Wednesday, March 14, 2018

,

Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis, Selamatkan Penglihatan di Usia Senja

"Mata adalah salah satu bentuk cinta kasih Allah kepada manusia..."

"...Dengan mata, kita bisa melihat dunia dan seisinya. Terbayangkan betapa hari-hari menjadi tak sama lagi jika mata kita kehilangan fungsinya untuk melihat karena kebutaan. Maka dari itu dokter-dokter Perdami senantiasa meningkatkan upaya untuk mengobati kebutaan, salah satu upayanya yaitu operasi katarak seperti ini."



Begitulah kata sambutan dari dr. Subroto, kepala RS Puri Husada, dalam pembukaan kegiatan Bakti Sosial Pemeriksaan Mata dan Operasi Katarak yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharmais pada hari Minggu (11/3) yang lalu. Dalam kegiatan baksos ini, Yayasan Dharmais juga turut bekerja sama dengan Perdami (Persatuan Dokter Mata Indonesia) dan Fakultas Kedokteran UGM. 


Puluhan peserta baksos, termasuk penderita katarak yang akan mengikuti operasi, anak-anak panti asuhan, dan ibu-ibu pengurus duduk mengikuti acara pembukaan di halaman depan RS Puri Husada, Sleman. Ada pula beberapa orang peserta, penderita katarak yang telah menunggu giliran operasi di ruang tunggu rumah sakit. Jumlah peserta yang akan dioperasi yaitu sebanyak 25 orang.



Kegiatan Operasi Katarak ini adalah kali kedua aku ikut ambil bagian dalam kegiatan baksos Yayasan Dharmais. Tahun 2017 lalu, Yayasan Dharmais juga telah menyelenggarakan Operasi Katarak gratis di RS Holistika Medika, Sleman. Operasi katarak gratis memang telah menjadi program tahunan dari Dharmais.


Katarak

Katarak merupakan salah satu penyakit mata di yang bisa menyebabkan kebutaan. Salah satu penyebab seseorang menderita penyakit katarak adalah karena faktor usia. Biasanya penderita katarak didominasi oleh orang tua yang sudah memasuki masa senja. Oleh karena itu jumlah penderita katarak terus susul menyusul.


Faktor yg menyebabkan banyaknya penderita katarak seperti berikut:

1. Sikap pasrah.

Sikap pasrah ini karena mayoritas penderita katarak berada di usia senja. Banyak penderita yang kemudian pasrah dengan keadaan dan menganggap, "Ya sudah, nggak bisa melihat juga nggak apa-apa. Memang sudah tua, sudah waktunya".

Tentu saja anggapan seperti perlu diluruskan. Apalagi karena katarak sangat mungkin untuk disembuhkan.

2. Biaya operasi katarak mahal. 

Menurut keterangan dari Bapak Murti selaku perwakilan dari Perdami, biaya untuk operasi katarak mandiri dimulai dari 8 juta rupiah. Memang bukan jumlah nominal yang sedikit.

Kendala biaya pada masa sekarang ini dapat diatasi dengan menggunakan fasilitas BPJS. Selain itu, masyarakat kurang mampu dapat juga mengikuti operasi katarak gratis seperti kegiatan baksos kali ini. 

3. Takut operasi 

Tidak dapat dipungkiri, mendengar kata operasi tak jarang membuat seseorang sudah takut terlebih dahulu. Akan tetapi, sebenarnya penderita tidak perlu takut operasi karena teknologi kedokteran sekarang telah canggih. Operasi katarak dapat dilakukan menggunakan teknologi laser. Waktu operasinya pun terhitung pendek, hanya sekitar 15-25 menit saja.

Meskipun demikian, ternyata hingga sekarang masih tetap ada penumpukan penderita katarak. Maka dari itu baksos dari Yayasan Dharmais, Perdami dan FK UGM ini menjadi salah satu upaya aktif untuk mengurangi penderita katarak. 

Operasi Katarak

Dokter Wasisdi, dokter mata dari RSUP Dr.  Sardjito menjelaskan, penyakit katarak menyebabkan adanya kekeruhan pada lensa mata penderita sehingga membuat penglihatan menjadi kabur. Melalui operasi katarak, dokter akan menanamkan lensa buatan pada mata penderita sehingga penglihatan penderita dapat normal kembali. 

Dokter Wasisdi juga menjelaskan tahapan-tahapan operasi katarak. Ada 2 metode operasi, yaitu dengan jahitan dan tanpa jahitan. Operasi disesuaikan dengan kondisi katarak pasien.



Di akhir penjelasan, dr. Wasisdi menekankan tidak ada yang perlu ditakutkan dalan operasi katarak karena pengobatan sekarang sudah canggih. Operasi dapat dilakukan menggunakan laser, bahkan waktu operasi hanya sekitar 20-30 menit.

Yang perlu dijadikan catatan, sebelum menjalani operasi katarak, penderita perlu mengikuti screening terlebih  dahulu untuk mengetahui kondisi mata pasien. Jika kondisi pasien tidak memungkinkan atau tidak perlu untuk dilakukan operasi, pasien akan diberikan kacamata.

Salah satu pasien yang akan menjalani operasi adalah bapak Petrus, 61 tahun, yang berasal dari Sleman. Sebelumnya, Bapak Petrus pernah menjalani operasi katarak di mata kanannya dan telah namun siang. Ternyata setelah itu, pak Petrus  juga merasakan gejala katarak pada mata kirinya,

"Mata kiri saya untuk melihat rasanya kabur, semuanya juga berwarna kuning", tukas Pak Petrus.

Pak Petrus, 3 dari kiri.

Beberapa waktu yang lalu, pak Petrus mendapat informasi dari petugas apotek tentang Operasi Katarak gratis ini. Keesokan harinya, pak Petrus pergi ke puskesmas untuk mengurus surat keterangan dan segera mendaftar ke panitia. Minggu kemarin, pak Petrus menunggu giliran operasi dengan semangat. Pak Petrus menggenggam keyakinan akan sembuh dan penglihatannya dapat pulih kembali.

Yayasan Dharmais

Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) adalah yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Yayasan Dharmais didirikan di Jakarta pada tanggal 8 Agustus 1975. Pendiri yayasan yaitu Presiden kedua RI, H.M Soeharto (Pak Harto), beserta H. Sudharmono dan H. Bustanul Arifin. Putri Pak Harto, Ibu Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (Titiek Suharto) kini meneruskan roda perjalanan Yayasan Dharmais sebagai pembina. 

Hingga sekarang Yayasan Dharmais masih aktif menjalankan berbagai program kemasyarakatan. Program-program tersebut seperti: bantuan kepada panti asuhan, bantuan anak asuh, pelatihan usaha, perpustakaan keliling, operasi katarak gratis, operasi sumbing bibir dan langit-langit gratis, operasi thalassemia gratis, bank mata, dll.

Yayasan Dharmais
Gedung Granadi lantai 5
Jl. H Rasuna Said kav 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan 12950
Telp. 021-2522745 Fax. 021-2521625
Website. http://www.yayasandharmais.or.id

"Mata adalah salah satu bentuk cinta kasih Allah kepada manusia..."

"...Dengan mata, kita bisa melihat dunia dan seisinya. Terbayangkan betapa hari-hari menjadi tak sama lagi jika mata kita kehilangan fungsinya untuk melihat karena kebutaan. Maka dari itu dokter-dokter Perdami senantiasa meningkatkan upaya untuk mengobati kebutaan, salah satu upayanya yaitu operasi katarak seperti ini."



Begitulah kata sambutan dari dr. Subroto, kepala RS Puri Husada, dalam pembukaan kegiatan Bakti Sosial Pemeriksaan Mata dan Operasi Katarak yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharmais pada hari Minggu (11/3) yang lalu. Dalam kegiatan baksos ini, Yayasan Dharmais juga turut bekerja sama dengan Perdami (Persatuan Dokter Mata Indonesia) dan Fakultas Kedokteran UGM. 


Puluhan peserta baksos, termasuk penderita katarak yang akan mengikuti operasi, anak-anak panti asuhan, dan ibu-ibu pengurus duduk mengikuti acara pembukaan di halaman depan RS Puri Husada, Sleman. Ada pula beberapa orang peserta, penderita katarak yang telah menunggu giliran operasi di ruang tunggu rumah sakit. Jumlah peserta yang akan dioperasi yaitu sebanyak 25 orang.



Kegiatan Operasi Katarak ini adalah kali kedua aku ikut ambil bagian dalam kegiatan baksos Yayasan Dharmais. Tahun 2017 lalu, Yayasan Dharmais juga telah menyelenggarakan Operasi Katarak gratis di RS Holistika Medika, Sleman. Operasi katarak gratis memang telah menjadi program tahunan dari Dharmais.


Katarak

Katarak merupakan salah satu penyakit mata di yang bisa menyebabkan kebutaan. Salah satu penyebab seseorang menderita penyakit katarak adalah karena faktor usia. Biasanya penderita katarak didominasi oleh orang tua yang sudah memasuki masa senja. Oleh karena itu jumlah penderita katarak terus susul menyusul.


Faktor yg menyebabkan banyaknya penderita katarak seperti berikut:

1. Sikap pasrah.

Sikap pasrah ini karena mayoritas penderita katarak berada di usia senja. Banyak penderita yang kemudian pasrah dengan keadaan dan menganggap, "Ya sudah, nggak bisa melihat juga nggak apa-apa. Memang sudah tua, sudah waktunya".

Tentu saja anggapan seperti perlu diluruskan. Apalagi karena katarak sangat mungkin untuk disembuhkan.

2. Biaya operasi katarak mahal. 

Menurut keterangan dari Bapak Murti selaku perwakilan dari Perdami, biaya untuk operasi katarak mandiri dimulai dari 8 juta rupiah. Memang bukan jumlah nominal yang sedikit.

Kendala biaya pada masa sekarang ini dapat diatasi dengan menggunakan fasilitas BPJS. Selain itu, masyarakat kurang mampu dapat juga mengikuti operasi katarak gratis seperti kegiatan baksos kali ini. 

3. Takut operasi 

Tidak dapat dipungkiri, mendengar kata operasi tak jarang membuat seseorang sudah takut terlebih dahulu. Akan tetapi, sebenarnya penderita tidak perlu takut operasi karena teknologi kedokteran sekarang telah canggih. Operasi katarak dapat dilakukan menggunakan teknologi laser. Waktu operasinya pun terhitung pendek, hanya sekitar 15-25 menit saja.

Meskipun demikian, ternyata hingga sekarang masih tetap ada penumpukan penderita katarak. Maka dari itu baksos dari Yayasan Dharmais, Perdami dan FK UGM ini menjadi salah satu upaya aktif untuk mengurangi penderita katarak. 

Operasi Katarak

Dokter Wasisdi, dokter mata dari RSUP Dr.  Sardjito menjelaskan, penyakit katarak menyebabkan adanya kekeruhan pada lensa mata penderita sehingga membuat penglihatan menjadi kabur. Melalui operasi katarak, dokter akan menanamkan lensa buatan pada mata penderita sehingga penglihatan penderita dapat normal kembali. 

Dokter Wasisdi juga menjelaskan tahapan-tahapan operasi katarak. Ada 2 metode operasi, yaitu dengan jahitan dan tanpa jahitan. Operasi disesuaikan dengan kondisi katarak pasien.



Di akhir penjelasan, dr. Wasisdi menekankan tidak ada yang perlu ditakutkan dalan operasi katarak karena pengobatan sekarang sudah canggih. Operasi dapat dilakukan menggunakan laser, bahkan waktu operasi hanya sekitar 20-30 menit.

Yang perlu dijadikan catatan, sebelum menjalani operasi katarak, penderita perlu mengikuti screening terlebih  dahulu untuk mengetahui kondisi mata pasien. Jika kondisi pasien tidak memungkinkan atau tidak perlu untuk dilakukan operasi, pasien akan diberikan kacamata.

Salah satu pasien yang akan menjalani operasi adalah bapak Petrus, 61 tahun, yang berasal dari Sleman. Sebelumnya, Bapak Petrus pernah menjalani operasi katarak di mata kanannya dan telah namun siang. Ternyata setelah itu, pak Petrus  juga merasakan gejala katarak pada mata kirinya,

"Mata kiri saya untuk melihat rasanya kabur, semuanya juga berwarna kuning", tukas Pak Petrus.

Pak Petrus, 3 dari kiri.

Beberapa waktu yang lalu, pak Petrus mendapat informasi dari petugas apotek tentang Operasi Katarak gratis ini. Keesokan harinya, pak Petrus pergi ke puskesmas untuk mengurus surat keterangan dan segera mendaftar ke panitia. Minggu kemarin, pak Petrus menunggu giliran operasi dengan semangat. Pak Petrus menggenggam keyakinan akan sembuh dan penglihatannya dapat pulih kembali.

Yayasan Dharmais

Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) adalah yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Yayasan Dharmais didirikan di Jakarta pada tanggal 8 Agustus 1975. Pendiri yayasan yaitu Presiden kedua RI, H.M Soeharto (Pak Harto), beserta H. Sudharmono dan H. Bustanul Arifin. Putri Pak Harto, Ibu Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (Titiek Suharto) kini meneruskan roda perjalanan Yayasan Dharmais sebagai pembina. 

Hingga sekarang Yayasan Dharmais masih aktif menjalankan berbagai program kemasyarakatan. Program-program tersebut seperti: bantuan kepada panti asuhan, bantuan anak asuh, pelatihan usaha, perpustakaan keliling, operasi katarak gratis, operasi sumbing bibir dan langit-langit gratis, operasi thalassemia gratis, bank mata, dll.

Yayasan Dharmais
Gedung Granadi lantai 5
Jl. H Rasuna Said kav 8-9
Kuningan, Jakarta Selatan 12950
Telp. 021-2522745 Fax. 021-2521625
Website. http://www.yayasandharmais.or.id

Monday, March 12, 2018

,

Cerita Menikah: Ketika Jalan Rezeki Dimudahkan Oleh Allah


Setahun yang lalu, yaa bulan-bulan Januari Februari gini lah, rasanya menikah itu masih jauuuuuhh banget. Keinginannya udah ada, tapi kesanggupannya yang belum. Dari segi usia, ngerasa masih muda, masih aman dari tuntutan menikah. Dari segi ilmu, masih cethek pengetahuan tentang biduk rumah tangga (ceilah). Dan secara materi, masih belum punya apa-apa, jauh dari kata mampu.

Sebelum Menikah

Di antara sekian ke-belum-sanggupanku tentang menikah, masalah materi ini yang paling mengganjal. Usia akan bertambah dengan sendirinya. Ilmu bisa dicari kapan aja, di mana aja. Tapi kalau materi?. Kan nggak bisa saat ini kita butuh uang banyak, terus langsung dapet uang saat itu juga. Ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi.

Apalagi setahun yang lalu, gajiku sebulan (alhamdulillah) "cuma" 900ribuan. Lebih kurang sedikit. Uang segitu masih harus buat bayar kos 325ribu. Sisanya buat makan, beli kebutuhan bulanan, dan lain-lain.

No, no, aku nggak ngeluh. Karena ndilalah, ketika pendapatan kita sedikit, kebutuhan kita juga ikutan sedikit. 900ribuan menurut aku waktu itu udah lebih dari cukup, karena tahun sebelumnya gajiku cuma 700ribuan. Tapi dengan pendapatan segitu, aku belum bisa nabung banyak. Nabung buat resepsi nikah? Mana kebayang??.

Baca juga: Referensi Biaya Pernikahan Sederhana

Nggak jauh beda sama aku, waktu itu mas Azaz baru lulus kuliah dan baru nyari-nyari kerjaan. Akhirnya bulan Februari tahun lalu dia diterima jadi freelancer marketing di salah satu yayasan, dengan gaji yang nggak jauh beda sama gajiku.

Satu hal yang enak dari kerjaan kita masa itu adalah: jam kerjanya selo. Aku cuma ada jadwal ngajar 3 hari, per  hari nya ngajar sekitar 3-4 jam aja. Kalau mas Azaz cuma perlu kerja dari hari Senin-Jumat, jam 7.30 - 12.30. Selo banget kan kita. Pulang ngantor, kita masih punya banyak waktu buat dolan atau mager.

Tapi yang namanya rejeki, udah diatur sama Allah. Akhirnya aku dapet tanggung jawab buat jadi proktor UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di 2 sekolah sekaligus. Satu di SMK, satunya lagi di SMP 4 Ngaglik. Selama jadi proktor UNBK itu, prosesnya ada banyak. Ada beberapa kali sinkronisasi, simulasi, setting lab, dan lain-lain sampai hari H UNBK di bulan April. Dan... uang sakunya banyak, huehehe. Setting lab dan simulasi beberapa hari di 2 sekolah, uang sakunya hampir setara gajiku sebulan. Alhamdulillahirobbilalamin.

Mas Azaz pun ada perkembangan di tempat kerjanya. Dari seorang freelancer, dia akan diangkat jadi pegawai tidak tetap di tahun ajaran baru (sekitar bulan Juli/Agustus). Walaupun baru sebagai pegawai tidak tetap, tapi akan ada peningkatan pendapatan.

Dengan adanya peningkatan pendapatan, dari situ kita mulai berani ngobrol tentang rencana pernikahan dengan lebih serius. Kita mulai nabung untuk acara lamaran. Singkat cerita, akhir Juni 2017, mas Azaz datang ke rumah untuk melamar. Bulan Desember 2017 kita tetapkan sebagai hari berlangsungnya pernikahan.

Setelah Lamaran

Setelah lamaran, segala sesuatu yang berkaitan dengan materi seolah diberi jalan yang mudah sama Allah.

Mas Azaz teken kontrak menjadi karyawan, bukan lagi sebagai freelancer. Sebagai karyawan, jam kerja mas Azaz berubah jadi lebih panjang. Tapi gajinya juga jadi lebih banyak. Yaa katakanlah UMR Jogja (eh, UMRnya berapa sih?).

Akupun begitu. Beberapa hari setelah lamaran, Afriana, teman SMPku, mengirim chat lewat DM Instagram. Dia meminta aku untuk membantu menyebarkan info lowongan guru TKJ di sekolahnya. Kebetulan dia mengajar di salah satu SMK swasta di daerah Jetis. Mendapat kabar itu, aku langsung sambar "Buat aku aja Af lowongannya".

Akhirnya mulai Juli 2017 aku mengajar di 2 sekolah, di mana otomatis sejak saat itu besaran gajiku jadi (katakanlah) 2 kali lipat. Apalagi di sekolah satunya gajiku juga naik beberapa nominal.

Nggak hanya pendapatan dari gaji bulanan, keran pendapatan juga seolah mengalir dengan lancar. Misalnya, aku dapet tawaran jadi content writer di salah satu perusahaan IT di Jogja. Tugasnya cuma bikin artikel aja, nanti disubmit  via online. Aku juga ikut beberapa event blogger dan dapet fee (Kalo dulu ikut event blogger dapet makan gratis sama goodiebag aja udah bahagia). Sekali ada job, feenya lumayan. Lagi-lagi Alhamdulillahirobbilalamin. Disyukuri.

Jeda waktu antara lamaran dan hari pernikahan kita gunakan untuk persiapan, ya persiapan mental maupun materi. Nyicil bayar ini bayar itu sedikit demi sedikit. Nggak kerasa pas hari H semua udah beres. Ada kekurangan sedikit tapi bisa segera diselesaikan.

Setelah hari H pernikahan, jalan menggapai rezeki juga terasa semakin dimudahkan. Benar kata orang tua, jangan takut hidup susah karena menikah, justru menikah itu membuat rezeki 2 orang menjadi satu.

Rumah Kontrakan

Sebelum menikah, PR terbesar kita adalah: cari tempat tinggal. Sempat kepikiran untuk "Sekalian beli properti di Jogja". Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya kita putuskan untuk "Cari kontrakan aja deh".

Cari kontrakan di Jogja itu gampang-gampang susah. Gampang, karena ada banyaak banget pilihannya: mau yang paviliun atau bentuk rumah, yang kamar berapa aja, yang di dekat kota atau pinggiran, semua ada. Susah, nyari yang "srek" di hati. Ada yang tempatnya di deket tempat kerja kita berdua, harganya terjangkau, eh rumahnya nggak kerawat. Ada yang tempatnya strategis, rumahnya nyaman, eh harganya over-budget.

Segala macam grup di Facebook tentang kontrakan udah aku join. Iklan baris di koran aku baca satu per satu. Muter-muter nyari kontrakan langsung di sekitar tempat kerja kita pun sudah. Tapi hasilnya masih nihil. Hingga awal Desember, kita masih belum juga dapat rumah kontrakan. Padahal kita menikah akhir Desember.

Sampailah di suatu sore, aku coba buka OLX. Ada 1 iklan yang menarik perhatianku. Iklan itu baru diposting di hari yang sama beberapa jam yang lalu. Aku baca deskripsinya, tertulis keterangan "Oper Kontrak" untuk 6 bulan ke depan dengan harga yang sesuai budget kami. Lokasinya di dekat Denggung, tidak terlalu dekat dengan tempat kerja kami berdua, tapi juga tidak terlalu jauh.  Aku lihat foto-fotonya, rumahnya seperti minimalis tetapi bersih dan terawat. Waktu aku kasih lihat ke mas Azaz, mas Azaz juga langsung interest.

Akhirnya aku save nomor yang ada di OLX dan aku hubungi saat itu juga via WhatsApp. Aku tanya-tanya tentang rumahnya, dan dijawab langsung oleh masnya, ternyata namanya mas Tyo. Tidak sengaja, aku memperhatikan foto profil di akun WhatsApp mas Tyo, berupa handlettering nama Tyo & Vivy. Aku merasa familiar dengan nama tersebut dan rasanya pernah melihat font yang digunakan itu.

Aku coba buka kembali DM instagram. Lusa kemarin, aku dikirimi undangan nikah dari salah satu kakak angkatan kuliah, namanya mbak Vivy. Aku hanya tau calon suami mbak Vivy bernama mas Hermantyo. Font di undangan sama persis dengan font di foto profil mas Tyo. Aku tanyakan kepada mas Tyo, apakah beliau calon suami mbak Vivy dan ternyata benar adanya.

Singkat cerita sekarang aku dan mas Azaz menempati mantan kontrakan mas Tyo dan mbak Vivy. Tempatnya nyaman, lokasinya tidak jauh dari tempat kerja kami, tidak jauh dari kota tapi masih terbilang sepi. Nyaman sekali.

Resign

Akhir bulan Februari 2018, aku akhirnya memutuskan untuk resign dari salah satu sekolah tempat aku mengajar, sebut aja sekolah B. Alasan resignnya karena apa, akan aku ceritain di next post.

Resign ini bukan perkara mudah tentu saja. Ada suatu masa di mana aku  maju-mundur maju-mundur untuk resign. Selain karena faktor rekan-rekan kerja yang baik di sana, faktor yang membuat aku ragu untuk resign adalah faktor ekonomi. Dengan aku resign berarti akan mengurangi pendapatan kita berdua. Bagaimana kalau nanti kita jadi kekurangan?

Saat berdiskusi dengan mas Azaz tentag resign ini, aku mendapat dukungan untuk apapun yang aku pilih. Lah, bingung dong aku, karena posisinya waktu itu aku masih bimbang, seimbang antara jadi resign atau nggak. Untuk memantapkan hati, aku pun bilang gini ke mas Azaz,

"Kak, percaya nggak kalau rezeki diatur sama Allah?"

"Percaya"

"Dulu aku pernah baca tulisan kayak gini, 'Ketika istri bekerja dan suami bekerja, pendapatan keluarga 3 juta. Ketika istri nggak bekerja dan suami bekerja, pendapatan keluarga juga 3 juta. Ternyata rezeki istri dititipkan melalui suami'. Percaya cerita kayak gini nggak kak?"

"Percaya"

Karena kita berdua udah punya kepercayaan yang sama, aku jadi mantap buat resign.

Siapa sangka, hanya selang beberapa jam setelah pagi hari aku ketemu pak Kepala Sekolah buat minta resign, -dan dikasih, eh aku cek email ternyata ada job blogger dengan fee lumayan (buat beli beras 5 kilo masih sisa). Sore harinya, mas Azaz dapet job motret, juga dengan fee lumayan. Nggak hanya itu, keesokan harinya, tau aku udah nggak ngajar di sekolah B, Kepala Sekolah A ngasih tugas ke aku buat jadi proktor UNBK seperti tahun kemarin. Insya Allah jadi jalan rezeki. Alhamdulillah.


Dear,  pernah dengar "Ketika satu pintu rezeki tertutup, pintu yang lain terbuka?". Kalimat tersebut makin terasa benar  adanya setelah aku alami sendiri. Ada banyak pedoman di agama tentang rezeki yang jika kita yakini akan terasa menentramkan hati. Rezeki setiap makhluk sudah diatur oleh Allah. Dengan menikah, insya Allah perkara rezeki dimudahkan pula oleh Allah.

Setahun yang lalu, yaa bulan-bulan Januari Februari gini lah, rasanya menikah itu masih jauuuuuhh banget. Keinginannya udah ada, tapi kesanggupannya yang belum. Dari segi usia, ngerasa masih muda, masih aman dari tuntutan menikah. Dari segi ilmu, masih cethek pengetahuan tentang biduk rumah tangga (ceilah). Dan secara materi, masih belum punya apa-apa, jauh dari kata mampu.

Sebelum Menikah

Di antara sekian ke-belum-sanggupanku tentang menikah, masalah materi ini yang paling mengganjal. Usia akan bertambah dengan sendirinya. Ilmu bisa dicari kapan aja, di mana aja. Tapi kalau materi?. Kan nggak bisa saat ini kita butuh uang banyak, terus langsung dapet uang saat itu juga. Ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi.

Apalagi setahun yang lalu, gajiku sebulan (alhamdulillah) "cuma" 900ribuan. Lebih kurang sedikit. Uang segitu masih harus buat bayar kos 325ribu. Sisanya buat makan, beli kebutuhan bulanan, dan lain-lain.

No, no, aku nggak ngeluh. Karena ndilalah, ketika pendapatan kita sedikit, kebutuhan kita juga ikutan sedikit. 900ribuan menurut aku waktu itu udah lebih dari cukup, karena tahun sebelumnya gajiku cuma 700ribuan. Tapi dengan pendapatan segitu, aku belum bisa nabung banyak. Nabung buat resepsi nikah? Mana kebayang??.

Baca juga: Referensi Biaya Pernikahan Sederhana

Nggak jauh beda sama aku, waktu itu mas Azaz baru lulus kuliah dan baru nyari-nyari kerjaan. Akhirnya bulan Februari tahun lalu dia diterima jadi freelancer marketing di salah satu yayasan, dengan gaji yang nggak jauh beda sama gajiku.

Satu hal yang enak dari kerjaan kita masa itu adalah: jam kerjanya selo. Aku cuma ada jadwal ngajar 3 hari, per  hari nya ngajar sekitar 3-4 jam aja. Kalau mas Azaz cuma perlu kerja dari hari Senin-Jumat, jam 7.30 - 12.30. Selo banget kan kita. Pulang ngantor, kita masih punya banyak waktu buat dolan atau mager.

Tapi yang namanya rejeki, udah diatur sama Allah. Akhirnya aku dapet tanggung jawab buat jadi proktor UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di 2 sekolah sekaligus. Satu di SMK, satunya lagi di SMP 4 Ngaglik. Selama jadi proktor UNBK itu, prosesnya ada banyak. Ada beberapa kali sinkronisasi, simulasi, setting lab, dan lain-lain sampai hari H UNBK di bulan April. Dan... uang sakunya banyak, huehehe. Setting lab dan simulasi beberapa hari di 2 sekolah, uang sakunya hampir setara gajiku sebulan. Alhamdulillahirobbilalamin.

Mas Azaz pun ada perkembangan di tempat kerjanya. Dari seorang freelancer, dia akan diangkat jadi pegawai tidak tetap di tahun ajaran baru (sekitar bulan Juli/Agustus). Walaupun baru sebagai pegawai tidak tetap, tapi akan ada peningkatan pendapatan.

Dengan adanya peningkatan pendapatan, dari situ kita mulai berani ngobrol tentang rencana pernikahan dengan lebih serius. Kita mulai nabung untuk acara lamaran. Singkat cerita, akhir Juni 2017, mas Azaz datang ke rumah untuk melamar. Bulan Desember 2017 kita tetapkan sebagai hari berlangsungnya pernikahan.

Setelah Lamaran

Setelah lamaran, segala sesuatu yang berkaitan dengan materi seolah diberi jalan yang mudah sama Allah.

Mas Azaz teken kontrak menjadi karyawan, bukan lagi sebagai freelancer. Sebagai karyawan, jam kerja mas Azaz berubah jadi lebih panjang. Tapi gajinya juga jadi lebih banyak. Yaa katakanlah UMR Jogja (eh, UMRnya berapa sih?).

Akupun begitu. Beberapa hari setelah lamaran, Afriana, teman SMPku, mengirim chat lewat DM Instagram. Dia meminta aku untuk membantu menyebarkan info lowongan guru TKJ di sekolahnya. Kebetulan dia mengajar di salah satu SMK swasta di daerah Jetis. Mendapat kabar itu, aku langsung sambar "Buat aku aja Af lowongannya".

Akhirnya mulai Juli 2017 aku mengajar di 2 sekolah, di mana otomatis sejak saat itu besaran gajiku jadi (katakanlah) 2 kali lipat. Apalagi di sekolah satunya gajiku juga naik beberapa nominal.

Nggak hanya pendapatan dari gaji bulanan, keran pendapatan juga seolah mengalir dengan lancar. Misalnya, aku dapet tawaran jadi content writer di salah satu perusahaan IT di Jogja. Tugasnya cuma bikin artikel aja, nanti disubmit  via online. Aku juga ikut beberapa event blogger dan dapet fee (Kalo dulu ikut event blogger dapet makan gratis sama goodiebag aja udah bahagia). Sekali ada job, feenya lumayan. Lagi-lagi Alhamdulillahirobbilalamin. Disyukuri.

Jeda waktu antara lamaran dan hari pernikahan kita gunakan untuk persiapan, ya persiapan mental maupun materi. Nyicil bayar ini bayar itu sedikit demi sedikit. Nggak kerasa pas hari H semua udah beres. Ada kekurangan sedikit tapi bisa segera diselesaikan.

Setelah hari H pernikahan, jalan menggapai rezeki juga terasa semakin dimudahkan. Benar kata orang tua, jangan takut hidup susah karena menikah, justru menikah itu membuat rezeki 2 orang menjadi satu.

Rumah Kontrakan

Sebelum menikah, PR terbesar kita adalah: cari tempat tinggal. Sempat kepikiran untuk "Sekalian beli properti di Jogja". Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya kita putuskan untuk "Cari kontrakan aja deh".

Cari kontrakan di Jogja itu gampang-gampang susah. Gampang, karena ada banyaak banget pilihannya: mau yang paviliun atau bentuk rumah, yang kamar berapa aja, yang di dekat kota atau pinggiran, semua ada. Susah, nyari yang "srek" di hati. Ada yang tempatnya di deket tempat kerja kita berdua, harganya terjangkau, eh rumahnya nggak kerawat. Ada yang tempatnya strategis, rumahnya nyaman, eh harganya over-budget.

Segala macam grup di Facebook tentang kontrakan udah aku join. Iklan baris di koran aku baca satu per satu. Muter-muter nyari kontrakan langsung di sekitar tempat kerja kita pun sudah. Tapi hasilnya masih nihil. Hingga awal Desember, kita masih belum juga dapat rumah kontrakan. Padahal kita menikah akhir Desember.

Sampailah di suatu sore, aku coba buka OLX. Ada 1 iklan yang menarik perhatianku. Iklan itu baru diposting di hari yang sama beberapa jam yang lalu. Aku baca deskripsinya, tertulis keterangan "Oper Kontrak" untuk 6 bulan ke depan dengan harga yang sesuai budget kami. Lokasinya di dekat Denggung, tidak terlalu dekat dengan tempat kerja kami berdua, tapi juga tidak terlalu jauh.  Aku lihat foto-fotonya, rumahnya seperti minimalis tetapi bersih dan terawat. Waktu aku kasih lihat ke mas Azaz, mas Azaz juga langsung interest.

Akhirnya aku save nomor yang ada di OLX dan aku hubungi saat itu juga via WhatsApp. Aku tanya-tanya tentang rumahnya, dan dijawab langsung oleh masnya, ternyata namanya mas Tyo. Tidak sengaja, aku memperhatikan foto profil di akun WhatsApp mas Tyo, berupa handlettering nama Tyo & Vivy. Aku merasa familiar dengan nama tersebut dan rasanya pernah melihat font yang digunakan itu.

Aku coba buka kembali DM instagram. Lusa kemarin, aku dikirimi undangan nikah dari salah satu kakak angkatan kuliah, namanya mbak Vivy. Aku hanya tau calon suami mbak Vivy bernama mas Hermantyo. Font di undangan sama persis dengan font di foto profil mas Tyo. Aku tanyakan kepada mas Tyo, apakah beliau calon suami mbak Vivy dan ternyata benar adanya.

Singkat cerita sekarang aku dan mas Azaz menempati mantan kontrakan mas Tyo dan mbak Vivy. Tempatnya nyaman, lokasinya tidak jauh dari tempat kerja kami, tidak jauh dari kota tapi masih terbilang sepi. Nyaman sekali.

Resign

Akhir bulan Februari 2018, aku akhirnya memutuskan untuk resign dari salah satu sekolah tempat aku mengajar, sebut aja sekolah B. Alasan resignnya karena apa, akan aku ceritain di next post.

Resign ini bukan perkara mudah tentu saja. Ada suatu masa di mana aku  maju-mundur maju-mundur untuk resign. Selain karena faktor rekan-rekan kerja yang baik di sana, faktor yang membuat aku ragu untuk resign adalah faktor ekonomi. Dengan aku resign berarti akan mengurangi pendapatan kita berdua. Bagaimana kalau nanti kita jadi kekurangan?

Saat berdiskusi dengan mas Azaz tentag resign ini, aku mendapat dukungan untuk apapun yang aku pilih. Lah, bingung dong aku, karena posisinya waktu itu aku masih bimbang, seimbang antara jadi resign atau nggak. Untuk memantapkan hati, aku pun bilang gini ke mas Azaz,

"Kak, percaya nggak kalau rezeki diatur sama Allah?"

"Percaya"

"Dulu aku pernah baca tulisan kayak gini, 'Ketika istri bekerja dan suami bekerja, pendapatan keluarga 3 juta. Ketika istri nggak bekerja dan suami bekerja, pendapatan keluarga juga 3 juta. Ternyata rezeki istri dititipkan melalui suami'. Percaya cerita kayak gini nggak kak?"

"Percaya"

Karena kita berdua udah punya kepercayaan yang sama, aku jadi mantap buat resign.

Siapa sangka, hanya selang beberapa jam setelah pagi hari aku ketemu pak Kepala Sekolah buat minta resign, -dan dikasih, eh aku cek email ternyata ada job blogger dengan fee lumayan (buat beli beras 5 kilo masih sisa). Sore harinya, mas Azaz dapet job motret, juga dengan fee lumayan. Nggak hanya itu, keesokan harinya, tau aku udah nggak ngajar di sekolah B, Kepala Sekolah A ngasih tugas ke aku buat jadi proktor UNBK seperti tahun kemarin. Insya Allah jadi jalan rezeki. Alhamdulillah.


Dear,  pernah dengar "Ketika satu pintu rezeki tertutup, pintu yang lain terbuka?". Kalimat tersebut makin terasa benar  adanya setelah aku alami sendiri. Ada banyak pedoman di agama tentang rezeki yang jika kita yakini akan terasa menentramkan hati. Rezeki setiap makhluk sudah diatur oleh Allah. Dengan menikah, insya Allah perkara rezeki dimudahkan pula oleh Allah.