Wednesday, March 14, 2018

,

Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis, Selamatkan Penglihatan di Usia Senja

"Mata adalah salah satu bentuk cinta kasih Allah kepada manusia..."

"...Dengan mata, kita bisa melihat dunia dan seisinya. Terbayangkan betapa hari-hari menjadi tak sama lagi jika mata kita kehilangan fungsinya untuk melihat karena kebutaan. Maka dari itu dokter-dokter Perdami senantiasa meningkatkan upaya untuk mengobati kebutaan, salah satu upayanya yaitu operasi katarak seperti ini."



Begitulah kata sambutan dari dr. Subroto, kepala RS Puri Husada, dalam pembukaan kegiatan Bakti Sosial Pemeriksaan Mata dan Operasi Katarak yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharmais pada hari Minggu (11/3) yang lalu. Dalam kegiatan baksos ini, Yayasan Dharmais juga turut bekerja sama dengan Perdami (Persatuan Dokter Mata Indonesia) dan Fakultas Kedokteran UGM. 


Puluhan peserta baksos, termasuk penderita katarak yang akan mengikuti operasi, anak-anak panti asuhan, dan ibu-ibu pengurus duduk mengikuti acara pembukaan di halaman depan RS Puri Husada, Sleman. Ada pula beberapa orang peserta, penderita katarak yang telah menunggu giliran operasi di ruang tunggu rumah sakit. Jumlah peserta yang akan dioperasi yaitu sebanyak 25 orang.



Kegiatan Operasi Katarak ini adalah kali kedua aku ikut ambil bagian dalam kegiatan baksos Yayasan Dharmais. Tahun 2017 lalu, Yayasan Dharmais juga telah menyelenggarakan Operasi Katarak gratis di RS Holistika Medika, Sleman. Operasi katarak gratis memang telah menjadi program tahunan dari Dharmais.


Katarak

Katarak merupakan salah satu penyakit mata di yang bisa menyebabkan kebutaan. Salah satu penyebab seseorang menderita penyakit katarak adalah karena faktor usia. Biasanya penderita katarak didominasi oleh orang tua yang sudah memasuki masa senja. Oleh karena itu jumlah penderita katarak terus susul menyusul.


Faktor yg menyebabkan banyaknya penderita katarak seperti berikut:

1. Sikap pasrah.

Sikap pasrah ini karena mayoritas penderita katarak berada di usia senja. Banyak penderita yang kemudian pasrah dengan keadaan dan menganggap, "Ya sudah, nggak bisa melihat juga nggak apa-apa. Memang sudah tua, sudah waktunya".

Tentu saja anggapan seperti perlu diluruskan. Apalagi karena katarak sangat mungkin untuk disembuhkan.

2. Biaya operasi katarak mahal. 

Menurut keterangan dari Bapak Murti selaku perwakilan dari Perdami, biaya untuk operasi katarak mandiri dimulai dari 8 juta rupiah. Memang bukan jumlah nominal yang sedikit.

Kendala biaya pada masa sekarang ini dapat diatasi dengan menggunakan fasilitas BPJS. Selain itu, masyarakat kurang mampu dapat juga mengikuti operasi katarak gratis seperti kegiatan baksos kali ini. 

3. Takut operasi 

Tidak dapat dipungkiri, mendengar kata operasi tak jarang membuat seseorang sudah takut terlebih dahulu. Akan tetapi, sebenarnya penderita tidak perlu takut operasi karena teknologi kedokteran sekarang telah canggih. Operasi katarak dapat dilakukan menggunakan teknologi laser. Waktu operasinya pun terhitung pendek, hanya sekitar 15-25 menit saja.

Meskipun demikian, ternyata hingga sekarang masih tetap ada penumpukan penderita katarak. Maka dari itu baksos dari Yayasan Dharmais, Perdami dan FK UGM ini menjadi salah satu upaya aktif untuk mengurangi penderita katarak. 

Operasi Katarak

Dokter Wasisdi, dokter mata dari RSUP Dr.  Sardjito menjelaskan, penyakit katarak menyebabkan adanya kekeruhan pada lensa mata penderita sehingga membuat penglihatan menjadi kabur. Melalui operasi katarak, dokter akan menanamkan lensa buatan pada mata penderita sehingga penglihatan penderita dapat normal kembali. 

Dokter Wasisdi juga menjelaskan tahapan-tahapan operasi katarak. Ada 2 metode operasi, yaitu dengan jahitan dan tanpa jahitan. Operasi disesuaikan dengan kondisi katarak pasien.



Di akhir penjelasan, dr. Wasisdi menekankan tidak ada yang perlu ditakutkan dalan operasi katarak karena pengobatan sekarang sudah canggih. Operasi dapat dilakukan menggunakan laser, bahkan waktu operasi hanya sekitar 20-30 menit.

Yang perlu dijadikan catatan, sebelum menjalani operasi katarak, penderita perlu mengikuti screening terlebih  dahulu untuk mengetahui kondisi mata pasien. Jika kondisi pasien tidak memungkinkan atau tidak perlu untuk dilakukan operasi, pasien akan diberikan kacamata.

Salah satu pasien yang akan menjalani operasi adalah bapak Petrus, 61 tahun, yang berasal dari Sleman. Sebelumnya, Bapak Petrus pernah menjalani operasi katarak di mata kanannya dan telah namun siang. Ternyata setelah itu, pak Petrus  juga merasakan gejala katarak pada mata kirinya,

"Mata kiri saya untuk melihat rasanya kabur, semuanya juga berwarna kuning", tukas Pak Petrus.

Pak Petrus, 3 dari kiri.

Beberapa waktu yang lalu, pak Petrus mendapat informasi dari petugas apotek tentang Operasi Katarak gratis ini. Keesokan harinya, pak Petrus pergi ke puskesmas untuk mengurus surat keterangan dan segera mendaftar ke panitia. Minggu kemarin, pak Petrus menunggu giliran operasi dengan semangat. Pak Petrus menggenggam keyakinan akan sembuh dan penglihatannya dapat pulih kembali.

Yayasan Dharmais

Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) adalah yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Yayasan Dharmais didirikan di Jakarta pada tanggal 8 Agustus 1975. Pendiri yayasan yaitu Presiden kedua RI, H.M Soeharto (Pak Harto), beserta H. Sudharmono dan H. Bustanul Arifin. Putri Pak Harto, Ibu Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (Titiek Suharto) kini meneruskan roda perjalanan Yayasan Dharmais sebagai pembina. 

Hingga sekarang Yayasan Dharmais masih aktif menjalankan berbagai program kemasyarakatan. Program-program tersebut seperti: bantuan kepada panti asuhan, bantuan anak asuh, pelatihan usaha, perpustakaan keliling, operasi katarak gratis, operasi sumbing bibir dan langit-langit gratis, operasi thalassemia gratis, bank mata, dll.

Yayasan Dharmais
Gedung Granadi lantai 5
Jl. H Rasuna Said kav 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan 12950
Telp. 021-2522745 Fax. 021-2521625
Website. http://www.yayasandharmais.or.id

Share:

1 comment:

  1. Semoga makin banyak acara kaya gini ya mbak.. jadi banyak yang terbantu.

    ReplyDelete