Friday, May 5, 2017

, ,

Review Cultural Food Festival: Sahara Middle East, Ada Belly Dance nya!

Like I always say, aku tuh sering banget disangka keturunan Arab sama orang-orang yang baru ketemu. Entah kenapa, alasannya masih menjadi misteri. Mungkin karena mata aku yang "dalam" (istilah dari beauty blogger), jadi kesannya Arab. Padahal yaaa jauh lah, orang Arab kan mancung, putih, tinggi. Sesuatu yang nggak aku banget. Atau jangan-jangan aku keturunan kedelapan kalik ya.

Ngomong-ngomong soal Arab, Arab kan ada di Timur Tengah tuh. Nah hari Rabu (3/5) kemarin, ada Cultural Food Festival dengan tema Sahara Middle East di Swiss-Belhotel Yogyakarta. Seru gitu kayaknya. Aku penasaran makanan ala negara-negara Arab ada apa aja ya, biasanya cuma tahu Kebab sama nasi kebuli doang. Terus yang lebih seru, ada Belly Dance nya!. Dulu aku pernah punya boneka yang bisa nari-nari belly dance gitu, lucu kayaknya kalo bisa lihat langsung. Tanpa pikir panjang, aku pun segera daftar biar bisa ikutan. 

Invitation Culturan Buffet Dinner: Shara Middle East di Swiss-Belhotel Yogyakarta

Oh iya, bulan April kemarin aku juga ikut Cultural Food Festival di Swiss-Belhotel Yogyakarta. Tapi waktu itu temanya Oriental Fest Food, dan aku ikut yang edisi Korean (Baca juga: Kuliner All You Can Eat Edisi Korean Buffet). Jadi ini kali kedua aku ikutan. Seru sih, sekali aja nggak cukup.

Di undangan kan ditulis acara dari jam 18, tapi sebelum jam 18 aku udah sampai di hotel dan langsung ke Swiss-Cafe. Ternyata masih sepi gitu. Sambil nunggu pembukaan, aku bisa eksplore ke sana ke mari. Ngerencanain bakal ngambil makanan apa aja, pilih tempat duduk yang asik, selfie di segala sudut, wifi-an, nonton koki yang lagi masak di open kitchen sampai kokinya grogi, hoho. Random lah.


Tempat dudukku kemarin di dekat Open Kitchen. Di situ kita bisa lihat dapur tempat koki masak. Seru sih, jadi nggak bosen sambil makan bisa lihat para koki beraksi. Nggak enaknya, tiap ada orang yang keluar-masuk ke dapur, terdengar bunyi "tok tok" pintu yang ketutup gitu. Di awal-awal sih "it's okay", lama-lama bikin kezel juga. Sering yang keluar-masuk soalnya, jadi bunyi "tok-tok" mulu, kan gengges.

Jam 18.30 acara dimulai. Dipandu oleh MC, ada juga sambutan dari Pak Dedik Abdillah selaku General Manager, singkat tapi ramah. Kemudian, saatnya yang ditunggu-tunggu, pembukaan acara dengan Belly Dance. Waa, clap clap clap.









Seketika musik khas Arab diputar dan ada 2 penari cewek yang mulai menari dari lorong pintu masuk Swiss Cafe. Penarinya pakai baju yang menurutku kayak sari-nya orang India gitu. Mirip kayak boneka India yang aku punya dulu waktu kecil. Hihi. Ngeliat Belly Dance aku jadi kepikiran tentang bakar kalori perut. Tapi nggak tau deh kalo mas-mas yang liat jadi kepikiran apa. Heu.

Usai Belly Dance, langsung ke acara utama, apalagi kalau bukan.... makan!. Akhirnya... setelah serasa berjuta-juta tahun menunggu *lebay sih*. Dalam sekejap piringku udah langsung penuh.

Menu

Appetizer

Sebelumnya, aku mau jujur, bahwa sesungguhnya aku nggak tertarik sama appetizer jadi aku skip begitu aja. Nggak banyak yang aku dokumentasiin, bahkan nggak ada yang aku icipin. Huhu, maafkeun ya Chief. Tapi di sana udah disediain berbagai macam appetizer macam salad dan krim beraneka ragam ini. Sebenernya aku penasaran sama saus Balsamic, tapi ya itu tadi, nggak sempet buat aku cobain. Hehe.

Malfoof Salad

Salad dan Beraneka Saus Dressingnya

Main Course

Meja Main Course, lengkap dengan aneka sambal dan kerupuk

Karena ini temanya Timur Tengah, aku udah cukup kebayang sih pasti menunya bakal seputar daging, terutama daging kambing. Tapi nggak nyangka kalau dagingnya bisa diracik jadi berbagai varian menu yang belum pernah aku tau sebelumnya. Biasanya kalo makanan Timur Tengah kan identiknya nasi Kebuli, kambing guling, kebab, gitu-gitu, tapi ternyata ada banyak menu lain lho.

Shish Taouk
Shish Taouk. Menu ini di dalamnya ada daging ayam dibakar medium dan sayuran macam paprika, tomat ditusuk dengan lidi kayu kayak sate. Dagingnya empuk banget. Potongan sayurnya juga pas untuk dimakan dan berasa segar.

Fish Harrah

Fish Harrah, dari namanya aja udah ketahuan kalau ini dari ikan. Keliatannya enak ya, crispy di luar lembut di dalam, dengan saus yang segar. Tapi karena aku food combining dan menghindari makan daging darat (ayam, kambing, sapi) sekaligus laut di satu waktu, jadi aku nggak nyobain fish harrahnya karena udah ngambil makanan daging.


Kibbeh. Awalnya aku pikir ini ayam crispy. Pas aku cobain, ternyata ini adalah daging (entah sapi atau kambing) cincang yang dibentuk bulatan terus luarnya dikasih tepung biar crunchy. Asli, ini enak banget. Rasa dagingnya tu bisa pas banget gitu lho.


Talafel. Bentuk talafel ini mirip sama perkedel ya. Karena aku pecinta kentang, aku ambil satu dan nggak lupa aku kasih sedikit saus di atasnya. Ketika aku coba makan, eh ternyata teksturnya cukup keras, nggak empuk kayak perkedel. Isiannya ada kentang dan campuran daging kayaknya. Rasanya "strong" banget, pedes-pedes merica gitu. Emang harus dicombine sama saus putihnya deh biar rasanya lebih blend.

Babaghanous

Babaghanous. Aku nggak tau ini harusnya masuk di appetizer atau main course, tapi karena ada di meja main course jadi ya aku anggap ini main course aja. Hehe. Pas di awal dateng tadi, aku sempat ngobrol-ngobrol sama chiefnya. Nah pas ditanya makanan apa yang rekomended, chief langsung nunjukin babaghanous ini ke kita. 

Di meja ada semacam pangsit/keripik-atau-apalah-itu, terus di sampingnya ada krim-saus-bubur-entah-apa. Ternyata mereka berdua memang tercipta untuk bersama. Cara makannya, si pangsit ini dicocolin ke krimnya ini. Jadi semacam nachos tapi ala Timur Tengah. Uniknya, krimnya ini kan rasanya enak, aku pikir ini campuran tepung sama daging diblender apa gimana. Setelah abis, baru dikasih tau mbak Vera kalo ini dari terong. Lho???. Beneran deh nggak nyangka karena rasanya bukan rasa terong.



Tharid. Nah kalo tharid ini dari lihat aja udah langsung bisa ngebayangin rasanya ya. Iya, ini (semacam) semur kentang sama daging kambing. Enak. Dan lagi-lagi, dagingnya empukk banget.



Tufteh. Ini makanan misterius amat dah. Dari luar penampilannya amat menipu. Coba menurut kamu, ini apa?. Yang jelas bukan takoyaki, walaupun sama-sama bulat. Jadi ini tuh aslinya nasi yang dibalut sama daging yang entah dimasaknya gimana dan pake bumbu apa yang bikin rasanya endeus markendeus. Enakk banget. Ciyus.


Last but the best!!!. Batata Harrah. Ini menurutku main course paling favorit. Emang "cuma" kentang panggang, tapi rasanya tuh enak banget nget nget gitu. Berasa makan Chitato rasa sapi panggang tapi versi lembut. Beuh, kebayang kan enaknya.

Selain yang udah tersedia di buffet, ada juga menu yang fresh from the cook, masaknya secara live cooking oleh salah satu Chief. Malam ini menu live cookingnya yaitu Chicken Shawarma, atau aku taunya sih kebab.



Dessert


Meja Dessert



Pas aku dateng, ini belum dikasih papan nama. Tapi kata Pak Khun, ini Pistacchio Baklave. Jadi lapisan kulitnya pie crunchy gitu, terus isian di dalamnya kacang pistacchio yang udah ditumbuk lembut gitu. Favorit pertama. Biasanya kacang kan kalo dimakan bikin "seret" gitu, tapi aftertaste abis makan ini bener-bener moist kacangnya, nggak bikin buru-buru nyari air minum.


Aduuh, nggak perlu dijelasin deh kalo ini mah. Cheese cakenya tuh lembuuut banget. Enak, nggak enek, manisnya pas. terus di bawahnya ada lapisan kacangnya, kayaknya pistacchio juga. Saking enaknya, ini cake cepet banget abisnya. Pas aku ambil, tinggal setengah. Coba telat sedikit, mungkin udah ga kebagian. Btw, ambilnya dikit aja. Kalorinya tinggi, kata Pak Khun. Iya sih, secara... cheese cake pake kacang juga.


Tahini Bukeyes. Semua bagian dari Tahini Bukeyes bisa dimakan karena ini full coklat. Yang bentuk kerang itu bukan pajangan atau apa, itu tuh coklat. Wadah bulatan coklat-coklat yang kayak mika warna putih itu juga coklat. Coklat diwadahin, wadahnya juga coklat. Jadi.... makan aja semuanya. Hihihi.


Pisang Turki. Ini adalah nama makanan yang paling gampang diinget. Kekeke. Sayangnya aku nggak nyobain karena gede banget. Sepertinya enak. Btw, di Turki beneran ada pisang?. Aku ciyusan nggak tau ini.

Cookies

Bentuknya sih cuma buletin biasa, keras gitu macam kue kering. Tapi pas dicoba, lho kok dalemnya lembut. Lho kok enaknya pake banget. Kalo menurut aku, ini rasanya kayak kastengel tapi versi gede dan ada campuran kacang almond di kuenya. Enteng banget buat dicemil.


Pas pertama kali aku samperin meja dessert, "benda" satu ini letaknya di antara piring-piring gitu. Aku pikir kan cuma aksesoris pajangan aja kan. Setelah tak amatin, eeeh baru nyadar kalo ini full coklat juga. Ya amplop, mana tega makannya chief kalo coklat kok bentuknya cantik begini. Huhu.

*note: nggak semua makanan aku dokumentasikan

***

Sekitar jam 20 piring-piring mulai kosong, isinya udah pindah ke perut. Kenyaang, alhamdulillah. Karena all-u-can-eat, jadi kita bebas mau ambil makanan apa aja, sebanyak apa, dan bahkan mau nambah berapa kali, bebas sebebas-bebasnya. Makanya itu perlu kontrol diri. Nggak semua makanan perlu diambil. Kalo aku lebih suka ngambil sedikit-sedikit supaya bisa rata nyobain tiap menu. Perutku nggak muat banyak soalnya, hehe. Sesuaikan dengan kebutuhan yaa. Jangan lupa food combiningnya. (Tapi kalo urusan dessert, biasanya aku khilaf mulu nih, gimana dong?)
My plate full of main course

Dessert time! 


Dan... lagi-lagi, Cultural Dinnernya Swiss-Belhotel ini emang juara banget deh. Apalagi di sini nggak cuma menu makanannya yang sesuai tema (di mana tema kali ini temanya Timur Tengah), tapi semua konsepnya juga mendukung tema banget. Dekorasi meja menunya, hiburannya (Belly Dance tadi), dan ada juga petugas hotel yang pakai baju ala Timur Tengah.

Tapi apapun temanya, mau Korean, mau Timur Tengah, hiburan utamanya tetap... musik keroncong!. Hihihi. Lidah boleh udah sampai luar negeri, tapi Jogja tetap di hati.

Oh iya, aku kan penasaran ya, kenapa bulan ini dipilih tema Timur Tengah. Ternyata karena bulan ini udah memasuki bulan Ramadhan bagi umat muslim. Leh uga deh korelasinya. Swiss-Belhotel Yogyakarta selama Ramadhan juga udah menyiapkan paket khusus. Kan kalo puasa banyak tuh yang sering buka puasa bareng, hari Senin sama temen SMA, hari Selasa sama temen kuliah, hari Rabu sama temen kerja, hari Kamis sama temen arisan, dll. Cocok lah kalo buka puasanya ke SwissCafe di Swiss-Belhotel Yogyakarta aja.

Harga: 175.000/pax, buy 1 get 1 free.




Share:

1 comment:

  1. Tertarik banget sama Tahini Bukeyes... Uniiiik! Eh coklatnya apa sama kayak coklat timur tengah yang jadi oleh2 jamaah haji/umroh? Pengen tau mereknya. Ntar biar saya buru di priceza.co.id gitu

    ReplyDelete