Sunday, October 2, 2016

Backpacker Jogja ke Bandung Cukup Dengan Rp 250.000

Di akhir Bulan September ini, KAI memberikan promo tiket murah seharga 28.000 untuk perjalanan tanggal 27-29 September. Sebagai anak muda selo, aku pun selo pula bangun dini hari buat berkutat booking tiket lewat aplikasi KAI Access (atau web KAI buat yang belum download appsnya).

Luckily, aku dapat tiket berangkat tanggal 27 malam dan tiket pulang tanggal 29 pagi.  Selo juga kan pergi piknik selama 3 hari 1 malam. Secara tanggal sekian adalah weekdays sekaligus tanggal tua. Pukpuk dompet.

26 September

Senin sore aku ke stasiun Lempuyangan buat cetak tiket supaya besok nggak buru-buru. Eh, ternyata nggak bisa. Aku baru tahu kalau sistem cetak tiket kereta sekarang berubah. Sistemnya jadi: 

Booking tiket - bayar - dapat kode pembayaran - check in dengan kode pembayaran sekaligus cetak boarding pass (minimal 12 jam sebelum jam keberangkatan, maksimal 1 menit sebelum jam keberangkatan)  di stasiun keberangkatan - tunjukkan boarding pass dan ktp untuk masuk ke ruang tunggu stasiun. 

Yaudah, pulang lagi deh. 

27 September 

Stasiun Tugu

Bertahun-tahun di Jogja, baru sekali ini aku ke stasiun Tugu. Hehe. Ternyata aku berangkat terlalu cepet, jadi nunggu cukup lama di stasiun. Karena memang jadwalnya berangkat dari stasiun Tugu, jadi sekarang bisa deh check in di sini.

Tiket Boarding Pass Kereta Api 


Setelah kereta datang, masuklah aku dengan santainya. Ternyata cukup banyak bangku yang kosong. Tempat duduk di sampingku juga kosong. Ihiy. 

Enaknya naik kereta eksekutif itu bangkunya bisa diatur, ada pijakan kaki, dapet bantal dan selimut. Nggak enaknya cuma 1, ACnya dingin banget. Hmmm. Kehangatan mana kehangatan. 

28 September 

Stasiun Bandung

Pukul 5.20 aku sampai di Stasiun Bandung dan segera ke mushola karena belum sholat Subuh. Setelah gosok gigi, ganti baju, dsb lalu keluar dari stasiun. Langit sudah terang, sedikit mendung dan jalanan basah sisa hujan semalam. 

Masjid Raya dan Alun-alun Bandung

Tujuan pertama adalah menuju ke masjid Raya dan alun-alun bandung. Untuk sampai ke sana, aku memilih jalan kaki. Karena di google maps keliatannya nggak terlalu jauh. Tur nggak paham juga kalo naik angkutan kota kudu gimana. Lumayanlah olahraga pagi.

Masjid Raya Bandung 


Di depan masjid Raya Bandung ini rumputnya keren. Masih pagi jadi masih sepi, hanya ada beberapa orang pengunjung dan pedagang.

Saat itu aku santai saja jalan di atas rumput. Setelah beberapa langkah, aku melihat sekeliling dan menyadari satu hal, "Kok di sana orang-orang pada nggak pakai alas kaki ya".

Langsung saja aku lepas sandal daripada dimarahin orang. Eh benar, beberapa saat kemudian beberapa orang yang baru datang melepas alas kaki mereka di pinggir.

Jalan Asia-Afrika, Jalan Braga


Jalan Asia-Afrika 


Keluar dari alun-alun, aku pun melanjutkan perjalanan melewati jalan Asia-Afrika. Nuansanya khas sekali. Tersedia bangku di sepanjang jalan (tempat duduk gini nggak cuma di Asia-Afrika aja si kayaknya).

Jalan Asia-Afrika 

Ada wpap-wpap bung Karno beserta penggalan pidato-pidato beliau. Batu nama-nama Negara peserta KAA, dll. Tak jauh beda dengan yang aku liat di TV saat liputan penyelenggaraan KAA ke 50 di Bandung tahun lalu. Bedanya sekarang tidak ada wpap pemimpin Negara lain.

Berhubung udah lapar, aku pun berbelok ke jalan Braga. Konon di sini banyak outlet makanan kekinian, warung upnormal misalnya. Tapi berhubung masih kepagian, jadi belum banyak outlet yang buka. Ujung-ujungnya beli bubur ayam di pinggir jalan.

Niat hati pengen nyobain bubur ayam bandung yang asli mumpung di sini. Pas aku lagi asik makan, bapak bubur nya ngobrol sama temennya pake bahasa Ngapak. Lah, waktu mau bayar aku pun tanya,

"Bapak asli dari mana Pak, kok bisa bahasa Jawa?"

"Lha eneng dari mana?  Saya dari Banjarnegara"

Hihi,ternyata bapaknya dari Banjarnegara. Jadi ini yang aku makan tadi bubur ayam khas Bandung apa Banjarnegara dong ya? Wkwk.

Aku pun basa-basi sekalian tanya arah dari situ ke Balaikota sekaligus dari Balaikota ke Gedung Sate. Tur aku lupa penjelasan dari Bapaknya. Heu, Disma. Tapi lumayan jadi dapet diskon seribu perak.

Taman Braga


Balaikota Bandung

Singkat cerita, sampailah di Balaikota Bandung. Nyobain lampu merah buat penyeberang jalan. Itu lho yang kalau kita tekan tombolnya nanti lampu lalu lintasnya jadi merah dan kita bisa nyebrang. Di Bandung emang banyak banget jalan satu arahnya, butuh kesabaran dan kehati-hatian ekstra kalo mau nyebrang jalan.

Di depan pintu gerbang Balaikota udah ada pak satpam. Sempat kepikiran, nanti kalau ditanya, "ada keperluan apa ke Balaikota? " terus aku jawab apaan. Masa' bilang, "mau ambil foto di Taman Labirin pak". Kan ngekk. Untungnya masuk langsung aja, tanpa ditanya. Huehe.

Taman Labirin Balaikota Bandung

Lagi-lagi di Balaikota juga Taman Labirinnya sepi. Kalau di spot yang lain cukup rame. Ada acara sepertinya. Mungkin menyambut PON atau apa karena berdresscode baju adat.

Selain Taman Labirin, di Balaikota juga ada taman kota, sayang sedang dipugar. Ada pula spot untuk menggantung gembok Cinta seperti yg ada di Paris dan Korea, tapi pagi itu spotnya ketutupan mobil parkir. Huhu.

Keluar dari Balaikota, kali ini aku menuju ke Gedung Sate dengan angkutan kota (sebelumnya tanya rute dulu sama pak satpam). Dari Balaikota ke Gedung Sate harus 2x naik angkot, turun Pasopati lalu sambung ke gedung sate. Di pemberhentian pertama, aku mampir dulu ke Taman Cikapayang, taman yang ada tulisan DAGO besar. Nggak sempat mampir ke Taman Pasopati alias Taman Jomblo karena nggak searah.

Gasibu dan Gedung Sate 

Sampailah di Gasibu. Rehat sebentar sambil nonton warga Bandung yang sedang berolahraga. Ada anak-anak sekolah, ada aa' aa' ehem, teteh-teteh geulis, sampai aki dan nini di sana. Ada yang jogging, main bulutangkis, dsb. Padahal hari sudah cukup siang. Beruntungnya hari itu cuaca di Bandung agak mendung jadi nggak terasa panas. Atau emang sehari-harinya di Bandung udaranya sejuk (Karena dekat perbukitan)?.

Kebetulan September ini ada PON yang diselenggarakan di Jawa Barat, salah satunya di Bandung. Di Gasibu ada patung maskot PON juga. Pengen si nonton PON langsung, tapi nggak tau tempatnya. Ntar nonton di TVRI aja dah.

Maskot PON Jawa Barat 2016


Kalau Gedung Sate, sebenarnya cuma foto-foto di depannya aja. Hihi. Biar lengkap. Biar afdol. 

Paris van Java

Mumpung di Bandung, pengennya nyobain sesuatu yang nggak ada di Jogja. Kebetulan inget sama Wings fire-nya Richeese Factory. Itu lho, ayam goreng pedas berlevel yang pernah happening dijadiin challenge beberapa waktu yang lalu. Jadilah browsing nyari Richeese Factory di Bandung. Ada di 2 tempat Richeese Factory, salah satunya di Paris van Java. Karena PvJ cukup dekat dengan guest house, jadilah pilih ke PvJ aja.

Dari guest house ke PvJ aku naik Uber. Lagi-lagi dapet luck, Uber pas ada promo Kejutan Bandung. User dapat diskon 15.000 untuk 5 kali perjalanan dengan Uber, kan mayan. Tapi agak nggak enak hati juga sama drivernya, karena ternyata argonya nggak nyampe 15.000 jadi aku nggak perlu bayar . Heuheu, maap yak pak.

Nyari outlet di Paris van Java buat yang belum tau sama aja kayak nyari dosbing di kampus, perlu celingak-celinguk dan muter-muter dulu. Secara PvJ kan gede gitu. Sampai akhirnya ketemu juga outlet Richeese Factory. Aku pesan Wings fire tapi cuma berani yang level 2 (ada level 1-5). Lagi liburan sih takut sakit perut. Wkwk.  Emmm level 2 udah pedes juga. Lain kali coba pesen yang level 3 ahh.

Wings Fire Richeese Factory + ekstra nasi

Selain tempatnya yang asik, di PvJ juga banyak dijual barang-barang lucu dan unik. Tempat favoritnya cewek lah. Andai bukan akhir bulan dan paginya nggak jalan jauh, kayaknya aku bakal betah muter-muter di sana sampai malam. Heu. Pukpuk dompet. Pukpuk kaki.

Paris van Java

Cihampelas Walk

Supaya menghindari khilaf, aku pun keluar dan pesan Uber untuk ke Cihampelas Walk (Ci-Walk). Perjalanan dari PvJ ke CiWalk agak lama karena kena macet. Lagi-lagi pas nyampek dan tanya argo jadi nggak enak hati, ternyata cuma kena charge 1.500.

Cihampelas Walk


Sesampainya di CiWalk seketika bikin aku mikir, "Bandung ni mallnya asik-asik begini ya. Gawat nih, bikin betah". Kalau PvJ konsepnya modern, di CiWalk ini konsepnya walkable area (istilah yang aku bikin sendiri), gabungan mall indoor dan outdoor area dengan pepohonan yang rindang. Enak lah pokoknya.

Bedanya lagi dengan PvJ, di CiWalk ada gabungan antara mall dan pasar tradisional di sepanjang jalan Cihampelas. Kalau mau beli oleh-oleh khas Bandung, bisa dah beli di Cihampelas aja, alternatif selain di Cibaduyut.

Jalan-jalan di CiWalk nyari oleh-oleh yang lucu, pas banget lagi ada Bandung Great Sale, banyak diskon menarik gitu. Terus lanjut nyari barang-barang yang khas di Jalan Cihampelas. Simple thing kayak gantungan kunci bentuk angklung, atau tas ada tulisan Bandung, kaos, boneka, peuyeum, makanan, jajanan, banyak di sini. Sampai bingung mau pilih apa.

Satu hal yang bikin gimana gitu adalah, kenapa di toko oleh-oleh Bandung ada Bakpia Jogja, Bandeng Juwana, dan Jenang Kudus?.

Sebenarnya bebas-bebas aja. Cuma dulu aku pernah nonton salah satu acara TV liputan travelling di Jerman. Jadi kalau di Jerman tiap daerah punya 1 kue yang jadi khas daerah tersebut dan daerah lain nggak boleh produksi kue khas daerah lain.

Kayaknya keren juga deh kalo Indonesia juga nerapin kayak gitu. Cukup 1 macam makanan aja deh yg bener-bener spesial. Kayak Selat Mbak Lies di Solo yang nggak buka cabang, misalnya. Sayangnya di daerah lain ada juga yang jual selat si.

Oke, kesampingkan dulu.

Di sini aku pilih beli Batagor. Konyolnya,

"A', beli batagor enam ribu ya", kataku

"Lima belas ribu neng", kata Aa'nya

"Oiya a', batagor lima belas ribu"

Tengsiin. Dipikir sama kayak batagor depan KPLT. Wkwk

Anyway, pas siang tadi aku juga jajan cilok goreng. Percaya deh, ciloknya wuenaaak banget. Beda sama yang di Jogja. Atau karena aku pas laper ya?.

Selesai muter-muter di Cihampelas, pulang deh ke guest house. Capek to the max rasanya. Mandi, sholat, nonton TV sebentar, terus tidur.

Oh iya, aku dapat guest house yang enak banget di daerah Cipaganti. Dengan harga miring dapat kamar yang nyaman, ada kipas angin, ada TV kabel, kamar mandi dalam dengan hot water, free refill air minum, dan dapat sarapan. Walaupun sarapan ini yang di keesokan hari menjadi masalah.

29 September

Tragedi Mengejar Kereta 

Jadwal kereta berangkat yaitu pagi ini pukul 07.20. Sebelum pukul 5 aku sudah bangun, ngumpulin nyawa, wudhu, sholat, packing, mandi, dan beres-beres. Menjelang setengah 7 sudah siap untuk berangkat. Nah, saat aku buka pintu kamar, seorang ibu pengurus guest house datang,

"Sarapan neng", kata beliau.

Karena aku pikir masih cukup waktu, ya sudah aku bergegas ambil makan.

06.40, walaupun belum selesai makan aku sudah order Uber supaya nggak menunggu terlalu lama. Order sudah dipick up, keterangan driver juga sudah muncul. Anehnya tidak ada telpon/sms masuk dari driver.

06.50, selesai makan dan langsung check out. Segera bergegas ke depan jalan untuk menunggu Uber

06.55, di aplikasi mobil Ubernya terlihat sudah dekat tapi belum sampai juga. Akhirnya aku telpon kontak driver yang ada di aplikasi. Ternyata bapak driver salah arah.

06.58, akhirnya Uber datang. Aku segera naik dan bilang ke bapak driver bahwa aku buru-buru ke stasiun, mengejar kereta pukul 07.20. Pak Driver menenangkan, sekaligus menjelaskan kalau sebenarnya rutenya dekat tapi jalannya memutar karena satu arah.

Seriously, i'm in panic. Niat hati pengen dokumentasiin perjalanan dari guest house ke stasiun. Tapi waktu itu benar-benar nggak sempat mikirin hal lain selain sampai ke stasiun. Mana jalannya macet pula. Pak Driver sepertinya mengerti karena terasa mengemudinya dengan cukup ngebut.

Entah jam berapa nggak liat jam, akhirnya sampai di depan stasiun. Tanpa ba-bi-bu langsung tanya argo, bayar, keluar mobil, dan langsung lari ke counter check-in buat ngeprint boarding pass. Abis itu lari lagi ke pintu masuk. Untung ktp udah siap di tas kecil. Tapi di depan ada mbak-mbak yang lagi bermasalah jadi nunggu beberapa waktu. Sampai saatnya aku diperiksa ktp sama boarding pass dan masuk ke dalam.

Aku liat di jam digital stasiun udah jam 07.19, haduh langsung insting lari ke arah kereta tanpa tau kereta yang bener di jalur berapa. Untung ada bapak-bapak porter yang ngasih tau,

"Lodaya neng? Lodaya di jalur 5".

Jalur 5 itu di jalur yang di tengah, jadi kudu nyebrang lebih jauh karena ada kereta lain di jalur tepi. Lari sekencang-kencangnya. Panik, ini pintunya di sebelah mana nih, kanan apa kiri. Pas udah nemu pintu, eh kok udah tutup nggak bisa dibuka. Lari lagi. Sampai nemu pintu yang terbuka. Langsung deh lompat ke dalam.

Ternyata aku masuk ke pintu gerbong eksekutif 1, padahal tempat dudukku di gerbong bisnis 3. Jadilah perlu jalan dulu sepanjang gerbong kereta. Diliatin penumpang lain yang udah duduk manis. Mana pakaian jadi compang-camping pula efek lari-larian.

Setelah masuk di gerbong bisnis 3, lalu aku nyari tempat dudukku yang ternyata paling ujung belakang. Gerbongnya sepi sekali, banyak bangku kosong.

Enaknya di gerbong bisnis yaitu tempat duduknya bisa diputar arah. Karena kebetulan tempat duduk di depanku kosong, aku putar jadi posisinya berhadapan, bisa buat selonjoran. Berasa kereta punya nenek moyang dah. (Note: ini karena memang sepi dan banyak tempat duduk kosong kok)

Saat aku mengeluarkan boarding pass untuk dicek oleh petugas, aku baru memperhatikan jam check in. Di boarding pass tertera check in pukul 07.15. Lah ternyata aku punya waktu 5 menit, bukan 1 menit. Tiwas tadi lari-lari cantik kayak Cinta ngejar Rangga. Hihi.

Finally, butuh waktu 8 jam tempuh dari Bandung untuk sampai ke Jogja. Hello Jogja, ketemu lagi kita.

Dan Bandung, seeya next time ya. Kamu adalah kota dengan tempat nongkrong paling banyak.


Total biaya

Kereta api Jogja-Bandung pp: 50.000 (promo @28.000 + potongan) 
Guest house: 100.000 (tergantung aplikasi) 
Uber selama di Bandung: 15.000 (hanya biaya parkir dan tips, sisanya free promo first ride dan promo kejutan Bandung) 
Bubur ayam: 7.500
Cilok goreng: 5.000
Wings fire Richeese: 30.000 
Batagor: 15.000 
Basreng: 15.000
Oleh-oleh: xxx 
Bekal minum dan snack: xxx

Oh iya, kemarin sempat ngobrol-ngobrol sama bapak driver Uber kalo mau ke Lembang gimana. Kata bapaknya, enak pakai kendaraan pribadi soalnya angkutan umumnya jarang, atau naik Uber aja juga bisa. Huehue, bapak promo. Tapi leh uga deh dimasukin ke daftar rencana. 

Akhir kata.... 

Sesekali boleh lah kita travelling kak. Mumpung masih muda. Banyak pengalaman menanti.

Uang bisa dicari, tapi waktu belum tentu kembali, kesempatan belum tentu datang lagi. 

Aih. 

Share:

5 comments:

  1. Uluh uluh...
    Btw itu berdekatan semua po tempat e..

    ReplyDelete
  2. Lumayan deket mas. Bayangin di Jogja kayak Malioboro ke Alkid ke Tamansari ke Tugu ke Amplas. Deket tapi jauh gitu.

    ReplyDelete
  3. keren pengalaman backpackernyaaa! bandung emang paling juara tapi makanannya teteup masih mahal kalo dibandingin dengan jogja...

    ReplyDelete
  4. makanan mahal-mahal toh nggak ada yang kayka di jogja

    ReplyDelete