Saturday, September 8, 2018

, ,

Review Sate Ratu Jogja, Sate Ayam Favorit Turis Mancanegara


Sate

Adalah kuliner dengan potongan daging yang ditata berjejer sedemikian rupa, kemudian ditusuk (hmm) dan dibakar (kyaaa) di atas bara api.

Adalah menu yang populer di setiap kalangan masyarakat.

Adalah cinta.

Adalah lyfe.

Wesseh.

Orang Indonesia tentu sudah familiar dengan sajian sate yang jenisnya ada beragam. Ada sate madura dengan bumbu kacang, sate padang dengan saus kental, sate kambing dengan bumbu kecap, sate lilit bali dengan olahan daging yang empuk, hingga sate taichan dengan bumbu pedasnya yang baru muncul beberapa tahun ke belakang. Tapi ternyata, ada satu sate di Jogja yang belum terlalu dikenali oleh orang Jogja sendiri, namun justru sudah dikenal luas oleh wisatawan mancanegara.

Sate Ratu, Kesukaan Turis Mancanegara dan Indonesia

Konon kabarnya, Sate Ratu yang memiliki outlet di Jogja Paradise ini telah menjadi langganan turis asing. Banyak wisatawan dari berbagai negara yang rela mencari-cari outlet Sate Ratu untuk merasakan kelezatan sate yang satu ini.

Wah, aku jadi penasaran. Masa’ “orang luar” udah datang dari jauh buat nyobain Sate Ratu tapi aku yang deket malah belum pernah. Apalagi ternyata outlet Sate Ratu ini ada di Jogja Paradise Foodcourt. Lha ini mah deket bingits dari rumah.

Rabu (5/9) kemarin, aku berjanjian dengan mbak Vera, Nisya, dan mas Priyo untuk makan bareng Sate Ratu.  Jam 4 sore, sesuai waktu janjian, aku telah sampai di Jogja Paradise. Saat masuk ke outlet Sate Ratu yang bertempat di area belakang, ternyata aku menjadi yang datang paling akhir. Mbak Vera, Nisya, mas Priyo telah duduk di satu meja ditemani oleh seorang bapak, yang kemudian aku ketahui bernama Pak Budi yang merupakan owner Sate Ratu.  Sambil menunggu pesanan tiba, kami termasuk Pak Budi berbincang-bincang bersama.



Sebelum Sate Ratu menjadi seperti sekarang, Pak Budi awalnya memulai bisnis kuliner pada tahun 2016 dengan membuka angkringan di depan Galeria Mall. Di antara aneka menu yang ada di angkringan, menu sate lilit dan sate merah lah yang menjadi best seller. Karena itu, kemudian pak Budi memutuskan untuk menekuni menu tersebut dan membuka Sate Ratu ini. Penggunaan kata Ratu dipilih untuk menunjukkan bahwa sate ini adalah kuliner yang tradisional, namun disajikan secara premium.

Dari mendengar cerita Pak Budi dan melihat jejak pelanggan dari turis mancanegara yang ditampilkan di dinding outlet, aku jadi tahu Sate Ratu ini sudah dikunjungi oleh lebih dari 2.500 turis dari 65 negara. Kereeen.




Lokasi

Sate Ratu bisa kita temukan di Jogja Paradise Foodcourt. Outletnya berada di dalam, bagian belakang. Berdekatan dengan toilet, dan masjid.

Sate Ratu hanya memiliki satu outlet di sini dan tidak membuka cabang ya.

Baca juga: Ada Apa Saja di Jogja Paradise?

Lokasi:
Jalan Magelang km 6. Seberang Hotel Rich Jogja.

Jam operasional: 11.00-21.00

Go Food Partner? Yes.

Menu dan Harga


Ada 2 rekomendasi menu yang wajib dicoba saat ke sini, yaitu Lilit Basah dan Sate Merah. Menu lain ada Ceker Tugel, tapi tidak sewaktu-waktu tersedia.

Harga
Lilit Basah: Rp 23.000/porsi isi 4
Sate Merah: Rp 23.000/porsi isi 6 tusuk
Ceker Tugel: Rp 23.000/porsi

Review

Akhirnya pesanan kami datang. Kami memesan 2 menu andalan dari Sate Ratu, yaitu Lilit Basah dan Sate Merah. Oh iya, pertama kali lihat daftar menu, aku cukup kaget karena di luar bayangan awal. Tadinya aku pikir Sate Ratu adalah outlet dengan aneka jenis sate, seperti sate sambal kacang dan kawan-kawannya. Tapi rupanya sate di sini justru beda dari sate-sate yang lain. I found something new here. Harta karun!.



Lilit Basah awalnya adalah sate lilit khas Bali. Namun karena pak Budi kesulitan mendapatkan tusuk satenya (tusuk sate lilit berbentuk pipih, bukan lancip seperti tusuk sate biasa), akhirnya olahan daging dibuat berbentuk kotak-kotak. Selain itu, alih-alih dibakar, dagingnya dimasak dengan cara dikukus. Karena konsepnya yang cukup jauh dari sate lilit pada umumnya, namanya pun diubah menjadi Lilit Basah.

1 porsi Lilit Basah terdiri dari 4 potong daging lilit dengan sedikit siraman kuah yang menggenang. Pertama kali dilihat, penampilan Lilit Basah ini seperti tahu (apa cuma perasaanku aja ya? Hehe). Tapi ketika kita icip, dagingnya sangat terasa dengan tekstur yang lembut khas kukus. Di dalam adonannya ada biji cabai, namun tidak membuat rasanya menjadi pedas.

Rasa Lilit Basah ini tidak jauh berbeda dari Sate Lilit. Hanya saja jika sate lilit biasanya ada sensasi kering karena dibakar, Lilit Basah justru sangat lembut. Rasa kuahnya pun gurih.



Sementara Sate Merah merupakan olahan daging ayam dengan bumbu pedas manis yang di-marinate kemudian dibakar. Dinamakan Sate Merah karena warnanya yang demikian merah dari bumbu-bumbu yang digunakan.

Apakah rasanya pedas?. Ternyata rasa pedasnya justru ringan saja, berdampingan secara pas dengan rasa manisnya. Tidak ada satu rasa yang lebih menonjol dari rasa yang lain.

Tekstur dagingnya pun empukkk sekali. Serius deh. Aku perlu nulis empukkk pakai triple k karena dari 4 tusuk yang aku makan semua memang empuk. Nyaman untuk dikunyah.

Satu porsi Sate Merah terdiri dari 6 tusuk sate. Ukuran daging di setiap tusuk terbilang cukup besar, nggak pelit.



Baiklah, misteri terpecahkan. Sekarang aku tahu kenapa wisatawan mancanegara begitu gemar makan di Sate Ratu. Satenya memang enak, dan berbeda dari sate-sate yang lain. Pulang dari sini, perbendaharaan rasaku jadi bertambah.

Oh iya, di sini juga menyediakan Lilit Basah dalam bentuk frozen dan bumbu Sate Merah botolan. Jadi kalau kita ingin bawa pulang atau untuk oleh-oleh, bisa beli saja "mentahnya" kemudian diolah sendiri di rumah. Lilit Basah frozen bisa bertahan lama di freezer. Bumbu Sate Merah bisa bertahan seminggu di suhu ruang, atau makin lama jika dimasukkan ke dalam kulkas.



Tertarik ke sini?.
Share:

0 comments:

Post a Comment