banget sama mata pelajaran PKN), pemain bulu tangkis (karena aku suka nonton pertandingan bulu tangkis, tapi jelas ini cita-cita yang paling liar), guru matematika (karena ada guru matematika SMP ku yang keren banget cara ngajarnya), penerjemah (karena suka belajar bahasa inggris), sutradara (karena Nia Dinata itu keren sob), dan beberapa yang lain lagi, di mana salah satunya adalah pembaca berita itu tadi.

Gimana ceritanya kamu berani ingin jadi pembaca berita ?. 
Sebagaimana anak Indonesia yang sedari kecil sudah dicekoki untuk belajar membaca, aku pun begitu. Dulu sudah cukup bangga tu bisa lancar membaca, tapi ternyata nggak cukup. Ternyata koma, titik, tanda baca dan intonasi juga harus diperhatikan. Om Ucup lah yang mengajarkanku cara membaca ideal sejak kecil dan aku bawa hingga sepanjang usia. Hingga datanglah masa di mana aku kelas 2 SMP dan didapuk untuk ikut lomba Baca Berita yang digelar SMA 1 Magelang. Lomba itu termasuk keren sih, secara yang ngadain Smansama. Dan bisa memboyong piala di antara peserta dari sekolah lain yang super keren, menurutku juga keren. Begitulah. *apaan nih, kok geje *njuk dijiwit rame-rame.

Tapi selain itu, aku ngefans tuh sama pembaca berita nya Liputan 6 SCTV, ada tante Rosiana Silalahi sama tante Rike Amru (walaupun sekarang keduanya udah nggak jadi pembaca berita lagi). Pembaca berita itu cerdas, kritis, informatif, serba tahu, kata-katanya intelek, pokoknya super ultra cool lah.

Rike Amru - pic from Google


Membaca berita itu ada tekniknya tersendiri lho. Coba deh sekali-sekali mengamati cara mereka membawakan berita. Menggunakan intonasi yang tepat untuk berita yang tepat (serius saat berita serius, rileks saat berita ringan), penekanan pada beberapa bagian tertentu yang itu artinya hal tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih, anggukan atau gerakan kepala, gerak tangan, serta tatapan mata menjadi fokus yang penting untuk dipelajari *macak ahli*.

Teknik membaca(kan) itu ada banyak, mengikuti apa yang kita baca. Membaca(kan) berita, membaca(kan) pidato, membaca(kan) puisi, membaca(kan) dongeng, dan membaca(kan) yang lain punya tekniknya masing-masing. Aku menyebutnya seni membuat orang mengerti apa yang kita sampaikan. Hal-hal yang tidak sama tidak bisa kita sampaikan dengan cara yang sama. Trust me, trust me. Aneh nggak sih kalau ada orang baca pidato malah kayak baca puisi ? Dilengking-lengkingkan gitu. Hehe.

Ngomong-ngomong soal berita, suatu waktu saat aku masih kecil, aku pernah mengajukan pertanyaan ke Mama. 
Disma : Ma, kenapa sih kok sehari harus makan 3 kali ? Kenapa nggak 4 kali ? Kenapa makannya harus pagi, siang sama malam ?
Mama  : Soalnya ngikutin tayangan berita di TV.

Dan aku percaya !. Ngek. But... it's logic, isn't it ?. Mama memang luar biasa.

Thursday, September 26, 2013

[Repost] Rabu Tidak Kelabu

Hari ini patut diabadikan.
Begitulah kesimpulanku ketika pada malam hari akhirnya pulang ke kost. Semua kenangan bertumpuk-tumpuk di kepala. Aku tidak ingin melupakannya.
Dinamic Routing
Berawal dari bangun di pagi hari seperti biasa, yang membedakan adalah pagi ini aku tidak bisa bersantai-santai dulu karena ada mata kuliah praktik yang dimulai pukul 7. Apalagi aku belum selesai mengerjakan tugas pertemuan pertama terdahulu. Maklum, tugasnya tentang routing / networking, aku kurang lihai bermain-main dengannya. Minggu lalu juga aku pindah kelas praktik, ikut teman-teman F1. Berangkat kuliah pun sedikit dipenuhi oleh rasa panik. Aku harus minta diajarin !.
Sampai di kampus, wajah-wajah tengil menyambutku dengan gokil seperti biasanya. Pak Dosen juga ternyata belum datang. Yang membuat aku melongo adalah 
Wahyu : “Mbek, kemarin kamu ikut kelasnya F1 kan ? Kemarin materinya apa ?”
Aku : “Dinamic Routing, kenapa ?”
Wahyu : “Ajarin Mbek”
Aku : “Hah ? Emang kemarin kalian dapet materi apa ?”
Wahyu : “Static Routing”
Duaarrr.. Ternyata materi kelas F1 sudah selangkah lebih maju daripada F2. Jadilah malah teman-teman yang tanya ke aku. Hidup itu untebakable ya ?
Pak Dosen datang. Dan ternyata tepat, materi F2 untuk minggu ini sama persis dengan materi F1 minggu lalu yang aku ikuti. Akupun bertanya pada Pak Dosen :
Aku : “Pak, kemarin kan saya ikut kelas sebelah dan sudah mengerjakan materi ini. Sekarang saya mengerjakan apa ya Pak ?”
Pak Dosen : “O sudah mengerjakan yang ini ? Ya sudah sekarang ngobrol-ngobrol saja sama temannya”
Aku : (dalam hati “haaah”) “Kalau mengerjakan tugas pertama saja boleh Pak ?”
Pak Dosen : “Ah, nggak usah. Sekarang kamu free saja”
Ngekkk…
Jam Kosong
Terlihat Pak Djoko, dosen mata kuliah Metodologi Pembelajaran berjalan menuju ke kelas kami.
"Wah, tanda-tanda bakal kosong ni", kata Sobur.
Benarlah, Pak Djoko menghampiri kelas kami untuk memberitahukan bahwa kelas beliau nanti kosong karena beliau ada penataran (maklum, beliau adalah kaprodi Teknik Elektronika) dan memberikan kertas presensi serta kertas materi untuk kami pelajari. Dududu, bakal selo ni untuk beberapa jam ke depan.
Pukul 9 kami telah selesai praktikum. Pukul 12 nanti kami sekelas telah mengagendakan untuk Futsal bareng, baik cowok maupun cewek. Waktu 3 jam untuk menunggu cukup lama, bukan ? Ada yang makan, ngobrol di taman media, kumpul di perpus, dan tak lupa… foto-foto…. Syalalaa ~
Futsal at Lapangan RRI
Futsaaal di lapangan RRI. Anak-anak cowok main dari jam 12 sampai jam 13. Anak-anak cewek (dijadwalin) main dari jam 13 sampai jam 14. Ngeliat cowok futsal ? Udah biasa kali ya. Ngeliat cewek-cewek futsal ? Haha, ngakak. Awal masuk lapangan kita malah foto-foto dulu. Sampai yang cowok bilang, “Lah ini mau main futsal apa sesi foto e ?”. Piss lah mas bro.
Oke, mari kita main. Ada 10 cewek yang main : Ipeh, Annis, Rahma, Rifa, Fiani vs Disma, Akhi, Romafit, Mifta, Hilma (awalnya Budi, terus di menit-menit terakhir digantiin sama Hilma). Ngerubungin bola, tubruk-tubrukan, bolanya kena temen, bolanya kesrimpet rok, gemes karena hampir gol dan serentetan hal lain lah yang terjadi saat kami futsal. Hasil akhirnya : 3-2 apa ya kalo nggak salah ? Yang menang Rifa dkk dan Akhi yang jadi top scorer nya. Aku ? Aku ? Haha, jangan dibahas.
Selow motion at Alun-alun Kidul
Pulang futsal, di antara badan yang pegel-pegel, Ayong sama Hilzon ngajak ke Altar (yang kemudian jadinya malah ke Alkid) buat ngerjain tugas slowmotion nya mereka. Hayuk, sekalian bantuin sekalian refresh juga. Jadilah kita ber-4 (ditambah Budi) meluncur ke Alkid. 
"Ngapain sih jauh-jauh take video ke Alkid ?" tanyaku pada Ayong dan Hilzon.
"Nyari yang ada bubble-bubble dari sabun" jawab mereka
"Oooh gitu. Emang konsep nya mau gimana ?" aku tanya lagi
"Nggak tau, yang penting ada bubblenya"
Gubrakkk.
Menit-menit awal Aku, Ayong, Hilzon masih semangat keliling Alkid, beli bubble, ngeliatin anak kecil lari-lari, ada yang lagi jogging juga, ada pasangan kekasih yang nyoba mecahin mitos “menyentuh 2 pohon di Alkid sambil ditutup matanya”, dll. Budi nggak ikut, dia cuma duduk di pinggir jalan sambil jagain motor. Menit demi menit berlalu dan konsepnya belum nemu juga. Hoaaem, aku yang nggak telaten inipun memilih bergabung bersama Budi saja. 
Dari tempat Aku dan Budi duduk, kami dapat melihat Ayong dan Hilzon yang kini membeli layangan dan bermain dengannya. Tiba-tiba Budi nyeletuk, “Main uno yuk, Mbek”. Hihi. “Ayok”. Jadilah kita semacam orang selo nan geje yang bermain Uno di pinggir jalan Alkid. Aku menang, Budi menang, Budi menang lagi, gantian aku yang menang, begitu seterusnya. Sekitar pukul 17 Ayong dan Hilzon mendekati kami, sepertinya mereka sudah berhasil mengambil beberapa video. Akhirnya kita berempat jadi main uno sambil makan bakso bakar dan tahu gejrot. Haha.
Pukul 18 kita pulang dari alkid, mampir dulu ke masjid buat sholat maghrib, dan mendarat ke “ibunya” Hilzon buat makan kremesan penyet. Kita udah sedikit paham sistem kerja di sana yang pesenannya dianter agak lama karena emang rame. Jadilah kita nunggu sambil…. main UNO !. Ngekk banget kan.
"…dan jika kami bersama nyalakan tanda bahaya…" ~ lagunya SID
Selalu ada banyak cerita kalo lagi sama teman-teman. Sayang, Fatonah nggak bisa ikut tadi. Berarti besok-besok perlu diagendain lagi nih biar komplit. Hehe.
"My level of maturity depends on who I am with." ~ @9gag 
Yogyakarta, 25 September 2013
Hari ini patut diabadikan.
Begitulah kesimpulanku ketika pada malam hari akhirnya pulang ke kost. Semua kenangan bertumpuk-tumpuk di kepala. Aku tidak ingin melupakannya.
Dinamic Routing
Berawal dari bangun di pagi hari seperti biasa, yang membedakan adalah pagi ini aku tidak bisa bersantai-santai dulu karena ada mata kuliah praktik yang dimulai pukul 7. Apalagi aku belum selesai mengerjakan tugas pertemuan pertama terdahulu. Maklum, tugasnya tentang routing / networking, aku kurang lihai bermain-main dengannya. Minggu lalu juga aku pindah kelas praktik, ikut teman-teman F1. Berangkat kuliah pun sedikit dipenuhi oleh rasa panik. Aku harus minta diajarin !.
Sampai di kampus, wajah-wajah tengil menyambutku dengan gokil seperti biasanya. Pak Dosen juga ternyata belum datang. Yang membuat aku melongo adalah 
Wahyu : “Mbek, kemarin kamu ikut kelasnya F1 kan ? Kemarin materinya apa ?”
Aku : “Dinamic Routing, kenapa ?”
Wahyu : “Ajarin Mbek”
Aku : “Hah ? Emang kemarin kalian dapet materi apa ?”
Wahyu : “Static Routing”
Duaarrr.. Ternyata materi kelas F1 sudah selangkah lebih maju daripada F2. Jadilah malah teman-teman yang tanya ke aku. Hidup itu untebakable ya ?
Pak Dosen datang. Dan ternyata tepat, materi F2 untuk minggu ini sama persis dengan materi F1 minggu lalu yang aku ikuti. Akupun bertanya pada Pak Dosen :
Aku : “Pak, kemarin kan saya ikut kelas sebelah dan sudah mengerjakan materi ini. Sekarang saya mengerjakan apa ya Pak ?”
Pak Dosen : “O sudah mengerjakan yang ini ? Ya sudah sekarang ngobrol-ngobrol saja sama temannya”
Aku : (dalam hati “haaah”) “Kalau mengerjakan tugas pertama saja boleh Pak ?”
Pak Dosen : “Ah, nggak usah. Sekarang kamu free saja”
Ngekkk…
Jam Kosong
Terlihat Pak Djoko, dosen mata kuliah Metodologi Pembelajaran berjalan menuju ke kelas kami.
"Wah, tanda-tanda bakal kosong ni", kata Sobur.
Benarlah, Pak Djoko menghampiri kelas kami untuk memberitahukan bahwa kelas beliau nanti kosong karena beliau ada penataran (maklum, beliau adalah kaprodi Teknik Elektronika) dan memberikan kertas presensi serta kertas materi untuk kami pelajari. Dududu, bakal selo ni untuk beberapa jam ke depan.
Pukul 9 kami telah selesai praktikum. Pukul 12 nanti kami sekelas telah mengagendakan untuk Futsal bareng, baik cowok maupun cewek. Waktu 3 jam untuk menunggu cukup lama, bukan ? Ada yang makan, ngobrol di taman media, kumpul di perpus, dan tak lupa… foto-foto…. Syalalaa ~
Futsal at Lapangan RRI
Futsaaal di lapangan RRI. Anak-anak cowok main dari jam 12 sampai jam 13. Anak-anak cewek (dijadwalin) main dari jam 13 sampai jam 14. Ngeliat cowok futsal ? Udah biasa kali ya. Ngeliat cewek-cewek futsal ? Haha, ngakak. Awal masuk lapangan kita malah foto-foto dulu. Sampai yang cowok bilang, “Lah ini mau main futsal apa sesi foto e ?”. Piss lah mas bro.
Oke, mari kita main. Ada 10 cewek yang main : Ipeh, Annis, Rahma, Rifa, Fiani vs Disma, Akhi, Romafit, Mifta, Hilma (awalnya Budi, terus di menit-menit terakhir digantiin sama Hilma). Ngerubungin bola, tubruk-tubrukan, bolanya kena temen, bolanya kesrimpet rok, gemes karena hampir gol dan serentetan hal lain lah yang terjadi saat kami futsal. Hasil akhirnya : 3-2 apa ya kalo nggak salah ? Yang menang Rifa dkk dan Akhi yang jadi top scorer nya. Aku ? Aku ? Haha, jangan dibahas.
Selow motion at Alun-alun Kidul
Pulang futsal, di antara badan yang pegel-pegel, Ayong sama Hilzon ngajak ke Altar (yang kemudian jadinya malah ke Alkid) buat ngerjain tugas slowmotion nya mereka. Hayuk, sekalian bantuin sekalian refresh juga. Jadilah kita ber-4 (ditambah Budi) meluncur ke Alkid. 
"Ngapain sih jauh-jauh take video ke Alkid ?" tanyaku pada Ayong dan Hilzon.
"Nyari yang ada bubble-bubble dari sabun" jawab mereka
"Oooh gitu. Emang konsep nya mau gimana ?" aku tanya lagi
"Nggak tau, yang penting ada bubblenya"
Gubrakkk.
Menit-menit awal Aku, Ayong, Hilzon masih semangat keliling Alkid, beli bubble, ngeliatin anak kecil lari-lari, ada yang lagi jogging juga, ada pasangan kekasih yang nyoba mecahin mitos “menyentuh 2 pohon di Alkid sambil ditutup matanya”, dll. Budi nggak ikut, dia cuma duduk di pinggir jalan sambil jagain motor. Menit demi menit berlalu dan konsepnya belum nemu juga. Hoaaem, aku yang nggak telaten inipun memilih bergabung bersama Budi saja. 
Dari tempat Aku dan Budi duduk, kami dapat melihat Ayong dan Hilzon yang kini membeli layangan dan bermain dengannya. Tiba-tiba Budi nyeletuk, “Main uno yuk, Mbek”. Hihi. “Ayok”. Jadilah kita semacam orang selo nan geje yang bermain Uno di pinggir jalan Alkid. Aku menang, Budi menang, Budi menang lagi, gantian aku yang menang, begitu seterusnya. Sekitar pukul 17 Ayong dan Hilzon mendekati kami, sepertinya mereka sudah berhasil mengambil beberapa video. Akhirnya kita berempat jadi main uno sambil makan bakso bakar dan tahu gejrot. Haha.
Pukul 18 kita pulang dari alkid, mampir dulu ke masjid buat sholat maghrib, dan mendarat ke “ibunya” Hilzon buat makan kremesan penyet. Kita udah sedikit paham sistem kerja di sana yang pesenannya dianter agak lama karena emang rame. Jadilah kita nunggu sambil…. main UNO !. Ngekk banget kan.
"…dan jika kami bersama nyalakan tanda bahaya…" ~ lagunya SID
Selalu ada banyak cerita kalo lagi sama teman-teman. Sayang, Fatonah nggak bisa ikut tadi. Berarti besok-besok perlu diagendain lagi nih biar komplit. Hehe.
"My level of maturity depends on who I am with." ~ @9gag 
Yogyakarta, 25 September 2013

Monday, September 23, 2013

[Repost] Himanika "On Vacation" Ceria

Kalau minggu kemarin sudah pergi naik gunung, minggu ini saatnya ke pantai. Ibarat lagunya Ninja Hatori “mendaki gunung..lewati lembah… syalala” *duh malah nyanyi. Setelah minggu lalu jalan-jalan sama temen-temen BEM KM, sekarang waktunya have fun sama temen-temen Himanika. Sehari bersama Himanika untuk yang kesekian kalinya.
Bangun pagi-pagi dan koordinasi sedikit sama temen-temen bertujuh via sms. Fix nya : Tisha dan Ayong belanja ke pasar. Aku ? Tralalaa. Mari berangkat ke PKM. Ternyata di PKM sudah cukup ramai walaupun belum semua pengurus yang akan ikut datang. Skip
Pengondisian, penjelasan singkat, berdoa bersama and then… let’s go !. Berangkatlah kita berombongan naik motor. Ada sekitar 40an orang yang ikut dan 20an motor yang melaju. Untung baju kita beda-beda, coba kalo sewarna, bisa dikira lagi kampanye nih.
Adit sama Aya di depan memimpin barisan (eh, apa sih istilah yang pas ? rombongan aja kali ye), David selaku panitia mengawal di paling belakang, dan Imron yang boncengan sama aku diminta buat di tengah. Hihi, panitia ngiranya Iim apal jalan, padahal kan…. haha. Piss Im. Ya kalo aku sih bersyukur aku sama Iim dapet di tengah, jadi peluang kita nyasar ato ketinggalan lebih kecil.
Berangkat pukul 9 kurang, sampai di destinasi pukul 10 lebih. Perjalanan kita sekitar 1,5 jam. Cukup lama sih emang, tapi nice kok. Sepanjang jalan kita bisa melihat panorama yang bisa bikin mata jadi seger. Secara, biasanya kan yang kita-kita liat paling layar laptop gitu. Melihat pemandangan Jogja dari atas, hamparan bukit, batuan yang unik, laut yang biru. Aaak, pengen nyemplung rasanya.
Pantainya serasa milik sendiri. We're like a boss of private beach

Sampailah kita di pantai pertama (duh, lupa namanya). pantainya nyelip-nyelip, dan pas sampai di sana, sepiii. Kita pun bisa berpuas-puas menjajah tanah pantai. Hehe. Panitia memberi instruksi supaya lomba masak segera dimulai. Temen-temen panitia ini sudah menyiapkan tikar buat masing-masing departemen, arang panas buat bakar-bakar dan ikan tentunya. Lomba masak pun dimulai…

Imron membawa 8 ikan. Kita ber7 berpandang-pandangan, “mau diapain ni ? ??” Haha. Aya yang paling parah, dia nggak mau deket-deket sama si ikan. Hihi. Jadilah aku sama Tisha membelah si ikan, Adit ngolesin bumbu ke ikan, Imron, Revan, Arif yang bakar, dan Aya yang bikin bumbu-resep-rahasia. Siang itu kami memasak sate-ikan-bakar dan ikan-bakar-bumbu-rahasia-resep-turun-temurun (Padahal bumbunya beli di pasar). Hasilnya : terengtengtengtengtengteng… enak dong, tapi berasa banget kunyitnya. Hihi. Ngawur sih, bumbunya masih kentel langsung diolesin gitu aja.
Ceritanya lagi masak

Skip.
Plating alias masakannya ditaruh di piring, dihias dan disajikan ke dewan juri (aka kakak-kakak DPO). Trio Kwek-Kwek kita : Abang Iim, Surip dan Revan kebagian jatah buat presentasi. Soal filosofi mah jangan ditanya lagi, mereka bertiga jago ngarang semua. Hehe.
Ini nih.. sate ikan bakar 
Presentasi nya heboh

Skip.
Presentasi, penjurian, sholat, beres-beres tempat, lalu… here we go. Cap cus ke Pantai Ngobaran buat outbound. Peserta dibagi jadi 4 kelompok gitu dan nantinya akan ngegame di garis pantai. Aku dapet bagian jaga pos istana-pasir sama Repang. Di sini, games nya adalah temen-temen sekelompok dibagi lagi jadi dua kelompok kecil dan disuruh berkompetisi bikin istana pasir Himanika serealistis mungkin. Ternyata temen-temen pengurus jan kreatif. Ada yang bikin bentuk kayak candi, bentuk love, bentuk gurita, bentuk UFO (senangkepku sih), bentuk roda, dan yang paling ngawur, kelompoknya Budi cs yang malah bikin tulisan HIMANIKA dari pasir. Woo, Donk Ora E ?.

Lebih cantik pantainya daripada orangnya

Skip. 
Adit berlari tunggang langgang menjauhi Budi dan temen-temen staf yang mengejarnya. Dia berhasil kabur. Yaaah, jadi nggak bisa diceburin ke air deh. Eits, tapi dengan sigapnya yang lain berganti sasaran jadi menangkap Surip yang lagi lengah. Surip nggak berdaya “dicelupin” ke air laut. Nggak cukup sampai di situ, Surip yang nggak terima akhirnya nyeret Revan. Nasib Revan pun berakhir sama dengan Surip. 
Makin banyak yang basah, makin banyak pula yang pengen orang lain basah. Akhirnya Adit tertangkap, Imron tertangkap, disusul Aris, Agus Satrio, Bimbing, lupa siapa lagi.

Skip.
Sholat Ashar, ngobrol sebentar untuk menunggu yang lain siap, pengondisian, lalu pengumuman pemenang !. Congrats buat Medinfo as Juara 3 (nggak move on dari tahun lalu), DJO as Juara 2 (sungguh aku kaget banget) dan Kesma as Juara 1 (masakannya Kesma emang enak sih). Sempet ada insiden nih, jadi hadiah buat para juara sempet ngilang dan dicari-cari sama panitia tapi nggak ketemu. Terreeeng, ternyata hadiahnya ada di plastik yang tak bawa. Gubrakk.
Skip.
Mampir ke rumahnya Udin. Kita disambut dengan super ramah dan amat terbuka di sana. Rombongan se-RW ini cukup lho di rumahnya Udin. Udah numpang sholat, nunut ke kamar mandi, dikasih cemilan gatot (makanan dari singkong gitu), peyek kacang, teh, eh kita disuruh makan nasi juga. Lauknya sama kayak tema kita tadi siang : ikan. Tapi bedanya ikan nya digoreng dan rasanya juga nggak kayak masakan kita tadi siang, *uhuk. Udah kenyang banget, Udin masih nyuruh kita mbungkus gatot nya buat dibawa pulang. Ya amplop, makasih banget Udiiin :D *kedip-kedip*.
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 20.00. Mari pulaaaang. Coba deh liat langitnya, gelap, tapi di sana bertabur banyak bintang, ada juga bulan yang menggantung tinggi. Cantiknyaaa… secantik kebersamaan kita hari ini :)
Yogyakarta - Saptosari, Gunung Kidul
Minggu, 22 September 2013
Kalau minggu kemarin sudah pergi naik gunung, minggu ini saatnya ke pantai. Ibarat lagunya Ninja Hatori “mendaki gunung..lewati lembah… syalala” *duh malah nyanyi. Setelah minggu lalu jalan-jalan sama temen-temen BEM KM, sekarang waktunya have fun sama temen-temen Himanika. Sehari bersama Himanika untuk yang kesekian kalinya.
Bangun pagi-pagi dan koordinasi sedikit sama temen-temen bertujuh via sms. Fix nya : Tisha dan Ayong belanja ke pasar. Aku ? Tralalaa. Mari berangkat ke PKM. Ternyata di PKM sudah cukup ramai walaupun belum semua pengurus yang akan ikut datang. Skip
Pengondisian, penjelasan singkat, berdoa bersama and then… let’s go !. Berangkatlah kita berombongan naik motor. Ada sekitar 40an orang yang ikut dan 20an motor yang melaju. Untung baju kita beda-beda, coba kalo sewarna, bisa dikira lagi kampanye nih.
Adit sama Aya di depan memimpin barisan (eh, apa sih istilah yang pas ? rombongan aja kali ye), David selaku panitia mengawal di paling belakang, dan Imron yang boncengan sama aku diminta buat di tengah. Hihi, panitia ngiranya Iim apal jalan, padahal kan…. haha. Piss Im. Ya kalo aku sih bersyukur aku sama Iim dapet di tengah, jadi peluang kita nyasar ato ketinggalan lebih kecil.
Berangkat pukul 9 kurang, sampai di destinasi pukul 10 lebih. Perjalanan kita sekitar 1,5 jam. Cukup lama sih emang, tapi nice kok. Sepanjang jalan kita bisa melihat panorama yang bisa bikin mata jadi seger. Secara, biasanya kan yang kita-kita liat paling layar laptop gitu. Melihat pemandangan Jogja dari atas, hamparan bukit, batuan yang unik, laut yang biru. Aaak, pengen nyemplung rasanya.
Pantainya serasa milik sendiri. We're like a boss of private beach

Sampailah kita di pantai pertama (duh, lupa namanya). pantainya nyelip-nyelip, dan pas sampai di sana, sepiii. Kita pun bisa berpuas-puas menjajah tanah pantai. Hehe. Panitia memberi instruksi supaya lomba masak segera dimulai. Temen-temen panitia ini sudah menyiapkan tikar buat masing-masing departemen, arang panas buat bakar-bakar dan ikan tentunya. Lomba masak pun dimulai…

Imron membawa 8 ikan. Kita ber7 berpandang-pandangan, “mau diapain ni ? ??” Haha. Aya yang paling parah, dia nggak mau deket-deket sama si ikan. Hihi. Jadilah aku sama Tisha membelah si ikan, Adit ngolesin bumbu ke ikan, Imron, Revan, Arif yang bakar, dan Aya yang bikin bumbu-resep-rahasia. Siang itu kami memasak sate-ikan-bakar dan ikan-bakar-bumbu-rahasia-resep-turun-temurun (Padahal bumbunya beli di pasar). Hasilnya : terengtengtengtengtengteng… enak dong, tapi berasa banget kunyitnya. Hihi. Ngawur sih, bumbunya masih kentel langsung diolesin gitu aja.
Ceritanya lagi masak

Skip.
Plating alias masakannya ditaruh di piring, dihias dan disajikan ke dewan juri (aka kakak-kakak DPO). Trio Kwek-Kwek kita : Abang Iim, Surip dan Revan kebagian jatah buat presentasi. Soal filosofi mah jangan ditanya lagi, mereka bertiga jago ngarang semua. Hehe.
Ini nih.. sate ikan bakar 
Presentasi nya heboh

Skip.
Presentasi, penjurian, sholat, beres-beres tempat, lalu… here we go. Cap cus ke Pantai Ngobaran buat outbound. Peserta dibagi jadi 4 kelompok gitu dan nantinya akan ngegame di garis pantai. Aku dapet bagian jaga pos istana-pasir sama Repang. Di sini, games nya adalah temen-temen sekelompok dibagi lagi jadi dua kelompok kecil dan disuruh berkompetisi bikin istana pasir Himanika serealistis mungkin. Ternyata temen-temen pengurus jan kreatif. Ada yang bikin bentuk kayak candi, bentuk love, bentuk gurita, bentuk UFO (senangkepku sih), bentuk roda, dan yang paling ngawur, kelompoknya Budi cs yang malah bikin tulisan HIMANIKA dari pasir. Woo, Donk Ora E ?.

Lebih cantik pantainya daripada orangnya

Skip. 
Adit berlari tunggang langgang menjauhi Budi dan temen-temen staf yang mengejarnya. Dia berhasil kabur. Yaaah, jadi nggak bisa diceburin ke air deh. Eits, tapi dengan sigapnya yang lain berganti sasaran jadi menangkap Surip yang lagi lengah. Surip nggak berdaya “dicelupin” ke air laut. Nggak cukup sampai di situ, Surip yang nggak terima akhirnya nyeret Revan. Nasib Revan pun berakhir sama dengan Surip. 
Makin banyak yang basah, makin banyak pula yang pengen orang lain basah. Akhirnya Adit tertangkap, Imron tertangkap, disusul Aris, Agus Satrio, Bimbing, lupa siapa lagi.

Skip.
Sholat Ashar, ngobrol sebentar untuk menunggu yang lain siap, pengondisian, lalu pengumuman pemenang !. Congrats buat Medinfo as Juara 3 (nggak move on dari tahun lalu), DJO as Juara 2 (sungguh aku kaget banget) dan Kesma as Juara 1 (masakannya Kesma emang enak sih). Sempet ada insiden nih, jadi hadiah buat para juara sempet ngilang dan dicari-cari sama panitia tapi nggak ketemu. Terreeeng, ternyata hadiahnya ada di plastik yang tak bawa. Gubrakk.
Skip.
Mampir ke rumahnya Udin. Kita disambut dengan super ramah dan amat terbuka di sana. Rombongan se-RW ini cukup lho di rumahnya Udin. Udah numpang sholat, nunut ke kamar mandi, dikasih cemilan gatot (makanan dari singkong gitu), peyek kacang, teh, eh kita disuruh makan nasi juga. Lauknya sama kayak tema kita tadi siang : ikan. Tapi bedanya ikan nya digoreng dan rasanya juga nggak kayak masakan kita tadi siang, *uhuk. Udah kenyang banget, Udin masih nyuruh kita mbungkus gatot nya buat dibawa pulang. Ya amplop, makasih banget Udiiin :D *kedip-kedip*.
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 20.00. Mari pulaaaang. Coba deh liat langitnya, gelap, tapi di sana bertabur banyak bintang, ada juga bulan yang menggantung tinggi. Cantiknyaaa… secantik kebersamaan kita hari ini :)
Yogyakarta - Saptosari, Gunung Kidul
Minggu, 22 September 2013

Thursday, August 15, 2013

,

Hari Pertama PI (Kembali)

Setelah ijin 3 hari (karena harusnya masuk hari Senin dan aku masuk hari Kamis), hari ini pun mau nggak mau harus kembali ke rutinitas PI.

Berawal dari janjian berangkat jam 7.30 dengan Sorayong. Aku pun menunggu. Ketika jam menunjukkan pukul 07.48, terdengar suara motor berhenti di depan kost.  Aku pun segera mengambil tas, memakai sepatu dan keluar kost. Ternyata benar, yang datang adalah Ayong. Jadilah kami berangkat. Sudah lama rasanya tidak berangkat PI. Sedikit rasa canggung pun terbersit.

 Tempat parkir di PPPPTK Matematika terlihat lengang. Pertanda apakah ini.

Aku : “Fatonah udah dateng belum ya ?” (sambil celingak-celinguk di tempat parkir)

Ayong : “Coba dicari motornya deh”

Aku : (melihat helm Fatonah) “Oo, ini dia. Wah mereka gasik”

Ayong : “Lho Dis, kamu tu nggak pakai Helm ya ?”

Aku : “Hah ???. (Ting) Eh iya, aku nggak pakai helm. Baru nyadar”

Ayong : “Tadi kita ngelewatin Polisi nggak sih ?”

Aku : “Kayaknya sih di perempatan Ringroad-Concat tadi ada Pos Polisi sama Pak Polisinya juga”

Ayong : “Jadi….”

Aku sama Ayong : “Hahaha. Ngawur”

Pagi ini aku jan lupa ternyata pas berangkat PI nggak pakai helm. Padahal dari kost ke PPPPTK Matematika kita lewat Gejayan-Concat. Di perempatan Ringroad, di sana ada pos Polisi bertengger dengan manis di pojokan. Untung aja nggak ketilang. Gemblungnya adalah, bisa-bisanya aku sama Ayong nggak ada yang nyadar kalau aku nggak pakai helm. Mungkin kalau kita ditilang kita malah bingung sendiri kenapa kok bisa sampai kena tilang. Mungkin pas pak Polisi bilang apa alasannya baru deh kita ngeh kalau aku nggak pakai helm. Haha. Alasan “lupa” gitu bakal dipercaya nggak ya sama Pak Polisi. Padahal kan beneran lupa.

Dari tempat parkir kita menuju ke Labkom. Hilma, Fatonah sudah sampai duluan di sana. Ada juga mbak Elsa, mahasiswa Teknologi Pendidikan UNY yang juga sedang KKN-PPL di PPPPTK Matematika. Kita pun salam-salaman, maap-maapan terlebih dahulu. Kata mbak Elsa, hari ini ada acara Halal Bi Halal Keluarga Besar PPPPTK Matematika. Ooo pantes terasa sedikit berbeda. Di gedung samping ada tenda biru yang didirikan (tenda biru ? pasti jadi keinget lagunya tante Desi Ratnasari yaa :3). Sayup-sayup, kita juga bisa mendengar suara pegawai PPPPTK yang sedang karaoke. Muke lele di kantor bisa karaokean. Bikin kepengen :D.

Labkom sekarang sangat sepi. Sekarang satu ruangan Labkom hanya ditempati oleh kami ber6 (aku, Aya, Hilma, Fatonah, Reta, mbak Elsa). Bandingkan dengan dulu yang ada mas-mas dari universitas lain, ada adek-adek SMK, dan ada Mbak Rumi. Mereka sudah selesai praktek lebih dulu daripada kami. Hiks, pisah deh. Yaah, namanya juga setiap ada pertemuan bakal ada perpisahan. Senengnya adalah masih bisa kontek-kontekan (contact, -red) sama mbak Rumi. Silaturahmi tetep nggak boleh putus dong.

Biar nggak boring, aku pun memutar rekaman Kos-Kosan Gayam edisi Kejutan Lebaran. KKG emang nggak ada garingnya. Hehe.

Di tengah-tengah keseloan, Hilma mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Hilma : “teman-teman, aku ada oleh-oleh ni”

(Lalu suasana riuh rendah pun tercipta). Hilma membawakan Jenang Kudus dan Pothel Magelang. Hmmm, yummy.

Aku : “Teman-teman, tau nggak kota mana yang makanan khasnya jenang ?”
Hayoo tebak mana.. Kudus ? Magelang ?

Aku : “Kota yang makanan khasnya Jenang adalah Kota MaJENANG”
.
.
.
Krik..krik..krik…

Mbak Elsa, yang tadi pamit keluar sebentar, tiba-tiba kembali lagi dan memberitahu kami bahwa acara Halal Bi Halal sudah dimulai. Kami berlima diajak untuk ikut serta. Hayuuk. Di sana kami bersalaman dengan karyawan maupun keluarga karyawan PPPPTK. Cukup ramai.

Susunan acara Halal Bi Halal nya antara lain : pembukaan, pembacakan tilawah Al Qur’an, sambutan Ketua PPPPTK Matematika, sambutan mantan Ketua PPPPTK Matematika, pengumuman karyawan Purna Tugas, pembagian doorprize untuk anak karyawan yang lulus sekolah dan untuk karyawan yang menikah pada tahun 2013 (kategorinya lucu ya), kata pamitan dari karyawan yang akan berangkat haji, hiburan (ada perform dari PPPPTK Band), pengajian dari ustadz (ini acara intinya), penutup dan dilanjutkan makan-makan bersama.

Acara dimulai sekitar pukul 09.30 dan berakhir sekitar pukul 11.30 (belum termasuk salam-salaman dan makan-makan). Berhubung tadi cukup ramai dan kursi di dalam ruangan terbatas, kami pun memilih keluar dan duduk di luar gedung. Walaupun tidak bisa melihat secara langsung acara di dalam seperti apa, tapi dari luar pun suaranya tetap terakses dengan jelas.

Tau sendiri kan bagaimana rasanya kalau aktivitas kita hanya mendengarkan ? Yang terjadi adalah rasa ngantuk melanda begitu kuat. Hoaem. Biar nggak ketiduran, kadang aku memperhatikan anak-anak karyawan yang lari-larian di sekitar gedung, lucu-lucu, anak kecil emang imut banget. SMS-an, FB-an, POU-an, baca artikel di aplikasi Pedoman Ibu Hamil-nya Fatonah, dan ngobrol adalah pilihan lain sebagai “tombo ngantuk”. Seperti biasa, obrolan pun berlangsung dengan amat random.

Ayong : “Aku pengen es krim”

Fatonah : “Aku pengen sup buah”

Aku : “Mmm… Aku pengen kurus aja lah”

Gubrakkk

Oh iya, berhubung aku nggak pakai helm itu tadi, alhasil pulangnya aku sama Ayong nggak bisa bebas sembarangan lewat jalan biasa. Bisa-bisa kita ketangkep Polisi. Kan sayang duit di dompet *elus elus dompet*. Ada 2 alternatif yang bisa kita pilih : 1. aku turun di terminal Concat dan naik TJ, 2. kita cari jalan blusukan.

Berbekal sedikit arahan dari Fatonee yang jauh-lebih-gaul-daripada-aku-sama-Ayong, kita pun memilih alternatif kedua dengan segala resiko yang ada. Bisa dibayangin nggak, 2 orang yang sama-sama buta arah, yang nggak bisa ngebedain timur-barat-utara-selatan, yang cuma tau jalan-jalan utama Jogja, bersatu untuk menemukan jalan baru (baru buat kami) ?. Jadinya yaa.... nyasar ! Ngekk.

Saking muter-muternya jalan yang kami tempuh, aku sampai bingung harus gimana menuliskannya kembali. Dari Concat, kami menuju ke arah Jakal, terus motong jalan masuk ke perumahan, belok kiri, ketemu Ringroad, tapi ngerasa nggak sreg karena di situ nggak bisa nyebrang, terus masuk lagi ke perumahan, muter-muter, belok, ketemu Ringroad, nggak sreg lagi, muter-muter lagi, belok lagi, ketemu Ringroad lagi. Yah gitu lah. Oke, kita persingkat. Jadi harusnya, pas ketemu Ringroad itu kita nyebrang masuk gang di sebelah Indomaret. Case closed.

Kita pun menelusuri jalan sepanjang gang-sebelah-Indomaret tersebut. Aku sih tenang-tenang aja, aku pikir Ayong udah paham karena dia juga kelihatan santai. Eh, pas sampai di ujung jalan di situ kita dihadapkan pada tulisan : Jalan Monjali !. Laah ?. Padahal kan harusnya ketemu Jakal terus ketemu Selokan Mataram terus balik ke kost. Duuh. Harusnya tadi kita belok, bukan lurus-lurus aja. Feelingku makin nggak enak waktu Ayong malah melaju sampai kita ngelewatin Jalan AM Sangaji, trus ada perempatan dan di situ ada pos polisi. Muke lele deh, bikin deg-degan. Udah gitu, bisa-bisanya Ayong bilang "Don't be Panic". Zzz.

Singkat cerita kita sampai di Terban, terus entahlah bisa sampai di Bundaran UGM, dan mendarat dengan cantik di warung penyet di perempatan Karangmalang. Hehe.

Mari pesan makan, bungkus, dan bawa pulang ke Kost nya Ayong. Btw, Ayong pindah ke kamar lantai atas jadi sekarang dia udah say good bye sama "susah sinyal". Mari kita syukuran.
Setelah ijin 3 hari (karena harusnya masuk hari Senin dan aku masuk hari Kamis), hari ini pun mau nggak mau harus kembali ke rutinitas PI.

Berawal dari janjian berangkat jam 7.30 dengan Sorayong. Aku pun menunggu. Ketika jam menunjukkan pukul 07.48, terdengar suara motor berhenti di depan kost.  Aku pun segera mengambil tas, memakai sepatu dan keluar kost. Ternyata benar, yang datang adalah Ayong. Jadilah kami berangkat. Sudah lama rasanya tidak berangkat PI. Sedikit rasa canggung pun terbersit.

 Tempat parkir di PPPPTK Matematika terlihat lengang. Pertanda apakah ini.

Aku : “Fatonah udah dateng belum ya ?” (sambil celingak-celinguk di tempat parkir)

Ayong : “Coba dicari motornya deh”

Aku : (melihat helm Fatonah) “Oo, ini dia. Wah mereka gasik”

Ayong : “Lho Dis, kamu tu nggak pakai Helm ya ?”

Aku : “Hah ???. (Ting) Eh iya, aku nggak pakai helm. Baru nyadar”

Ayong : “Tadi kita ngelewatin Polisi nggak sih ?”

Aku : “Kayaknya sih di perempatan Ringroad-Concat tadi ada Pos Polisi sama Pak Polisinya juga”

Ayong : “Jadi….”

Aku sama Ayong : “Hahaha. Ngawur”

Pagi ini aku jan lupa ternyata pas berangkat PI nggak pakai helm. Padahal dari kost ke PPPPTK Matematika kita lewat Gejayan-Concat. Di perempatan Ringroad, di sana ada pos Polisi bertengger dengan manis di pojokan. Untung aja nggak ketilang. Gemblungnya adalah, bisa-bisanya aku sama Ayong nggak ada yang nyadar kalau aku nggak pakai helm. Mungkin kalau kita ditilang kita malah bingung sendiri kenapa kok bisa sampai kena tilang. Mungkin pas pak Polisi bilang apa alasannya baru deh kita ngeh kalau aku nggak pakai helm. Haha. Alasan “lupa” gitu bakal dipercaya nggak ya sama Pak Polisi. Padahal kan beneran lupa.

Dari tempat parkir kita menuju ke Labkom. Hilma, Fatonah sudah sampai duluan di sana. Ada juga mbak Elsa, mahasiswa Teknologi Pendidikan UNY yang juga sedang KKN-PPL di PPPPTK Matematika. Kita pun salam-salaman, maap-maapan terlebih dahulu. Kata mbak Elsa, hari ini ada acara Halal Bi Halal Keluarga Besar PPPPTK Matematika. Ooo pantes terasa sedikit berbeda. Di gedung samping ada tenda biru yang didirikan (tenda biru ? pasti jadi keinget lagunya tante Desi Ratnasari yaa :3). Sayup-sayup, kita juga bisa mendengar suara pegawai PPPPTK yang sedang karaoke. Muke lele di kantor bisa karaokean. Bikin kepengen :D.

Labkom sekarang sangat sepi. Sekarang satu ruangan Labkom hanya ditempati oleh kami ber6 (aku, Aya, Hilma, Fatonah, Reta, mbak Elsa). Bandingkan dengan dulu yang ada mas-mas dari universitas lain, ada adek-adek SMK, dan ada Mbak Rumi. Mereka sudah selesai praktek lebih dulu daripada kami. Hiks, pisah deh. Yaah, namanya juga setiap ada pertemuan bakal ada perpisahan. Senengnya adalah masih bisa kontek-kontekan (contact, -red) sama mbak Rumi. Silaturahmi tetep nggak boleh putus dong.

Biar nggak boring, aku pun memutar rekaman Kos-Kosan Gayam edisi Kejutan Lebaran. KKG emang nggak ada garingnya. Hehe.

Di tengah-tengah keseloan, Hilma mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Hilma : “teman-teman, aku ada oleh-oleh ni”

(Lalu suasana riuh rendah pun tercipta). Hilma membawakan Jenang Kudus dan Pothel Magelang. Hmmm, yummy.

Aku : “Teman-teman, tau nggak kota mana yang makanan khasnya jenang ?”
Hayoo tebak mana.. Kudus ? Magelang ?

Aku : “Kota yang makanan khasnya Jenang adalah Kota MaJENANG”
.
.
.
Krik..krik..krik…

Mbak Elsa, yang tadi pamit keluar sebentar, tiba-tiba kembali lagi dan memberitahu kami bahwa acara Halal Bi Halal sudah dimulai. Kami berlima diajak untuk ikut serta. Hayuuk. Di sana kami bersalaman dengan karyawan maupun keluarga karyawan PPPPTK. Cukup ramai.

Susunan acara Halal Bi Halal nya antara lain : pembukaan, pembacakan tilawah Al Qur’an, sambutan Ketua PPPPTK Matematika, sambutan mantan Ketua PPPPTK Matematika, pengumuman karyawan Purna Tugas, pembagian doorprize untuk anak karyawan yang lulus sekolah dan untuk karyawan yang menikah pada tahun 2013 (kategorinya lucu ya), kata pamitan dari karyawan yang akan berangkat haji, hiburan (ada perform dari PPPPTK Band), pengajian dari ustadz (ini acara intinya), penutup dan dilanjutkan makan-makan bersama.

Acara dimulai sekitar pukul 09.30 dan berakhir sekitar pukul 11.30 (belum termasuk salam-salaman dan makan-makan). Berhubung tadi cukup ramai dan kursi di dalam ruangan terbatas, kami pun memilih keluar dan duduk di luar gedung. Walaupun tidak bisa melihat secara langsung acara di dalam seperti apa, tapi dari luar pun suaranya tetap terakses dengan jelas.

Tau sendiri kan bagaimana rasanya kalau aktivitas kita hanya mendengarkan ? Yang terjadi adalah rasa ngantuk melanda begitu kuat. Hoaem. Biar nggak ketiduran, kadang aku memperhatikan anak-anak karyawan yang lari-larian di sekitar gedung, lucu-lucu, anak kecil emang imut banget. SMS-an, FB-an, POU-an, baca artikel di aplikasi Pedoman Ibu Hamil-nya Fatonah, dan ngobrol adalah pilihan lain sebagai “tombo ngantuk”. Seperti biasa, obrolan pun berlangsung dengan amat random.

Ayong : “Aku pengen es krim”

Fatonah : “Aku pengen sup buah”

Aku : “Mmm… Aku pengen kurus aja lah”

Gubrakkk

Oh iya, berhubung aku nggak pakai helm itu tadi, alhasil pulangnya aku sama Ayong nggak bisa bebas sembarangan lewat jalan biasa. Bisa-bisa kita ketangkep Polisi. Kan sayang duit di dompet *elus elus dompet*. Ada 2 alternatif yang bisa kita pilih : 1. aku turun di terminal Concat dan naik TJ, 2. kita cari jalan blusukan.

Berbekal sedikit arahan dari Fatonee yang jauh-lebih-gaul-daripada-aku-sama-Ayong, kita pun memilih alternatif kedua dengan segala resiko yang ada. Bisa dibayangin nggak, 2 orang yang sama-sama buta arah, yang nggak bisa ngebedain timur-barat-utara-selatan, yang cuma tau jalan-jalan utama Jogja, bersatu untuk menemukan jalan baru (baru buat kami) ?. Jadinya yaa.... nyasar ! Ngekk.

Saking muter-muternya jalan yang kami tempuh, aku sampai bingung harus gimana menuliskannya kembali. Dari Concat, kami menuju ke arah Jakal, terus motong jalan masuk ke perumahan, belok kiri, ketemu Ringroad, tapi ngerasa nggak sreg karena di situ nggak bisa nyebrang, terus masuk lagi ke perumahan, muter-muter, belok, ketemu Ringroad, nggak sreg lagi, muter-muter lagi, belok lagi, ketemu Ringroad lagi. Yah gitu lah. Oke, kita persingkat. Jadi harusnya, pas ketemu Ringroad itu kita nyebrang masuk gang di sebelah Indomaret. Case closed.

Kita pun menelusuri jalan sepanjang gang-sebelah-Indomaret tersebut. Aku sih tenang-tenang aja, aku pikir Ayong udah paham karena dia juga kelihatan santai. Eh, pas sampai di ujung jalan di situ kita dihadapkan pada tulisan : Jalan Monjali !. Laah ?. Padahal kan harusnya ketemu Jakal terus ketemu Selokan Mataram terus balik ke kost. Duuh. Harusnya tadi kita belok, bukan lurus-lurus aja. Feelingku makin nggak enak waktu Ayong malah melaju sampai kita ngelewatin Jalan AM Sangaji, trus ada perempatan dan di situ ada pos polisi. Muke lele deh, bikin deg-degan. Udah gitu, bisa-bisanya Ayong bilang "Don't be Panic". Zzz.

Singkat cerita kita sampai di Terban, terus entahlah bisa sampai di Bundaran UGM, dan mendarat dengan cantik di warung penyet di perempatan Karangmalang. Hehe.

Mari pesan makan, bungkus, dan bawa pulang ke Kost nya Ayong. Btw, Ayong pindah ke kamar lantai atas jadi sekarang dia udah say good bye sama "susah sinyal". Mari kita syukuran.

Wednesday, August 7, 2013

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H

Joko Dwi Widodo, Siti Aisyah, Deviana Anggraeny Widodo, Disma Ariyanti Widodo, Dafa Aditya Widodo mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Mohon maaf lahir dan batin :)

Met Lebaran \(^.^)/

Joko Dwi Widodo, Siti Aisyah, Deviana Anggraeny Widodo, Disma Ariyanti Widodo, Dafa Aditya Widodo mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Mohon maaf lahir dan batin :)

Met Lebaran \(^.^)/

Tuesday, July 30, 2013

Analogikan dengan Membeli Sepatu

Sebagai seorang perempuan, tentunya aku pernah merasakan yang namanya belanja. Beli logistik , beli baju, beli tas, beli buku, beli aksesoris, beli sepatu, dan banyak beli lainnya. Membeli sepatu adalah salah satu kegiatan yang punya tantangan tersendiri buatku. Kenapa ?

Kata salah satu tokoh di salah satu drama yang pernah aku tonton, kurang lebih dia bilang seperti ini “Sepatu yang bagus akan menuntun kita ke tempat yang bagus juga". Di salah satu film juga ada dialog, “Pacaran itu kayak memilih sepatu…". Ternyata, quote tentang sepatu cukup populer juga ya.

Terlepas dari pemikiran orang lain, buat aku, sepatu emang unik sih. Sepatu itu kita pakai untuk diinjak. Kasian ya. Padahal, dia yang selalu mempermanis langkah kita. Definisi manis di sini bisa diartikan berbeda oleh orang yang berbeda. Sama seperti banyak jenis sepatu : ada high heels, platform, peep-toe, pump shoes, wedges, boots, flat shoes, loafers vantofel, kets, dan yang lain yang aku belum tau. Semua punya tingkat “kelucuan" masing-masing, tapi juga punya tingkat kenyamanan masing-masing.
Duh, sebelum aku ngelantur mending be right back buat fokus lagi. Saat beli sepatu di toko sepatu (ya iya dong, masa’ beli sepatu di toko buku). Dilema banget rasanya untuk menentukan pilihan. Sepatu yang ini warnanya bagus, sepatu yang itu bentuknya unik, sepatu yang anu nyaman di kaki, bla bla bla. Kadang juga pernah tu, pas udah srek sama satu sepatu, eh ukuran yang pas ternyata nggak ada. Mau nggak mau ya terima ukuran itu atau pilih model lain. Nyesek deh.

Jadi… jadi apanya ?
Iya, kasus membeli sepatu itu semacam salah satu pembuatan keputusan yang penting juga kan. Di antara banyak pilihan, kita nggak bisa mengambil semua pilihan itu (kalopun bisa, mau buat apa beli sepatu banyak-banyak. hei, kaki kita kan cuma ada 2). Apapun pilihan kita, yang penting adalah gimana kita bisa memperkuat pilihan itu supaya nggak menyesal. Kalau memilih sepatu yang bentuknya biasa tapi nyaman, oke kok itu, berarti kaki kita bakal selamat. Kalau memilih sepatu yang bentuknya cantik (hak tinggi misalnya) tapi agak nggak nyaman karena nanti bisa bikin jatuh, itu juga oke kok. Toh berarti kita bisa belajar untuk melatih keseimbangan. Hehe.

Dan, jangan lupa. Kalau segala sesuatu di dunia ini tu nggak semua sama dengan apa-yang-jadi-ideal-nya-kita. Iya, nggak semua hal berjalan sesuai yang kita ingin. Sama kayak kasus “nggak-ada-ukuran-yang-pas-padahal-sepatunya-cantik-banget-tur-nyaman-banget-itu-tadi". Lagi-lagi, kita harus memilih dan mengambil keputusan.

Andai praktek menentukan pilihan dan pengambilan keputusan itu sesederhana membeli sepatu ya. Yang kalaupun nantinya nggak cocok, bisa pilih lagi dan beli lagi. Eh, tapi siapa bilang membeli sepatu itu sederhana ?. 

Buatku, sepatu itu spesial. Sepatu yang tepat membuat penampilan kita terlihat tepat, membuat kita merasa tepat pula untuk melangkah.


Sebagai seorang perempuan, tentunya aku pernah merasakan yang namanya belanja. Beli logistik , beli baju, beli tas, beli buku, beli aksesoris, beli sepatu, dan banyak beli lainnya. Membeli sepatu adalah salah satu kegiatan yang punya tantangan tersendiri buatku. Kenapa ?

Kata salah satu tokoh di salah satu drama yang pernah aku tonton, kurang lebih dia bilang seperti ini “Sepatu yang bagus akan menuntun kita ke tempat yang bagus juga". Di salah satu film juga ada dialog, “Pacaran itu kayak memilih sepatu…". Ternyata, quote tentang sepatu cukup populer juga ya.

Terlepas dari pemikiran orang lain, buat aku, sepatu emang unik sih. Sepatu itu kita pakai untuk diinjak. Kasian ya. Padahal, dia yang selalu mempermanis langkah kita. Definisi manis di sini bisa diartikan berbeda oleh orang yang berbeda. Sama seperti banyak jenis sepatu : ada high heels, platform, peep-toe, pump shoes, wedges, boots, flat shoes, loafers vantofel, kets, dan yang lain yang aku belum tau. Semua punya tingkat “kelucuan" masing-masing, tapi juga punya tingkat kenyamanan masing-masing.
Duh, sebelum aku ngelantur mending be right back buat fokus lagi. Saat beli sepatu di toko sepatu (ya iya dong, masa’ beli sepatu di toko buku). Dilema banget rasanya untuk menentukan pilihan. Sepatu yang ini warnanya bagus, sepatu yang itu bentuknya unik, sepatu yang anu nyaman di kaki, bla bla bla. Kadang juga pernah tu, pas udah srek sama satu sepatu, eh ukuran yang pas ternyata nggak ada. Mau nggak mau ya terima ukuran itu atau pilih model lain. Nyesek deh.

Jadi… jadi apanya ?
Iya, kasus membeli sepatu itu semacam salah satu pembuatan keputusan yang penting juga kan. Di antara banyak pilihan, kita nggak bisa mengambil semua pilihan itu (kalopun bisa, mau buat apa beli sepatu banyak-banyak. hei, kaki kita kan cuma ada 2). Apapun pilihan kita, yang penting adalah gimana kita bisa memperkuat pilihan itu supaya nggak menyesal. Kalau memilih sepatu yang bentuknya biasa tapi nyaman, oke kok itu, berarti kaki kita bakal selamat. Kalau memilih sepatu yang bentuknya cantik (hak tinggi misalnya) tapi agak nggak nyaman karena nanti bisa bikin jatuh, itu juga oke kok. Toh berarti kita bisa belajar untuk melatih keseimbangan. Hehe.

Dan, jangan lupa. Kalau segala sesuatu di dunia ini tu nggak semua sama dengan apa-yang-jadi-ideal-nya-kita. Iya, nggak semua hal berjalan sesuai yang kita ingin. Sama kayak kasus “nggak-ada-ukuran-yang-pas-padahal-sepatunya-cantik-banget-tur-nyaman-banget-itu-tadi". Lagi-lagi, kita harus memilih dan mengambil keputusan.

Andai praktek menentukan pilihan dan pengambilan keputusan itu sesederhana membeli sepatu ya. Yang kalaupun nantinya nggak cocok, bisa pilih lagi dan beli lagi. Eh, tapi siapa bilang membeli sepatu itu sederhana ?. 

Buatku, sepatu itu spesial. Sepatu yang tepat membuat penampilan kita terlihat tepat, membuat kita merasa tepat pula untuk melangkah.


Friday, July 26, 2013

Aku "Sama" Ayong

Aku sama ayong.
@ Art Jog 

Ah, entah udah berapa orang yang bilang kita mirip, atau bilang kita kembar. Hei, coba simak baik-baik. Bagian mana dari kami yang mirip lantas kalian bisa bilang bahwa kami kembar ? Physically, we are different, although it isn’t at all. Persamaannya Cuma satu, sama-sama “embem”. Tapi kadar embemku dengan Soraya juga baru mirip akhir-akhir ini kok, dulu mah embem-an Soraya banget. Haha *pembelaan.

Walaupun secara fisik kita beda, tapi inner kita emang agak samaan sih. Inner ? wew, abot.
Iya, inner. Sedikit cerita “perkoncoan” antara aku dan Ayong (panggilan sayang aku buat dia ni, hehe) ya, biar bisa jadi gambaran apa aja sih persamaan kami berdua.

Ayong masuk daftar konco yang aku kenal di awal. Kita udah kenal dari jaman OSPEK dan berlanjut sampai kuliah. Hari pertama kuliah, di jadwal kosong kita ngobrol-ngobrol ini-itu. (selain Ayong, waktu itu sama Hilma sama Annis. Eh, lambat laun malah tercipta sekawanan yang terdiri dari Aku, Ayong, Hilma, Fatonah. Lupa gimana awal ceritanya. Semua mengalir seperti air sih, *eaak).

Seiring waktu berjalan, gencar tuh info Open Recruitment ELINFO 2011. Sebagai mahasiswa baru yang masih meluap semangatnya, aku pun nggak mau ketinggalan buat daftar. Ternyata, Ayong juga daftar. Singkat cerita, waktu Temu Perdana kita berangkat bareng temen-temen sekelas (yang telat gara-gara kuliah Fisika dulu). Tibalah waktu untuk penentuan sie. Pas ditawarin sie acara, aku sama Ayong ngacung, ternyata selain kita berdua, banyak banget yang juga pengen jadi sie acara. Kalo nggak salah waktu itu Mas Catur yang mimpin, bilang kalo sie acara yang dibutuhkan Cuma beberapa orang, jadi nanti bakal ada yang dipindah ke sie lain. Aku sama Ayong pun rembugan, kira-kira nanti kalo dicutat mau pindah ke sie apa. Kita pun sepakat: sie Konsumsi jadi pilihan selanjutnya. Kita singkat-singkatin lagi ceritanya, aku sama Ayong masuk sie Humas. Lhoh, kok bisa ?. Pokokmen bisa dan itulah yang terjadi.

Persamaan pertama : kita sama-sama daftar jadi Panitia ELINFO. Persamaan kedua : awalnya kita sama-sama pengen  masuk sie Acara ELINFO tapi sama-sama masuk ke sie Humas. Efeknya, tiap berangkat rapat kita janjian dulu berdua soalnya kost kita ke KPLT kan searah. Chemistry lebih lanjut pun terjalin.
Selain ELINFO, kita juga sama-sama jadi anggota KOPMA UNY, sama-sama ikut CBT KOPMA, sama-sama jadi panitia RAT KOPMA juga. Nah !.

Kelar ELINFO, ada Open Recruitment HIMANIKA 2012. Lagi-lagi, aku pun daftar. Setelah survey ke anak-anak kelas F, ternyata lumayan banyak juga yang daftar ikut Hima. Salah satunya, ya Ayong. Ini persamaan kita lagi : sama-sama jadi pengurus Hima. Selama satu tahun kepengurusan di Hima, banyak proker yang kami berdua ikut (malah kayaknya, kalo ada Ayong ada aku. Walaupun kalo ada Aku, belum tentu ada Ayong sih). HSC, Semnas, LFC, CCJ, TJ, KO, Indo-Jerman Exhibition, PMB, KI, ELINFO 2012 (ada lagi nggak ya, agak-agak lupa). Di LFC, kita sama-sama jadi sie Konsumsi, di PMB juga kita sama-sama jadi pemandu.

Selain HIMA, aku sama Ayong juga go eksternal dong. Hehe, istilahnya wagu. Kita ekspansi ke Fakultas. Study Comparative BEM FT 2012, aku sama Ayonglah yang jadi perwakilan Hima waktu itu. Kita juga ikut ELS 2012 dan jadi panitia OSPEK FT 2012. Senengnya adalah, kita sama-sama tergabung jadi PH OSPEK. Aku jadi koordinator sie Data, Ayong jadi Bendahara. Orang yang sering bilang kalo kita kembar, salah satunya adalah Pak Korfak, yap >> Bani Asrofuddin. Hmmm..

Di kuliah, kami pun hampir 11-12. Sama-sama sering nggak mudeng. Haha. Dan di Hima sekarang pun kami sama-sama jadi Pengurus Harian, atau lebih khususnya lagi, sama-sama Pengurus Inti. Ayong jadi Bendahara, aku jadi Sekretaris. Masalah berantakannya kamar kost ? mm.. nggak perlu aku sebutin di sini lah ya :D.

Here we goes. Kita lagi PI nih. Lagi-lagi di tempat yang sama, PPPPTK Matematika. Tiap pagi kita udah pasang-pasangan berangkat ke sana. Fatonah sama Hilma, aku sama Ayong.

Herannya, kalo aku pas males banget berangkat pagi-pagi terus aku sms Ayong biar berangkatnya agak siangan aja, eh di saat yang bersamaan pasti ada sms dari Ayong juga bilang hal yang sama. Terus ni ya, kalo pas aku kesiangan, pas di jalan kita cerita-cerita, Ayong juga pasti bangunnya sama-sama kesiangan. Pas aku nggak sahur, eh, bisa ketebak kan, Ayong paginya juga nggak sahur.

Kemaren kita berdua main ke Art Jog. Di sana, kita sama-sama melongo. Melongo kita ini disponsori oleh rasa kagum sama barang-barang unik yang didisplay di sana, sekaligus karena nggak mudeng sama makna di dalamnya. Haha. Ending-endingnya di ArtJog juga malah jadi ajang narsis-narsisan deh.

Back to PI. Sekarang kita berlima dipisah jadi 2. Kakak Rete, Fatonah sama Hilma ngerjain proyek video, aku sama Ayong ngerjain proyek web. Aku sama Ayong sama-sama galau web ni ceritanya. Selain itu, kemaren (sekarang juga masih sih), kita sama-sama galau laporan pertanggungjawaban tengah tahun. Jadi, kemaren di tempat PI tuh bukannya buka Dreamweaver atau localhost buat bikin web. Aku malah buka Ms Word buat ngetik laporan, dan Ayong malah buka Ms Excel buat ngerekap dana. Maaf ya pak, bu pembimbing. Hehee.

Sekian dulu deh cerita-ceriti soal sedikit persamaan aku sama Ayong. Nggak menutup kemungkinan, bakal tambah lagi hal-hal yang sama antara kami berdua. Tapi, toh kami nggak melulu sama kok, tetap ada hal yang beda pastinya. Kalau sama terus, nanti jadi bosen dong, tebakable, monoton. Kalau beda terus, nanti yang ada bakal nggak nyatu terus kisruh. Persamaan ataupun perbedaan itu bukan hal yang pokok, yang penting adalah gimana kita memadukannya supaya saling melengkapi. Kami bisa akur gini, selain karena saling menghargai, aku pikir juga karena takdir yang menggariskan kita jadi kayak gini.

Yang pasti,
Seorang sahabat tidak akan membiarkan kamu melakukan tindakan bodoh…
…sendirian ! :D


Aku sama ayong.
@ Art Jog 

Ah, entah udah berapa orang yang bilang kita mirip, atau bilang kita kembar. Hei, coba simak baik-baik. Bagian mana dari kami yang mirip lantas kalian bisa bilang bahwa kami kembar ? Physically, we are different, although it isn’t at all. Persamaannya Cuma satu, sama-sama “embem”. Tapi kadar embemku dengan Soraya juga baru mirip akhir-akhir ini kok, dulu mah embem-an Soraya banget. Haha *pembelaan.

Walaupun secara fisik kita beda, tapi inner kita emang agak samaan sih. Inner ? wew, abot.
Iya, inner. Sedikit cerita “perkoncoan” antara aku dan Ayong (panggilan sayang aku buat dia ni, hehe) ya, biar bisa jadi gambaran apa aja sih persamaan kami berdua.

Ayong masuk daftar konco yang aku kenal di awal. Kita udah kenal dari jaman OSPEK dan berlanjut sampai kuliah. Hari pertama kuliah, di jadwal kosong kita ngobrol-ngobrol ini-itu. (selain Ayong, waktu itu sama Hilma sama Annis. Eh, lambat laun malah tercipta sekawanan yang terdiri dari Aku, Ayong, Hilma, Fatonah. Lupa gimana awal ceritanya. Semua mengalir seperti air sih, *eaak).

Seiring waktu berjalan, gencar tuh info Open Recruitment ELINFO 2011. Sebagai mahasiswa baru yang masih meluap semangatnya, aku pun nggak mau ketinggalan buat daftar. Ternyata, Ayong juga daftar. Singkat cerita, waktu Temu Perdana kita berangkat bareng temen-temen sekelas (yang telat gara-gara kuliah Fisika dulu). Tibalah waktu untuk penentuan sie. Pas ditawarin sie acara, aku sama Ayong ngacung, ternyata selain kita berdua, banyak banget yang juga pengen jadi sie acara. Kalo nggak salah waktu itu Mas Catur yang mimpin, bilang kalo sie acara yang dibutuhkan Cuma beberapa orang, jadi nanti bakal ada yang dipindah ke sie lain. Aku sama Ayong pun rembugan, kira-kira nanti kalo dicutat mau pindah ke sie apa. Kita pun sepakat: sie Konsumsi jadi pilihan selanjutnya. Kita singkat-singkatin lagi ceritanya, aku sama Ayong masuk sie Humas. Lhoh, kok bisa ?. Pokokmen bisa dan itulah yang terjadi.

Persamaan pertama : kita sama-sama daftar jadi Panitia ELINFO. Persamaan kedua : awalnya kita sama-sama pengen  masuk sie Acara ELINFO tapi sama-sama masuk ke sie Humas. Efeknya, tiap berangkat rapat kita janjian dulu berdua soalnya kost kita ke KPLT kan searah. Chemistry lebih lanjut pun terjalin.
Selain ELINFO, kita juga sama-sama jadi anggota KOPMA UNY, sama-sama ikut CBT KOPMA, sama-sama jadi panitia RAT KOPMA juga. Nah !.

Kelar ELINFO, ada Open Recruitment HIMANIKA 2012. Lagi-lagi, aku pun daftar. Setelah survey ke anak-anak kelas F, ternyata lumayan banyak juga yang daftar ikut Hima. Salah satunya, ya Ayong. Ini persamaan kita lagi : sama-sama jadi pengurus Hima. Selama satu tahun kepengurusan di Hima, banyak proker yang kami berdua ikut (malah kayaknya, kalo ada Ayong ada aku. Walaupun kalo ada Aku, belum tentu ada Ayong sih). HSC, Semnas, LFC, CCJ, TJ, KO, Indo-Jerman Exhibition, PMB, KI, ELINFO 2012 (ada lagi nggak ya, agak-agak lupa). Di LFC, kita sama-sama jadi sie Konsumsi, di PMB juga kita sama-sama jadi pemandu.

Selain HIMA, aku sama Ayong juga go eksternal dong. Hehe, istilahnya wagu. Kita ekspansi ke Fakultas. Study Comparative BEM FT 2012, aku sama Ayonglah yang jadi perwakilan Hima waktu itu. Kita juga ikut ELS 2012 dan jadi panitia OSPEK FT 2012. Senengnya adalah, kita sama-sama tergabung jadi PH OSPEK. Aku jadi koordinator sie Data, Ayong jadi Bendahara. Orang yang sering bilang kalo kita kembar, salah satunya adalah Pak Korfak, yap >> Bani Asrofuddin. Hmmm..

Di kuliah, kami pun hampir 11-12. Sama-sama sering nggak mudeng. Haha. Dan di Hima sekarang pun kami sama-sama jadi Pengurus Harian, atau lebih khususnya lagi, sama-sama Pengurus Inti. Ayong jadi Bendahara, aku jadi Sekretaris. Masalah berantakannya kamar kost ? mm.. nggak perlu aku sebutin di sini lah ya :D.

Here we goes. Kita lagi PI nih. Lagi-lagi di tempat yang sama, PPPPTK Matematika. Tiap pagi kita udah pasang-pasangan berangkat ke sana. Fatonah sama Hilma, aku sama Ayong.

Herannya, kalo aku pas males banget berangkat pagi-pagi terus aku sms Ayong biar berangkatnya agak siangan aja, eh di saat yang bersamaan pasti ada sms dari Ayong juga bilang hal yang sama. Terus ni ya, kalo pas aku kesiangan, pas di jalan kita cerita-cerita, Ayong juga pasti bangunnya sama-sama kesiangan. Pas aku nggak sahur, eh, bisa ketebak kan, Ayong paginya juga nggak sahur.

Kemaren kita berdua main ke Art Jog. Di sana, kita sama-sama melongo. Melongo kita ini disponsori oleh rasa kagum sama barang-barang unik yang didisplay di sana, sekaligus karena nggak mudeng sama makna di dalamnya. Haha. Ending-endingnya di ArtJog juga malah jadi ajang narsis-narsisan deh.

Back to PI. Sekarang kita berlima dipisah jadi 2. Kakak Rete, Fatonah sama Hilma ngerjain proyek video, aku sama Ayong ngerjain proyek web. Aku sama Ayong sama-sama galau web ni ceritanya. Selain itu, kemaren (sekarang juga masih sih), kita sama-sama galau laporan pertanggungjawaban tengah tahun. Jadi, kemaren di tempat PI tuh bukannya buka Dreamweaver atau localhost buat bikin web. Aku malah buka Ms Word buat ngetik laporan, dan Ayong malah buka Ms Excel buat ngerekap dana. Maaf ya pak, bu pembimbing. Hehee.

Sekian dulu deh cerita-ceriti soal sedikit persamaan aku sama Ayong. Nggak menutup kemungkinan, bakal tambah lagi hal-hal yang sama antara kami berdua. Tapi, toh kami nggak melulu sama kok, tetap ada hal yang beda pastinya. Kalau sama terus, nanti jadi bosen dong, tebakable, monoton. Kalau beda terus, nanti yang ada bakal nggak nyatu terus kisruh. Persamaan ataupun perbedaan itu bukan hal yang pokok, yang penting adalah gimana kita memadukannya supaya saling melengkapi. Kami bisa akur gini, selain karena saling menghargai, aku pikir juga karena takdir yang menggariskan kita jadi kayak gini.

Yang pasti,
Seorang sahabat tidak akan membiarkan kamu melakukan tindakan bodoh…
…sendirian ! :D


Wednesday, July 17, 2013

,

Nulis Asik By Creative Charity

I. Mas Alit Susanto / Mas Alit / @shitlicious

Session nya mas Alit menjurus ke Nulis Komedi. Secara, beliau kan emang nuliser komedier gitu. ilmunya gimana ? Check it out

Preparation
? Who Are You 

  • Kenali dirimu. Caranya ? Seringlah nulis

! Be Honest

  • Jujur, tulis apa adanya tentang diri kamu, biar keliatan apa adanya. Nggak usah dilebih-lebihin atau dikurang-kurangin. Kalo kayak gitu ya kayak gitu aja.
  • Semua orang punya persona masing-masing. Punya idola sih boleh aja, tapi jangan sampai kamu kehilangan your own style. Tep kudu punya karakter sendiri. Jadi jangan sembarang ikut-ikutan orang lain.
  • Ambil referensi dari beberapa genre sekaligus. Referensi itu nggak dosa kok. Malah disaranin buat liat banyak referensi. Misalnya di genre komedi ada "Lupus"nya Hilman, "Kambing Jantan"nya Raditya Dika, di genre Drama ada Novel Mendayu-dayunya Mira W, di genre Horror ada buku "Gelonggong Kambing" (misalnya aja sih). Terus tujuannya buat apa ? jadi kita bisa tau tulisan nya si ini tu gimana, lebihnya apa, asiknya apa, tulisannya si anu tu gimane, uniknya apa, dll. Nah dari berbagai referensi tadi kita jadi bisa nemuin gaya khas kita. Syukur-syukur kalo bisa nggabungin beberapa genre dan jadi satu karya unik tersendiri.

*Never Think About Royalty

  • Apapun yang didasari karena duit, nggak akan maju deh. Cukup percaya aja, bonusnya Tuhan itu nggak pernah receh.

Let's Begin !

Catching Ideas 
Gimana sih caranya biar bisa dapet ide ? Di mana ?
"Biasanya gue dapet ide di jamban" kata mas Alit. It means that idea is everywhere. Ide itu ada di mana-mana. Inspirasi itu bisa dari mana aja. Bisa dari pengalaman pribadi, bisa juga dari pengalaman orang lain. Hey, curhatan temen juga bisa jadi sumber ide lho.

Emotional
Contoh :
Keresahan
Ketakutan
Kemarahan
Loh, gimana bisa emosi resah, takut dan marah bisa jadi suatu komedi ? bisa, jelas sangat bisa.
Menulis komedi itu bukan melucukan tulisan, tapi melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Tugas kita adalah memperhatikan lebih detail daripada apa yang orang lain perhatikan.
Caranya ?

a. Swap (Menukarkan)
Right person in wrong condition
Misalnya aja Syahrini. Dia kita ceritakan bukan sebagai artis, tapi sebagai kuli bangunan. Apa yang bakal terjadi ? si Jambul Khatulistiwa mungkin bakal dia pake buat ngaduk semen
Right person in wrong time
Misalnya aja Syahrini lagi. Dia kita ceritain hidup di jaman Belanda. Apa yang bakal terjadi ? si Jambul Khatulistiwa bisa tuh dijadikan sebagai pengganti bambu runcing buat ngusir penjajah. Nah lho.

b. Hook (Keterkaitan)
Awali suatu tulisan dengan kalimat yang memancing rasa penasaran pembaca. Jangan yang tebakable dan jangan pake kalimat yang bisa dijawab dengan "Ya emang". Misalnya, "Malam ini aku galau karena abis diputusin pacar". Duh, ini tebakable banget.
Tips : Awali dengan dialog

c. Delivery (Penyampaian)
Penting banget buat bikin pembaca bisa masuk ke imajinasi kita. Karena, hey, nggak semua pembaca kenal sama kamu. Nggak semua pembaca adalah teman karib kamu kan. Tugas kita adalah menunjukkan (showing), bukan mengatakan (telling).
Telling >> Directly tell the condition
Showing >> Showing the condition of something with detail
Tips : Hindari penggunaan kata sifat


"Penulis komedi nggak harus pernah mengalami semua hal lucu. Penulis komedi yang baik cukup adalah seorang analis yang tekun" - mas Alit.
II. Mbak Widya / Mbak Wiwid / @widya_oktavia
Next, materi dari mbak Wiwid, editor di penerbit BUKUNE. Materi ini lebih ke pengetahuan buat kita yang mau serius nulis biar bisa sukses bikin tulisan kita dilirik sama Editor dan diterbitin.

"Orang tidak ingin membaca curhatan kamu. Makanya ambil satu kondisi global yang juga dirasakan orang lain sehingga orang lain itu merasa tertarik untuk membaca tulisan kamu"
Itu dia pembuka dari mbak Wiwid.

Apa Genremu ?
Ini penting. Kamu harus tau dulu kamu punya warna apa. Punya karakter deh istilahnya. Hampir sama kayak yang mas Alit bilang di atas : nggak Cuma sekedar ikut-ikutan gaya orang lain.

Kembangkan Tokoh Utama
Tokoh Utama harus menarik. Kalo nggak menarik, trus apa yang jadi magnet buat pembaca ngabisin novel kamu sampe halaman terakhir ?. caranya buat mengembangkan tokoh utama ternyata gini ini:
- Dia memiliki masalah yang perlu diselesaikan
- Dia mampu berperan dalam cerita
- Dia memiliki alasan untuk bertindak
- Dia mengalami kehilangan sesuatu
- Dia memiliki sesuatu untuk diraih
- Dia memiliki kemampuan untuk berubah
- Dia memiliki rahasia
- Dia memiliki kualitas diri yang menarik / simpatik
- Dia memiliki kekurangan / kelemahan yang menarik
- Dia memiliki seseorang / sesuatu yang mengadangnya

Menurut mbak Wiwid, "Di dunia ini nggak ada sesuat yang benar-benar baru". Cerita tentang LDR, tentang Move On, tentang Putus-Nyambung, tentang Sakit-Parah, bukan sesuatu yang baru. Tapi cara kita mengemasnya yang bikin hal itu tetap menarik.

Cara Menyegarkan Plot Lama
- Mencoba sudut pandang baru
- Mencoba setting tempat baru
- Mencoba setting waktu yang beda
- Mencoba hal yang berkebalikan

"Berawal dari mimpi ingin jadi penulis dan akhirnya beneran jadi penulis itu AMAZING. Jadi, ayo jangan takut buat bermimpi" - mbak Wiwid.
Ciptakan sejarahmu sendiri dengan menulis - @shitlicious
I. Mas Alit Susanto / Mas Alit / @shitlicious

Session nya mas Alit menjurus ke Nulis Komedi. Secara, beliau kan emang nuliser komedier gitu. ilmunya gimana ? Check it out

Preparation
? Who Are You 

  • Kenali dirimu. Caranya ? Seringlah nulis

! Be Honest

  • Jujur, tulis apa adanya tentang diri kamu, biar keliatan apa adanya. Nggak usah dilebih-lebihin atau dikurang-kurangin. Kalo kayak gitu ya kayak gitu aja.
  • Semua orang punya persona masing-masing. Punya idola sih boleh aja, tapi jangan sampai kamu kehilangan your own style. Tep kudu punya karakter sendiri. Jadi jangan sembarang ikut-ikutan orang lain.
  • Ambil referensi dari beberapa genre sekaligus. Referensi itu nggak dosa kok. Malah disaranin buat liat banyak referensi. Misalnya di genre komedi ada "Lupus"nya Hilman, "Kambing Jantan"nya Raditya Dika, di genre Drama ada Novel Mendayu-dayunya Mira W, di genre Horror ada buku "Gelonggong Kambing" (misalnya aja sih). Terus tujuannya buat apa ? jadi kita bisa tau tulisan nya si ini tu gimana, lebihnya apa, asiknya apa, tulisannya si anu tu gimane, uniknya apa, dll. Nah dari berbagai referensi tadi kita jadi bisa nemuin gaya khas kita. Syukur-syukur kalo bisa nggabungin beberapa genre dan jadi satu karya unik tersendiri.

*Never Think About Royalty

  • Apapun yang didasari karena duit, nggak akan maju deh. Cukup percaya aja, bonusnya Tuhan itu nggak pernah receh.

Let's Begin !

Catching Ideas 
Gimana sih caranya biar bisa dapet ide ? Di mana ?
"Biasanya gue dapet ide di jamban" kata mas Alit. It means that idea is everywhere. Ide itu ada di mana-mana. Inspirasi itu bisa dari mana aja. Bisa dari pengalaman pribadi, bisa juga dari pengalaman orang lain. Hey, curhatan temen juga bisa jadi sumber ide lho.

Emotional
Contoh :
Keresahan
Ketakutan
Kemarahan
Loh, gimana bisa emosi resah, takut dan marah bisa jadi suatu komedi ? bisa, jelas sangat bisa.
Menulis komedi itu bukan melucukan tulisan, tapi melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Tugas kita adalah memperhatikan lebih detail daripada apa yang orang lain perhatikan.
Caranya ?

a. Swap (Menukarkan)
Right person in wrong condition
Misalnya aja Syahrini. Dia kita ceritakan bukan sebagai artis, tapi sebagai kuli bangunan. Apa yang bakal terjadi ? si Jambul Khatulistiwa mungkin bakal dia pake buat ngaduk semen
Right person in wrong time
Misalnya aja Syahrini lagi. Dia kita ceritain hidup di jaman Belanda. Apa yang bakal terjadi ? si Jambul Khatulistiwa bisa tuh dijadikan sebagai pengganti bambu runcing buat ngusir penjajah. Nah lho.

b. Hook (Keterkaitan)
Awali suatu tulisan dengan kalimat yang memancing rasa penasaran pembaca. Jangan yang tebakable dan jangan pake kalimat yang bisa dijawab dengan "Ya emang". Misalnya, "Malam ini aku galau karena abis diputusin pacar". Duh, ini tebakable banget.
Tips : Awali dengan dialog

c. Delivery (Penyampaian)
Penting banget buat bikin pembaca bisa masuk ke imajinasi kita. Karena, hey, nggak semua pembaca kenal sama kamu. Nggak semua pembaca adalah teman karib kamu kan. Tugas kita adalah menunjukkan (showing), bukan mengatakan (telling).
Telling >> Directly tell the condition
Showing >> Showing the condition of something with detail
Tips : Hindari penggunaan kata sifat


"Penulis komedi nggak harus pernah mengalami semua hal lucu. Penulis komedi yang baik cukup adalah seorang analis yang tekun" - mas Alit.
II. Mbak Widya / Mbak Wiwid / @widya_oktavia
Next, materi dari mbak Wiwid, editor di penerbit BUKUNE. Materi ini lebih ke pengetahuan buat kita yang mau serius nulis biar bisa sukses bikin tulisan kita dilirik sama Editor dan diterbitin.

"Orang tidak ingin membaca curhatan kamu. Makanya ambil satu kondisi global yang juga dirasakan orang lain sehingga orang lain itu merasa tertarik untuk membaca tulisan kamu"
Itu dia pembuka dari mbak Wiwid.

Apa Genremu ?
Ini penting. Kamu harus tau dulu kamu punya warna apa. Punya karakter deh istilahnya. Hampir sama kayak yang mas Alit bilang di atas : nggak Cuma sekedar ikut-ikutan gaya orang lain.

Kembangkan Tokoh Utama
Tokoh Utama harus menarik. Kalo nggak menarik, trus apa yang jadi magnet buat pembaca ngabisin novel kamu sampe halaman terakhir ?. caranya buat mengembangkan tokoh utama ternyata gini ini:
- Dia memiliki masalah yang perlu diselesaikan
- Dia mampu berperan dalam cerita
- Dia memiliki alasan untuk bertindak
- Dia mengalami kehilangan sesuatu
- Dia memiliki sesuatu untuk diraih
- Dia memiliki kemampuan untuk berubah
- Dia memiliki rahasia
- Dia memiliki kualitas diri yang menarik / simpatik
- Dia memiliki kekurangan / kelemahan yang menarik
- Dia memiliki seseorang / sesuatu yang mengadangnya

Menurut mbak Wiwid, "Di dunia ini nggak ada sesuat yang benar-benar baru". Cerita tentang LDR, tentang Move On, tentang Putus-Nyambung, tentang Sakit-Parah, bukan sesuatu yang baru. Tapi cara kita mengemasnya yang bikin hal itu tetap menarik.

Cara Menyegarkan Plot Lama
- Mencoba sudut pandang baru
- Mencoba setting tempat baru
- Mencoba setting waktu yang beda
- Mencoba hal yang berkebalikan

"Berawal dari mimpi ingin jadi penulis dan akhirnya beneran jadi penulis itu AMAZING. Jadi, ayo jangan takut buat bermimpi" - mbak Wiwid.
Ciptakan sejarahmu sendiri dengan menulis - @shitlicious

#Creative Charity

Kenal sama Alit Susanto ? atau pernah denger tentang Shitlicious ?
Mungkin sebagian langsung paham, sebagian lagi ada yang garuk-garuk kepala. Aku termasuk kategori yang kedua. Hehe.

Berawal dari lagi selo dan ngecek Timeline, aku liat ada tweet dari akun kampus : @standupuny tentang acara #CreativeCharity bareng @shitlicious. Pertama kali denger langsung  interest. @standupuny itu komunitas para comic yang rutin ngadain open mic (biasanya sih hari Rabu). Eksistensi mereka jangan ditanyain lagi. Udah sering menggoyang di mana-mana deh *jiaah berasa apa aja. Kalo @shitlicious itu…aku berasa familiar sama akun itu. pas aku cek, ternyata bener ni akun kocak. Secara yang ngadain orang-orang seru, terus acaranya juga sama orang seru, aku jadi curiga kalo acaranya bakal sama serunya. Brb mengajukan diri buat ikutan deh.

Aku juga nggak begitu kenal sama mas (duh, mas) Alit ini *mas, kamu belum begitu terkenal ternyata :D. Yang aku tau, mas Alit itu penulis buku Skripshit dan aku pernah baca tu buku. Bukunya tentang curhatan beliau selaku mahasiswa abadi yang lagi berjuang buat nyelesein skripsi, yang konon katanya masih belum kelar juga sampai sekarang. #pukpuk. Mas Alit juga mahasiswa kampus tetangga sebelah lho. UGM ? Bukan, bukan UGM, tapi Sadhar (Sanata Dharma).

Acara #CreativeCharity siang itu diadain di Aula FE. Sebagai anak Teknik, wajar dong ya bro kalo aku nggak familiar sama denah FE. Jadilah aku Tanya-tanya sama anak FE. Beruntung pas di sana ketemu temen jadi bisa ditunjukin jalan yang benar . Pas naik ke atas (aula nya di lantai 2), ternyata nemuin aula nggak segampang nemuin cerita galaunya @hanijava di twitter *duh #salahfokus. Intinya aku malah muter-muter gitu deh.

Di sebuah pojokan ada gerombolan mas-mas yang lagi nggerombol, tiap ada mahasiswa yang nyamperin, mereka selalu Tanya “mau seminar apa KRS-an ?”. wah, ini semacam kode kayaknya. Berawal dari keraguan untuk mendekat karena wajah mas-mas nya yang sangar, lambat laun akupun memantapkan langkah (duilah bahasaku). Apalagi ada wajah yang aku cukup kenal. Kalo nggak salah ini mas @dickimahardika. Akupun registrasi ulang di sana. Sempet bercanda juga.

Mas Dicki dkk : “Mau Seminar apa KRS-an ?”
Aku : “Emang ini acara seminar ya mas ?”
Mas Dicki dkk : “Ya enggak sih, ini acara Creative Charity”
Aku : “Nah, itu dia mas”
Mas Dicki dkk : “Mbak nya yang tadi sliwar-sliwer kan, bingung ya mau ke sini ?”
Aku : “Iya e mas, takut ke sini soalnya mas-masnya sangar”
Mas Dicki dkk : “(saling tunjuk temenna) Woo kowe kui wajahe sangar. (berpaling ke aku) Emang nggak tau aula di mana ya mbak ?”
Aku : “Nggak tau mas, bukan anak FE soalnya”
Mas Dicki : “emang anak mana ?”
Aku : “Anak UNY mas. (liat kolom nama dan tanda tangan) eh mas, ini namaku salah”
Mas Dicki : “Oo, yaudah, nggak pa-pa kok”
Aku : “Iya, nggak dapet sertifikat kan ? Hehe”
Mas Dicki : “Mbak nya pasti beneran anak UNY. Haha”

Yah begitulah. Anak UNY identik dengan pencari sertifikat. Duh, biyung. Btw, dapet booknote keren deh. Aaak, jadi semangat buat nulis. Hehe.

Di dalam ruangan udah ada cukup orang yang menempati sebagian deretan kursi yang ditata rapi di sana. Aku pilih buat duduk di sebelah 2 orang mbak-mbak biar aku nggak keliatan sendiri. Aku sapukan pandangan ke penjuru ruangan. Eh, ada viewer juga yang nampilin tweet-tweet dengan hashtag #CreativeCharity. *brb ngetwit deh.

Beberapa saat acara dibuka sama MC. Kak MC ngenalin 3 orang pembicara kita. Ternyata nggak Cuma ada @shitlicious, hari itu ada @CatatanSiDoy sama mbak @widya_oktavia. Mau tau apa aja ilmunya ? next post yak, biar nggak longpost numpuk di satu post ini. Hehe.

Finally, acaranya cukup seru kok. 3 dari 5 bintang deh. Sayang waktunya Cuma 2 jam (dari pukul 14.00 – 16.00). Walaupun acaranya sederhana dan tebakable (karena latihan kepenulisan kan emang paling Cuma gitu-gitu aja : materi tentang penggalian ide, teknik nulis, praktek nulis, sesi Tanya jawab, dll dll). Tapi kemasan acara yang fresh dan orangnya yang gokil-gokil bikin kita ngakakable.

Owh iya, dari acara ini aku jadi tau apa itu charity. Jadi, di acara-acara charity, nggak ada patokan harga dari panitia buat peserta yang ikut. Peserta yang ikut cukup ngasih seikhlas mereka. Nantinya uang tersebut bakal jadi donasi buat saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga acaranya berkah deh..

Nice to be a part of #CreativeCharity Jogja

Kenal sama Alit Susanto ? atau pernah denger tentang Shitlicious ?
Mungkin sebagian langsung paham, sebagian lagi ada yang garuk-garuk kepala. Aku termasuk kategori yang kedua. Hehe.

Berawal dari lagi selo dan ngecek Timeline, aku liat ada tweet dari akun kampus : @standupuny tentang acara #CreativeCharity bareng @shitlicious. Pertama kali denger langsung  interest. @standupuny itu komunitas para comic yang rutin ngadain open mic (biasanya sih hari Rabu). Eksistensi mereka jangan ditanyain lagi. Udah sering menggoyang di mana-mana deh *jiaah berasa apa aja. Kalo @shitlicious itu…aku berasa familiar sama akun itu. pas aku cek, ternyata bener ni akun kocak. Secara yang ngadain orang-orang seru, terus acaranya juga sama orang seru, aku jadi curiga kalo acaranya bakal sama serunya. Brb mengajukan diri buat ikutan deh.

Aku juga nggak begitu kenal sama mas (duh, mas) Alit ini *mas, kamu belum begitu terkenal ternyata :D. Yang aku tau, mas Alit itu penulis buku Skripshit dan aku pernah baca tu buku. Bukunya tentang curhatan beliau selaku mahasiswa abadi yang lagi berjuang buat nyelesein skripsi, yang konon katanya masih belum kelar juga sampai sekarang. #pukpuk. Mas Alit juga mahasiswa kampus tetangga sebelah lho. UGM ? Bukan, bukan UGM, tapi Sadhar (Sanata Dharma).

Acara #CreativeCharity siang itu diadain di Aula FE. Sebagai anak Teknik, wajar dong ya bro kalo aku nggak familiar sama denah FE. Jadilah aku Tanya-tanya sama anak FE. Beruntung pas di sana ketemu temen jadi bisa ditunjukin jalan yang benar . Pas naik ke atas (aula nya di lantai 2), ternyata nemuin aula nggak segampang nemuin cerita galaunya @hanijava di twitter *duh #salahfokus. Intinya aku malah muter-muter gitu deh.

Di sebuah pojokan ada gerombolan mas-mas yang lagi nggerombol, tiap ada mahasiswa yang nyamperin, mereka selalu Tanya “mau seminar apa KRS-an ?”. wah, ini semacam kode kayaknya. Berawal dari keraguan untuk mendekat karena wajah mas-mas nya yang sangar, lambat laun akupun memantapkan langkah (duilah bahasaku). Apalagi ada wajah yang aku cukup kenal. Kalo nggak salah ini mas @dickimahardika. Akupun registrasi ulang di sana. Sempet bercanda juga.

Mas Dicki dkk : “Mau Seminar apa KRS-an ?”
Aku : “Emang ini acara seminar ya mas ?”
Mas Dicki dkk : “Ya enggak sih, ini acara Creative Charity”
Aku : “Nah, itu dia mas”
Mas Dicki dkk : “Mbak nya yang tadi sliwar-sliwer kan, bingung ya mau ke sini ?”
Aku : “Iya e mas, takut ke sini soalnya mas-masnya sangar”
Mas Dicki dkk : “(saling tunjuk temenna) Woo kowe kui wajahe sangar. (berpaling ke aku) Emang nggak tau aula di mana ya mbak ?”
Aku : “Nggak tau mas, bukan anak FE soalnya”
Mas Dicki : “emang anak mana ?”
Aku : “Anak UNY mas. (liat kolom nama dan tanda tangan) eh mas, ini namaku salah”
Mas Dicki : “Oo, yaudah, nggak pa-pa kok”
Aku : “Iya, nggak dapet sertifikat kan ? Hehe”
Mas Dicki : “Mbak nya pasti beneran anak UNY. Haha”

Yah begitulah. Anak UNY identik dengan pencari sertifikat. Duh, biyung. Btw, dapet booknote keren deh. Aaak, jadi semangat buat nulis. Hehe.

Di dalam ruangan udah ada cukup orang yang menempati sebagian deretan kursi yang ditata rapi di sana. Aku pilih buat duduk di sebelah 2 orang mbak-mbak biar aku nggak keliatan sendiri. Aku sapukan pandangan ke penjuru ruangan. Eh, ada viewer juga yang nampilin tweet-tweet dengan hashtag #CreativeCharity. *brb ngetwit deh.

Beberapa saat acara dibuka sama MC. Kak MC ngenalin 3 orang pembicara kita. Ternyata nggak Cuma ada @shitlicious, hari itu ada @CatatanSiDoy sama mbak @widya_oktavia. Mau tau apa aja ilmunya ? next post yak, biar nggak longpost numpuk di satu post ini. Hehe.

Finally, acaranya cukup seru kok. 3 dari 5 bintang deh. Sayang waktunya Cuma 2 jam (dari pukul 14.00 – 16.00). Walaupun acaranya sederhana dan tebakable (karena latihan kepenulisan kan emang paling Cuma gitu-gitu aja : materi tentang penggalian ide, teknik nulis, praktek nulis, sesi Tanya jawab, dll dll). Tapi kemasan acara yang fresh dan orangnya yang gokil-gokil bikin kita ngakakable.

Owh iya, dari acara ini aku jadi tau apa itu charity. Jadi, di acara-acara charity, nggak ada patokan harga dari panitia buat peserta yang ikut. Peserta yang ikut cukup ngasih seikhlas mereka. Nantinya uang tersebut bakal jadi donasi buat saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga acaranya berkah deh..

Nice to be a part of #CreativeCharity Jogja

Tuesday, July 2, 2013

June On Review

 Fix, Juni jadi bulan di mana aku spaneng sekaligus sumringah. Bulan di mana aku naik ke atas sekaligus jatoh sejatoh-jatohnya ke bawah. Bulan di mana aku harus ke sana dan ke sini.

Spaneng karena udah memasuki masa-masa UAS. Galau RPL, galau SPK, galau Metal, galau KWU, dll jadi satu. Salah sendiri sih, suruh siapa nyantai-nyantai belajar kok dirapel di akhir, ngerjain proyek kok dirapel di akhir, nyusun proposal kok dirapel di akhir. Berasa sahur, semua serba mengakhirkan. Lhoh ?. Iya kan, kan sahur lebih utama kalo mengakhirkan. Apa jhal :D.

Akibat kebiasaan ngerjain mepet-mepet deadline, aku sebut bulan ini dan juga semester ini sebagai H-sehari. *only if you know what I mean.

Sumringah karena gaweanku dolan-dolan mulu. Bukan dolan sih sebenernya, tapi emang kegiatan yang ndilalah ke tempat-tempat yang dolanable.

Hari pertama di bulan ini aja (Sabtu, 1/6) udah dibuka dengan nonton film Epic The Movie di bioskop. Seminggu setelahnya (Sabtu, 8/6) ada survey FT Mengajar ke daerah Gunungkidul yang endingnya malah jadi jalan-jalan ke Gunung Purba sama temen-temen team.

Rentang seminggu kemudian (Minggu, 16/6) ada Lomba Masak sama Pengurus BEM KM UNY 2013, kalo ini sih masih di area kampus, cukup masak-masak di sebelah Masmuja aja kok. Eits, tapi malemnya aku dan beberapa temen kelas F nginep bareng di rumah simbahnya Ipeh, terus Senin (17/6) pagi kita ke Goa Jepang. Hehe.

Nggak butuh waktu lama. Selasa malem (18/6), ada agenda lagi nih : Progress Report Dagri yang kita “gelar” di rumah Tri (salah satu Dagri Holic, sebutan buat anak Dagri). Rumahnya Tri ini ada di cangkiran, Jakal ke sonooooo lagi lah. Kalo ditanya, “Ini Jakal KM berapa Tri ?”, jawabannya “Jakal KM entah njuk mbelok-mbelok”. Setelah malamnya evaluasi habis-habisan di progress report, paginya kita jalan-jalan habis-habisan mlipir ke Merapi. Merapi nya dekeeet banget.

Pasar Kangen jadi next dolan di bulan ini. Di Jumat (21/6) malam yang pekat, datanglah ajakan dari mbak Mega buat ke Pasar Kangen. Hayuk cuss cap cus. Aku berasa menyusup gegara ke sananya bareng sama anak kelas G semua. Tapi no problem. Yang jadi problem adalah, kita nggak bisa beli bensin. Berhubung esok hari harga BBM naik, antrian motor di pom bensin seakan ngalahin antrian penonton AADC di bioskop (duh, ini fenomena jaman kapan jhal).

Pasar Kangen ternyata emang bisa bikin kangen. Alhasil,  aku ke sana lagi hari Senin minggu depannya (24/6). Kali ini sama Aya, Hilma, Mimip, Fiani dan kakak Rete. Kita membawa misi rahasia : ngasih birthday surprise buat Mimip. Ssst, jangan bilang-bilang ya. Pasar Kangen Cuma jadi tempat persinggahan aja, tempat eksekusinya di taman monument Serangan Umum 1 Maret di 0 KM. Ceritanya di tengah kita istirahat dari jalan-jalan (capek lhoh broh), trus Fatonah, Budi dan Andri dateng bawa kue. Kita pun nyanyi-nyanyi gitu. Semarak.

Balik lagi, harusnya hari Sabtu (22/6) aku bisa jalan-jalan lagi ke Gunungkidul buat FT Mengajar. Tapi berhubung bentrok sama seleksi MCR dan aku milih seleksi MCR, jadi dibatalin dulu deh ke GKnya. Hiks. Hiksnya lagi aku gagal lho kepilih jadi MCR. Hihik. Jadi nih ya, modal niat doang itu nggak cukup. Itu nekat namanya. Kalo emang punya keinginan, bawa bekal kesiapan juga yah. *catet*.

Pungkasan dari Juni Dolan yaitu dengan Upgrading di Banguntapan Bantul. Berhubung panitia dari pihak PH, jadi kami lah yang menyiapkan segala sesuatunya. Tempat Upgrading kita di daerah sentra produksi batu bata gitu. Asap dan abu pembakaran batu bata ada di mana-mana. Asik atau enggak nya, silahkan langsung Tanya ke para peserta aja kalik ya. Soalnya kalo aku yang jawab jadi nggak objektif nanti. Hehe.


Pastinya, Juni adalah bulan ke-6 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah (wuiist, ilmiah). Itu artinya… ? kalau di HIMA ada yang namanya Progress Report. Progress Report itu semacam laporan pertanggungjawaban setengah tahun kepengurusan. Nah, karena bulan Juni ini berarti udah memasuki setengah tahun perjalanan hidup di 2013, kudunya ada Progress Report buat diri sendiri. Iya, kudunya.
 Fix, Juni jadi bulan di mana aku spaneng sekaligus sumringah. Bulan di mana aku naik ke atas sekaligus jatoh sejatoh-jatohnya ke bawah. Bulan di mana aku harus ke sana dan ke sini.

Spaneng karena udah memasuki masa-masa UAS. Galau RPL, galau SPK, galau Metal, galau KWU, dll jadi satu. Salah sendiri sih, suruh siapa nyantai-nyantai belajar kok dirapel di akhir, ngerjain proyek kok dirapel di akhir, nyusun proposal kok dirapel di akhir. Berasa sahur, semua serba mengakhirkan. Lhoh ?. Iya kan, kan sahur lebih utama kalo mengakhirkan. Apa jhal :D.

Akibat kebiasaan ngerjain mepet-mepet deadline, aku sebut bulan ini dan juga semester ini sebagai H-sehari. *only if you know what I mean.

Sumringah karena gaweanku dolan-dolan mulu. Bukan dolan sih sebenernya, tapi emang kegiatan yang ndilalah ke tempat-tempat yang dolanable.

Hari pertama di bulan ini aja (Sabtu, 1/6) udah dibuka dengan nonton film Epic The Movie di bioskop. Seminggu setelahnya (Sabtu, 8/6) ada survey FT Mengajar ke daerah Gunungkidul yang endingnya malah jadi jalan-jalan ke Gunung Purba sama temen-temen team.

Rentang seminggu kemudian (Minggu, 16/6) ada Lomba Masak sama Pengurus BEM KM UNY 2013, kalo ini sih masih di area kampus, cukup masak-masak di sebelah Masmuja aja kok. Eits, tapi malemnya aku dan beberapa temen kelas F nginep bareng di rumah simbahnya Ipeh, terus Senin (17/6) pagi kita ke Goa Jepang. Hehe.

Nggak butuh waktu lama. Selasa malem (18/6), ada agenda lagi nih : Progress Report Dagri yang kita “gelar” di rumah Tri (salah satu Dagri Holic, sebutan buat anak Dagri). Rumahnya Tri ini ada di cangkiran, Jakal ke sonooooo lagi lah. Kalo ditanya, “Ini Jakal KM berapa Tri ?”, jawabannya “Jakal KM entah njuk mbelok-mbelok”. Setelah malamnya evaluasi habis-habisan di progress report, paginya kita jalan-jalan habis-habisan mlipir ke Merapi. Merapi nya dekeeet banget.

Pasar Kangen jadi next dolan di bulan ini. Di Jumat (21/6) malam yang pekat, datanglah ajakan dari mbak Mega buat ke Pasar Kangen. Hayuk cuss cap cus. Aku berasa menyusup gegara ke sananya bareng sama anak kelas G semua. Tapi no problem. Yang jadi problem adalah, kita nggak bisa beli bensin. Berhubung esok hari harga BBM naik, antrian motor di pom bensin seakan ngalahin antrian penonton AADC di bioskop (duh, ini fenomena jaman kapan jhal).

Pasar Kangen ternyata emang bisa bikin kangen. Alhasil,  aku ke sana lagi hari Senin minggu depannya (24/6). Kali ini sama Aya, Hilma, Mimip, Fiani dan kakak Rete. Kita membawa misi rahasia : ngasih birthday surprise buat Mimip. Ssst, jangan bilang-bilang ya. Pasar Kangen Cuma jadi tempat persinggahan aja, tempat eksekusinya di taman monument Serangan Umum 1 Maret di 0 KM. Ceritanya di tengah kita istirahat dari jalan-jalan (capek lhoh broh), trus Fatonah, Budi dan Andri dateng bawa kue. Kita pun nyanyi-nyanyi gitu. Semarak.

Balik lagi, harusnya hari Sabtu (22/6) aku bisa jalan-jalan lagi ke Gunungkidul buat FT Mengajar. Tapi berhubung bentrok sama seleksi MCR dan aku milih seleksi MCR, jadi dibatalin dulu deh ke GKnya. Hiks. Hiksnya lagi aku gagal lho kepilih jadi MCR. Hihik. Jadi nih ya, modal niat doang itu nggak cukup. Itu nekat namanya. Kalo emang punya keinginan, bawa bekal kesiapan juga yah. *catet*.

Pungkasan dari Juni Dolan yaitu dengan Upgrading di Banguntapan Bantul. Berhubung panitia dari pihak PH, jadi kami lah yang menyiapkan segala sesuatunya. Tempat Upgrading kita di daerah sentra produksi batu bata gitu. Asap dan abu pembakaran batu bata ada di mana-mana. Asik atau enggak nya, silahkan langsung Tanya ke para peserta aja kalik ya. Soalnya kalo aku yang jawab jadi nggak objektif nanti. Hehe.


Pastinya, Juni adalah bulan ke-6 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah (wuiist, ilmiah). Itu artinya… ? kalau di HIMA ada yang namanya Progress Report. Progress Report itu semacam laporan pertanggungjawaban setengah tahun kepengurusan. Nah, karena bulan Juni ini berarti udah memasuki setengah tahun perjalanan hidup di 2013, kudunya ada Progress Report buat diri sendiri. Iya, kudunya.

Sunday, June 9, 2013

,

Met UAS

Selamat UAS bagi yang merayakan, eh yang menjalankan ding..
Media Digital, Bahasa Indonesia, Psikologi Pendidikan, Sistem Keamanan, Sistem Pendukung Keputusan, Rekayasa Perangkat Lunak, Kewirausahaan menanti di depan mata. Siapkan diri. Berdoa, belajar, istirahat. Semoga sukses untuk semester ini. Syemangat syalalaaa ;)


Selamat UAS bagi yang merayakan, eh yang menjalankan ding..
Media Digital, Bahasa Indonesia, Psikologi Pendidikan, Sistem Keamanan, Sistem Pendukung Keputusan, Rekayasa Perangkat Lunak, Kewirausahaan menanti di depan mata. Siapkan diri. Berdoa, belajar, istirahat. Semoga sukses untuk semester ini. Syemangat syalalaaa ;)


Saturday, June 8, 2013

, ,

Nice Day : Temu Perdana Panitia OSPEK FT 2013

Berakhir Survey FT Mengajar, bukan berarti hariku berakhir sampai di situ. Pulang dari makan, aku ke KPLT buat ikut Temu Perdana Panitia OSPEK FT 2013. Bukan, bukan sebagai panitia. Aku terlalu tua buat jadi panitia OSPEK (lagi). Hehe. Kemarin aku diundang buat ikut mendampingi temen-temen panitia 2013. Oke dets.

Aku inget saat dulu ngobrol dengan mbak Tyas, pasca OSPEK. Kata mbak Tyas, "Kemarin kan kalian sudah merasakan sendiri bagaimana sulitnya jika harus berjalan sendiri tanpa ada bimbimban dari pendahulu kalian. Apa besok kalian mau adek-adek kalian merasakan kesulitan yang sama ?". Jleb. Iya sih, berasa egois banget kalo kita punya sesuatu tapi nggak mau kita bagi. Apalagi yang namanya ilmu. Lagian, maneman banget kemarin kita udah ada progress tapi nggak dilanjutin. Ibarat kata panitia kemarin udah memahat batu untuk dijadikan patung. Sayang sekali kalau panitia tahun ini harus mengulang memahat dari awal padahal yang dibutuhkan pahatan itu cukup sedikit sihiran  perbaikan agar terlihat lebih baik. Ceilah.

Berawal dari hal itu, maka akupun berangkat. Melihat adek-adek panitia(maaf bukannya aku sok lebih tua, tapi hey, dalam hal ini aku udah pernah jadi panitia dan kalian kan belum :D) berkumpul di lapangan KPLT, menunggu dengan sabar dan semangat, mengingatkanku pada kami dulu. Ya, kami pun pernah sesemangat itu.

Skip. Panitia, SC dari BEM, dan eks Koordinator tahun lalu berkumpul di lapangan timur KPLT. Selain aku (eks Koor Data), ada beberapa teman koordinator lain yang datang. Ada Bani (eks Korfak), Aya (eks Bendahara), Radit (eks Koor Pemandu Kreasi), Gangsar (eks Koor Pemandu Umum), Ihti (eks Koor Pemandu Karis), dan Arya yang menyusul (eks Koor Acara). Ada juga Awi (eks PDD) dan Yasin (eks Pemandu Kreasi). Duduk berdampingan dengan kawan-kawan seperjuangan di OSPEK membuat otak seolah memutar kembali dokumentasi yang terekam di memori.

Setahun yang lalu, kami pernah berada di sini juga, di tempat yang sama tapi dalam posisi yang berbeda. Aku masih ingat mendapat sms dari mas Fajar pada malam hari sebelum temu perdana panitia, memberitahukan bahwa aku terpilih menjadi koordinator dan diminta untuk kumpul. Keesokan harinya, lebih awal dari teman-teman yang lain, aku dengan canggungnya datang ke KPLT lantai 2 dan bergabung dengan orang asing yang tidak kukenal.

Teman-teman Koordinator. Ada Bani, Miftah (Sekretaris 1), Nuna (Sekretaris 2), Aya, Fira (Bendahara 2), Danur (Koor Humas), Erika (Koor Konsumsi), Reza (Koor Keamanan), Gigih (Koor Perkap), Irfan (Koor PDD), Revan (Koor Sponsor), Anang (Koor P3K), Gangsar, Ari (Koor Pemandu PSDP), Izzudin (Koor Pemandu Operasional), Ihti, serta Radit. Teman-teman yang selanjutnya (mau tidak mau) kita jadi akrab karena sering dipertemukan dalam forum (yang sering disebut rapat) dalam rentang waktu (kurang lebih) 3 bulan. Suka, duka, marah, kecewa, lega, takut, bingung, puas, dll pernah kita rasakan bersama. Sepertinya lebih banyak emosi negatif yang kita rasakan daripada emosi positif. Tapi it was, sekarang kalau teringat lagi semua hal itu terasa manis semua. Hehe.

Hey, sekarang kalian apa kabar ?. Ayo kapan kita kumpul lagi ?. Pak Bani masih punya hutang buat nraktir kita makan lho. Owh iya, sekarang kita punya kesibukan masing-masing ya ?. Sesekali, bersama lagi yuk. It seems nice, must be.


Berakhir Survey FT Mengajar, bukan berarti hariku berakhir sampai di situ. Pulang dari makan, aku ke KPLT buat ikut Temu Perdana Panitia OSPEK FT 2013. Bukan, bukan sebagai panitia. Aku terlalu tua buat jadi panitia OSPEK (lagi). Hehe. Kemarin aku diundang buat ikut mendampingi temen-temen panitia 2013. Oke dets.

Aku inget saat dulu ngobrol dengan mbak Tyas, pasca OSPEK. Kata mbak Tyas, "Kemarin kan kalian sudah merasakan sendiri bagaimana sulitnya jika harus berjalan sendiri tanpa ada bimbimban dari pendahulu kalian. Apa besok kalian mau adek-adek kalian merasakan kesulitan yang sama ?". Jleb. Iya sih, berasa egois banget kalo kita punya sesuatu tapi nggak mau kita bagi. Apalagi yang namanya ilmu. Lagian, maneman banget kemarin kita udah ada progress tapi nggak dilanjutin. Ibarat kata panitia kemarin udah memahat batu untuk dijadikan patung. Sayang sekali kalau panitia tahun ini harus mengulang memahat dari awal padahal yang dibutuhkan pahatan itu cukup sedikit sihiran  perbaikan agar terlihat lebih baik. Ceilah.

Berawal dari hal itu, maka akupun berangkat. Melihat adek-adek panitia(maaf bukannya aku sok lebih tua, tapi hey, dalam hal ini aku udah pernah jadi panitia dan kalian kan belum :D) berkumpul di lapangan KPLT, menunggu dengan sabar dan semangat, mengingatkanku pada kami dulu. Ya, kami pun pernah sesemangat itu.

Skip. Panitia, SC dari BEM, dan eks Koordinator tahun lalu berkumpul di lapangan timur KPLT. Selain aku (eks Koor Data), ada beberapa teman koordinator lain yang datang. Ada Bani (eks Korfak), Aya (eks Bendahara), Radit (eks Koor Pemandu Kreasi), Gangsar (eks Koor Pemandu Umum), Ihti (eks Koor Pemandu Karis), dan Arya yang menyusul (eks Koor Acara). Ada juga Awi (eks PDD) dan Yasin (eks Pemandu Kreasi). Duduk berdampingan dengan kawan-kawan seperjuangan di OSPEK membuat otak seolah memutar kembali dokumentasi yang terekam di memori.

Setahun yang lalu, kami pernah berada di sini juga, di tempat yang sama tapi dalam posisi yang berbeda. Aku masih ingat mendapat sms dari mas Fajar pada malam hari sebelum temu perdana panitia, memberitahukan bahwa aku terpilih menjadi koordinator dan diminta untuk kumpul. Keesokan harinya, lebih awal dari teman-teman yang lain, aku dengan canggungnya datang ke KPLT lantai 2 dan bergabung dengan orang asing yang tidak kukenal.

Teman-teman Koordinator. Ada Bani, Miftah (Sekretaris 1), Nuna (Sekretaris 2), Aya, Fira (Bendahara 2), Danur (Koor Humas), Erika (Koor Konsumsi), Reza (Koor Keamanan), Gigih (Koor Perkap), Irfan (Koor PDD), Revan (Koor Sponsor), Anang (Koor P3K), Gangsar, Ari (Koor Pemandu PSDP), Izzudin (Koor Pemandu Operasional), Ihti, serta Radit. Teman-teman yang selanjutnya (mau tidak mau) kita jadi akrab karena sering dipertemukan dalam forum (yang sering disebut rapat) dalam rentang waktu (kurang lebih) 3 bulan. Suka, duka, marah, kecewa, lega, takut, bingung, puas, dll pernah kita rasakan bersama. Sepertinya lebih banyak emosi negatif yang kita rasakan daripada emosi positif. Tapi it was, sekarang kalau teringat lagi semua hal itu terasa manis semua. Hehe.

Hey, sekarang kalian apa kabar ?. Ayo kapan kita kumpul lagi ?. Pak Bani masih punya hutang buat nraktir kita makan lho. Owh iya, sekarang kita punya kesibukan masing-masing ya ?. Sesekali, bersama lagi yuk. It seems nice, must be.


,

Nice Day : Gunung Api Purba

Gunung Api Purba… !. yup, itulah jawaban dari post ku sebelumnya. Akhirnya aku dan teman-teman pun ke Gunung Api Purba. Selo banget ya. Hm… sebenernya bukan masalah selo atau nggak selo, tapi diseloin atau enggak. Hehe. I’ve said it.

Selanjut dari lokasi SD Ngalang-alang Ombo, kita cuss ke Gunung Api Purba. Jalannya nggak separah yang kita takutin. Udah diaspal dan nggak terlalu naik-turun. Viewnya juga indaaah banget. Khas Gunungkidul. Kita sampai di lokasi Gunung Api Purba sekitar jam 12 dan itu mendung syekali. Omeeen. Jas hujan pun nggak lupa ikut kita masukin ke tas. O iya, objek wisata ini murah meriah lho. Cukup merogoh kocek 5.000 rupiah untuk masuk dan 2.000 rupiah untuk parkir motor. 

Kita semacam nekat mau naik ke atas tanpa persiapan apa pun. Gini ini nih baru yang namanya insidental, yeah^^9. Coba liat aja penampilanku, pake PDL hima, tanpa jaket, pake sepatu Crocs pula. Awut-awutan, nggak cocok blas buat naik gunung. Tapi tep dengan nekatnya ngelewatin jalan tanah yang licin kena rintikan air hujan (waktu kita mau naik udah mulai gerimis bro) dan nanjakin bebatuan. Takut kepleset sebenernya.

Tiba-tiba pas sampai di tengah jalan, ujannya mendadak jadi deres !. uh no >,<. Buru-buru kita berteduh dan ngeluarin jas hujan yang udah kita bawa. 3 jas hujan dipake buat payungan 7 orang. Selama 15 menit (kurang lebih) kita berdiam diri di bawah jas hujan. Hihi. Kalo diinget-inget lucu juga.  Untung nggak ada yang fotoin kita waktu itu. Pasti posisi kita konyil banget deh.

Akhirnya Wulan ngajak move on dan kita lanjutin perjalanan. Awalnya sempat ragu. Tapi kita nggak bisa selamanya stuck in the moment kayak gitu kan. Hujan pun kita terjang (ceileeh). Kita manjat ke sana ke sini. Naik batu pake tali, ngelewatin tangga dari kayu, mendaki di celah antara 2 batu yang sempit, terus berjalan sambil pegangan erat-erat ke batu dan pohon terdekat. Dan tarraaa, sampailah kita di pos 1.

Aaaak, indah. Pemandangannya cantik. Hujan juga semakin kecil dan akhirnya reda. Kita kayak nemuin “pelangi” kita. Ya, setelah adanya ujian berupa hujan, keraguan untuk menentukan pilihan antara akan turun atau tetap di tempat atau lanjut untuk naik, ketakutan akan jalan yang penuh rintangan, ternyata kekompakan kita diberi selamat sampai di tujuan (walaupun “hanya” pos 1) dan diberi hadiah berupa pemandangan yang menakjubkan serta teman baru yang saling peduli dan perhatian. Jargon pun kita serukan di sana, “FT Mengajar…. Siap Mencerdaskan”. Ucapan penuh semangat yang dipantulkan dengan tak kalah lantang oleh alam. Biarkan Gunung Api Purba menjadi saksi awal perjalanan Team FT Mengajar ini #eaak.



Satu ketakutan yang masih mengganjal saat di Pos 1 adalah, “ini cara turunnya gimana ?”. tadi sih pas naik kita semangat banget, tapi sumpe deh agak takut kalo turunnya harus ngelewatin jalan yang sama dengan jalan naik. Horror broh. Hey, tapi ternyata bisa lho. Berasa jalan mundur. Ngelewatin jalan bertali lagi, tangga kayu lagi, lorong sempit lagi, jalan licin lagi, batuan lagi. Nggak kerasa kita sampai di bawah. Padahal dari tadi naik sampe di atas trus turun lagi sampe bawa tuh kakiku buat jalan berasa gemeter gitu lho. Aku pikir aku bakal kepleset minimal 1 kali, tapi ternyata enggak sama sekali. Alhamdulillah.

Kita turun. Ke parkiran naik motor. Mampir mushola terdekat. Sholat berjamaah. Lalu lanjut, sekarang tujuannya makan, aaaak lapeeerr seharian ini belum makan. Kita makan di Mie Ayam Subhanallah. Apakah itu ? jadi ini adalah salah satu Mie Ayam di Jalan Wonosari yang porsinya super banyak. Kata mbak Anis, “Kalo mau makan, ini namanya Mie Ayam Subhanallah. Kalo udah selesai makan, namanya Mie Ayam Astaghfirullah. Soalnya bakal nggak abis”. Ah, mbak Anis ni bisa aja. Buktinya kita semua abis kok makannya. Hehe. Doyan apa laper tu ?.


***

Owh iya, Challenge Accepted. Ternyata aku bisa menjelajah alam, dan ternyata bener kata temen-temen, naik gunung itu asik. Oke dets, ayo kapan kita naik gunung ?. Aku ikuuut. Colek : @Cuplaxer @PH2013 hehe. Ini judulnya penasaran tur ketagihan.

Gunung Api Purba… !. yup, itulah jawaban dari post ku sebelumnya. Akhirnya aku dan teman-teman pun ke Gunung Api Purba. Selo banget ya. Hm… sebenernya bukan masalah selo atau nggak selo, tapi diseloin atau enggak. Hehe. I’ve said it.

Selanjut dari lokasi SD Ngalang-alang Ombo, kita cuss ke Gunung Api Purba. Jalannya nggak separah yang kita takutin. Udah diaspal dan nggak terlalu naik-turun. Viewnya juga indaaah banget. Khas Gunungkidul. Kita sampai di lokasi Gunung Api Purba sekitar jam 12 dan itu mendung syekali. Omeeen. Jas hujan pun nggak lupa ikut kita masukin ke tas. O iya, objek wisata ini murah meriah lho. Cukup merogoh kocek 5.000 rupiah untuk masuk dan 2.000 rupiah untuk parkir motor. 

Kita semacam nekat mau naik ke atas tanpa persiapan apa pun. Gini ini nih baru yang namanya insidental, yeah^^9. Coba liat aja penampilanku, pake PDL hima, tanpa jaket, pake sepatu Crocs pula. Awut-awutan, nggak cocok blas buat naik gunung. Tapi tep dengan nekatnya ngelewatin jalan tanah yang licin kena rintikan air hujan (waktu kita mau naik udah mulai gerimis bro) dan nanjakin bebatuan. Takut kepleset sebenernya.

Tiba-tiba pas sampai di tengah jalan, ujannya mendadak jadi deres !. uh no >,<. Buru-buru kita berteduh dan ngeluarin jas hujan yang udah kita bawa. 3 jas hujan dipake buat payungan 7 orang. Selama 15 menit (kurang lebih) kita berdiam diri di bawah jas hujan. Hihi. Kalo diinget-inget lucu juga.  Untung nggak ada yang fotoin kita waktu itu. Pasti posisi kita konyil banget deh.

Akhirnya Wulan ngajak move on dan kita lanjutin perjalanan. Awalnya sempat ragu. Tapi kita nggak bisa selamanya stuck in the moment kayak gitu kan. Hujan pun kita terjang (ceileeh). Kita manjat ke sana ke sini. Naik batu pake tali, ngelewatin tangga dari kayu, mendaki di celah antara 2 batu yang sempit, terus berjalan sambil pegangan erat-erat ke batu dan pohon terdekat. Dan tarraaa, sampailah kita di pos 1.

Aaaak, indah. Pemandangannya cantik. Hujan juga semakin kecil dan akhirnya reda. Kita kayak nemuin “pelangi” kita. Ya, setelah adanya ujian berupa hujan, keraguan untuk menentukan pilihan antara akan turun atau tetap di tempat atau lanjut untuk naik, ketakutan akan jalan yang penuh rintangan, ternyata kekompakan kita diberi selamat sampai di tujuan (walaupun “hanya” pos 1) dan diberi hadiah berupa pemandangan yang menakjubkan serta teman baru yang saling peduli dan perhatian. Jargon pun kita serukan di sana, “FT Mengajar…. Siap Mencerdaskan”. Ucapan penuh semangat yang dipantulkan dengan tak kalah lantang oleh alam. Biarkan Gunung Api Purba menjadi saksi awal perjalanan Team FT Mengajar ini #eaak.



Satu ketakutan yang masih mengganjal saat di Pos 1 adalah, “ini cara turunnya gimana ?”. tadi sih pas naik kita semangat banget, tapi sumpe deh agak takut kalo turunnya harus ngelewatin jalan yang sama dengan jalan naik. Horror broh. Hey, tapi ternyata bisa lho. Berasa jalan mundur. Ngelewatin jalan bertali lagi, tangga kayu lagi, lorong sempit lagi, jalan licin lagi, batuan lagi. Nggak kerasa kita sampai di bawah. Padahal dari tadi naik sampe di atas trus turun lagi sampe bawa tuh kakiku buat jalan berasa gemeter gitu lho. Aku pikir aku bakal kepleset minimal 1 kali, tapi ternyata enggak sama sekali. Alhamdulillah.

Kita turun. Ke parkiran naik motor. Mampir mushola terdekat. Sholat berjamaah. Lalu lanjut, sekarang tujuannya makan, aaaak lapeeerr seharian ini belum makan. Kita makan di Mie Ayam Subhanallah. Apakah itu ? jadi ini adalah salah satu Mie Ayam di Jalan Wonosari yang porsinya super banyak. Kata mbak Anis, “Kalo mau makan, ini namanya Mie Ayam Subhanallah. Kalo udah selesai makan, namanya Mie Ayam Astaghfirullah. Soalnya bakal nggak abis”. Ah, mbak Anis ni bisa aja. Buktinya kita semua abis kok makannya. Hehe. Doyan apa laper tu ?.


***

Owh iya, Challenge Accepted. Ternyata aku bisa menjelajah alam, dan ternyata bener kata temen-temen, naik gunung itu asik. Oke dets, ayo kapan kita naik gunung ?. Aku ikuuut. Colek : @Cuplaxer @PH2013 hehe. Ini judulnya penasaran tur ketagihan.