Program Hamil di Dokter Lusiana Irene, SpOG Jogja

Awalnya aku mau nulis tentang cerita program hamil saat udah positif hamil. Tapi ternyata sampai aku nulis sekarang, kabar baik itu belum datang. Ya udahlah ya, daripada semakin lama malah lupa.

Siklus Mens Nggak Teratur

Sejak bulan pertama menikah, aku sama mas Azaz udah punya planning untuk cek kesehatan reproduksi. Yaa belajar dari pengalaman orang lain, kan ceritanya macam-macam tuh. Ada yang ternyata punya kista, ada yang mengidap suatu virus di tubuhnya, apalagi waktu itu lagi hot berita tentang kanker serviks yang membuat mendiang Julia Perez meninggal. Ngeri lah kalo dibayangin mah. Jadi kita pikir nggak ada salahnya buat cek dulu. Apalagi aku punya masalah yaitu: mens nggak teratur.

Dari dulu sejak awal puber sampai sekarang, siklus menstruasiku emang random banget. Normalnya, siklus menstruasi tiap 28-35 hari sekali. Sedangkan siklus mens ku nggak tentu. Dalam sebulan, aku bisa mens, bisa juga enggak. Kadang bulan ini aku mens, lalu mens lagi 3 bulan kemudian, atau bahkan 6 bulan kemudian. Nggak "normal" kan?.

Yang aku tahu kala itu adalah setiap kali merasa stres, bisa aku pastikan menstruasi ku tidak datang. Padahal aku tipikal overthinker yang kalau ada apa-apa dikit, bawaannya langsung stres. Makanya aku sering banget nggak mens.

Hal ini sih yang mengganjal di pikiranku. Walaupun waktu masih pacaran pun aku udah bilang ke mas Azaz soal hal di atas. Tapi kita berdua belum tahu apakah ini adalah sebuah masalah atau enggak.

dr. Lusiana Irene, SpOG 

Setelah tanya-tanya ke teman, akhirnya kita dapat rekomendasi dokter kandungan yaitu dr. Lusiana Irene, SpOG atau Dokter Lusi. Di bulan Februari, memasuki usia 2 bulan pernikahan, barulah aku sama mas Azaz konsultasi buat program hamil ke dr. Lusi.

Salah satu hal yang aku suka dari dr. Lusi yaitu: kita bisa daftar antrian via WA. Jam 12 malam dibela-belain bangun tidur buat daftar lewat WA. Kekeke. Anehnya, walaupun daftarnya udah pas jam 00.00, tetap aja dapat nomor antrian ke-5, bukan ke-1. Goks.

Praktek dr. Lusi di daerah Banguntapan, dekat JEC. Dulu belum ada tuh di Maps, jadi pertama dateng ke sana kita bingung sendiri. Muter-muter karena rumah (tempat prakteknya) masuk ke gang-gang. Tapi sekarang udah ada kok.



Konsultasi Pertama

Singkat cerita, setelah registrasi dan cek kesehatan awal (tensi dan berat badan), akhirnya giliranku masuk ke ruangan dokter.

Waktu itu aku bilang ingin program hamil. Kemudian ditanya oleh dr. Lusi, sudah berapa lama menikah?.

Karena baru 3 bulan, saat itu dr. Lusi menyarankan untuk menunggu setahun. Kalau setahun belum juga hamil, nanti baru mulai program.

Terus aku juga konsultasi soal masalah siklus menstruasiku yang nggak teratur. Kemudian sama dr. Lusi aku diminta untuk USG Transvagina (bukan USG biasa yang dari luar perut, ini USG yang alatnya berbentuk stik dimasukkan ke vagina).



Dari hasil USG, dr. Lusi menjelaskan kalau sel telurku itu kecil-kecil, jadi susah untuk matang. Nah karena di setiap bulan belum tentu ada sel telur yang matang, maka nggak ada sel telur yang dilepas ke indung telur. Jadi nggak terjadi menstruasi karena nggak ada sel telur yang luruh.

Kata dr. Lusi, ini adalah gejala PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome). PCOS adalah sindrom ketika ovum atau sel telur pada perempuan tidak berkembang secara normal karena ketidakseimbangan hormon (definisi dari halodoc.com). Dijelaskan oleh dr. Lusi, penyebabnya karena hormon androgen (hormon maskulin yang biasa dimiliki pria) yang berlebihan. Kelebihan hormon androgen ini yang mengakibatkan  sel telur tidak berkembang sempurna dan gagal dilepaskan secara teratur.

Actually, dengar "vonis" begini bikin aku tercengang sih. Aku tanya, bisa disembuhkan nggak?. Mungkin dengan konsumsi makanan apa gitu.

Jawaban dari dr Lusi, nggak bisa, karena hormon adalah bawaan genetika. Sebenarnya nggak masalah, tapi kelemahan dari siklus mens yang nggak teratur itu, kita jadi nggak tahu kapan masa suburnya. Padahal kalau nggak dalam masa subur, akan susah terjadi pembuahan.

Kalau ingin hamil, bisa dengan program hamil. Nanti ada obat khusus untuk membuat sel telur matang sesuai siklus normal. Tapi ya itu tadi, ditunggu dulu dalam periode 1 tahun pernikahan. Siapa tahu bisa terjadi fertilisasi alami.

Saran dari dr. Lusi kala itu, aku diminta untuk menjaga berat badan. Untuk suplemen yang perlu diminum yaitu Metformin 500 mg sama Folavit untuk asupan asam folat.



Karena menurutku udah cukup, konsultasi pertama pun selesai.

Biaya konsultas di Dokter Lusi (saat itu): Rp 80.000. 
(((Ini termasuk murah sih, apalagi udah termasuk USG. Percayalah, di tempat dokter kandungan lain tarifnya jauh di atas ini.)))

Harga obat  (di apotek)
Metformin: Rp 2.500/ 10 tablet
Harga Folavit: lupa, tapi murah kok, sekitar ribuan.

Konsultasi Kedua

Sekitar bulan Oktober, ternyata aku belum "isi" juga. Karena udah mendekati setahun, kita datang lagi ke Dokter Lusi. Kebetulan waktu itu aku baru saja selesai menstruasi.

Kali kedua ke Dokter Lusi, aku bilang lagi mau program. Ternyata, aku telat. Kalau mau program hamil harusnya datang waktu lagi mens, maksimal hari ketiga menstruasi.

Karena udah telat, jadinya aku cuma di-USG aja sama diminta buat lanjut minum Metformin sama Folavit.

Konsultasi Ketiga

Bulan November akhir/Desember awal, aku mens lagi. Kali ini aku langsung daftar di hari kedua supaya nggak terlambat seperti sebelumnya.

Singkat cerita, aku konsultasi untuk ketiga kalinya ke dokter Lusi. Oleh Dokter Lusi, aku dibuatkan resep

5 x Profertil untuk ku minum. Nah, minum profertil ini maksimal dimulai hari ketiga menstruasi. Makanya di konsultasi kedua kemarin aku terbilang telat.
10 x Oligocare untuk suami
Tak ketinggalan juga metformin dan asam folat.

Kata dokter Lusi, Profertil itu untuk memacu supaya sel telurku matang di siklus normal. Dengan begini jadi bisa dihitung kapan waktu ovulasi dan masa subur. Sedangkan Oligocare untuk memastikan kualitas sperma suami adalah sperma yang baik.

Setelah itu kita diberitahu tanggal-tanggal untuk berhubungan suami istri (2 hari sekali) yang "berpeluang" supaya "jadi". Only if you know what I mean (takut dibaca murid nih).

Dan kunci utamanya yaitu: nggak boleh stres.

Profertil. Gambar dari Google.

Oligocare. Gambar dari Google.

Pulang dari dokter Lusi, aku sama abang ke apotek untuk nebus resep di atas. Habisnya Rp 200.000++ . Rinciannya:

Profertil @Rp 20.000
Oligocare @Rp 10.000an


Program Hamil 1

Program hamil pun dimulai. Waktu itu bulan Desember tahun 2018. Aku minum obat sesuai anjuran dokter. Sedangkan mas Azaz agak bandel, minum obat cuma mendekati "D-Day".

Unexpectedly, waktu itu muncul pengumuman tes SKB CPNS dalam waktu dekat.

Baca juga:
Ujian SKB CPNS

Aku lupa tanggal pastinya, tapi kira-kira gini gambarannya.

Rentang masa suburku (katakanlah) antara tanggal 4-12 Desember. Sedangkan aku tes SKB tanggal 9 Desember. Entah kenapa feelingku nggak well banget waktu itu. Yah...namanya juga akan tes. Stres berat. Belajar ini itu. Ndilalah pas ada saudara nikahan di waktu yang sama jadi harus menempuh perjalanan dari Jogja ke Magelang baru ke Semarang. Capek.

Selesai tes SKB pun pikiran masih belum los. Sejujurnya hasil tesku nggak tinggi, cuma betul 55 dari 100 soal. Keluar dari ruang tes aku langsung cabut pergi, tanpa liat hasil tes "saingan". Cemen akutu, wqwq. Karena ini malah bikin aku kepikiran berlarut-larut.

Ya udah deh. Program hamil pertama ini pun gagal total.

Tapi emang bener sih, mensku jadi tepat sesuai siklus di bulan berikutnya.

Program Hamil 2

Berhubung program hamil pertama gagal, aku sama mas Azaz belum nyerah. Bulan berikutnya kita program lagi, dengan formula seperti program 1 walaupun tanpa konsultasi ke dokter Lusi.

Lagi-lagi, tanpa terduga, akhir bulan Desember pengumuman CPNS keluar. Alhamdulillah aku lolos. Seneng dong?. Iya, seneng.

Tapii.... ada tapinya. Lolos CPNS itu artinya: lanjut tahap pemberkasan!.

Ommo... Pemberkasan itu stressnya lebih luar biasa. Harus nyiapin banyak berkas dengan beragam pritilan-pritilannya.

Endingnya sudah tertebak kan?. Iya, program hamil kita gagal lagi.

Karena itu, aku sama mas Azaz nggak mencoba program lagi karena satu dan lain hal. Sibuk nyiapin pindahan, LDR, latsar, dll. Apalagi kita berdua udah nggak di Jogja jadi harus cari dokter lain, selain dokter Lusi.

Next time akan aku ceritain gimana pengalaman konsultasi di dokter kandungan di Magelang.











Post a Comment

2 Comments

  1. Baca post-mu ini, jadi inget temenku yang punya masalah sama tapi beda sebab.
    Temenku haidnya nggak lancar, setahun bisa cuman sekali.
    Alhamdulillah, beberapa kali berhasil hamil setelah ikut program hamil. Tapi sayangnya sampai sekarang belum punya anak, semua janinnya keguguran. Baru ketahuan sebabnya setelah keguguran di kehamilan ketiga apa kedua gitu. Jadi kata dokternya janinnya nggak dapat asupan makanan karena darah temenku terlalu kental. Jadi kalau mau berhasil selama hamil harus disuntik pengencer darah.
    Kamu semangat ya.. Semoga bisa segera diamanahi anak sama Allah swt. ^^

    ReplyDelete
  2. Selama minum metformin ini, kepala kliyengan dan mual kah mb. Kalau metformin yg bungkus biru nggak sih. Tpi yg bungkus putih auto maboook..

    ReplyDelete