Sunday, April 28, 2013

, ,

Ngamen for Dieng


Kalau malam Minggu tanggal 27 April 2013 kemarin kamu lagi di daerah Malioboro – 0 km dan ketemu 10 makhluk unyu membawa 3 kotak kardus dan 1 gitar sedang berjalan bergerombol sambil bernyanyi dengan kemampuan vocal yang teramat sangat minim (atau miris), maka boleh jadi saat itu kamu bertemu dengan “kami”. Kami ? siapa itu kami ?. Kami adalah makhluk-makhluk yang selo saat malam Minggu tiba #kode, ada @dismonimo(a.k.a aku sendiri), @soraisaya, @tishafat, @uaditioa, @fakhrieyuubie, @hardikast19, @hanijava, @niesnur, @oktavianifk, dan @imron.

Ngapain kami di sana ? Karena malam mingguan sama pacar itu sudah terlalu mainstream (dan juga karena kahanan yang tidak mendukung #eh), jadi malam ini kami ke 0 km dengan membawa misi “mulia”, ingin mengumpulkan sumbangan untuk Saudara kita yang menjadi korban gempa Dieng. Tahu beritanya kan tentang gempa di Dieng hari Jumat (19/4) kemarin ?. Nah, beberapa hari yang lalu Adit ikut aksi sosial sama temen-temen Mahasiswa UNY langsung terjun ke Dieng. Ternyata eh ternyata masih banyak bantuan yang diperlukan di sana, jadi kenapa enggak kita adain sedikit aksi kecil untuk mereka ?

Berawal dari sebuah keinginan dan ide yang sederhana, bertemu dengan tekad mantap dari kawan-kawan, fix malam ini sepulang dari agenda gladi kita menyusun konsep sederhana lalu meluncur ke lapangan. Awalnya kita membuat rencana akan ke mana kita, bagaimana pembagian tugasnya, bagaimana cara menarik simpatinya, dll. Nggak perlu lama-lama kita berangkat. Awalnya aku sama Imron karena tertinggal dari teman-teman karena ada urusan sebelumnya. Kami pun menyusul tanpa tau yang lain ada di mana. Berhubung Imron dapat info kalo di GOR UNY lagi ada acara dan ramai-ramai di sana, kita berdua pun ke sana dan mengkontak teman-teman (yang ternyata ada di dekat Fakultas Peternakan UGM) untuk menyusul ke GOR. Setelah kita ke GOR, ternyata acara di GOR adalah konser musik. Ngekk. Masa’ iya kita mau “ngamen” di acara “konser”. Ya udah kita pindah tempat lagi. Kita pilih Bundaran UGM, tapi lagi-lagi rasanya kurang srek. Jadilah kita pindah dan fix ke 0 km – Malioboro.

Setelah parkir motor di Vredeburg, kita lalu berjalan kaki dan menghampiri para penduduk (eh, apa sih namanya buat orang-orang yang duduk di jalan itu ?) yang lagi nongkrong di sekitar sana. Tadinya kita kayak anak hilang gitu, bingung harus ngapain di sana. Tapi lambat laun kita pun menemukan metode yang cocok buat kita : nyanyi bareng-bareng diiringi gitar dan mendekati para pejalan kaki ataupun penduduk, yang berpasangan ataupun bergerombol, yang remaja maupun yang dewasa, yang cowok maupun yang cewek, pokoknya semua kita samperin. Kita jalan dari parkiran Vredeburg ke 0km lanjut kea rah Taman Pintar terus balik arah lagi dan lanjutin ke Altar, setelah dari Altar kita balik lagi Vredeburg. Singkat sih perjalanannya, tapi kisahnya tak sesingkat itu untuk diceritakan di sini. Hehehe. Mulai dari dilihatin dengan pandangan bingung dari orang-orang sekitar,  ada yang request lagu galau, ada yang ternyata malah nggak tau kalo ada gempa di Dieng, dan ada juga yang cerita kalo Klub Motor nya juga akan aksi sosial ke Dieng (toss dulu Om).

Ternyata kayak gini ya rasanya “ngamen” di Malioboro (tempat yang mainstream di Yogya) untuk aksi sosial buat gempa Dieng pula. Jan sophisticated. Ada yang dengan senang hati langsung memberikan sumbangannya, ada pula yang sedikit meragukan kita dan enggan memberikan donasinya. Ya nggak pa-pa sih, mungkin tampang-tampang kita yang emang kurang kredibel atau suara kita yang malah ngganggu mereka kalik. Hehe. Yang jelas, insya Allah kita akan menyalurkan bantuan ini kepada mereka yang membutuhkan. Dan terima kasih tak terhingga untuk semua orang yang telah mengulurkan tangannya demi saudara kita yang tertimpa musibah di Dieng sana. Semoga diberikan ganti yang lebih baik dan bisa membawa kebaikan untuk kita semua. Semoga bermanfaat. Mari peduli, mari berbagi. Sedikit dari kita sangat berarti untuk mereka, kawan :).

***

**nb : tadi di jalan aku ketemu sama mas-mas yang dulu sempat kenalan waktu di E-Time PNJ. Dia nyapa aku duluan dan bilang, “mbaknya yang ketemu di PNJ dulu kan ? aku dari UGM”. O o.. surprise.. Makasih mas udah inget aku, tapi aku beneran lupa nama masnya siapa. Semoga lain kali bisa ketemu lagi deh yak mas. Jangan lupa ikut ELINFO #eh *malah promo*. Btw, waktu aku panggil “mas” si mas malah bilang kalo dia adek angkatanku. Kalo gitu aku ralat, aku panggil dek aja gimana. Hehe

Share:

0 comments:

Post a Comment