![]() |
| Pemandangan di atas makam mama |
Sejak aku lahir, mama sudah ada. Selama aku hidup, mama selalu ada.
Aku nggak pernah memikirkan bagaimana dunia ketika mama nggak ada. Karena aku selalu berpikir, mama akan panjang umur, mama nggak akan meninggalkanku dalam waktu dekat.
Ironinya, aku sering diam-diam mengambil foto papa ketika sedang bermain bersama putri kecilku. Karena aku ingin memiliki dokumentasi kenangan papa, takut beliau akan nggak ada.
Sementara itu, aku jarang mengambil foto mama. Karena aku selalu memiliki keyakinan mama akan hidup jauh lebih lama, daripada papa.
Ternyata, umur mama nggak sepanjang yang aku pikirkan. Sekarang aku tidak punya banyak foto candid mama.
Selama ini, aku hanya tahu mama selalu sehat. Mama nggak pernah sakit. Paling hanya flu atau meriang, penyakit sejuta umat di Indonesia.
Ketika papa sakit, mama yang merawat.
Ketika aku sakit, mama yang perhatian.
Bahkan ketika anakku sakit, mama juga yang membantu.
Tapi mama nggak pernah sakit.
Hingga akhirnya, tibalah momen itu.
Mei 2024
Aku ingat, usai lebaran 2024, sekitar bulan April akhir atau awal Mei.
Sebelumnya, mama dan papa memiliki rutinitas untuk pergi kajian ke Koripan di hari Minggu pagi. Selama bulan Ramadan dan Lebaran, rutinitas itu terhenti. Hingga beberapa waktu setelah Lebaran, mama dan papa kembali berangkat kajian di hari Minggu.
Namun, ada yang berbeda waktu itu. Biasanya mama dan papa pulang sekitar pukul 10 dengan membawa beragam buah tangan. Entah sate, jajanan, sayur, atau lainnya. Tapi hari itu sudah lebih siang dan mama papa belum pulang. Hingga pulanglah papa seorang diri, tanpa mama. Papa tampak bingung dan bertanya-tanya ke mana perginya mama. Dari cerita papa, papa sudah berkeliling mencari mama di tempat parkir tapi tidak juga ketemu.
Agak berselang lama, sekitar tengah hari, mama pulang diantar seseorang naik motor. Mama bercerita kalau di jalan pulang tadi tersesat. Mama berjalan berputar-putar tapi tidak juga menemukan tempat biasanya bertemu papa. Hingga akhirnya mama bertemu warga dan minta tolong untuk diantar pulang.
Ini cerita pertama kali yang terasa janggal. Tapi karena kadang manusia tidak bisa terhindar dari kejadian apes, saat itu aku masih menganggap, “Oh mungkin mama lupa jalan karena sudah lama nggak ngaji ke Koripan (sudah jeda sebulan lebih, -red)”.
Cerita-cerita janggal berikutnya pun menyusul.
Seperti yang aku ceritakan tadi, momennya kala itu adalah tak lama dari Lebaran. Karena masih nuansa Lebaran, mama bilang mau ke Semarang untuk ke rumah Mami (kakaknya Mama, -red). Mama pun pergi ke Semarang dan menginap selama beberapa hari. Bukan hal yang aneh, karena mama kerap demikian.
Juni 2024
Hal yang aneh baru terlihat sepulangnya dari Semarang. Dari ekspresinya, mama tampak tertekan dan seperti ada beban pikiran. Ada satu waktu di mana aku dan mama hanya sedang berdua, lalu mama membahas tentang uang. Dari pembahasan itu, aku simpulkan sepertinya mama lagi stres karena faktor uang.
Lalu mama menunjukkan hal-hal yang aneh: sering meracau, mengeluh, mondar-mandir, pergi dari rumah, bahkan pingsan di sembarang tempat. Pernah ada satu kejadian, mama pergi ke budhe Mitun yang rumahnya di belakang rumahku, tapi akses ke sana yang paling dekat harus melewati kebun yang rumputnya tinggi-tinggi. Ternyata, mama pingsan di kebun. Bajunya kotor semua.
Kejadian pingsan tidak hanya sekali. Berkali-kali setiap mama main ke rumah tetangga, pasti berakhir pingsan. Akhirnya mama dilarang pergi dari rumah. Waktu itu adekku Dafa ada di rumah, dia cerita sudah beberapa kali menjemput mama dari luar. Bahkan rumah sudah dikunci, tapi mama buka pintunya dan pergi ke luar lagi.
Mendengar cerita itu, aku pikir mama terganggu psikisnya. Mungkin mental healthnya sedang tidak baik.
Singkat cerita, mama dilarikan ke rumah sakit (RS Soerojo) pada hari Jumat siang. Papa yang menunggui. Hari Minggu pagi aku ditelpon papa, urgent. Aku pun langsung ke rumah sakit. Papa cerita, Sabtu malam mama koma. Nggak sadarkan diri. Tim dokter langsung ambil tindakan penyelamatan. Sebuah keajaiban mama sadar di Minggu pagi itu.
Ketika aku di rumah sakit, aku dipanggil oleh dokter. Saat itu dokter bilang didiagnosis ada tumor di otak mama. Perlu tindakan operasi, tapi harus pindah rumah sakit karena alat dan dokter yang memadai hanya ada di RST Magelang.
Ah, aku masih ingat waktu itu mama bilang takut dioperasi. Katanya, kalau memang umurnya nggak panjang lagi, biar waktunya digunakan buat ngaji aja.
Long story short, mama dipindah dari RSJ ke RST. Waktunya berdekatan dengan sebelum Idul Adha, mama melalui tindakan operasi pengangkatan tumor di otaknya. Nggak pernah terbayangkan sebelumnya mamaku akan melalui hal besar ini.
Alhamdulillah operasi berjalan baik. Mama memang kesakitan, tapi masih menampakkan wajah yang ceria. Mama kembali menjadi mama yang biasanya.
Usai operasi, kehidupan kami seolah berangsur-angsur kembali normal. Bekas luka operasi yang tampak sangat jelas di kepala mama juga semakin lama semakin pulih. Memang masih harus rutin kontrol, tapi setiap pulang kontrol mama pasti punya cerita-cerita baik. Tentang bagaimana dokternya yang pinter dan badannya bagus. Tentang cerita sesama pasien. Dll. Mama memang selalu punya segudang cerita.
Mama juga mulai lagi merintis usaha di depan rumah. Mama itu nggak bisa duduk diam anteng pasrah. Padahal masih masa pemulihan, tapi maunya jualan di warung depan rumah.
Pernah suatu hari di dusunku ada pengajian yang mengundang Gus terkenal. Karena ramai orang datang, mama ikut jualan di warung sampai malam hari.
Aku pikir, mama akan sembuh dan sehat lagi, tapi ternyata….
Januari 2025
Seperti biasanya, saat akhir tahun kakakku mb Devi pulang ke Magelang. Tapi di akhir tahun itu aku menghabiskan waktu bersama keluarga suami yang ada agenda ke Bekasi. Pulang dari Bekasi, mama mengeluhkan sakit pinggulnya yang semakin menjadi-jadi.
Sebelumnya, mama memang bilang pinggul dan pahanya terasa sakit, pegal. Karena dipikir karena kecapekan, sudah aku berikan counterpain dan minyak kutus-kutus untuk diurut biar enakan. Namun sakitnya tak kunjung hilang.
Mb devi pun membelikan lampu sinar merah yang bisa menghangatkan, katanya biar enakan. Lagi-lagi, sakitnya malah menjadi-jadi.
Singkat cerita, mama pun kontrol ke rumah sakit dan disarankan untuk menjalani radioterapi. Pilihannya ada dua: di RS Sardjito Yogyakarta, atau RS Ken Saras di Ungaran. Mama memilih di RS Ken Saras yang dirasa lebih dekat dan familier.
Radioterapi terjadwal selama 20 kali. Pada awal-awal mama berangkat radioterapi diantar ambulans desa. Berikutnya untuk melanjutkan radioterapi, mama tinggal di rumah Mami di Semarang.
Hingga suatu malam, sepupuku, anak Mami menelpon dan mengabari kalau kondisi mama drop. Malam itu juga papa dan om menjemput mama dari Semarang, langsung dilarikan ke RST.
Dari hasil pemeriksaan di RST, dokter menemukan ada tumor ganas yang tumbuh di otak kecil mama.
Rasanya seperti petir di siang bolong. Like…. again!?
Kondisi mama turun drastis, bahkan untuk membuka mata saja mama nggak berani.
Dokter mengatakan perlu tindakan operasi, namun risiko kali ini lebih besar.
Operasi kedua dilakukan di bulan Ramadan. Waktu operasi cukup panjang. Sudah hampir petang ketika operasi selesai. Itu pun mama belum bisa langsung ditemui.
Entah kenapa, untuk pertama kali skenario terburuk tentang mama muncul di benakku. Aku yang biasanya optimis dan positive thinking, kali itu takut ditinggalkan. Bermacam doa dan janji terucap. Kalau mama ini, aku akan bla bla bla.
Naasnya, sepulang aku dari rumah sakit, di desa ada pengumuman orang meninggal. Yang meninggal adalah mbah Rus, yang rumahnya di sebelah rumahku ini. Ya Allah, innalillahi wa innailaihirojiun.
Sementara itu, alhamdulillah keesokan harinya mama sadarkan diri di ruang ICU. Kondisi mama membuatku sedih. Secara fisik, sangat kentara mama kesakitan. Yang paling menonjol selain bekas operasi di kepala yang bertambah, adalah bibir mama yang bengkak. Di ICU itu, aku video call dengan saudara-saudara mama supaya bisa komunikasi. Karena jika hanya dengan papa, papa tidak bisa mengoperasikan hp.
Long story short, mama boleh pulang ke rumah.
Tapi mama tidak lagi mama yang dulu. Fisiknya benar-benar drop. Tidak mau makan, tidak bisa jalan, tidak bisa gerak, tidak banyak bicara.
Idul Fitri 2025
Pertama kalinya, di hari Idul Fitri, mama tidak sibuk memasak. Mama tidak sibuk menyiapkan rumah. Mama tidak antusias menyambut tamu. Bahkan bisa dibilang, mama tidak ikut merayakan Idul Fitri seperti biasanya.
Mama hanya bisa tidur di kamar. Ketika ada tamu, tamu yang masuk ke kamar menemui mama. Terdengar mama meminta maaf ke orang-orang yang datang.
Hal yang paling kuingat saat itu adalah, mama minta agar aku, mb Devi dan Dafa berkumpul di kamar secara tertutup. Di sana mama berpesan agar kami akur. Jika mama nggak ada, mama minta agar aku dan mb Devi ngopeni Dafa yang paling kecil.
26 Mei 2025
Mama meninggalkan kami semua di hari Senin siang. Begitu mendadak. Bahkan kata papa, tak ada perbedaan dengan mama biasanya. Papa yang di samping mama merasa tidak menyaksikan proses sakaratul maut, karena mama seperti tidur biasa saja.
Aku yang dijemput dari sekolah, sesampainya di rumah langsung menemui mama. Aku tidak tahu apa perbedaan antara orang yang meninggal dan tidur. Yang aku tahu, sekeras apapun aku mencoba membangunkan mama kala itu, mama tak bergeming.
Mama meninggal.
Sedih atau tidak?
Ditinggalkan oleh orang terkasih tentu menimbulkan emosi yang kompleks. Menurutku, perasaan yang muncul kala itu maupun sekarang tidak cukup disebut dengan kata sedih.
I could say aku punya kecerdasan intrapersonal yang baik.
Sekarang setelah aku jauh lebih tenang, aku sudah menata mindsetku dengan pemikiran seperti ini:
Selama ini Allah memberikan badan yang sehat ke Mama. Tapi dalam waktu setahun, qadarullah mama sakit berat yang membuat kondisi tubuhnya drop dan berbanding terbalik.
Jika kita husnuzon, oh mungkin demikian cara Allah untuk mengurangi dosa-dosa mama di dunia. Juga cara Allah agar kita yang ditinggalkan dapat lebih mudah melepaskan.
Aku membayangkan, seandainya mama nggak diberi sakit, mungkin aku sangat terpukul dan nggak siap ditinggal mama. Seperti aku bilang di awal, selama ini aku selalu berpikir “nggak mungkin mama meninggal”. Tapi karena aku melihat sedikit demi sedikit kesehatan mama menurun, aku melihat bagaimana kesakitannya mama menjalani hari-hari terakhir di dunia, membuat aku lebih ikhlas mama dipanggil oleh Allah. Sekarang mama nggak sakit lagi.
Aku juga bilang, ketika mama lolos dari lubang maut ketiga kali, saat itu aku sudah mencicil menata hati. Salah satunya dengan membaca buku “Seorang Pria yang Menjalani Duka dengan Mencuci Piring”. Karena membaca buku itu, aku bisa membangun tembok emosi yang lebih kokoh. Setidaknya aku memvalidasi diri sendiri, bahwa menjalani duka itu tidak hanya dengan menangis.
Ketika kangen mama, aku ingat mama selalu bilang, “Nggak punya wong tuwo itu nggak enak”. Mungkin…. mama juga kangen ibunya. Atau bahkan mungkin… sekarang mama sudah ketemu ibunya?
Nggak tahu deh. Harus ngaji lagi biar lebih tahu kehidupan setelah kematian itu gimana.
How’s life without mother?
Takes long explanation to answer it. Maybe next time I’ll write about it.
Satu hal lagi yang menguatkanku adalah kalimat ini,
“Dulu kita yang perlu doa mama. Sekarang mama yang perlu doa kita”

0 Comments