Wednesday, July 25, 2018

Semangat Solo Sambut Torch Relay Asian Games 2018




Tak lama lagi, Asian Games XVIII tahun 2018 akan segera dimulai. Event olahraga terbesar se-Asia tersebut akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang. Asian Games 2018 ini akan diikuti oleh 45 negara dengan lebih dari 10.000 atlet yang berpartisipasi, serta diliput oleh 5.000 media, baik nasional dan internasional dan 45 broadcaster dari masing-masing negara peserta. Jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan sebanyak 40 cabang, yang terdiri dari 32 cabang olahraga olimpiade dan 8 cabang olahraga non olimpiade.

Asian Games kali ini adalah kali kedua Indonesia mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah setelah penantian panjang selama 56 tahun. Sebelumnya Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962 lalu. Bahkan, di tahun tersebut Indonesia berhasil menjadi runner-up, sebuah prestasi yang membanggakan. Tentunya di Asian Games 2018 tersimpan harapan agar Indonesia dapat jadi mandiri dan kembali meraih prestasi gemilang.

Sebagai negara tuan rumah, euforia Asian Games mulai terasa. Kita sebagai masyarakat mulai familiar dengan woro-woro Asian Games baik melalui iklan, spanduk di beberapa instansi, hingga baliho di sepanjang jalan. Tak hanya itu, semangat Asian Games semakin berkobar melalui kegiatan torch relay yang dilaksanakan sebulan menjelang hari-H pelaksanaan.







Torch Relay atau kirab obor api telah menjadi tradisi Asian Games, di mana obor api abadi mengandung filosofi sebagai semangat yang selalu menyala. Torch Relay Asian Games 2018 memiliki tujuan khusus sebagai ajang sosialisasi kepada masyarakat Indonesia agar masyarakat dapat ikut mendukung para atlet yang akan berlaga. Selain itu, kirab obor api ini sebagai ajang untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional.

Torch relay tahun 2018 diawali dengan datangnya api abadi dari India ke Indonesia pada 17 Juli 2018 yang lalu. India sendiri merupakan negara yang menjadi tuan rumah Asian Games pertama pada tahun 1951.

Rabu, 18 Juli pagi hari, rangkaian kegiatan Torch Relay dilanjutkan dengan pengambilan api abadi dari Indonesia yang berasal dari Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah. Kedua api tersebut kemudian disatukan pada Rabu malam dalam gelaran acara Torch Relay Concert Asian Games 2018 di Prambanan. Setelah itu, obor Asian Games 2018 akan dikirab keliling 54 kota dan kabupaten di 18 provinsi di Indonesia.

Kamis, 19 Juli pagi, kegiatan Torch Relay pun dimulai. Kota Yogyakarta menjadi kota pertama pelaksanaan Torch Relay. Di hari yang sama, yaitu Kamis siang, kirab obor telah sampai ke kota Solo. Masyarakat Solo sangat antusias menyambut obor api yang datang. Segenap lapisan masyarakat meramaikan jalan-jalan kota yang menjadi rute Torch Relay. Bahkan ada pula iring-iringan komunitas sepeda tua yang mengenakan busana kain lurik.



Rute torch relay di Solo dimulai sekitar pukul 12.30, yang menempuh jarak sepanjang 9 kilometer. Kirab obor dimulai dari Gapura Makutho, Karang Asem dan berakhir di Balai Kota Surakarta. Obor akan melewati beberapa titik lokasi, di antaranya: depan gedung DPRD kota Surakarta, kantor Pos Fajar Indah, Manahan, gedung Lokananta, Tugu Tabanas, PLN Purwosari, Sriwedari, Ngarsopuro, Keprabon, Gladag dan Tugu Pamandhengan.

Pelepasan kirab obor diawali dengan prosesi seremonial yang dipimpin oleh walikota Surakarta, Bapak FX Rudi Hadyatmo. Selanjutnya kirab obor dilakukan secara estafet oleh pelari pembawa obor yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari Menteri PUPR, Bapak Basuki Hadi Muldjono, Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, atlet sepakbola Rocky Putirai, hingga aktris Dian Sastrowardoyo.

Kantor bank Mandiri area Solo yang berada di jalan Brigjend Slamet Riyadi menjadi salah satu titik yang dilewati jalur Torch Relay. Tak ingin ketinggalan, sebanyak 100 karyawan Bank Mandiri kompak mengenakan seragam untuk ikut memberi semangat pada para pelari pembawa obor.


Untuk menambah semangat Kirab Obor Asian Games 2018, Mandiri mengundang marching band dari UNS. Tim marching band mengalunkan lagu-lagu bersemangat di jalur kirab dekat kantor Bank Mandiri area Solo. Marching band ini pun menarik perhatian masyarakat yang hadir, terutama karena kostumnya yang unik serta atraksinya yang energik.





Bank Mandiri merupakan Official Prestige Partners Asian Games 2018, yang mana dengan kehadirannya diharapkan dapat memudahkan para pemain, official ataupun penonton Asian Games 2018 dalam transaksi perbankan. Bank Mandiri juga menghadirkan berbagai promo diskon yang dapat dinikmati oleh nasabah cukup dengan menggunakan kartu kredit atau menukarkan Fiesta Poin.

Setelah Solo, kota berikutnya yang akan dilewati oleh obor api yaitu Blitar, Jawa Timur.



Tak lama lagi, Asian Games XVIII tahun 2018 akan segera dimulai. Event olahraga terbesar se-Asia tersebut akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang. Asian Games 2018 ini akan diikuti oleh 45 negara dengan lebih dari 10.000 atlet yang berpartisipasi, serta diliput oleh 5.000 media, baik nasional dan internasional dan 45 broadcaster dari masing-masing negara peserta. Jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan sebanyak 40 cabang, yang terdiri dari 32 cabang olahraga olimpiade dan 8 cabang olahraga non olimpiade.

Asian Games kali ini adalah kali kedua Indonesia mendapat kepercayaan untuk menjadi tuan rumah setelah penantian panjang selama 56 tahun. Sebelumnya Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962 lalu. Bahkan, di tahun tersebut Indonesia berhasil menjadi runner-up, sebuah prestasi yang membanggakan. Tentunya di Asian Games 2018 tersimpan harapan agar Indonesia dapat jadi mandiri dan kembali meraih prestasi gemilang.

Sebagai negara tuan rumah, euforia Asian Games mulai terasa. Kita sebagai masyarakat mulai familiar dengan woro-woro Asian Games baik melalui iklan, spanduk di beberapa instansi, hingga baliho di sepanjang jalan. Tak hanya itu, semangat Asian Games semakin berkobar melalui kegiatan torch relay yang dilaksanakan sebulan menjelang hari-H pelaksanaan.







Torch Relay atau kirab obor api telah menjadi tradisi Asian Games, di mana obor api abadi mengandung filosofi sebagai semangat yang selalu menyala. Torch Relay Asian Games 2018 memiliki tujuan khusus sebagai ajang sosialisasi kepada masyarakat Indonesia agar masyarakat dapat ikut mendukung para atlet yang akan berlaga. Selain itu, kirab obor api ini sebagai ajang untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional.

Torch relay tahun 2018 diawali dengan datangnya api abadi dari India ke Indonesia pada 17 Juli 2018 yang lalu. India sendiri merupakan negara yang menjadi tuan rumah Asian Games pertama pada tahun 1951.

Rabu, 18 Juli pagi hari, rangkaian kegiatan Torch Relay dilanjutkan dengan pengambilan api abadi dari Indonesia yang berasal dari Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah. Kedua api tersebut kemudian disatukan pada Rabu malam dalam gelaran acara Torch Relay Concert Asian Games 2018 di Prambanan. Setelah itu, obor Asian Games 2018 akan dikirab keliling 54 kota dan kabupaten di 18 provinsi di Indonesia.

Kamis, 19 Juli pagi, kegiatan Torch Relay pun dimulai. Kota Yogyakarta menjadi kota pertama pelaksanaan Torch Relay. Di hari yang sama, yaitu Kamis siang, kirab obor telah sampai ke kota Solo. Masyarakat Solo sangat antusias menyambut obor api yang datang. Segenap lapisan masyarakat meramaikan jalan-jalan kota yang menjadi rute Torch Relay. Bahkan ada pula iring-iringan komunitas sepeda tua yang mengenakan busana kain lurik.



Rute torch relay di Solo dimulai sekitar pukul 12.30, yang menempuh jarak sepanjang 9 kilometer. Kirab obor dimulai dari Gapura Makutho, Karang Asem dan berakhir di Balai Kota Surakarta. Obor akan melewati beberapa titik lokasi, di antaranya: depan gedung DPRD kota Surakarta, kantor Pos Fajar Indah, Manahan, gedung Lokananta, Tugu Tabanas, PLN Purwosari, Sriwedari, Ngarsopuro, Keprabon, Gladag dan Tugu Pamandhengan.

Pelepasan kirab obor diawali dengan prosesi seremonial yang dipimpin oleh walikota Surakarta, Bapak FX Rudi Hadyatmo. Selanjutnya kirab obor dilakukan secara estafet oleh pelari pembawa obor yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari Menteri PUPR, Bapak Basuki Hadi Muldjono, Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, atlet sepakbola Rocky Putirai, hingga aktris Dian Sastrowardoyo.

Kantor bank Mandiri area Solo yang berada di jalan Brigjend Slamet Riyadi menjadi salah satu titik yang dilewati jalur Torch Relay. Tak ingin ketinggalan, sebanyak 100 karyawan Bank Mandiri kompak mengenakan seragam untuk ikut memberi semangat pada para pelari pembawa obor.


Untuk menambah semangat Kirab Obor Asian Games 2018, Mandiri mengundang marching band dari UNS. Tim marching band mengalunkan lagu-lagu bersemangat di jalur kirab dekat kantor Bank Mandiri area Solo. Marching band ini pun menarik perhatian masyarakat yang hadir, terutama karena kostumnya yang unik serta atraksinya yang energik.





Bank Mandiri merupakan Official Prestige Partners Asian Games 2018, yang mana dengan kehadirannya diharapkan dapat memudahkan para pemain, official ataupun penonton Asian Games 2018 dalam transaksi perbankan. Bank Mandiri juga menghadirkan berbagai promo diskon yang dapat dinikmati oleh nasabah cukup dengan menggunakan kartu kredit atau menukarkan Fiesta Poin.

Setelah Solo, kota berikutnya yang akan dilewati oleh obor api yaitu Blitar, Jawa Timur.

Sunday, July 22, 2018

,

Ketika Ditanya "Udah Isi Belum?"


"Udah isi belum?"

"Udah isi ya?"

"Wis bati durung?"

Adalah pertanyaan dalam bentuk lebih halus untuk menggantikan pertanyaan yang frontal yakni

"UDAH HAMIL BELUM?"
(Eh sorry sorry, capslock jebol)

Di usia pernikahan yang "baru" memasuki 7 bulan ini, entah sudah berapa kali orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas kepada aku atau Abang. Bahkan udah dari sebulan-dua bulan sejak kita menikah pertanyaan ini datang. Karena emang belum, ya aku jawab aja dengan jawaban default

"Belum pak/bu, minta doanya ya" 

Sambil lempar senyum termanis ala-ala Puteri Indonesia. *Halah.

Walaupun dalam hati pengen nambahin, 

"Emang kenapa sih, mau tau aja apa mau tau bangetttt???"

Mereka kepo, gue kepoin balik dong.

Tapi aku tahan. Toh aku tau mereka tanya gitu paling cuma basa-basi doang. Aku maklumin, mungkin saking nggak ada bahan obrolan lain. Padahal diajak basa-basi "Harga telor bulan ini mahal ya", atau "Sekarang hawanya lagi dingin banget ya" aja aku udah seneng.

Tambah kesel kalau orang tanya gitu dengan embel-embel, "Kok badannya berisi, sudah berapa bulan?". Haaaaaah??.

"Ini lemak bu, lemaakk. Iya, aku emang gendut bocahnya"

**Btw, aku abis nikah beratnya naik nggak kekontrol nih masa'. Hadeeh. Gegara bahagia apa gegara kebanyakan makan neeh. Sedih akutu.

Dan yang tanya hal-hal kayak gitu biasanya justru orang yang dekat sama kita tapi nggak dekat-dekat amat. Katakanlah: pakdhe, budhe, teman kerja, teman sosmed. Keluarga inti atau teman yang udah sohib banget mah nggak pernah tanya-tanya. Mungkin karena mereka lebih tau aku sama si Abang kayak gimana.

Anehnya abis mereka tanya, terus dijawab "belum", eh mereka lanjutkan lagi dengan memberikan berbagai versi nasehat, kayak

"Ya nggak apa-apa, malah bisa menikmati waktu berdua. Nanti kalau udah punya anak, ke mana-mana harus bawa anak"

(Emang nggak apa-apa bapak-ibuk sekalian, yang bilang apa-apa juga siapa)

"Jangan ditunda-tunda lho bu, anak kan rejeki"

Lhaa. Kita bukannya nunda-nunda atau gimana. Awal-awal menikah, kita excited banget pengen segera punya anak. Lucu. Kita berdua juga orangnya suka sama anak kecil.

Sebulan, belum dikasih.

Dua bulan, belum dikasih.

Tiga bulan, belum dikasih. Akhirnya kita berdua periksa ke dokter buat konsultasi sekalian just to make sure that everything's under control. Dan kata dokternya,

"Oh nggak apa-apa. Normal kok. Ditunggu setahun saja dulu. Besok kembali ke sini lagi"

Ya udah. Emang belum dikasih. Hamil kan nggak segampang yang di sinetron-sinetron itu. Yang penting udah berdoa sama ikhtiar. Ihik.

Semakin ke sini, kita berdua semakin santai. Kalau dikasih sama Allah, alhamdulillah, kita jaga. Kalau belum dikasih, juga nggak apa-apa, kita piknik-piknik dulu gitu ke mana. Puas-puasin makan sate sama duren dulu. Wkwkw.

Timbang mikirin apa yang belum kita punya, kita memilih bersyukur atas apapun yang telah kita terima.

Di saat kita udah menikah, teman-teman kita masih banyak yang jomblo. Atau masih ada yang menabung supaya bisa nikah.

Di saat kita kadang bosan satu sama lain, ada teman yang sudah menikah tapi harus berjauhan dengan pasangannya.

Di saat kita mendambakan ingin punya momongan, ada teman yang sudah menikah, sudah dikasih momongan, tapi kemudian anaknya meninggal karena sakit.

Di saat kita memikirkan gimana caranya biar bisa "jadi", ada teman yang udah punya anak, belum rencana nambah anak lagi, eh "kebobolan".

Bukan berarti kita berpuas diri di atas keadaan orang lain. Tapi kita menyadari, bahwa setiap orang diuji dengan ujiannya masing-masing. Sabar dan bersyukur untuk diri sendiri. Bijaksana dan empati untuk orang lain.

Salah satu cara paling mudah: kayaknya tanya-tanya yang bersifat sensitif ke orang lain itu nggak perlu deh. Like asking,

"Kapan lulus?", ke mahasiswa semester akhir yang lagi berjuang nyelesein skripsi

 "Calonnya mana?", ke temen yang single

 "Kapan nyusul?", ke temen yang belum nikah

"Udah isi belum?", ke temen yang belum punya momongan macem gueh

"Kapan nambah adek buat si kakak?", ke temen yang baru punya 1 anak

Percayalah, masih banyak basa-basi lain yang ada di muka bumi Indonesia ini. Ngomongin cuaca kek, tanyain lagi sibuk apa kek. It works all the time.

Etapi kalo masih ada yang mau tanya kayak gitu ke aku sih nggak apa-apa. Tetep tak senyumin kok. :)

"Be patient and thankful for yourself. Be wise and empathy for others"

"Udah isi belum?"

"Udah isi ya?"

"Wis bati durung?"

Adalah pertanyaan dalam bentuk lebih halus untuk menggantikan pertanyaan yang frontal yakni

"UDAH HAMIL BELUM?"
(Eh sorry sorry, capslock jebol)

Di usia pernikahan yang "baru" memasuki 7 bulan ini, entah sudah berapa kali orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas kepada aku atau Abang. Bahkan udah dari sebulan-dua bulan sejak kita menikah pertanyaan ini datang. Karena emang belum, ya aku jawab aja dengan jawaban default

"Belum pak/bu, minta doanya ya" 

Sambil lempar senyum termanis ala-ala Puteri Indonesia. *Halah.

Walaupun dalam hati pengen nambahin, 

"Emang kenapa sih, mau tau aja apa mau tau bangetttt???"

Mereka kepo, gue kepoin balik dong.

Tapi aku tahan. Toh aku tau mereka tanya gitu paling cuma basa-basi doang. Aku maklumin, mungkin saking nggak ada bahan obrolan lain. Padahal diajak basa-basi "Harga telor bulan ini mahal ya", atau "Sekarang hawanya lagi dingin banget ya" aja aku udah seneng.

Tambah kesel kalau orang tanya gitu dengan embel-embel, "Kok badannya berisi, sudah berapa bulan?". Haaaaaah??.

"Ini lemak bu, lemaakk. Iya, aku emang gendut bocahnya"

**Btw, aku abis nikah beratnya naik nggak kekontrol nih masa'. Hadeeh. Gegara bahagia apa gegara kebanyakan makan neeh. Sedih akutu.

Dan yang tanya hal-hal kayak gitu biasanya justru orang yang dekat sama kita tapi nggak dekat-dekat amat. Katakanlah: pakdhe, budhe, teman kerja, teman sosmed. Keluarga inti atau teman yang udah sohib banget mah nggak pernah tanya-tanya. Mungkin karena mereka lebih tau aku sama si Abang kayak gimana.

Anehnya abis mereka tanya, terus dijawab "belum", eh mereka lanjutkan lagi dengan memberikan berbagai versi nasehat, kayak

"Ya nggak apa-apa, malah bisa menikmati waktu berdua. Nanti kalau udah punya anak, ke mana-mana harus bawa anak"

(Emang nggak apa-apa bapak-ibuk sekalian, yang bilang apa-apa juga siapa)

"Jangan ditunda-tunda lho bu, anak kan rejeki"

Lhaa. Kita bukannya nunda-nunda atau gimana. Awal-awal menikah, kita excited banget pengen segera punya anak. Lucu. Kita berdua juga orangnya suka sama anak kecil.

Sebulan, belum dikasih.

Dua bulan, belum dikasih.

Tiga bulan, belum dikasih. Akhirnya kita berdua periksa ke dokter buat konsultasi sekalian just to make sure that everything's under control. Dan kata dokternya,

"Oh nggak apa-apa. Normal kok. Ditunggu setahun saja dulu. Besok kembali ke sini lagi"

Ya udah. Emang belum dikasih. Hamil kan nggak segampang yang di sinetron-sinetron itu. Yang penting udah berdoa sama ikhtiar. Ihik.

Semakin ke sini, kita berdua semakin santai. Kalau dikasih sama Allah, alhamdulillah, kita jaga. Kalau belum dikasih, juga nggak apa-apa, kita piknik-piknik dulu gitu ke mana. Puas-puasin makan sate sama duren dulu. Wkwkw.

Timbang mikirin apa yang belum kita punya, kita memilih bersyukur atas apapun yang telah kita terima.

Di saat kita udah menikah, teman-teman kita masih banyak yang jomblo. Atau masih ada yang menabung supaya bisa nikah.

Di saat kita kadang bosan satu sama lain, ada teman yang sudah menikah tapi harus berjauhan dengan pasangannya.

Di saat kita mendambakan ingin punya momongan, ada teman yang sudah menikah, sudah dikasih momongan, tapi kemudian anaknya meninggal karena sakit.

Di saat kita memikirkan gimana caranya biar bisa "jadi", ada teman yang udah punya anak, belum rencana nambah anak lagi, eh "kebobolan".

Bukan berarti kita berpuas diri di atas keadaan orang lain. Tapi kita menyadari, bahwa setiap orang diuji dengan ujiannya masing-masing. Sabar dan bersyukur untuk diri sendiri. Bijaksana dan empati untuk orang lain.

Salah satu cara paling mudah: kayaknya tanya-tanya yang bersifat sensitif ke orang lain itu nggak perlu deh. Like asking,

"Kapan lulus?", ke mahasiswa semester akhir yang lagi berjuang nyelesein skripsi

 "Calonnya mana?", ke temen yang single

 "Kapan nyusul?", ke temen yang belum nikah

"Udah isi belum?", ke temen yang belum punya momongan macem gueh

"Kapan nambah adek buat si kakak?", ke temen yang baru punya 1 anak

Percayalah, masih banyak basa-basi lain yang ada di muka bumi Indonesia ini. Ngomongin cuaca kek, tanyain lagi sibuk apa kek. It works all the time.

Etapi kalo masih ada yang mau tanya kayak gitu ke aku sih nggak apa-apa. Tetep tak senyumin kok. :)

"Be patient and thankful for yourself. Be wise and empathy for others"

Saturday, July 21, 2018

,

Cerita di Balik Torch Relay Asian Games 2018 di Yogyakarta



Agnes Natasya, salah satu pembawa obor dalam Torch Relay Asian Games 2018 di Yogyakarta. Foto dari Media Buffet

Gegap gempita Asian Games XVIII tahun 2018 mulai terasa. Kurang dari sebulan mendatang, tepatnya pada 18 Agustus hingga 2 September 2018, event olahraga terbesar se-Asia tersebut akan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Indonesia sebagai negara tuan rumah pun bersukacita menyambut pelaksanaan Asian Games 2018 dengan melanjutkan tradisi Torch Relay atau pawai obor api abadi Asian Games. 

Torch Relay dimulai dengan dibawanya api abadi dari New Delhi, India, ke Indonesia (India merupakan tuan rumah penyelenggaraan Asian Games pertama pada tahun 1951 lalu). Api tersebut kemudian disatukan dengan api abadi Indonesia yang berasal dari Mrapen, Jawa Tengah. Penyatuan kedua api dilakukan pada Rabu (18/7) malam di area candi Prambanan. Kemudian pada hari Kamis (19/7) pagi, dimulailah rangkaian Torch Relay di mana Yogyakarta menjadi kota pertama yang dilewati oleh obor api. Selanjutnya obor api akan berkeliling ke 53 kota di 18 provinsi di Indonesia.

Rute Torch Relay di Jogja memiliki total jarak +/- sejauh 9 kilometer. Start di Pagelaran Keraton sekitar pukul 07.20, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyerahkan obor untuk pembawa obor pertama yaitu Menteri Luar Negeri, Ibu Retno Lestari Marsudi. Obor kemudian dibawa secara estafet oleh pelari pembawa obor melewati titik 0 km, PKU, Pasar Kembang, Kantor Gubernur, Istana Kepresidenan Yogyakarta, Taman Pintar, Jogjatronik, Kominfo, Mandiri Katamso, BNI Sutoyo, Telkom Pugeran, Jokteng Kulon, Perempatan Suryowijayan, Perempatan Pingit hingga finish di Tugu Jogja. 

Pelari pembawa obor berasal dari berbagai kalangan, mulai dari artis, atlet, anak muda berprestasi, hingga pejabat pemerintahan. Ada nama-nama yang telah dikenal luas oleh publik seperti, Finarsih (atlet bulutangkis DIY), Jenahara (Desainer), Rio Febrian (penyanyi), dan lainnya. Obor yang dibawa oleh Sekjen INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee), Bapak Eris Herryanto, sampai di Tugu Jogja sekitar pukul 09.20. Obor kemudian diserahkan kepada Walikota Yogyakarta, Bapak Haryadi Suyuti. Obor tersebut nantinya akan dibawa ke kota selanjutnya, yaitu kota Solo.

Masyarakat sangat antusias menjadi saksi kegiatan Torch Relay di kota ini. Baik tua-muda, ibu-ibu hingga bapak-bapak rela berdiri dengan semangat di bawah sinar matahari. Anak sekolah bersama bapak-ibu guru menunggu di jalan membawa atribut-atribut sederhana. Penari berkostum lengkap dan menggunakan riasan wajah karakter juga bersiap menyambut para pelari. Petugas polisi dan TNI dengan gesit mengamankan jalannya kegiatan. Wartawan dan awak media menempati spot-spot strategis untuk meliput acara. Ah, this ambiance.... sungguh harmoni yang selaras dalam satu semangat yang sama :’).





Penari bersiap menyambut pembawa obor
Kemeriahan di titik finish Torch Relay di Tugu Jogja
Pocari Sweat X Asian Games 2018

Pocari Sweat "Ikut Nyalakan Obor Asian Games 2018"
Pocari Sweat sebagai Official Partner Asian Games 2018 juga ikut serta menyemarakkan Torch Relay di sejumlah kota di Indonesia. Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan ini, Pocari Sweat mengundang 4 anak muda Indonesia, yaitu Jenahara Nasution (perancang busana muslim yang telah go international), Nanda Mei Sholihah (para athlete peraih medali emas Asean Para Games), Agnes Natasya (pemenang Olimpiade Biologi Internasional 2017) , dan yang terakhir adalah Andre Surya (visual effect artist film-film Hollywood). Dalam Torch Relay di Jogja, keempatnya turut serta menjadi pelari pembawa obor.

Melalui 4 sosok di atas, Pocari Sweat ingin menyampaikan pesan untuk generasi muda Indonesia untuk ikut mendukung Asian Games 2018 serta agar anak muda Indonesia dapat berprestasi di bidangnya masing-masing.

“Pocari Sweat memilih 4 anak bangsa berprestasi internasional dengan harapan dapat memberikan inspirasi kepada seluruh masyarakat khususnya generasi muda Indonesia untuk memberikan semangat kepada para atlet yang akan berjuang untuk meraih prestasi di bidangnya masing-masing. Seperti keempat anak bangsa yang dipilih Pocari Sweat”, ujar Ricky Suhendar – Corporate Communication Director PT Amerta Indah Otsuka.

Jenahara Nasution

Bagi pecinta fashion, nama Jenahara mungkin tak asing lagi. Iya, Jenahara Nasution adalah desainer busana muslim muda pemilik label Jenahara dan Jenahara Black Label yang dirintis sejak tahun 2011 lalu. Butik Jenahara telah tersebar di sejumlah kota besar, di antaranya: Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Balikpapan, Samarinda, Surabaya dan Makassar.

Rancangan busana Jenahara telah malang melintang di berbagai panggung pagelaran baik nasional maupun internasional. Sebut saja fashion show di Jakarta Fashion Week, Hongkong, Thailand, Italia dan London. Bahkan pada London Modest Fashion Week pada Februari 2018 lalu, kerudung rancangan Jenahara juga dikenakan oleh bintang Hollywood Lindsay Lohan.

Selain sebagai designer, Jenahara dikenal sebagai salah satu pendiri komunitas Hijabers Community Indonesia. Bahkan beberapa tahun yang lalu Jenahara sempat menjadi host program TV “Dua Hijab” di Trans7 bersama Zaskia Sungkar. 

Jenahara Nasution mengaku sangat bangga terpilih menjadi salah satu pembawa obor Asian Games 2018. “Waktu diminta oleh pihak Pocari Sweat untuk menjadi pembawa obor saya sangat excited. Semoga kegiatan ini bisa membuat generasi muda untuk juga excited, berkarya dan terus berprestasi di kancah Internasional”, ungkapnya.

Dismo bersama Kak Jenahara

Nanda Mei Sholihah

Nanda, atlet lari peraih medali emas Asean Para Games 2017

Nanda Mei Sholihah merupakan atlet lari penyandang disabilitas (para athlete) yang terlahir dengan kondisi lengan kanan hanya sebatas siku. Namun keterbatasan fisiknya tersebut tidak membatasi Nanda dalam berprestasi. Berbagai prestasi telah berhasil ditorehkan Nanda di ajang olahraga internasional. Sejumlah prestasi yang diraihnya antara lain medali emas ASEAN Youth Para Games 2013, medali perak dan perunggu ASEAN Para Games 2014, tiga medali emas ASEAN Para Games 2015 serta tiga medali emas ASEAN Para Games 2018.

Tak cukup sampai di situ, Nanda akan bertanding dalam ajang Asian Para Games 2018. Atlet berusia 19 tahun ini sekarang tengah menjalani masa pelatihan nasional untuk berbagai persiapan pra-lomba. Wah, semoga kembali mendapatkan emas ya Asian Para Games 2018 besok. 

Agnes Natasya

Agnes Natasya menjadi yang termuda di antara ketiga wakil Pocari Sweat lain yang hadir. Namun di usianya baru beranjak 17 tahun, pelajar lulusan SMAK Penabur Kelapa Gading, Jakarta, ini telah mengharumkan nama Indonesia dengan menyabet medali emas pada Olimpiade Biologi Internasional 2017 di Conventry, Inggris. 

Minat Agnes di bidang biologi telah tertanam sejak dulu hingga sekarang. Di bangku SMP, Agnes telah mengikuti olimpiade biologi untuk tingkat menengah pertama. Kemudian di tahun 2016, Agnes yang telah duduk di bangku SMA kembali berpartisipasi dalam ajang Olimpiade Sains Nasional. Saat itulah ia mendapatkan medali perak yang mengantarkannya menjadi peraih medali emas di ajang internasional. Di tahun 2018, Agnes yang lulus dari SMA kini melanjutkan studi di luar negeri untuk kembali menekuni ilmu Biologi. 

Andre Surya

Di balik film box office Hollywood, ternyata ada sosok anak muda Indonesia yang berkiprah di belakang layar. Adalah Andre Surya, seorang desainer visual efek yang telah berperan pada produksi banyak film sci-fi acton Hollywood seperti Iron Man, Indiana Jones, Star Trek, Terminator Salvation, Transformer: Revenge of the Fallen, Surrogates, Iron Man 2, The Last Airbender, The Escape, dll.

Andre menyelesaikan gelar masternya di bidang film dan spesial efek di Vanart School of Film, Vancouver, Kanada. Kini Andre tengah sibuk dalam proses mendirikan sekolah animasi di beberapa kota di Indonesia.

Light Up The Torch

Untuk makin menyemarakkan gaung Torch Relay Asian Games 2018, Pocari Sweat memperkenalkan program Light Up the Torch. Light Up the Torch dikemas dalam bentuk mini games yang cara memainkannya cukup dengan melakukan tap untuk menyalakan api obor dalam layar. Kita diberi waktu 15 detik untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Semakin banyak kita mengumpulkan poin, akan semakin besar nyala api obor. Setelah itu, kita dapat membagikan hasil poin kita di sosial media dan berkesempatan mendapatkan hadiah. Menarik!

Program ini dapat kita akses melalui microsite di www.pocarisweat.id/lightupthetorch

Melalui program ini, Pocari Sweat bermaksud mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi secara aktif dalam menyalakan obor Asian Games 2018 sebagai bentuk dukungan dan semangat untuk Indonesia. Uniknya, gambar obor dibuat sama dengan obor yang digunakan dalam Torch Relay Asian Games 2018. Sehingga menguatkan makna bahwa semakin banyak dukungan yang diberikan untuk Indonesia, maka akan semakin besar nyala api dalam obor Asian Games 2018.



Agnes Natasya, salah satu pembawa obor dalam Torch Relay Asian Games 2018 di Yogyakarta. Foto dari Media Buffet

Gegap gempita Asian Games XVIII tahun 2018 mulai terasa. Kurang dari sebulan mendatang, tepatnya pada 18 Agustus hingga 2 September 2018, event olahraga terbesar se-Asia tersebut akan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang. Indonesia sebagai negara tuan rumah pun bersukacita menyambut pelaksanaan Asian Games 2018 dengan melanjutkan tradisi Torch Relay atau pawai obor api abadi Asian Games. 

Torch Relay dimulai dengan dibawanya api abadi dari New Delhi, India, ke Indonesia (India merupakan tuan rumah penyelenggaraan Asian Games pertama pada tahun 1951 lalu). Api tersebut kemudian disatukan dengan api abadi Indonesia yang berasal dari Mrapen, Jawa Tengah. Penyatuan kedua api dilakukan pada Rabu (18/7) malam di area candi Prambanan. Kemudian pada hari Kamis (19/7) pagi, dimulailah rangkaian Torch Relay di mana Yogyakarta menjadi kota pertama yang dilewati oleh obor api. Selanjutnya obor api akan berkeliling ke 53 kota di 18 provinsi di Indonesia.

Rute Torch Relay di Jogja memiliki total jarak +/- sejauh 9 kilometer. Start di Pagelaran Keraton sekitar pukul 07.20, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyerahkan obor untuk pembawa obor pertama yaitu Menteri Luar Negeri, Ibu Retno Lestari Marsudi. Obor kemudian dibawa secara estafet oleh pelari pembawa obor melewati titik 0 km, PKU, Pasar Kembang, Kantor Gubernur, Istana Kepresidenan Yogyakarta, Taman Pintar, Jogjatronik, Kominfo, Mandiri Katamso, BNI Sutoyo, Telkom Pugeran, Jokteng Kulon, Perempatan Suryowijayan, Perempatan Pingit hingga finish di Tugu Jogja. 

Pelari pembawa obor berasal dari berbagai kalangan, mulai dari artis, atlet, anak muda berprestasi, hingga pejabat pemerintahan. Ada nama-nama yang telah dikenal luas oleh publik seperti, Finarsih (atlet bulutangkis DIY), Jenahara (Desainer), Rio Febrian (penyanyi), dan lainnya. Obor yang dibawa oleh Sekjen INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee), Bapak Eris Herryanto, sampai di Tugu Jogja sekitar pukul 09.20. Obor kemudian diserahkan kepada Walikota Yogyakarta, Bapak Haryadi Suyuti. Obor tersebut nantinya akan dibawa ke kota selanjutnya, yaitu kota Solo.

Masyarakat sangat antusias menjadi saksi kegiatan Torch Relay di kota ini. Baik tua-muda, ibu-ibu hingga bapak-bapak rela berdiri dengan semangat di bawah sinar matahari. Anak sekolah bersama bapak-ibu guru menunggu di jalan membawa atribut-atribut sederhana. Penari berkostum lengkap dan menggunakan riasan wajah karakter juga bersiap menyambut para pelari. Petugas polisi dan TNI dengan gesit mengamankan jalannya kegiatan. Wartawan dan awak media menempati spot-spot strategis untuk meliput acara. Ah, this ambiance.... sungguh harmoni yang selaras dalam satu semangat yang sama :’).





Penari bersiap menyambut pembawa obor
Kemeriahan di titik finish Torch Relay di Tugu Jogja
Pocari Sweat X Asian Games 2018

Pocari Sweat "Ikut Nyalakan Obor Asian Games 2018"
Pocari Sweat sebagai Official Partner Asian Games 2018 juga ikut serta menyemarakkan Torch Relay di sejumlah kota di Indonesia. Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan ini, Pocari Sweat mengundang 4 anak muda Indonesia, yaitu Jenahara Nasution (perancang busana muslim yang telah go international), Nanda Mei Sholihah (para athlete peraih medali emas Asean Para Games), Agnes Natasya (pemenang Olimpiade Biologi Internasional 2017) , dan yang terakhir adalah Andre Surya (visual effect artist film-film Hollywood). Dalam Torch Relay di Jogja, keempatnya turut serta menjadi pelari pembawa obor.

Melalui 4 sosok di atas, Pocari Sweat ingin menyampaikan pesan untuk generasi muda Indonesia untuk ikut mendukung Asian Games 2018 serta agar anak muda Indonesia dapat berprestasi di bidangnya masing-masing.

“Pocari Sweat memilih 4 anak bangsa berprestasi internasional dengan harapan dapat memberikan inspirasi kepada seluruh masyarakat khususnya generasi muda Indonesia untuk memberikan semangat kepada para atlet yang akan berjuang untuk meraih prestasi di bidangnya masing-masing. Seperti keempat anak bangsa yang dipilih Pocari Sweat”, ujar Ricky Suhendar – Corporate Communication Director PT Amerta Indah Otsuka.

Jenahara Nasution

Bagi pecinta fashion, nama Jenahara mungkin tak asing lagi. Iya, Jenahara Nasution adalah desainer busana muslim muda pemilik label Jenahara dan Jenahara Black Label yang dirintis sejak tahun 2011 lalu. Butik Jenahara telah tersebar di sejumlah kota besar, di antaranya: Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Balikpapan, Samarinda, Surabaya dan Makassar.

Rancangan busana Jenahara telah malang melintang di berbagai panggung pagelaran baik nasional maupun internasional. Sebut saja fashion show di Jakarta Fashion Week, Hongkong, Thailand, Italia dan London. Bahkan pada London Modest Fashion Week pada Februari 2018 lalu, kerudung rancangan Jenahara juga dikenakan oleh bintang Hollywood Lindsay Lohan.

Selain sebagai designer, Jenahara dikenal sebagai salah satu pendiri komunitas Hijabers Community Indonesia. Bahkan beberapa tahun yang lalu Jenahara sempat menjadi host program TV “Dua Hijab” di Trans7 bersama Zaskia Sungkar. 

Jenahara Nasution mengaku sangat bangga terpilih menjadi salah satu pembawa obor Asian Games 2018. “Waktu diminta oleh pihak Pocari Sweat untuk menjadi pembawa obor saya sangat excited. Semoga kegiatan ini bisa membuat generasi muda untuk juga excited, berkarya dan terus berprestasi di kancah Internasional”, ungkapnya.

Dismo bersama Kak Jenahara

Nanda Mei Sholihah

Nanda, atlet lari peraih medali emas Asean Para Games 2017

Nanda Mei Sholihah merupakan atlet lari penyandang disabilitas (para athlete) yang terlahir dengan kondisi lengan kanan hanya sebatas siku. Namun keterbatasan fisiknya tersebut tidak membatasi Nanda dalam berprestasi. Berbagai prestasi telah berhasil ditorehkan Nanda di ajang olahraga internasional. Sejumlah prestasi yang diraihnya antara lain medali emas ASEAN Youth Para Games 2013, medali perak dan perunggu ASEAN Para Games 2014, tiga medali emas ASEAN Para Games 2015 serta tiga medali emas ASEAN Para Games 2018.

Tak cukup sampai di situ, Nanda akan bertanding dalam ajang Asian Para Games 2018. Atlet berusia 19 tahun ini sekarang tengah menjalani masa pelatihan nasional untuk berbagai persiapan pra-lomba. Wah, semoga kembali mendapatkan emas ya Asian Para Games 2018 besok. 

Agnes Natasya

Agnes Natasya menjadi yang termuda di antara ketiga wakil Pocari Sweat lain yang hadir. Namun di usianya baru beranjak 17 tahun, pelajar lulusan SMAK Penabur Kelapa Gading, Jakarta, ini telah mengharumkan nama Indonesia dengan menyabet medali emas pada Olimpiade Biologi Internasional 2017 di Conventry, Inggris. 

Minat Agnes di bidang biologi telah tertanam sejak dulu hingga sekarang. Di bangku SMP, Agnes telah mengikuti olimpiade biologi untuk tingkat menengah pertama. Kemudian di tahun 2016, Agnes yang telah duduk di bangku SMA kembali berpartisipasi dalam ajang Olimpiade Sains Nasional. Saat itulah ia mendapatkan medali perak yang mengantarkannya menjadi peraih medali emas di ajang internasional. Di tahun 2018, Agnes yang lulus dari SMA kini melanjutkan studi di luar negeri untuk kembali menekuni ilmu Biologi. 

Andre Surya

Di balik film box office Hollywood, ternyata ada sosok anak muda Indonesia yang berkiprah di belakang layar. Adalah Andre Surya, seorang desainer visual efek yang telah berperan pada produksi banyak film sci-fi acton Hollywood seperti Iron Man, Indiana Jones, Star Trek, Terminator Salvation, Transformer: Revenge of the Fallen, Surrogates, Iron Man 2, The Last Airbender, The Escape, dll.

Andre menyelesaikan gelar masternya di bidang film dan spesial efek di Vanart School of Film, Vancouver, Kanada. Kini Andre tengah sibuk dalam proses mendirikan sekolah animasi di beberapa kota di Indonesia.

Light Up The Torch

Untuk makin menyemarakkan gaung Torch Relay Asian Games 2018, Pocari Sweat memperkenalkan program Light Up the Torch. Light Up the Torch dikemas dalam bentuk mini games yang cara memainkannya cukup dengan melakukan tap untuk menyalakan api obor dalam layar. Kita diberi waktu 15 detik untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Semakin banyak kita mengumpulkan poin, akan semakin besar nyala api obor. Setelah itu, kita dapat membagikan hasil poin kita di sosial media dan berkesempatan mendapatkan hadiah. Menarik!

Program ini dapat kita akses melalui microsite di www.pocarisweat.id/lightupthetorch

Melalui program ini, Pocari Sweat bermaksud mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi secara aktif dalam menyalakan obor Asian Games 2018 sebagai bentuk dukungan dan semangat untuk Indonesia. Uniknya, gambar obor dibuat sama dengan obor yang digunakan dalam Torch Relay Asian Games 2018. Sehingga menguatkan makna bahwa semakin banyak dukungan yang diberikan untuk Indonesia, maka akan semakin besar nyala api dalam obor Asian Games 2018.

Friday, July 20, 2018

,

Perempuan dalam Ketidakadilan Gender


Masih banyak di antara kita yang salah kaprah dalam memahami tentang gender. Acapkali kita, bahkan saya sendiri, menganggap bahwa gender itu sama dengan seks (jenis kelamin, -red) yaitu tentang laki-laki atau perempuan. Padahal gender berbeda dengan seks.

Perbedaan antara Gender dan Seks

Bicara tentang seks, maka sudah jelas yang dibahas adalah tentang  perbedaan bahwa laki-laki memiliki alat kelamin berupa penis, sedangkan perempuan memiliki vagina. (Apakah terlalu vulgar jika saya menuliskan hal ini? Atau bisakah kita samakan persepsi bahwa hal ini sudah menjadi pengetahuan umum?) Sedangkan bicara mengenai gender, berarti kita bicara tentang peran laki-laki dan perempuan.

Seks adalah ciptaan tuhan atau bersifat kodrati. Seks tidak dapat diubah, tidak dapat dipertukarkan dan berlaku sepanjang masa. Misalnya: hamil dan menyusui hanya dapat dilakukan oleh perempuan, tidak dapat digantikan oleh laki-laki. Sebaliknya, membuahi rahim hanya dapat dilakukan oleh laki-laki, tidak dapat dipertukarkan dengan perempuan karena perempuan tidak menghasilkan sperma.

Sementara itu, gender adalah buatan manusia, bukan kodrat, dapat dipertukarkan, dapat berubah, tergantung pada budaya dan waktu. Misalnya, secara budaya laki-laki bertugas bekerja mencari uang, sedangkan perempuan bertugas mengatur rumah tangga di rumah. Kedua peran ini dapat bertukar, perempuan pun dapat bekerja di luar rumah, dan laki-laki juga bisa saja mengatur rumah tangga di rumah.

Gender merupakan pembagian peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Pembagian peran inilah yang kemudian menjadi kebiasaan dan berkembang menjadi tradisi budaya.  Karena telah menjadi tradisi, maka ketika terdapat peran yang tidak lazim seperti contoh di atas: perempuan bekerja sedangkan laki-laki di rumah, akan dianggap aneh, tidak sewajarnya, tidak patut. Padahal sebenarnya sah-sah saja.

Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender pada Perempuan

Permasalahan yang kemudian muncul adalah, masih banyak terjadi ketidakadilan gender di masyarakat kita di mana perempuan menjadi pihak yang dirugikan. Sebut saja ketidakadilan tersebut dalam bentuk-bentuk seperti ini:

1.       Marginalisasi (peminggiran)

“Perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi lah, toh nanti ujung-ujungnya masak di dapur”

Pernah mendengar ungkapan di atas?.

Saya pernah, bahkan sering. Walaupun kalimat tersebut tidak ditujukan untuk saya melainkan untuk sahabat perempuan yang lain. Tapi rasanya.... ah, begitukah jika jadi perempuan?.

Tentu saja TIDAK. Pendidikan adalah hak bagi semua orang, laki-laki maupun perempuan.

Tapi marginalisasi yang dialami perempuan bukan hanya dalam segi pendidikan saja. Kasus lain marginalisasi misalnya: perempuan tidak mendapat warisan, gaji perempuan lebih rendah, atau perempuan bekerja tidak mendapat tunjangan anak. Pernah mengalami kasus seperti ini?.

2.       Subordinasi (penomorduaan)

Perempuan adalah makhluk yang emosional, lebih mendahulukan hati daripada otak.

Nggak logis.
Irasional.
Lemah.
Cengeng.
Nggak mampu jadi pemimpin

Pernahkah pikiran seperti itu terbersit di pikiran kita?.

Jika jawabannya adalah iya, maka saat itu secara halus telah terjadi subordinasi terhadap kaum perempuan. Penomorduaan.

Baik perempuan maupun laki-laki, bukankah setiap insan di dunia ini memiliki kekurangan dan kelebihan?. Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi setiap manusia toh memiliki kesempatan yang sama. Untuk memimpin, misalnya.  Atau untuk berpendapat, misalnya. Dalam setiap aktivitas dan sendi kehidupan, kita semua bisa ambil peran. Kenapa enggak?

3.       Stereotipe (pelabelan)

Perempuan yang merokok, adalah perempuan yang nggak beretika.
Perempuan yang sering pulang malam, adalah perempuan “nggak bener”.
Perempuan memakai baju terbuka, adalah perempuan nakal.

Tapi ketika laki-laki merokok, dianggap jantan.
Ketika laki-laki pulang malam, dianggap biasa.
Ketika laki-laki celana pendek, bahkan tidak memakai baju, dianggap wajar.

Kenapa bisa berbeda?.
Kenapa kita menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya?.
Siapa kita yang kemudian berhak memberikan label pada seseorang?.

Pernah dalam suatu liburan, saya dan saudara-saudara berkumpul di rumah Budhe di Semarang. Di sana ikut juga sepupu perempuan saya yang tinggal di Bandung. Ketika di Semarang, saudara saya tersebut sering menggunakan celana pendek dan tank top. Kenapa?. Karena bagi dia yang terbiasa dengan udara sejuk di Bandung, Semarang terasa panas dan gerah.

Baju, pilihan berpakaian, gaya berpenampilan, ditentukan oleh banyak faktor. Bisa karena selera, kenyamanan, atau bahkan lingkungan. Terlalu naif jika kita berstigma negatif hanya karena apa yang dikenakan oleh seseorang.

Saya, ketika kuliah dulu aktif dalam organisasi. Seringkali saya dan kawan-kawan rapat hingga malam. Bahkan, pernah kami pulang rapat pukul 2 pagi karena harus mendiskusikan program kerja penting yang akan dilaksanakan. Apakah karena saya pulang malam lantas seketika saya menjadi perempuan yang tidak baik?.
4.       Kekerasan

Kasus kekerasan acapkali menimpa perempuan, baik itu kekerasan fisik, psikis bahkan kekerasan seksual.

Kekerasan fisik dapat berupa perlakuan kasar secara fisik kepada perempuan, misalnya: pemukulan.

Berbeda dengan kekerasan fisik, kekerasan psikis menyerang bagian mental, bisa dengan kata-kata kasar, penghinaan, perlakuan yang tidak menyenangkan juga termasuk kekerasan psikis.

Sementara itu, kekerasan seksual dapat terjadi sekalipun dalam ikatan pernikahan. Dalam lembaga perkawinan, tetap memungkinkan terjadinya “perkosaan” atau pemaksaan hubungan seksual.  Penyimpangan seksual yang tidak lazim dan tidak dilakukan secara semestinya oleh salah satu pihak kepada pasangan bisa termasuk dalam kategori kekerasan.

5.       Beban ganda

Perempuan memiliki beban kerja ganda, yaitu pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan di luar rumah.

Ketika seorang laki-laki bekerja, maka ya sudah, pekerjaannya hanya sebatas di tempat kerja. Akan tetapi, ketika seorang perempuan bekerja, ia memiliki beban pekerjaan ganda: satu, di tempat kerja, dan dua, pekerjaan di rumah.

Saya sendiri pun merasakannya, walaupun dalam batas yang sangat bisa ditolerir. Saya bekerja. Di sekolah, saya melaksanakan tugas-tugas mengajar seorang guru. Di rumah, saya mengerjakan pekerjaan rumah seperti membereskan rumah, memasak, dan tugas rumah tangga lainnya. Tapi hal itu saya lakukan dengan senang hati dan kesadaran penuh bahwa saya ingin rumah dalam keadaan baik selalu. Satu hal yang membesarkan hati saya adalah bahwa suami mau ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Saya menyapu, suami mengepel lantai. Saya memasak, suami mencuci piring. Kerja sama.

Tapi di luar sana...?

---

Memang bukan berarti ketidakadilan gender ini menimpa semua perempuan di negeri ini. Saya, mungkin termasuk yang beruntung karena tumbuh dan dikelilingi lingkungan yang tidak timpang sebelah antara laki-laki dan perempuan. Namun kita tidak dapat menutup mata bahwa di luar sana masih banyak jumlah perempuan yang mengalami ketidakadilan seperti yang saya tuliskan di atas.

Sekarang sudah tengah tahun 2018, sudah bukan masanya lagi perempuan dianggap hanya sebagai “konco wingking” bagi laki-laki. Sudah banyak tokoh perempuan Indonesia yang telah berprestasi, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. Sebut saja Ibu Sri Mulyani yang telah berkiprah menjadi salah satu dari Direktur Pelaksana di World Bank. Ibu Susi Pudjiastuti yang kini mengemban amanah sebagai menteri perikanan. Ibu Risma sebagai walikota yang disegani oleh masyarakat Surabaya. Bahkan Indonesia pun pernah memiliki presiden perempuan yaitu Ibu Megawati Soekarno Putri.

Sungguh kuno orang-orang yang masih memandang sebelah mata perempuan. Sudah saatnya kita membangun kesadaran akan keadilan gender.

Bahwa perempuan dan Laki-laki memiliki derajat yang sama. Yang satu, tidak menjadi superior bagi yang lain.

Perempuan dan laki-laki dapat saling berjalan beriringan dengan peran masing-masing. Yang satu, tidak lantas menjadi lebih terdepan daripada yang lain.

***

Tulisan ini saya buat setelah mengikuti Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada awal Juli lalu. Data-data yang saya tuliskan bersumber dari pemaparan dalam pelatihan dengan saya tambahkan pemikiran pribadi. Tulisan tentang Kesadaran Gender akan saya buat dalam beberapa bagian, di mana ini adalah bagian pertama.

***



Masih banyak di antara kita yang salah kaprah dalam memahami tentang gender. Acapkali kita, bahkan saya sendiri, menganggap bahwa gender itu sama dengan seks (jenis kelamin, -red) yaitu tentang laki-laki atau perempuan. Padahal gender berbeda dengan seks.

Perbedaan antara Gender dan Seks

Bicara tentang seks, maka sudah jelas yang dibahas adalah tentang  perbedaan bahwa laki-laki memiliki alat kelamin berupa penis, sedangkan perempuan memiliki vagina. (Apakah terlalu vulgar jika saya menuliskan hal ini? Atau bisakah kita samakan persepsi bahwa hal ini sudah menjadi pengetahuan umum?) Sedangkan bicara mengenai gender, berarti kita bicara tentang peran laki-laki dan perempuan.

Seks adalah ciptaan tuhan atau bersifat kodrati. Seks tidak dapat diubah, tidak dapat dipertukarkan dan berlaku sepanjang masa. Misalnya: hamil dan menyusui hanya dapat dilakukan oleh perempuan, tidak dapat digantikan oleh laki-laki. Sebaliknya, membuahi rahim hanya dapat dilakukan oleh laki-laki, tidak dapat dipertukarkan dengan perempuan karena perempuan tidak menghasilkan sperma.

Sementara itu, gender adalah buatan manusia, bukan kodrat, dapat dipertukarkan, dapat berubah, tergantung pada budaya dan waktu. Misalnya, secara budaya laki-laki bertugas bekerja mencari uang, sedangkan perempuan bertugas mengatur rumah tangga di rumah. Kedua peran ini dapat bertukar, perempuan pun dapat bekerja di luar rumah, dan laki-laki juga bisa saja mengatur rumah tangga di rumah.

Gender merupakan pembagian peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Pembagian peran inilah yang kemudian menjadi kebiasaan dan berkembang menjadi tradisi budaya.  Karena telah menjadi tradisi, maka ketika terdapat peran yang tidak lazim seperti contoh di atas: perempuan bekerja sedangkan laki-laki di rumah, akan dianggap aneh, tidak sewajarnya, tidak patut. Padahal sebenarnya sah-sah saja.

Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender pada Perempuan

Permasalahan yang kemudian muncul adalah, masih banyak terjadi ketidakadilan gender di masyarakat kita di mana perempuan menjadi pihak yang dirugikan. Sebut saja ketidakadilan tersebut dalam bentuk-bentuk seperti ini:

1.       Marginalisasi (peminggiran)

“Perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi lah, toh nanti ujung-ujungnya masak di dapur”

Pernah mendengar ungkapan di atas?.

Saya pernah, bahkan sering. Walaupun kalimat tersebut tidak ditujukan untuk saya melainkan untuk sahabat perempuan yang lain. Tapi rasanya.... ah, begitukah jika jadi perempuan?.

Tentu saja TIDAK. Pendidikan adalah hak bagi semua orang, laki-laki maupun perempuan.

Tapi marginalisasi yang dialami perempuan bukan hanya dalam segi pendidikan saja. Kasus lain marginalisasi misalnya: perempuan tidak mendapat warisan, gaji perempuan lebih rendah, atau perempuan bekerja tidak mendapat tunjangan anak. Pernah mengalami kasus seperti ini?.

2.       Subordinasi (penomorduaan)

Perempuan adalah makhluk yang emosional, lebih mendahulukan hati daripada otak.

Nggak logis.
Irasional.
Lemah.
Cengeng.
Nggak mampu jadi pemimpin

Pernahkah pikiran seperti itu terbersit di pikiran kita?.

Jika jawabannya adalah iya, maka saat itu secara halus telah terjadi subordinasi terhadap kaum perempuan. Penomorduaan.

Baik perempuan maupun laki-laki, bukankah setiap insan di dunia ini memiliki kekurangan dan kelebihan?. Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi setiap manusia toh memiliki kesempatan yang sama. Untuk memimpin, misalnya.  Atau untuk berpendapat, misalnya. Dalam setiap aktivitas dan sendi kehidupan, kita semua bisa ambil peran. Kenapa enggak?

3.       Stereotipe (pelabelan)

Perempuan yang merokok, adalah perempuan yang nggak beretika.
Perempuan yang sering pulang malam, adalah perempuan “nggak bener”.
Perempuan memakai baju terbuka, adalah perempuan nakal.

Tapi ketika laki-laki merokok, dianggap jantan.
Ketika laki-laki pulang malam, dianggap biasa.
Ketika laki-laki celana pendek, bahkan tidak memakai baju, dianggap wajar.

Kenapa bisa berbeda?.
Kenapa kita menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya?.
Siapa kita yang kemudian berhak memberikan label pada seseorang?.

Pernah dalam suatu liburan, saya dan saudara-saudara berkumpul di rumah Budhe di Semarang. Di sana ikut juga sepupu perempuan saya yang tinggal di Bandung. Ketika di Semarang, saudara saya tersebut sering menggunakan celana pendek dan tank top. Kenapa?. Karena bagi dia yang terbiasa dengan udara sejuk di Bandung, Semarang terasa panas dan gerah.

Baju, pilihan berpakaian, gaya berpenampilan, ditentukan oleh banyak faktor. Bisa karena selera, kenyamanan, atau bahkan lingkungan. Terlalu naif jika kita berstigma negatif hanya karena apa yang dikenakan oleh seseorang.

Saya, ketika kuliah dulu aktif dalam organisasi. Seringkali saya dan kawan-kawan rapat hingga malam. Bahkan, pernah kami pulang rapat pukul 2 pagi karena harus mendiskusikan program kerja penting yang akan dilaksanakan. Apakah karena saya pulang malam lantas seketika saya menjadi perempuan yang tidak baik?.
4.       Kekerasan

Kasus kekerasan acapkali menimpa perempuan, baik itu kekerasan fisik, psikis bahkan kekerasan seksual.

Kekerasan fisik dapat berupa perlakuan kasar secara fisik kepada perempuan, misalnya: pemukulan.

Berbeda dengan kekerasan fisik, kekerasan psikis menyerang bagian mental, bisa dengan kata-kata kasar, penghinaan, perlakuan yang tidak menyenangkan juga termasuk kekerasan psikis.

Sementara itu, kekerasan seksual dapat terjadi sekalipun dalam ikatan pernikahan. Dalam lembaga perkawinan, tetap memungkinkan terjadinya “perkosaan” atau pemaksaan hubungan seksual.  Penyimpangan seksual yang tidak lazim dan tidak dilakukan secara semestinya oleh salah satu pihak kepada pasangan bisa termasuk dalam kategori kekerasan.

5.       Beban ganda

Perempuan memiliki beban kerja ganda, yaitu pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan di luar rumah.

Ketika seorang laki-laki bekerja, maka ya sudah, pekerjaannya hanya sebatas di tempat kerja. Akan tetapi, ketika seorang perempuan bekerja, ia memiliki beban pekerjaan ganda: satu, di tempat kerja, dan dua, pekerjaan di rumah.

Saya sendiri pun merasakannya, walaupun dalam batas yang sangat bisa ditolerir. Saya bekerja. Di sekolah, saya melaksanakan tugas-tugas mengajar seorang guru. Di rumah, saya mengerjakan pekerjaan rumah seperti membereskan rumah, memasak, dan tugas rumah tangga lainnya. Tapi hal itu saya lakukan dengan senang hati dan kesadaran penuh bahwa saya ingin rumah dalam keadaan baik selalu. Satu hal yang membesarkan hati saya adalah bahwa suami mau ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Saya menyapu, suami mengepel lantai. Saya memasak, suami mencuci piring. Kerja sama.

Tapi di luar sana...?

---

Memang bukan berarti ketidakadilan gender ini menimpa semua perempuan di negeri ini. Saya, mungkin termasuk yang beruntung karena tumbuh dan dikelilingi lingkungan yang tidak timpang sebelah antara laki-laki dan perempuan. Namun kita tidak dapat menutup mata bahwa di luar sana masih banyak jumlah perempuan yang mengalami ketidakadilan seperti yang saya tuliskan di atas.

Sekarang sudah tengah tahun 2018, sudah bukan masanya lagi perempuan dianggap hanya sebagai “konco wingking” bagi laki-laki. Sudah banyak tokoh perempuan Indonesia yang telah berprestasi, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. Sebut saja Ibu Sri Mulyani yang telah berkiprah menjadi salah satu dari Direktur Pelaksana di World Bank. Ibu Susi Pudjiastuti yang kini mengemban amanah sebagai menteri perikanan. Ibu Risma sebagai walikota yang disegani oleh masyarakat Surabaya. Bahkan Indonesia pun pernah memiliki presiden perempuan yaitu Ibu Megawati Soekarno Putri.

Sungguh kuno orang-orang yang masih memandang sebelah mata perempuan. Sudah saatnya kita membangun kesadaran akan keadilan gender.

Bahwa perempuan dan Laki-laki memiliki derajat yang sama. Yang satu, tidak menjadi superior bagi yang lain.

Perempuan dan laki-laki dapat saling berjalan beriringan dengan peran masing-masing. Yang satu, tidak lantas menjadi lebih terdepan daripada yang lain.

***

Tulisan ini saya buat setelah mengikuti Pelatihan Jurnalisme Sensitif Gender bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada awal Juli lalu. Data-data yang saya tuliskan bersumber dari pemaparan dalam pelatihan dengan saya tambahkan pemikiran pribadi. Tulisan tentang Kesadaran Gender akan saya buat dalam beberapa bagian, di mana ini adalah bagian pertama.

***


Saturday, July 7, 2018

, ,

Mengenal Hafidz Qur’an Cilik dari Rumah Syaamil Qur’an Sleman



Selama Ramadhan kemarin, aku suka menonton acara Hafidz Indonesia di salah satu stasiun TV di Indonesia. Betapa hebat anak dan orang tua yang telah mendidik putra-putrinya tersebut. Anak-anak yang masih berusia belia sudah begitu fasih bahkan hafal kandungan ayat dalam Al-Qur’an. Seketika berkaca pada diri sendiri yang pada usia segini justru masih jauh dari hal itu.

Namun, jika biasanya aku hanya melihat para hafidz dan hafidzah cilik di televisi, kemarin aku berkesempatan untuk bertemu langsung. Memang bukan bertemu dengan peserta Hafidz Indonesia di televisi, tapi bertemu dengan para penghafal Al-Qur’an cilik beserta orang tua di Rumah Syaamil Qur’an Sleman. Kamis (5/7) pagi itu akan ada kegiatan ceremonial penyerahan Hadiah Juara Umum Lomba MTQ Syaamil Qur’an yang dimenangkan oleh Rumah Syaamil Qur’an Sleman.

Tak kalah dengan mereka yang tampil di TV, anak-anak di sini pun walaupun usianya masih kecil namun sudah akrab dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ada yang di usia yang baru 2,5 tahun sudah ikut kajian tahfidz bersama ibunya. Ada pula yang berusia 9 tahun sudah hafal 7 juz. 

Salah satu yang menarik perhatianku adalah seorang anak laki-laki dan ayahnya yang kompak mengenakan baju koko warna hijau. Ia adalah dek Dandan Nir Ruasji, yang pada MTQ Syaamil Qur’an lalu menjadi juara 1 lomba video murottal kategori anak. Dek Dandan lebih banyak diam selama acara, tapi ketika maju membacakan tartil Al-Qur’an, masya Allah merdu suaranya.



Lomba MTQ Syaamil Qur’an

Lomba MTQ Syaamil Qur’an sendiri merupakan kegiatan perlombaan MTQ tingkat nasional yang diadakan oleh perusahaan penerbitan Qur’an: PT Sygma Examedia Arkanleema atau Syaamil Qur’an. Pesertanya berasal dari seluruh perwakilan Rumah Syaamil Qur’an se Indonesia yang seluruhnya berjumlahnya 141 pada saat ini. Sasaran target peserta pada program ini adalah anak usia SD, SMP dan SMA. Hal ini dilakukan karena Syaamil Qur’an ingin generasi muda saat ini menjadi generasi muda yang Qur’ani, berprestasi serta semakin mencintai Al-Qur’an.

Tahun 2018 menjadi kali pertama diadakannya kegiatan lomba MTQ Syaamil. Perlombaan yang diusung yaitu lomba video murottal dalam 2 kategori: kategori anak dan remaja. Periode perlombaan telah dilaksanakan sejak tanggal 17 Mei hingga 10 Juni 2018.

Besarnya antusiasme peserta terbukti dengan jumlah peserta yang mencapai 163 peserta, dengan rincian 134 peserta kategori anak dan 29 peserta kategori remaja. Tepat pada tanggal 25 Juni 2018 pemenang lomba diumumkan. Berikut ini daftar para juara lomba MTQ Syaamil:

Kategori Anak
Juara 1: Dandan Nir Ruasji, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Sleman
Juara 2: Salsabiila Tirta Adyani, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Sukoharjo
Juara 3: Melkya Khailana Tantri, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Sampang

Kategori Remaja
Juara 1: M. Aziden Herlambang, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Malang
Juara 2: Hajratun Nisa’, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Tebing Tinggi
Juara 3: Muhammad Hanif Ibadurrahman, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Panghegar

Video Kreatif
Juara: Rumah Syaamil Qur’an Sleman (Ibu Rully Theristawati)

Juara Umum: Rumah Syaamil Qur’an Sleman (Ibu Rully Theristawati)



Rumah Syaamil Qur’an Sleman




Ketika ada pemikiran masyarakat, "Saya mau belajar quran, di mana ya?"
Rumah Syaamil Qur'an menjadi jawabannya.

Rumah Syaamil Qur’an Sleman sendiri merupakan salah satu dari 141 Rumah Syaamil Qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia. Rumah Syaamil Qur’an awalnya memiliki fungsi utama sebagai salah satu outlet resmi distributor produk Syaamil Qur’an. Namun di samping itu, Rumah Syaamil Qur’an juga memegang amanah untuk melaksanakan program-program pembelajaran Al-Qur’an, seperti: baca, tulis, hafal, tafsir serta kajian Al-Qur’an.

Rumah Syaamil Qur’an Sleman yang diprakarsai oleh Ibu Ully Theristawati pun juga mengadakan kegiatan pembelajaran Al-Qur’an yaitu:

Tabuba (Tahfidz Ibu dan Balita) untuk Ibu beserta putra-putri balitanya

Talia (Tahfidz Belia) untuk anak-anak usia 6-12 tahun, dan

Tamimah (Tahfidz dan Tahsin Muslimah).



Program andalan dari Rumah Syaamil Qur’an Sleman adalah Tabuba yang dilaksanakan 2x dalam satu minggu. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu ibu dan anak balitanya untuk menghafal Al-Qur’an. Jadi tak hanya anak saja yang belajar tahfidz Al-Qur’an, namun sang ibu juga wajib mendampingi. Program Tabuba memiliki proses pembelajaran sebagai berikut:

Bagi balita, pembelajaran yang dilaksanakan berupa kegiatan talaqi mulai juz 30, belajar huruf Hijaiyyah, membaca Qur’an question dan answer.

Bagi orang tua, pembelajaran tak hanya membaca Al-Qur’an melainkan juga adanya diskusi materi seputar manajemen kerumahtanggaan dan parenting.

Ketika kemarin aku dan teman-teman berkunjung ke RSQ Sleman, kami pun diajak untuk ikut melihat jalannya kegiatan Tabuba dan Talia. Di program Tabuba, adek-adek yang memang masih di usia balita terlihat sangat aktif beraktivitas ke sana ke mari. Ada cara tersendiri supaya bisa mengajak mereka untuk duduk mengikuti proses pembelajaran tahfidz.

A little intermezzo. Aku belajar dari bu Ully cara menghadapi anak yang "rewel" (sebenarnya bukan rewel juga sih, tapi membujuk anak yang ogah-ogahan mengikuti perintah orang tua). Alih-alih memarahi anak supaya menurut, ternyata anak akan lebih mudah manut dengan cara dipeluk lalu. beritahu dengan bisikan yang lembut di dekat telinga supaya mereka mendengarkan.

Namanya juga anak-anak balita, moodnya kadang tak menentu. Kebetulan kemarin saat aku ke sana, adek-adek program Tabuba sedang tidak dalam mood yang baik untuk memulai kajian tahfidz. Maka kegiatan pembelajaran pun dialihkan dengan orang tua membacakan buku cerita islami dan diselipi dengan materi do'a atau penggalan ayat Al-Qur'an yang sesuai dengan cerita yang sedang djbaca. Anak-anak pun tetap dapat belajat dengan gembira


Sedangkan untuk program Talia, karena anak-anak yang mengikuti program ini usianya sudah lebih besar maka mereka pun lebih mudah dikondisikan untuk belajar. Hasil belajar Al-Qur'an nya tidak main-main. Di usia belia mereka sudah fasih membaca Al-Qur'an, bahkan sudah menghafal beberapa juz. Masya Allah.

Bergaul dengan penjual minyak wangi, berharap mendapat bau harumnya.

Bergaul dengan sholeh-sholehah hafidz-hafidzah ini, semoga juga ikut mendapat kebaikan. Aamiin aamiin yaarabbalalamin.

Rumah Syamil Qur’an
Instagram: @syaamil_quran 



Selama Ramadhan kemarin, aku suka menonton acara Hafidz Indonesia di salah satu stasiun TV di Indonesia. Betapa hebat anak dan orang tua yang telah mendidik putra-putrinya tersebut. Anak-anak yang masih berusia belia sudah begitu fasih bahkan hafal kandungan ayat dalam Al-Qur’an. Seketika berkaca pada diri sendiri yang pada usia segini justru masih jauh dari hal itu.

Namun, jika biasanya aku hanya melihat para hafidz dan hafidzah cilik di televisi, kemarin aku berkesempatan untuk bertemu langsung. Memang bukan bertemu dengan peserta Hafidz Indonesia di televisi, tapi bertemu dengan para penghafal Al-Qur’an cilik beserta orang tua di Rumah Syaamil Qur’an Sleman. Kamis (5/7) pagi itu akan ada kegiatan ceremonial penyerahan Hadiah Juara Umum Lomba MTQ Syaamil Qur’an yang dimenangkan oleh Rumah Syaamil Qur’an Sleman.

Tak kalah dengan mereka yang tampil di TV, anak-anak di sini pun walaupun usianya masih kecil namun sudah akrab dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ada yang di usia yang baru 2,5 tahun sudah ikut kajian tahfidz bersama ibunya. Ada pula yang berusia 9 tahun sudah hafal 7 juz. 

Salah satu yang menarik perhatianku adalah seorang anak laki-laki dan ayahnya yang kompak mengenakan baju koko warna hijau. Ia adalah dek Dandan Nir Ruasji, yang pada MTQ Syaamil Qur’an lalu menjadi juara 1 lomba video murottal kategori anak. Dek Dandan lebih banyak diam selama acara, tapi ketika maju membacakan tartil Al-Qur’an, masya Allah merdu suaranya.



Lomba MTQ Syaamil Qur’an

Lomba MTQ Syaamil Qur’an sendiri merupakan kegiatan perlombaan MTQ tingkat nasional yang diadakan oleh perusahaan penerbitan Qur’an: PT Sygma Examedia Arkanleema atau Syaamil Qur’an. Pesertanya berasal dari seluruh perwakilan Rumah Syaamil Qur’an se Indonesia yang seluruhnya berjumlahnya 141 pada saat ini. Sasaran target peserta pada program ini adalah anak usia SD, SMP dan SMA. Hal ini dilakukan karena Syaamil Qur’an ingin generasi muda saat ini menjadi generasi muda yang Qur’ani, berprestasi serta semakin mencintai Al-Qur’an.

Tahun 2018 menjadi kali pertama diadakannya kegiatan lomba MTQ Syaamil. Perlombaan yang diusung yaitu lomba video murottal dalam 2 kategori: kategori anak dan remaja. Periode perlombaan telah dilaksanakan sejak tanggal 17 Mei hingga 10 Juni 2018.

Besarnya antusiasme peserta terbukti dengan jumlah peserta yang mencapai 163 peserta, dengan rincian 134 peserta kategori anak dan 29 peserta kategori remaja. Tepat pada tanggal 25 Juni 2018 pemenang lomba diumumkan. Berikut ini daftar para juara lomba MTQ Syaamil:

Kategori Anak
Juara 1: Dandan Nir Ruasji, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Sleman
Juara 2: Salsabiila Tirta Adyani, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Sukoharjo
Juara 3: Melkya Khailana Tantri, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Sampang

Kategori Remaja
Juara 1: M. Aziden Herlambang, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Malang
Juara 2: Hajratun Nisa’, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Tebing Tinggi
Juara 3: Muhammad Hanif Ibadurrahman, perwakilan Rumah Syaamil Qur’an Panghegar

Video Kreatif
Juara: Rumah Syaamil Qur’an Sleman (Ibu Rully Theristawati)

Juara Umum: Rumah Syaamil Qur’an Sleman (Ibu Rully Theristawati)



Rumah Syaamil Qur’an Sleman




Ketika ada pemikiran masyarakat, "Saya mau belajar quran, di mana ya?"
Rumah Syaamil Qur'an menjadi jawabannya.

Rumah Syaamil Qur’an Sleman sendiri merupakan salah satu dari 141 Rumah Syaamil Qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia. Rumah Syaamil Qur’an awalnya memiliki fungsi utama sebagai salah satu outlet resmi distributor produk Syaamil Qur’an. Namun di samping itu, Rumah Syaamil Qur’an juga memegang amanah untuk melaksanakan program-program pembelajaran Al-Qur’an, seperti: baca, tulis, hafal, tafsir serta kajian Al-Qur’an.

Rumah Syaamil Qur’an Sleman yang diprakarsai oleh Ibu Ully Theristawati pun juga mengadakan kegiatan pembelajaran Al-Qur’an yaitu:

Tabuba (Tahfidz Ibu dan Balita) untuk Ibu beserta putra-putri balitanya

Talia (Tahfidz Belia) untuk anak-anak usia 6-12 tahun, dan

Tamimah (Tahfidz dan Tahsin Muslimah).



Program andalan dari Rumah Syaamil Qur’an Sleman adalah Tabuba yang dilaksanakan 2x dalam satu minggu. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu ibu dan anak balitanya untuk menghafal Al-Qur’an. Jadi tak hanya anak saja yang belajar tahfidz Al-Qur’an, namun sang ibu juga wajib mendampingi. Program Tabuba memiliki proses pembelajaran sebagai berikut:

Bagi balita, pembelajaran yang dilaksanakan berupa kegiatan talaqi mulai juz 30, belajar huruf Hijaiyyah, membaca Qur’an question dan answer.

Bagi orang tua, pembelajaran tak hanya membaca Al-Qur’an melainkan juga adanya diskusi materi seputar manajemen kerumahtanggaan dan parenting.

Ketika kemarin aku dan teman-teman berkunjung ke RSQ Sleman, kami pun diajak untuk ikut melihat jalannya kegiatan Tabuba dan Talia. Di program Tabuba, adek-adek yang memang masih di usia balita terlihat sangat aktif beraktivitas ke sana ke mari. Ada cara tersendiri supaya bisa mengajak mereka untuk duduk mengikuti proses pembelajaran tahfidz.

A little intermezzo. Aku belajar dari bu Ully cara menghadapi anak yang "rewel" (sebenarnya bukan rewel juga sih, tapi membujuk anak yang ogah-ogahan mengikuti perintah orang tua). Alih-alih memarahi anak supaya menurut, ternyata anak akan lebih mudah manut dengan cara dipeluk lalu. beritahu dengan bisikan yang lembut di dekat telinga supaya mereka mendengarkan.

Namanya juga anak-anak balita, moodnya kadang tak menentu. Kebetulan kemarin saat aku ke sana, adek-adek program Tabuba sedang tidak dalam mood yang baik untuk memulai kajian tahfidz. Maka kegiatan pembelajaran pun dialihkan dengan orang tua membacakan buku cerita islami dan diselipi dengan materi do'a atau penggalan ayat Al-Qur'an yang sesuai dengan cerita yang sedang djbaca. Anak-anak pun tetap dapat belajat dengan gembira


Sedangkan untuk program Talia, karena anak-anak yang mengikuti program ini usianya sudah lebih besar maka mereka pun lebih mudah dikondisikan untuk belajar. Hasil belajar Al-Qur'an nya tidak main-main. Di usia belia mereka sudah fasih membaca Al-Qur'an, bahkan sudah menghafal beberapa juz. Masya Allah.

Bergaul dengan penjual minyak wangi, berharap mendapat bau harumnya.

Bergaul dengan sholeh-sholehah hafidz-hafidzah ini, semoga juga ikut mendapat kebaikan. Aamiin aamiin yaarabbalalamin.

Rumah Syamil Qur’an
Instagram: @syaamil_quran 

Wednesday, July 4, 2018

, ,

Review Mezzanine Eatery and Coffee, Tempat Makan Unik Ala Rumah Kaca

 Mezzanine Eatery & Coffee

Jalan Palagan memang surganya tempat makan tematik. Tempat makan dengan berbagai konsep dan karakter seolah ada semua di sini. Mulai dari seafood sampai street food ada. Kuliner Jogja hingga kuliner mancanegara, ada. Konsep tempat makan berbentuk rumah Joglo hingga rumah kaca pun ada.

Mezzanine Eatery and Coffee

Adalah Mezzanine Eatery and Coffee, tempat makan yang terbilang cukup baru ini memiliki konsep unik yang berbeda dari tempat makan lain. Usianya belum genap setahun sejak soft launching pada 27 November 2017 lalu. Mengusung konsep greenhouse dan industrial pop art, Mezzanine berbentuk seperti layaknya rumah kaca yang sering kita lihat. Bangunannya berdiri dengan rangka baja ringan berdinding kaca dengan sentuhan tanaman di dalam ruangan dan artistik mural. Honestly, ini pertama kalinya lho aku ketemu tempat makan dengan implementasi rumah kaca asli. Apa piknikku yang kurang jauh?

Lokasi dan Jam Operasional

Mezzanine berlokasi di Jalan Palagan, tepatnya di Jalan Palagan km 8. Tak sulit menemukan Mezzanine, karena bentuk bangunannya yang full kaca terlihat kontras dengan bangunan lain di sekitarnya. Tersedia tempat parkir yang luas, untuk parkir mobil bisa juga menggunakan area parkir khusus tepat di seberang bangunan resto.



Jam Operasional
Senin – Kamis: 9.00 – 23.00
Jumat – Sabtu: 9.00 – 24.00

Available on Go-Food for sure.

Tempat yang Eye Catching dan Instagrammable


Dari luar, daya tarik utama Mezzanine tentu pada bentuk rumah kacanya. Namun, tak hanya itu saja. Ketika masuk ke dalam, kita akan mendapati berbagai interest dalam 1 tempat. Bagi penggemar tanaman, mural dan seni, akan dimanjakan dengan suasana tempat di sini.

Pohon-pohon Pule asli, dalam ukuran sebenarnya, menghiasi sudut-sudut ruangan. Peran tirai pun digantikan dengan tumbuhan hidup yaitu tanaman Lee Kuan Yew yang bentuknya menjuntai manja *tsah. Bahkan ada pula yang menggunakan sayuran seperti seledri hingga kangkung untuk menutupi dinding-dinding kaca. Tanaman-tanaman ini bikin ruangan jadi lebih sejuk walaupun di dalam tidak menggunakan AC.

Asri yah

Selain tanaman, Mezzanine juga sarat sentuhan mural dan seni. Dinding-dindingnya dipenuhi coretan mural. Karya-karya seni ditata apik menjadi dekorasi. Bagi yang pernah mengunjungi Art Jog, akan menemukan karya seni yang pernah ditampilkan di sana dan kini dapat kita temui di Mezzanine.



Jangan lewatkan kesempatan untuk foto-foto atau selfie di sini karena tempatnya kece banget. Kata orang nih, instagrammable. Signature spot dari Mezzanine yaitu sangkar merah ini. Hihi, lucu kan.

Iconic spot of Mezzanine: Sangkar Merah.
Mezzanine memiliki area yang luas dalam 2 lantai. Tak jarang Mezzanine dijadikan tempat meeting skala kecil hingga menengah. Tersedia beberapa pilihan meeting room lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan seperti sound system, proyektor, stage, dll. Mulai dari area kaca yang muat 15 orang,  private room dengan latar pemandangan sawah untuk 25 orang, meeting room khusus non smoking room berkapasitas 45 orang, hingga stage area untuk 150 orang.

Area kaca di lantai 2

Non-smoking meeting room di lantai 2

Stage area

Menu dan Harga: Drink, Finger Food, Western Food, Asian Food, Special Rice Box

Petite Beef Tenderloin
Pertama kali ke Mezzanine, aku mendapati daftar menu yang didominasi oleh menu western seperti steak, pasta, soup, dll. Tapi saat kali kedua di akhir bulan Juni ini, ternyata ada varian menu baru dengan cita rasa Indonesian. Sebut saja ada tambahan menu ragam varian nasi goreng seperti nasi goreng buntut, lalu ada udang bakar pedas manis, beef tenderloin satay, dan sop iga kacang merah.

Udang Cumi Saus Pedas
Di samping menu main course atau makan besar, Mezzanine juga menyediakan menu salad, soup, dan finger foods alias makanan kecil. Oh iya ada satu lagi yang nggak boleh ketinggalan: gelato. Untuk pilihan menu minuman juga tak kalah banyak, ada teh, kopi, jus, smoothie, hingga beer (yang terakhir ini fyi aja sih, aku mah nggak ikut-ikutan).

Range harga minuman berkisar antara belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah. Sedangkan untuk makanan dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Daftar menu dan harga Mezzanine yang lengkap aku share di bawah ya.

Berikut ini beberapa menu baru dan menu unggulan Mezzanine

Western



Chicken Breast and Pasta

Brown Crostini with Sauted Mushroom, Onion and Arugula. Good for vegetarian.

Asian

Beef Tenderloin Satay



Drink

Strawberry Mojito

Tutti Fruit Tea

Blueberry Smoothie

Mezzabox, Spesial Go-Food Menu

Ada 9 menu Mezzabox yang bisa kita pesan: fish and chips, calamary, chicken five spice, tuna aglio, dan lainnya. Seperti namanya, menu spesial go-food ini hanya tersedia untuk pemesanan melalui aplikasi Gojek. Jadi jangan cari menu rice box untuk dine-in, nggak nemu nanti. Huehue.

Calamary

Chicken Five Spice

Tuna Aglio

Promo dan Event

Untuk kalangan anak muda Jogja, Mezzanine menghadirkan berbagai program menarik seperti regular live music setiap hari Jumat. Selain itu, Mezzanine juga rutin mengadakan event 2 bulanan yang menampilkan performance band atau talent dari ibukota. Event tersebut telah dimulai sejak bulan Januari, Maret, Mei dan akan ada lagi tanggal 24 Juli ini dengan bintang tamu The Virgin dan Braves Boy.


Tidak ada HTM khusus untuk menonton performance ini, hanya saja untuk dapat masuk ke stage area kita perlu reservasi dulu dengan memesan makanan atau minuman dengan minimum harga yang telah ditentukan (misal: Rp 100.000). Pengunjung di stage area pada saat ada event pun dibatasi hanya sekitar 150 orang.

Review

Dari segi tempat, Mezzanine ini “lucu”, kece, dan cozy asli. Konsep rumah kacanya niat banget. Tapi karena nggak ber-AC (AC hanya ada di ruangan-ruangan tertentu), alangkah baiknya kamu make sure cari tempat duduk yang sejuk supaya lebih nyaman dan nggak kepanasan terutama saat siang hari. Sekedar berjaga-jaga walaupun telah disediakan kipas angin sebagai penyejuk udara.

Dari segi rasa, makanan dan minumannya nggak ada yang failed, everything is delicious here. Dengan catatan, makanan di sini tastenya western oriented ya, kalaupun ada menu sate ya jangan dibayangin rasa sate yang so tasty ala Indonesian. Menu nya pun variatif dan up to date. Aku seneng banget nemu Ice Latte (yang kopi dibekukan jadi es terus cara minumnya dicampur susu) di sini. Dulu pernah lihat menu kayak gini di Jakarta, tapi di Jogja belum pernah cobain.

Ice Latte

Dari segi harga, memang cukup pricey (at least for me, sobat missqueen mana suaranyaaa??). Tapi kalo Cuma buat sesekali cobain, masih shanggup lah. Crew dan service nya so good pula. Oh iya, setiap pesanan kita dikenakan pajak ya.

Boleh lah coba ke sini. Worth to try. 

Daftar Menu Mezzanine












Mezzanine Coffee & Eatery Jogja
Jalan Palagan Tentara Pelajar km 8, Ngaglik, Sleman
Instagram: @mezzanine.jogja
 Mezzanine Eatery & Coffee

Jalan Palagan memang surganya tempat makan tematik. Tempat makan dengan berbagai konsep dan karakter seolah ada semua di sini. Mulai dari seafood sampai street food ada. Kuliner Jogja hingga kuliner mancanegara, ada. Konsep tempat makan berbentuk rumah Joglo hingga rumah kaca pun ada.

Mezzanine Eatery and Coffee

Adalah Mezzanine Eatery and Coffee, tempat makan yang terbilang cukup baru ini memiliki konsep unik yang berbeda dari tempat makan lain. Usianya belum genap setahun sejak soft launching pada 27 November 2017 lalu. Mengusung konsep greenhouse dan industrial pop art, Mezzanine berbentuk seperti layaknya rumah kaca yang sering kita lihat. Bangunannya berdiri dengan rangka baja ringan berdinding kaca dengan sentuhan tanaman di dalam ruangan dan artistik mural. Honestly, ini pertama kalinya lho aku ketemu tempat makan dengan implementasi rumah kaca asli. Apa piknikku yang kurang jauh?

Lokasi dan Jam Operasional

Mezzanine berlokasi di Jalan Palagan, tepatnya di Jalan Palagan km 8. Tak sulit menemukan Mezzanine, karena bentuk bangunannya yang full kaca terlihat kontras dengan bangunan lain di sekitarnya. Tersedia tempat parkir yang luas, untuk parkir mobil bisa juga menggunakan area parkir khusus tepat di seberang bangunan resto.



Jam Operasional
Senin – Kamis: 9.00 – 23.00
Jumat – Sabtu: 9.00 – 24.00

Available on Go-Food for sure.

Tempat yang Eye Catching dan Instagrammable


Dari luar, daya tarik utama Mezzanine tentu pada bentuk rumah kacanya. Namun, tak hanya itu saja. Ketika masuk ke dalam, kita akan mendapati berbagai interest dalam 1 tempat. Bagi penggemar tanaman, mural dan seni, akan dimanjakan dengan suasana tempat di sini.

Pohon-pohon Pule asli, dalam ukuran sebenarnya, menghiasi sudut-sudut ruangan. Peran tirai pun digantikan dengan tumbuhan hidup yaitu tanaman Lee Kuan Yew yang bentuknya menjuntai manja *tsah. Bahkan ada pula yang menggunakan sayuran seperti seledri hingga kangkung untuk menutupi dinding-dinding kaca. Tanaman-tanaman ini bikin ruangan jadi lebih sejuk walaupun di dalam tidak menggunakan AC.

Asri yah

Selain tanaman, Mezzanine juga sarat sentuhan mural dan seni. Dinding-dindingnya dipenuhi coretan mural. Karya-karya seni ditata apik menjadi dekorasi. Bagi yang pernah mengunjungi Art Jog, akan menemukan karya seni yang pernah ditampilkan di sana dan kini dapat kita temui di Mezzanine.



Jangan lewatkan kesempatan untuk foto-foto atau selfie di sini karena tempatnya kece banget. Kata orang nih, instagrammable. Signature spot dari Mezzanine yaitu sangkar merah ini. Hihi, lucu kan.

Iconic spot of Mezzanine: Sangkar Merah.
Mezzanine memiliki area yang luas dalam 2 lantai. Tak jarang Mezzanine dijadikan tempat meeting skala kecil hingga menengah. Tersedia beberapa pilihan meeting room lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan seperti sound system, proyektor, stage, dll. Mulai dari area kaca yang muat 15 orang,  private room dengan latar pemandangan sawah untuk 25 orang, meeting room khusus non smoking room berkapasitas 45 orang, hingga stage area untuk 150 orang.

Area kaca di lantai 2

Non-smoking meeting room di lantai 2

Stage area

Menu dan Harga: Drink, Finger Food, Western Food, Asian Food, Special Rice Box

Petite Beef Tenderloin
Pertama kali ke Mezzanine, aku mendapati daftar menu yang didominasi oleh menu western seperti steak, pasta, soup, dll. Tapi saat kali kedua di akhir bulan Juni ini, ternyata ada varian menu baru dengan cita rasa Indonesian. Sebut saja ada tambahan menu ragam varian nasi goreng seperti nasi goreng buntut, lalu ada udang bakar pedas manis, beef tenderloin satay, dan sop iga kacang merah.

Udang Cumi Saus Pedas
Di samping menu main course atau makan besar, Mezzanine juga menyediakan menu salad, soup, dan finger foods alias makanan kecil. Oh iya ada satu lagi yang nggak boleh ketinggalan: gelato. Untuk pilihan menu minuman juga tak kalah banyak, ada teh, kopi, jus, smoothie, hingga beer (yang terakhir ini fyi aja sih, aku mah nggak ikut-ikutan).

Range harga minuman berkisar antara belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah. Sedangkan untuk makanan dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Daftar menu dan harga Mezzanine yang lengkap aku share di bawah ya.

Berikut ini beberapa menu baru dan menu unggulan Mezzanine

Western



Chicken Breast and Pasta

Brown Crostini with Sauted Mushroom, Onion and Arugula. Good for vegetarian.

Asian

Beef Tenderloin Satay



Drink

Strawberry Mojito

Tutti Fruit Tea

Blueberry Smoothie

Mezzabox, Spesial Go-Food Menu

Ada 9 menu Mezzabox yang bisa kita pesan: fish and chips, calamary, chicken five spice, tuna aglio, dan lainnya. Seperti namanya, menu spesial go-food ini hanya tersedia untuk pemesanan melalui aplikasi Gojek. Jadi jangan cari menu rice box untuk dine-in, nggak nemu nanti. Huehue.

Calamary

Chicken Five Spice

Tuna Aglio

Promo dan Event

Untuk kalangan anak muda Jogja, Mezzanine menghadirkan berbagai program menarik seperti regular live music setiap hari Jumat. Selain itu, Mezzanine juga rutin mengadakan event 2 bulanan yang menampilkan performance band atau talent dari ibukota. Event tersebut telah dimulai sejak bulan Januari, Maret, Mei dan akan ada lagi tanggal 24 Juli ini dengan bintang tamu The Virgin dan Braves Boy.


Tidak ada HTM khusus untuk menonton performance ini, hanya saja untuk dapat masuk ke stage area kita perlu reservasi dulu dengan memesan makanan atau minuman dengan minimum harga yang telah ditentukan (misal: Rp 100.000). Pengunjung di stage area pada saat ada event pun dibatasi hanya sekitar 150 orang.

Review

Dari segi tempat, Mezzanine ini “lucu”, kece, dan cozy asli. Konsep rumah kacanya niat banget. Tapi karena nggak ber-AC (AC hanya ada di ruangan-ruangan tertentu), alangkah baiknya kamu make sure cari tempat duduk yang sejuk supaya lebih nyaman dan nggak kepanasan terutama saat siang hari. Sekedar berjaga-jaga walaupun telah disediakan kipas angin sebagai penyejuk udara.

Dari segi rasa, makanan dan minumannya nggak ada yang failed, everything is delicious here. Dengan catatan, makanan di sini tastenya western oriented ya, kalaupun ada menu sate ya jangan dibayangin rasa sate yang so tasty ala Indonesian. Menu nya pun variatif dan up to date. Aku seneng banget nemu Ice Latte (yang kopi dibekukan jadi es terus cara minumnya dicampur susu) di sini. Dulu pernah lihat menu kayak gini di Jakarta, tapi di Jogja belum pernah cobain.

Ice Latte

Dari segi harga, memang cukup pricey (at least for me, sobat missqueen mana suaranyaaa??). Tapi kalo Cuma buat sesekali cobain, masih shanggup lah. Crew dan service nya so good pula. Oh iya, setiap pesanan kita dikenakan pajak ya.

Boleh lah coba ke sini. Worth to try. 

Daftar Menu Mezzanine












Mezzanine Coffee & Eatery Jogja
Jalan Palagan Tentara Pelajar km 8, Ngaglik, Sleman
Instagram: @mezzanine.jogja