Setelah Vaksin Covid 19 (Sinovac)

Hari Senin saat apel, diumumkan kalau semua guru dan karyawan di sekolah mendapatkan undangan untuk vaksin Covid tahap I pada hari Jumat tanggal 11 Juni 2021 di Puskesmas kecamatan.  

Aku sih senang-senang aja divaksin. Pertama, karena ini gratis dari pemerintah. Kedua, biar lebih tenang, mengingat bulan Juli nanti udah ada wacana pembelajaran tatap muka, alias anak-anak mulai boleh masuk sekolah.

Sebelum hari H, aku sempat bertanya di Twitter, apa saja tips dan hal yang harus dipersiapkan sebelum vaksin. Beberapa teman membalas dengan jawaban seperti:

- Jangan begadang (biar tensi nggak tinggi)

- Jangan nervous (ini juga biar tensi nggak tinggi)

- Sarapan dulu biar nggak lemas


Hari H

Sebenarnya, kita bersiap untuk ke Puskesmas di siang hari, karena pagi hari jadwalnya guru-guru SD terlebih dahulu. Rencana semula memang antara pukul 11 - 14.

Ternyata, dari pagi pun sudah bisa. Antrean di puskesmas tidak terlalu penuh, jadi kita dipersilahkan untuk datang. Sekitar pukul 9, aku dan guru-guru berangkat ke puskesmas. 

Benar saja, sesampainya di Puskesmas, yang aku lihat Puskesmas memang banyak orang, tapi tidak seramai ekspektasiku. Aku kira akan antre berjubel, ternyata tidak.

Malahan prosesnya sangat singkat.

Aku masuk ke ruang antre > mengumpulkan form pendaftaran yang sudah diisi > menunggu sebentar > dipanggil oleh petugas ke meja skrining > cek tensi dan ditanya riwayat sakit > antre di ruang vaksin > vaksin.

Selesai. 

Gitu doang, Kekeke.

Aku hitung paling sekitar 5-10 menit proses dari datang sampai selesai divaksin.

Proses yang cukup lama justru setelah vaksin, yaitu antre kartu vaksin. Selesai vaksin, kita mengumpulkan form pendaftaran di bagian administrasi. Setelah itu menunggu beberapa saat sampai dipanggil untuk diberikan kartu vaksin, obat paracetamol (bagi yang demam setelah vaksin) dan vitamin (tidak wajib diminum). Nah, inilah yang lama. 

Setelah dapat kartu vaksin dkk, kitapun pulang.



Ada yang Tidak Boleh Vaksin

Di antara 50an orang yang datang dari sekolahku, nggak semua orang lolos skrining sehingga tidak divaksin. Bukan karena apa-apa, yang tidak diperbolehkan itu: 1. karena sedang hamil, 2. karena baru saja dinyatakan negatif setelah sempat positif Covid. 

Waktu itu pak Ipul dan pak Is sebenarnya sedang kurang sehat karena meriang. Dikira akan tidak lolos skrining juga, tapi ternyata tetap boleh tuh.

Ada juga yang punya riwayat diabetes dan darah tinggi. Tapi selama tensinya di bawah 180, juga tetap vaksin.


Takut Divaksin Atau Enggak?

Waktu di bilik vaksin, dokter tanya ke aku, "Takut nggak?"

Aku jawab, "Nggak dok, bismillah"

Terus ya udah, tau-tau lengan kiriku udah disuntik aja. Alhamdulillah nggak begitu sakit. Lebih ke... nggak kerasa malah. 

Setelah selesai langsung benerin baju dan keluar.

Tapi emang namanya orang tu macem-macem ya. Ada juga yang takut sampai teriak-teriak, padahal bapak-bapak. Huhu. Ada yang mual, pengen muntah karena takut. Ada juga yang saking nervousnya, sampai-sampai pas ditensi, tekanan darahnya 160 alias tinggi. 


Efek Samping Setelah Vaksin Sinovac

Oiya, aku baru tahu kalau dapat vaksin Sinovac saat hari H, karena diberitahu oleh Bu Erma. Kalau yang tertera di kartu vaksin justru Coronavac (tapi setelah aku Googling, katanya ini nama lainnya Sinovac).

Aku pribadi, nggak ngerasain efek samping apa-apa. (Ini pertanda baik apa enggak? Jangan-jangan suntiknya tadi nggak masuk T.T)

Sedangkan efek bagi guru-guru lain bervariasi. Bu Ana tangannya terasa pegal setelah disuntik. Bu Eny merasa ngantuk. Ada juga yang bilang jadi lapar.

Sepertinya nggak ada yang demam juga setelah vaksin.


Jadwal Vaksin Kedua

Aku melihat teman-teman yang sudah vaksin biasanya jarak antara vaksin pertama dan kedua hanya 14 hari. Rupanya jadwal vaksin keduaku justru sebulan setelah vaksin pertama. 


Semangat!.

Semoga ini jadi salah satu ikhtiar supaya kita bisa segera bebas Covid.

Udah pengen back to normal. Huhu.


Post a Comment

0 Comments