Monday, April 16, 2018

,

Mengatur Keuangan Keluarga Ala Dismo

Note:
Aku nulis ini bukan karena udah jago masalah mengatur keuangan keluarga. Justru nulis ini biar dapet masukan / share dari pembaca, yang pastinya lebih berpengalaman.

---

Ada banyak hal yang berbeda saat kita masih "sendiri" dan saat kita sudah berkeluarga (ya walaupun baru berdua sih). Salah satunya yaitu masalah keuangan.

Ketika masih single dulu, keuanganku nggak kekontrol. Bukan yang borosnya nggak tau diri atau gimana, tapi lebih ke: dapet gaji, cukup buat sebulan, ga nombok, bisa nabung atau nggak pikir nanti deh (kecuali setahun terakhir aku nabung buat biaya resepsi, wqwq). Dulu, liat apa, pengen, liat dompet, masih ada uang, ya udah beli. Liat apa, kayaknya butuh, ada uang di dompet, langsung beli. Outputnya cuma ke jangka pendek-menengah, nggak punya investasi untuk jangka panjang.

Setelah menikah, urusan keuangan mulai aku benahi. Seolah secara naluriah, setelah menikah seorang istri juga berperan sebagai manajer keuangan. Apalagi sekarang uang yang aku pegang bukan cuma dari-dan-untuk diri sendiri, tapi juga dari-dan-untuk berdua. Belum lagi kebutuhan setelah berkeluarga jadi berbeda dengan kebutuhan saat sendiri.

Poin-poin yang ada dalam manajemen keuangan keluarga ala aku, kurang lebih begini:

- Bagi menjadi 4, kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang, lalu kebutuhan darurat.

1. Jangka pendek. 

Misalnya: masak, kebutuhan dapur (gas, galon, beras, dll), kebutuhan kamar mandi (shampoo, sabun, dll), kebutuhan pribadi (pulsa), dll

2. Jangka menengah, misalnya: rumah (karena kita masih ngontrak jadi masuknya ke menengah), listrik, PAM, dll

3. Jangka panjang, misalnya: zakat dan infak (ini jangka panjang lho, hubungannya sama akhirat), tabungan, investasi, jaminan kesehatan.

Zakat
Segera setelah terima gaji, langsung sisihkan 2,5% diniatkan untuk zakat. Karena kadang aku dapat tambahan nggak terduga dari blogging atau yang lain, aku tambahkan juga ke jumlah zakatnya.

Untuk infak nggak ada anggaran pasti, toh makin sering makin banyak makin ikhlas lebih bagus.

Tabungan

Untuk nabung, aku tahu cara nabung kayak yang aku praktekkan sekarang ini dari kakak kelas, sebut saja mas Amir. Aku nggak tau istilah yang resmi buat cara nabung ini, tapi aku nyebutnya sih tabungan-satu-nominal.



Metodenya gini. Pertama, kita tentuin dulu nominal uang yang akan masuk ke tabungan, misalnya aku pilih uang 5.000. Terus nantinya, setiap aku punya uang 5.000 (yang warna coklat), uang itu akan aku masukin ke kotak "celengan". Kalau aku pilih 20.000, berarti setiap aku punya uang 20.000 (yang warna hijau) aku bakal masukin ke celengan. Gitu. Maksa nggak maksa sih, yaa namanya juga tabungan. Nabung gini berlaku buat aku dan mas Azaz.

Selain menabung dengan cara di atas, aku juga menyisihkan uang di awal siklus untuk ditabung. Aku lebih suka menabung di awal daripada menunggu uang yang sisa di akhir bulan. Kalau di akhir bulan, takutnya uang udah habis duluan.

Investasi

Investasi ini penting ya, jadi kita nggak boleh pandang sebelah mata. Kenapa?. Karena ada inflasi. Apa itu inflasi?. Aku bukan orang ekonomi, jadi mohon maaf nih kalo salah jelasinnya. Tapi gampangnya, nilai mata uang kita akan berubah. Misalnya, uang Rp 500 jaman dulu bisa buat beli bakso semangkok, kalau kita belanjakan di masa sekarang uang Rp 500 paling cuma bisa beli cilok 1 biji, untuk beli bakso semangkok paling nggak kita butuh uang Rp 10.000. Kalau cuma banyakin tabungan uang tanpa investasi, nanti nilai uang kita akan tergerus, kan rugi.

Untuk investasi, aku baru berani invest beli emas (tapi yang batangan, bukan perhiasan). Soalnya kalo emas kan harganya masih affordable dan harganya juga stabil, dengan kecenderungan naik mengikuti inflasi. Kata mas Priyo, emas itu buat mengamankan uang kita dari inflasi supaya nilainya nggak turun di masa mendatang.

Kalau mau yang nilainya naik tinggi, beli tanah tuh. Yah, tapi hamba sekarang belum mampu, Tuan. Selain itu, sempat terbersit keinginan invest ke reksadana, tapi masih pikir-pikir lagi karena belum terlalu paham urusan begituan. And i'm not the one who can take any risk. 

Investasi kecil-kecilan yang lain adalah: spend money for your hobby. In my case, aku beli buku. Buat orang lain mungkin nggak penting. Tapi karena aku suka baca buku, makanya aku beli buku buat menyalurkan hobi juga sebagai "pengayaan jiwa". Tsah. Atau kadang beli peralatan masak buat eksperimen.

In mas Azaz's case, dia biasanya spend money buat beli alat-alat vapor atau perlengkapan kamera. Hobinya dia mah mahal T_T . But that's okay. 

Work is about your need. Hobby is about your passion. Be balance. 

Jangan cuma harta yang kita jaga supaya nilainya nggak turun di masa depan, pastikan juga diri kita punya nilai tambah di masa yang akan datang.

Jaminan kesehatan

Nah kalau untuk yang satu ini, masih bingung banget sih. Sekarang kan ada BPJS dan segala macem ya. Tapi mau bikin, kok banyak kisah-kisah nggak enak tentang penggunaan BPJS. Mungkin next time akan bikin, termasuk kalau udah selo untuk mengurus kebutuhan administrasi. Sekarang ini jaminan kesehatannya dengan jaga kesehatan dan keselamatan dulu. Juga dengan memperbanyak sedekah.

4. Yang keempat, kebutuhan insidental. Sebagian uangnya aku sisihkan untuk keperluan yang di luar rencana. Misalnya: undangan nikahan, takziah, sumbangan, dan lain-lain.

Kebutuhan dadakan macam gini kadang nggak terduga, tapi sekalinya ada biasanya menguras kocek juga. Seperti bulan Februari yang lalu, karena ada tanggal cantik jadi ada banyak teman yang menikah. Dalam 1 hari, kita dapat 3 undangan pernikahan. Kalau per undangan kita anggarkan Rp 50.000, berarti minimal perlu punya Rp 150.000 . Dengan menganggarkan kebutuhan insidental dari awal, ini cukup membantu sih.

- Menyimpan uang di beberapa amplop

Setelah gaji aku bagi dalam 4 kebutuhan di atas, berikutnya aku simpan di beberapa amplop yang berbeda. Jangan lupa beri keterangan di masing-masing amplop. Ada amplop untuk anggaran masak, beli pulsa listrik dan pam, kebutuhan insidental, anggaran suami, dll. Nanti ketika perlu beli beras, ambil uangnya di amplop "anggaran masak". Ketika ada kondangan, ambil uangnya di amplop "kebutuhan insidental". Begitulah.

Sedia uang di dompet secukupnya aja. Jangan terlalu sedikit, juga jangan terlalu banyak. Biar nggak tergoda buat beli macam-macam.

- Catat di kalender

Sehabis membeli kebutuhan yang rutin berjangka, misalnya: pulsa listrik, beras, gas, galon, lalu akan aku beri catatan di kalender pada tanggal dan bulan pembelian. Hal simpel tapi bisa berguna untuk tahu pola suatu barang bisa untuk berapa lama. Misalnya beras, dari melihat catatan aku melihat pola beras 1 kg bisa untuk 1 minggu. Berarti dalam sebulan paling tidak aku perlu membeli beras 4 kg.

Aku biasanya
Sepertinya cukup sekian dulu share cara mengatur keuangan dari aku. Kalau ada yang punya tips n trik mengatur keuangan yang lain, share di kolom komentar ya ;)

Share:

3 comments:

  1. Kebutuhan insidental kadang susah terdeteksi. Ya, gimana juga namanya mendadak, misal ada keluarga sakit. Aku termasuk nggak pinter mengatur keuangan dengan detail. Tapi tetap ada poin-poin yang mesti diperhatikan agar tidak besar pasak daripada tiang. Dan agar tetap bisa ada tabungan.
    Makasih sharingnya, mba.

    ReplyDelete
  2. Menyimpan uang di beberapa amplop.
    Ini yang sampai sekarang kami sulit lakukan.
    Sebab kami memang 'tidak bisaan'. Apalagi kalau ada saudara atau tetangga yang minta tolong.

    Prinsip kami sih, amplop boleh disediakan. Tapi biarkan Allah Ta'ala yang akan mengisinya. Hehehe....

    ReplyDelete