Advertisement

Main Ad

Memasuki Tahun Ketiga Pernikahan, Udah Ketemu Masalah Apa Aja?

Bagi orang yang sedang tidur, waktu 8 jam terasa sebentar. Sedangkan bagi orang yang melihat orang tidur, 8 jam terasa sangat lama.

Begitu juga bagi orang-orang dalam pernikahan.

Usia pernikahanku dan mas Azaz telah melewati tahun kedua. Buat orang lain mungkin udah lama. Tapi buat aku, rasanya bentarrr banget. Seakan baru saja kemarin jadi pengantin baru. Ceilah.

Dulu sebelum nikah, nggak kebayang nikah itu seperti apa. Hanya bisa mendengar cerita orang-orang. Katanya pacaran itu nggak ada apa-apanya dibanding pernikahan. Katanya pacaran isinya hanya yang manis-manis aja, nanti kalau nikah baru akan kelihatan gimana aslinya. Katanya nikah itu bakal berhadapan dengan banyak masalah, ujian datang silih berganti, dll.

Apakah Iya?.

Setelah menikah, inilah yang aku rasakan...

3 Bulan Pertama

3 bulan pertama pernikahan adalah masa termanis. Setelah rangkaian resepsi dan ngunduh mantu selesai, kita honeymoon beberapa hari ke Malang. Nggak perlu diceritain deh kayaknya. Ini adalah masa di mana kita bisa senang-senang, liburan, kulineran sepuasnya tanpa beban.

Sepulangnya dari Malang, kita pindah dari kost masing-masing ke rumah kontrakan, yang walaupun kecil tapi jadi tempat bernaung yang cukup buat kita berdua. Beli perlengkapan rumah mulai dari sapu, kasur, sampai kulkas lalu menata setiap sudut rumah sesuai apa yang kita mau. Hari Minggu pagi belanja sayur, ayam, pokoknya bahan makanan buat dimasak sendiri. Sesekali saat aku nggak ada jadwal ngajar (waktu itu di Binhar kan selo banget), aku akan di rumah sendirian menunggu sampai mas Azaz pulang kerja. Kadang titip dibeliin cilok atau molen krispi depan gang.

Duh, gitu aja udah bahagia banget. Berasa main rumah-rumahan kala kecil dulu sekarang jadi kenyataan.

Lalu batu kerikil itu mulai muncul...

Lepas dari 3 bulan, mulai ada batu-batu sandungan kecil. Sebenarnya masalah antara kita berdua terhitung masalah sepele. Misalnya aku masak, tapi mas Azaz makannya dikit. Atau mas Azaz pulang telat tapi nggak ngabarin. Hal-hal remeh macam gitu doang tapi jadi membesar karena ego masing-masing. Yah, atau bisa dibilang: egoku. I have to admit bahwa mas Azaz adalah suami yang sabarrrr banget. Akunya aja yang suka ngelunjak. Kekeke.

Waktu itu pernah aku lagi marah sama mas Azaz, terus aku nggak ngabarin apa-apa ke dia. WA tak blok, HP tak matiin. Pulang sekolah, aku cabut ke Hartono Mall naik Gojek terus nonton film sampai maghrib. Pulangnya nggak langsung ke kontrakan tapi malah ke kost Fatonah dulu. Akhirnya mas Azaz jemput aku di sana.

Dan kejadian kayak di atas nggak cuma sekali terjadi. Huhu. Ngerasa bersalah akutu kalo ingat masa-masa itu.

Suami Resign dari Tempat Kerja

Memasuki bulan ke-7 pernikahan, mulai ada hal besar yang mengubah jalan cerita, yaitu: mas Azaz resign dari tempat kerja. Kenapa resign? Yah, karena ada satu dua hal yang nggak bisa aku tulis di sini.

Dengan resignnya mas Azaz berarti neraca keuangan kita berdua yang tadinya udah stabil jadi goyah. Gimana enggak, tadinya ada 2 sumber pemasukan lalu sekarang tinggal 1. Terlepas dari hikmah yang bisa kita ambil sekarang, tapi sejujurnya... It was hard days. Ada jeda waktu beberapa bulan mas Azaz nggak kerja dan itu barangkali jadi masa ujian untuk kita berdua.

Dari segi ekonomi... Nih ya bayangin, aku kala itu jadi seorang guru honorer swasta, gaji mepet Rp 1.000.000 (iya, nggak salah baca: mepet sejuta rupiah alias sejuta aja nggak sampai). Segitu buat hidup berdua selama sebulan (note: uang kontrakan udah lunas sampai tahun depan). Diatur sedemikian rupa biar cukup malah kalau bisa sisa buat nabung.

Qadarullah. Emang menikah itu membuka rezeki. Ndilalah waktu itu job ngeblog lagi rame-ramenya. Aku sering dapet undangan event berbayar, paid campaign, content placement dll. Mas Azaz pun kadang ada job buat motret. Lumayan buat tambah-tambah pemasukan.

Tapi dari segi emosional... ini sih yang paling menguras energi. Ketika aku di posisi kerja sendiri, bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada suami, ternyata hal ini memupuk egoku. Egoku semakin lama semakin besar. Emosiku jadi gampang tersulut. Ngeliat mas Azaz lagi bersantai di rumah, tiduran atau main game, gitu aja bisa bikin aku marah. Rasanya waktu itu, "Aku lho kerja, kok kamu malah enak-enakan doang".

Melupakan fakta bahwa aslinya kerjaanku tuh enak banget. Ngajar, selo. Nulis di blog, nggak susah. Malah berangkat pulang sekolah selalu dianter jemput sama mas Azaz. Emosi emang bisa mengaburkan kebaikan.

Aku waktu itu nggak mikirin kalau mas Azaz pasti ngerasanya juga nggak enak. Laki-laki, tapi tiap hari di rumah aja, jarang punya kesibukan, ditanya-tanya terus sama tetangga, ngadepin istri yang egonya tinggi macam aku. Dia pastilah memikul beban yang nggak kalah berat.

Kondisi mas Azaz yang jobless ini berlangsung kira-kira 4-5 bulan. Selama itu pula kita berdua bergumul dengan konflik di dalam diri kita masing-masing. Alhamdulillah cobaan pertama di pernikahan kita yang baru seumur jagung kala itu bisa kita lewati.

Setelah itu, aku jadi mafhum kalau di infotainment sering ada berita artis cerai alasannya karena ekonomi. Memang berat tapi bukan berarti nggak bisa dilalui.

Hihi. Sok-sokan akutu.

Long Distance Marriage

Memasuki tahun kedua pernikahan, cobaan yang menghadang datang dalam bentuk berbeda yaitu: long distance!.

Biasa tinggal serumah, tiba-tiba kita harus berjauhan. Aku di Magelang, mas Azaz di Solo. Dan kita berdua balik ke rumah orang tua masing-masing. .... wqwq..... speechless.

Dulu aku punya prinsip: "Pokoknya kalau udah nikah tuh harus tinggal sama pasangan dong. Buat apa nikah kalau jauh-jauhan?". Eh ternyata sekarang prinsip itu berbalik ke diriku sendiri. Jleb jleb jleb.

Bulan April nanti tepat setahun kita berdua LDM. Gimana rasanya jauh dari pasangan?. Ya kangen mulu bawaannya. Tapi juga membawa hikmah: satu, kita lebih mengusahakan quality time; dua, less drama dibanding kalau kita deketan. Sekarang kita jadi jarang berantem. Entah karena semakin dewasa apa karena eman-eman ketemu cuma 2/3 hari kok waktunya malah dipakai buat marahan.

Kecuali kalau aku lagi PMS. Karena.... yah, entah kenapa emosiku selalu meledak di saat-saat itu.
[aww malu banget]

Masalah lain pastinya ada. Belum punya ini, belum punya itu. Pengen ini, pengen itu.

Nggak apa-apalah.

We have our own struggle.

Setiap rumah tangga punya "ujiannya" masing-masing kan?

Mas Azaz, 2020


Post a Comment

1 Comments