Monday, February 17, 2020

,

12 Barang yang Harus Dibawa Saat Bepergian Dengan si Kecil

Pernahkah kamu mengalami situasi ini…

“Dek, besok mudik ke rumah Ibu nggak?”

“Belum tahu, susah kayaknya ada anak bayi, bawaannya banyak.”

Atau ini…

“Bosen nih aku sekarang di rumah terus”

“Emang kenapa nggak pergi-pergi?”

“Ngajak pergi anak kecil perlu bawa ini-itu. Cuma pergi sebentar aja udah kayak pindahan. Yang bawa diapers lah, baju ganti lah, tisu basah lah… Ribet”

---

Bepergian dengan si kecil, terutama yang baru berusia 0 - 12 bulan, memang memerlukan perhatian khusus. Seringkali kita terpaku pada banyaknya barang yang perlu dipersiapkan. Tetapi tidak perlu khawatir, selama kita membuat perencanaan yang baik, kita bisa memilah mana barang yang harus dibawa dan mana yang bisa ditinggal.

Baby on Vacation. Pic from Unsplash.com

Berikut ini daftar barang yang perlu dibawa saat membawa si kecil bepergian, baik untuk perjalanan dekat maupun jauh.

1. Pakaian Ganti

Ketika pergi membawa si kecil, kita perlu menyiapkan beberapa set pakaian ganti meliputi: baju, celana, penutup kepala, kaos kaki, dan sepatu. Semakin lama waktu bepergian kita, semakin banyak pakaian yang perlu kita siapkan.

2. Diapers / Popok

Bayi memerlukan banyak diapers atau popok. Sesuaikan dengan seberapa sering biasanya mengganti popok setiap beberapa jam. Sebaiknya membawa diapers lebih banyak daripada kekurangan.

3. Tisu Basah dan Tisu Kering

Selalu sedia tisu di dalam tas bayi, baik tisu basah maupun tisu kering. Hal ini karena tisu praktis digunakan untuk membersihkan. Misalnya membersihkan tumpahan makanan yang jatuh, mengelap tubuh bayi yang kotor, dan lain sebagainya.

4. Selimut

Selimut diperlukan untuk menjaga tubuh bayi dari udara dingin atau gigitan nyamuk. Selain itu, selimut dapat dijadikan sebagai penutup saat menyusui di tempat terbuka.

5. Dot atau botol susu

Saat bepergian, terkadang lebih praktis untuk menyusui si kecil menggunakan dot atau botol susu. Oleh karena itu, Ibu dapat menyiapkan botol susu yang telah diisi dengan ASI ataupun susu formula di dalam tas.

6. Alas bayi / Perlak

Alas ini biasanya diperlukan untuk tempat menidurkan bayi atau sekadar membaringkan bayi saat ganti popok.

7. Mainan

Ketika merasa bosan di jalan, bayi akan menjadi rewel. Untuk mengantisipasi hal ini, bawakan mainan favoritnya untuk mengalihkan kebosanan si kecil.

8. Handuk kecil

Handuk biasanya digunakan untuk mengeringkan badan setelah mandi. Namun dalam perjalanan, dibutuhkan pula handuk kecil untuk berjaga-jaga menyeka gumoh, membasuh wajah, tangan dan badan bayi kita.

9. Lotion bayi

Lotion bayi seperti minyak kayu putih atau minyak telon perlu dibawa untuk kenyamanan si kecil.

10. Makanan bayi

Saat bepergian, perlu juga dipersiapkan MPASI instan dan camilan seperti crackers atau biskuit bayi. Ini untuk antisipasi si kecil merasa lapar di perjalanan.

11. Gendongan bayi

Perubahan suasana dan tempat baru acapkali membuat bayi menjadi rewel. Ketika mulai rewel, menggendong si kecil akan membuatnya merasa lebih nyaman. Tidur dalam gendongan juga bisa membuat bayi lebih tenang.

12. Kantong plastik atau wadah

Kantong plastik digunakan sebagai tempat untuk menyimpan pakaian kotor, atau popok kotor yang akan dibuang. Siapkan persediaan plastik atau wadah yang cukup supaya tidak kerepotan.

Karena banyaknya kebutuhan yang harus dibawa saat bepergian dengan si kecil, diperlukan tas dengan kapasitas besar supaya dapat memuat semua barang-barang yang diperlukan. Selain itu, tas untuk kebutuhan bayi juga harus memiliki kualitas yang baik supaya awet dan tidak mudah rusak. Tas Bayi atau Diaper Bag dari Jujube merupakan pilihan yang tepat.

Diaper Bag Jujube mengusung tema yang tidak biasa dengan motif-motif unik, seperti karakter komik, monster-monster lucu, polkadot, dan masih banyak motif dan model menarik yang bisa kita pilih. Selain itu, tas bayi Jujube juga didesain untuk memudahkan pemakainya dalam menyimpan dan mangambil barang yang ada di dalam tas. Selain modis dan trendi, tas Jujube juga fungsional dan praktis digunakan untuk kegiatan sehari-hari. 

JUJUBE BFF Annapolis Diaper Bag


Diaper bag Jujube memiliki beberapa kompartemen. Kompartemen utama untuk memuat keperluan bayi dan 2 side pocket untuk menyimpan botol bayi. Side pocket-nya dilengkapi dengan fitur 3M Thinsulate sehingga akan menjaga botol tetap dingin atau tetap hangat. Sedangkan pada bagian depan terdapat kantong dan zipper opening untuk menyimpan keperluan orangtua seperti kacamata, kunci, handphone dan barang lainnya. Tak hanya itu saja, pada bagian belakang juga terdapat kantong untuk menyimpan popok maupun tissue yang akan memudahkan saat hendak mengganti popok bayi. Disertakan pula dengan changing pad yang lembut untuk memudahkan mengganti popok bayi tanpa takut pantat bayi menjadi kotor.


Diaper Bag Jujube adalah teman setia saat kita bepergian dengan si kecil.
Pernahkah kamu mengalami situasi ini…

“Dek, besok mudik ke rumah Ibu nggak?”

“Belum tahu, susah kayaknya ada anak bayi, bawaannya banyak.”

Atau ini…

“Bosen nih aku sekarang di rumah terus”

“Emang kenapa nggak pergi-pergi?”

“Ngajak pergi anak kecil perlu bawa ini-itu. Cuma pergi sebentar aja udah kayak pindahan. Yang bawa diapers lah, baju ganti lah, tisu basah lah… Ribet”

---

Bepergian dengan si kecil, terutama yang baru berusia 0 - 12 bulan, memang memerlukan perhatian khusus. Seringkali kita terpaku pada banyaknya barang yang perlu dipersiapkan. Tetapi tidak perlu khawatir, selama kita membuat perencanaan yang baik, kita bisa memilah mana barang yang harus dibawa dan mana yang bisa ditinggal.

Baby on Vacation. Pic from Unsplash.com

Berikut ini daftar barang yang perlu dibawa saat membawa si kecil bepergian, baik untuk perjalanan dekat maupun jauh.

1. Pakaian Ganti

Ketika pergi membawa si kecil, kita perlu menyiapkan beberapa set pakaian ganti meliputi: baju, celana, penutup kepala, kaos kaki, dan sepatu. Semakin lama waktu bepergian kita, semakin banyak pakaian yang perlu kita siapkan.

2. Diapers / Popok

Bayi memerlukan banyak diapers atau popok. Sesuaikan dengan seberapa sering biasanya mengganti popok setiap beberapa jam. Sebaiknya membawa diapers lebih banyak daripada kekurangan.

3. Tisu Basah dan Tisu Kering

Selalu sedia tisu di dalam tas bayi, baik tisu basah maupun tisu kering. Hal ini karena tisu praktis digunakan untuk membersihkan. Misalnya membersihkan tumpahan makanan yang jatuh, mengelap tubuh bayi yang kotor, dan lain sebagainya.

4. Selimut

Selimut diperlukan untuk menjaga tubuh bayi dari udara dingin atau gigitan nyamuk. Selain itu, selimut dapat dijadikan sebagai penutup saat menyusui di tempat terbuka.

5. Dot atau botol susu

Saat bepergian, terkadang lebih praktis untuk menyusui si kecil menggunakan dot atau botol susu. Oleh karena itu, Ibu dapat menyiapkan botol susu yang telah diisi dengan ASI ataupun susu formula di dalam tas.

6. Alas bayi / Perlak

Alas ini biasanya diperlukan untuk tempat menidurkan bayi atau sekadar membaringkan bayi saat ganti popok.

7. Mainan

Ketika merasa bosan di jalan, bayi akan menjadi rewel. Untuk mengantisipasi hal ini, bawakan mainan favoritnya untuk mengalihkan kebosanan si kecil.

8. Handuk kecil

Handuk biasanya digunakan untuk mengeringkan badan setelah mandi. Namun dalam perjalanan, dibutuhkan pula handuk kecil untuk berjaga-jaga menyeka gumoh, membasuh wajah, tangan dan badan bayi kita.

9. Lotion bayi

Lotion bayi seperti minyak kayu putih atau minyak telon perlu dibawa untuk kenyamanan si kecil.

10. Makanan bayi

Saat bepergian, perlu juga dipersiapkan MPASI instan dan camilan seperti crackers atau biskuit bayi. Ini untuk antisipasi si kecil merasa lapar di perjalanan.

11. Gendongan bayi

Perubahan suasana dan tempat baru acapkali membuat bayi menjadi rewel. Ketika mulai rewel, menggendong si kecil akan membuatnya merasa lebih nyaman. Tidur dalam gendongan juga bisa membuat bayi lebih tenang.

12. Kantong plastik atau wadah

Kantong plastik digunakan sebagai tempat untuk menyimpan pakaian kotor, atau popok kotor yang akan dibuang. Siapkan persediaan plastik atau wadah yang cukup supaya tidak kerepotan.

Karena banyaknya kebutuhan yang harus dibawa saat bepergian dengan si kecil, diperlukan tas dengan kapasitas besar supaya dapat memuat semua barang-barang yang diperlukan. Selain itu, tas untuk kebutuhan bayi juga harus memiliki kualitas yang baik supaya awet dan tidak mudah rusak. Tas Bayi atau Diaper Bag dari Jujube merupakan pilihan yang tepat.

Diaper Bag Jujube mengusung tema yang tidak biasa dengan motif-motif unik, seperti karakter komik, monster-monster lucu, polkadot, dan masih banyak motif dan model menarik yang bisa kita pilih. Selain itu, tas bayi Jujube juga didesain untuk memudahkan pemakainya dalam menyimpan dan mangambil barang yang ada di dalam tas. Selain modis dan trendi, tas Jujube juga fungsional dan praktis digunakan untuk kegiatan sehari-hari. 

JUJUBE BFF Annapolis Diaper Bag


Diaper bag Jujube memiliki beberapa kompartemen. Kompartemen utama untuk memuat keperluan bayi dan 2 side pocket untuk menyimpan botol bayi. Side pocket-nya dilengkapi dengan fitur 3M Thinsulate sehingga akan menjaga botol tetap dingin atau tetap hangat. Sedangkan pada bagian depan terdapat kantong dan zipper opening untuk menyimpan keperluan orangtua seperti kacamata, kunci, handphone dan barang lainnya. Tak hanya itu saja, pada bagian belakang juga terdapat kantong untuk menyimpan popok maupun tissue yang akan memudahkan saat hendak mengganti popok bayi. Disertakan pula dengan changing pad yang lembut untuk memudahkan mengganti popok bayi tanpa takut pantat bayi menjadi kotor.


Diaper Bag Jujube adalah teman setia saat kita bepergian dengan si kecil.

Thursday, February 13, 2020

Memasuki Tahun Ketiga Pernikahan, Udah Ketemu Masalah Apa Aja?

Bagi orang yang sedang tidur, waktu 8 jam terasa sebentar. Sedangkan bagi orang yang melihat orang tidur, 8 jam terasa sangat lama.

Begitu juga bagi orang-orang dalam pernikahan.

Usia pernikahanku dan mas Azaz telah melewati tahun kedua. Buat orang lain mungkin udah lama. Tapi buat aku, rasanya bentarrr banget. Seakan baru saja kemarin jadi pengantin baru. Ceilah.

Dulu sebelum nikah, nggak kebayang nikah itu seperti apa. Hanya bisa mendengar cerita orang-orang. Katanya pacaran itu nggak ada apa-apanya dibanding pernikahan. Katanya pacaran isinya hanya yang manis-manis aja, nanti kalau nikah baru akan kelihatan gimana aslinya. Katanya nikah itu bakal berhadapan dengan banyak masalah, ujian datang silih berganti, dll.

Apakah Iya?.

Setelah menikah, inilah yang aku rasakan...

3 Bulan Pertama

3 bulan pertama pernikahan adalah masa termanis. Setelah rangkaian resepsi dan ngunduh mantu selesai, kita honeymoon beberapa hari ke Malang. Nggak perlu diceritain deh kayaknya. Ini adalah masa di mana kita bisa senang-senang, liburan, kulineran sepuasnya tanpa beban.

Sepulangnya dari Malang, kita pindah dari kost masing-masing ke rumah kontrakan, yang walaupun kecil tapi jadi tempat bernaung yang cukup buat kita berdua. Beli perlengkapan rumah mulai dari sapu, kasur, sampai kulkas lalu menata setiap sudut rumah sesuai apa yang kita mau. Hari Minggu pagi belanja sayur, ayam, pokoknya bahan makanan buat dimasak sendiri. Sesekali saat aku nggak ada jadwal ngajar (waktu itu di Binhar kan selo banget), aku akan di rumah sendirian menunggu sampai mas Azaz pulang kerja. Kadang titip dibeliin cilok atau molen krispi depan gang.

Duh, gitu aja udah bahagia banget. Berasa main rumah-rumahan kala kecil dulu sekarang jadi kenyataan.

Lalu batu kerikil itu mulai muncul...

Lepas dari 3 bulan, mulai ada batu-batu sandungan kecil. Sebenarnya masalah antara kita berdua terhitung masalah sepele. Misalnya aku masak, tapi mas Azaz makannya dikit. Atau mas Azaz pulang telat tapi nggak ngabarin. Hal-hal remeh macam gitu doang tapi jadi membesar karena ego masing-masing. Yah, atau bisa dibilang: egoku. I have to admit bahwa mas Azaz adalah suami yang sabarrrr banget. Akunya aja yang suka ngelunjak. Kekeke.

Waktu itu pernah aku lagi marah sama mas Azaz, terus aku nggak ngabarin apa-apa ke dia. WA tak blok, HP tak matiin. Pulang sekolah, aku cabut ke Hartono Mall naik Gojek terus nonton film sampai maghrib. Pulangnya nggak langsung ke kontrakan tapi malah ke kost Fatonah dulu. Akhirnya mas Azaz jemput aku di sana.

Dan kejadian kayak di atas nggak cuma sekali terjadi. Huhu. Ngerasa bersalah akutu kalo ingat masa-masa itu.

Suami Resign dari Tempat Kerja

Memasuki bulan ke-7 pernikahan, mulai ada hal besar yang mengubah jalan cerita, yaitu: mas Azaz resign dari tempat kerja. Kenapa resign? Yah, karena ada satu dua hal yang nggak bisa aku tulis di sini.

Dengan resignnya mas Azaz berarti neraca keuangan kita berdua yang tadinya udah stabil jadi goyah. Gimana enggak, tadinya ada 2 sumber pemasukan lalu sekarang tinggal 1. Terlepas dari hikmah yang bisa kita ambil sekarang, tapi sejujurnya... It was hard days. Ada jeda waktu beberapa bulan mas Azaz nggak kerja dan itu barangkali jadi masa ujian untuk kita berdua.

Dari segi ekonomi... Nih ya bayangin, aku kala itu jadi seorang guru honorer swasta, gaji mepet Rp 1.000.000 (iya, nggak salah baca: mepet sejuta rupiah alias sejuta aja nggak sampai). Segitu buat hidup berdua selama sebulan (note: uang kontrakan udah lunas sampai tahun depan). Diatur sedemikian rupa biar cukup malah kalau bisa sisa buat nabung.

Qadarullah. Emang menikah itu membuka rezeki. Ndilalah waktu itu job ngeblog lagi rame-ramenya. Aku sering dapet undangan event berbayar, paid campaign, content placement dll. Mas Azaz pun kadang ada job buat motret. Lumayan buat tambah-tambah pemasukan.

Tapi dari segi emosional... ini sih yang paling menguras energi. Ketika aku di posisi kerja sendiri, bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada suami, ternyata hal ini memupuk egoku. Egoku semakin lama semakin besar. Emosiku jadi gampang tersulut. Ngeliat mas Azaz lagi bersantai di rumah, tiduran atau main game, gitu aja bisa bikin aku marah. Rasanya waktu itu, "Aku lho kerja, kok kamu malah enak-enakan doang".

Melupakan fakta bahwa aslinya kerjaanku tuh enak banget. Ngajar, selo. Nulis di blog, nggak susah. Malah berangkat pulang sekolah selalu dianter jemput sama mas Azaz. Emosi emang bisa mengaburkan kebaikan.

Aku waktu itu nggak mikirin kalau mas Azaz pasti ngerasanya juga nggak enak. Laki-laki, tapi tiap hari di rumah aja, jarang punya kesibukan, ditanya-tanya terus sama tetangga, ngadepin istri yang egonya tinggi macam aku. Dia pastilah memikul beban yang nggak kalah berat.

Kondisi mas Azaz yang jobless ini berlangsung kira-kira 4-5 bulan. Selama itu pula kita berdua bergumul dengan konflik di dalam diri kita masing-masing. Alhamdulillah cobaan pertama di pernikahan kita yang baru seumur jagung kala itu bisa kita lewati.

Setelah itu, aku jadi mafhum kalau di infotainment sering ada berita artis cerai alasannya karena ekonomi. Memang berat tapi bukan berarti nggak bisa dilalui.

Hihi. Sok-sokan akutu.

Long Distance Marriage

Memasuki tahun kedua pernikahan, cobaan yang menghadang datang dalam bentuk berbeda yaitu: long distance!.

Biasa tinggal serumah, tiba-tiba kita harus berjauhan. Aku di Magelang, mas Azaz di Solo. Dan kita berdua balik ke rumah orang tua masing-masing. .... wqwq..... speechless.

Dulu aku punya prinsip: "Pokoknya kalau udah nikah tuh harus tinggal sama pasangan dong. Buat apa nikah kalau jauh-jauhan?". Eh ternyata sekarang prinsip itu berbalik ke diriku sendiri. Jleb jleb jleb.

Bulan April nanti tepat setahun kita berdua LDM. Gimana rasanya jauh dari pasangan?. Ya kangen mulu bawaannya. Tapi juga membawa hikmah: satu, kita lebih mengusahakan quality time; dua, less drama dibanding kalau kita deketan. Sekarang kita jadi jarang berantem. Entah karena semakin dewasa apa karena eman-eman ketemu cuma 2/3 hari kok waktunya malah dipakai buat marahan.

Kecuali kalau aku lagi PMS. Karena.... yah, entah kenapa emosiku selalu meledak di saat-saat itu.
[aww malu banget]

Masalah lain pastinya ada. Belum punya ini, belum punya itu. Pengen ini, pengen itu.

Nggak apa-apalah.

We have our own struggle.

Setiap rumah tangga punya "ujiannya" masing-masing kan?

Mas Azaz, 2020


Bagi orang yang sedang tidur, waktu 8 jam terasa sebentar. Sedangkan bagi orang yang melihat orang tidur, 8 jam terasa sangat lama.

Begitu juga bagi orang-orang dalam pernikahan.

Usia pernikahanku dan mas Azaz telah melewati tahun kedua. Buat orang lain mungkin udah lama. Tapi buat aku, rasanya bentarrr banget. Seakan baru saja kemarin jadi pengantin baru. Ceilah.

Dulu sebelum nikah, nggak kebayang nikah itu seperti apa. Hanya bisa mendengar cerita orang-orang. Katanya pacaran itu nggak ada apa-apanya dibanding pernikahan. Katanya pacaran isinya hanya yang manis-manis aja, nanti kalau nikah baru akan kelihatan gimana aslinya. Katanya nikah itu bakal berhadapan dengan banyak masalah, ujian datang silih berganti, dll.

Apakah Iya?.

Setelah menikah, inilah yang aku rasakan...

3 Bulan Pertama

3 bulan pertama pernikahan adalah masa termanis. Setelah rangkaian resepsi dan ngunduh mantu selesai, kita honeymoon beberapa hari ke Malang. Nggak perlu diceritain deh kayaknya. Ini adalah masa di mana kita bisa senang-senang, liburan, kulineran sepuasnya tanpa beban.

Sepulangnya dari Malang, kita pindah dari kost masing-masing ke rumah kontrakan, yang walaupun kecil tapi jadi tempat bernaung yang cukup buat kita berdua. Beli perlengkapan rumah mulai dari sapu, kasur, sampai kulkas lalu menata setiap sudut rumah sesuai apa yang kita mau. Hari Minggu pagi belanja sayur, ayam, pokoknya bahan makanan buat dimasak sendiri. Sesekali saat aku nggak ada jadwal ngajar (waktu itu di Binhar kan selo banget), aku akan di rumah sendirian menunggu sampai mas Azaz pulang kerja. Kadang titip dibeliin cilok atau molen krispi depan gang.

Duh, gitu aja udah bahagia banget. Berasa main rumah-rumahan kala kecil dulu sekarang jadi kenyataan.

Lalu batu kerikil itu mulai muncul...

Lepas dari 3 bulan, mulai ada batu-batu sandungan kecil. Sebenarnya masalah antara kita berdua terhitung masalah sepele. Misalnya aku masak, tapi mas Azaz makannya dikit. Atau mas Azaz pulang telat tapi nggak ngabarin. Hal-hal remeh macam gitu doang tapi jadi membesar karena ego masing-masing. Yah, atau bisa dibilang: egoku. I have to admit bahwa mas Azaz adalah suami yang sabarrrr banget. Akunya aja yang suka ngelunjak. Kekeke.

Waktu itu pernah aku lagi marah sama mas Azaz, terus aku nggak ngabarin apa-apa ke dia. WA tak blok, HP tak matiin. Pulang sekolah, aku cabut ke Hartono Mall naik Gojek terus nonton film sampai maghrib. Pulangnya nggak langsung ke kontrakan tapi malah ke kost Fatonah dulu. Akhirnya mas Azaz jemput aku di sana.

Dan kejadian kayak di atas nggak cuma sekali terjadi. Huhu. Ngerasa bersalah akutu kalo ingat masa-masa itu.

Suami Resign dari Tempat Kerja

Memasuki bulan ke-7 pernikahan, mulai ada hal besar yang mengubah jalan cerita, yaitu: mas Azaz resign dari tempat kerja. Kenapa resign? Yah, karena ada satu dua hal yang nggak bisa aku tulis di sini.

Dengan resignnya mas Azaz berarti neraca keuangan kita berdua yang tadinya udah stabil jadi goyah. Gimana enggak, tadinya ada 2 sumber pemasukan lalu sekarang tinggal 1. Terlepas dari hikmah yang bisa kita ambil sekarang, tapi sejujurnya... It was hard days. Ada jeda waktu beberapa bulan mas Azaz nggak kerja dan itu barangkali jadi masa ujian untuk kita berdua.

Dari segi ekonomi... Nih ya bayangin, aku kala itu jadi seorang guru honorer swasta, gaji mepet Rp 1.000.000 (iya, nggak salah baca: mepet sejuta rupiah alias sejuta aja nggak sampai). Segitu buat hidup berdua selama sebulan (note: uang kontrakan udah lunas sampai tahun depan). Diatur sedemikian rupa biar cukup malah kalau bisa sisa buat nabung.

Qadarullah. Emang menikah itu membuka rezeki. Ndilalah waktu itu job ngeblog lagi rame-ramenya. Aku sering dapet undangan event berbayar, paid campaign, content placement dll. Mas Azaz pun kadang ada job buat motret. Lumayan buat tambah-tambah pemasukan.

Tapi dari segi emosional... ini sih yang paling menguras energi. Ketika aku di posisi kerja sendiri, bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada suami, ternyata hal ini memupuk egoku. Egoku semakin lama semakin besar. Emosiku jadi gampang tersulut. Ngeliat mas Azaz lagi bersantai di rumah, tiduran atau main game, gitu aja bisa bikin aku marah. Rasanya waktu itu, "Aku lho kerja, kok kamu malah enak-enakan doang".

Melupakan fakta bahwa aslinya kerjaanku tuh enak banget. Ngajar, selo. Nulis di blog, nggak susah. Malah berangkat pulang sekolah selalu dianter jemput sama mas Azaz. Emosi emang bisa mengaburkan kebaikan.

Aku waktu itu nggak mikirin kalau mas Azaz pasti ngerasanya juga nggak enak. Laki-laki, tapi tiap hari di rumah aja, jarang punya kesibukan, ditanya-tanya terus sama tetangga, ngadepin istri yang egonya tinggi macam aku. Dia pastilah memikul beban yang nggak kalah berat.

Kondisi mas Azaz yang jobless ini berlangsung kira-kira 4-5 bulan. Selama itu pula kita berdua bergumul dengan konflik di dalam diri kita masing-masing. Alhamdulillah cobaan pertama di pernikahan kita yang baru seumur jagung kala itu bisa kita lewati.

Setelah itu, aku jadi mafhum kalau di infotainment sering ada berita artis cerai alasannya karena ekonomi. Memang berat tapi bukan berarti nggak bisa dilalui.

Hihi. Sok-sokan akutu.

Long Distance Marriage

Memasuki tahun kedua pernikahan, cobaan yang menghadang datang dalam bentuk berbeda yaitu: long distance!.

Biasa tinggal serumah, tiba-tiba kita harus berjauhan. Aku di Magelang, mas Azaz di Solo. Dan kita berdua balik ke rumah orang tua masing-masing. .... wqwq..... speechless.

Dulu aku punya prinsip: "Pokoknya kalau udah nikah tuh harus tinggal sama pasangan dong. Buat apa nikah kalau jauh-jauhan?". Eh ternyata sekarang prinsip itu berbalik ke diriku sendiri. Jleb jleb jleb.

Bulan April nanti tepat setahun kita berdua LDM. Gimana rasanya jauh dari pasangan?. Ya kangen mulu bawaannya. Tapi juga membawa hikmah: satu, kita lebih mengusahakan quality time; dua, less drama dibanding kalau kita deketan. Sekarang kita jadi jarang berantem. Entah karena semakin dewasa apa karena eman-eman ketemu cuma 2/3 hari kok waktunya malah dipakai buat marahan.

Kecuali kalau aku lagi PMS. Karena.... yah, entah kenapa emosiku selalu meledak di saat-saat itu.
[aww malu banget]

Masalah lain pastinya ada. Belum punya ini, belum punya itu. Pengen ini, pengen itu.

Nggak apa-apalah.

We have our own struggle.

Setiap rumah tangga punya "ujiannya" masing-masing kan?

Mas Azaz, 2020