Saturday, December 28, 2019

,

Review Tanya Kopi





Tiap ke coffee shop buat wifian gratis nongki cantik, aku selalu pesen... menu selain kopi. Ehe ehe ehe. Ya monmaap, bukan coffee person akutu.

Pernah suatu waktu gegayaan pesen signature coffee di salah satu coffee shop. Pas ngicip, ya amplopp ternyata kopinya arabica. Wakkk... aku doyannya kopi robusta doang. Salah sendiri sih nggak pake acara tanya dulu. Endingnya kopinya diminum suami, aku pesen lagi menu latte.

Kebalikan dari aku, suami tuh kopi mania.... mantapp.  Hidup dia berasa ada yang kurang kalo sehari aja nggak ngopi.

Ngomong-ngomong soal kopi, sekarang yang namanya coffee shop atau kedai kopi emang lagi hype banget. Keberadaannya menjamur di mana-mana, termasuk di Jogja. Kayak gini nih yang bikin senang, sekaligus bingung. Senang karena jadi punya banyak pilihan. Tapi bingung pilih mau ke mana, soalnya setiap coffee shop punya karakter yang beda-beda. Entah itu konsep tempat, varian menu, atau bahkan rasa dari kopi atau minumannya. Kayaknya semua kok pada lucu-lucu gituu.

Nah, kemarin aku nemu salah satu coffee shop yang oke. Minumannya enak, ada kopi buat Abang, ada non kopi buat aku. Wifi-nya kencang. Harganya ramah di kantong pula. Nama coffee shopnya: Tanya Kopi.

Nongki di Tanya Kopi

Tanya Kopi Jogja

Barangkali ada dari kamu yang belum pernah dengar tentang Tanya Kopi. Tanya Kopi memang terhitung baru. Berumur kurang dari satu tahun, Tanya Kopi berdiri sejak 20 Juli 2019 dan berlokasi di Jalan Lembu Andini Pakuncen, Wirobrajan.



Kedai Tanya Kopi

Meskipun brand Tanya Kopi adalah new comer di circle perkopian Jogja, tapi Tanya Kopi nggak kalah dari kopi-kopi yang lain. Dengan mengusung konsep kopi kekinian express, Tanya Kopi tetap menjunjung kualitas produk. Bahan baku yang digunakan berupa fresh bean sehingga rasa yang dihasilkan dari minumannya menjadi lebih autentik.

Dari segi harga, seperti yang aku bilang di atas, harga yang ditawarkan di sini lebih terjangkau dibandingkan kedai kopi tetangga. Harga satu cup minumannya dibanderol mulai dari Rp 10.000.

Menu Tanya Kopi

Minuman

Buat kamu Tim Kopi, Tanya kopi menyuguhkan variasi berbagai minuman es kopi susu dengan berbagai varian mulai dari es kopi susu ori hingga es kopi susu aren, hazelnut, tiramisu dan karamel.

Es Kopi Susu Aren
  
Nah buat kamu Tim Non Kopi kayak aku, di sini ada berbagai variasi menu diantaranya Matcha, Taro dan Red Velvet.

Kalau lagi pengen yang segar-segar, bisa juga pesan varian Tanya Buah, yaitu fresh juice dan juga minuman segar dengan variasi buah di dalamnya, seperti Orange Juice, Es Lecy tea, Telang tea dll.


Varian Tanya Buah

Kemarin aku cobain 2 varian Tanya Buah terfavorit, yaitu: Sunrise dan Sunset. Sunrise ini perpaduan antara fresh lemon dan fresh orange, menghasilkan rasa asam dan manis. Sedangkan Sunset itu mix strawberry, orange, selasih, dan soda. Sensasi sodanya bikin segar.

Sunset
Sunrise
Makanan

Nah buat kamu Tim Non Kopi kayak aku, di sini ada berbagai variasi menu diantaranya Matcha, Taro dan Red Velvet.

Kalau lagi pengen yang segar-segar, bisa juga pesan varian Tanya Buah, yaitu fresh juice dan juga minuman segar dengan variasi buah di dalamnya, seperti Orange Juice, Es Lecy tea, Telang tea dll.

#InginSegeraBertanya


Satu yang "lucu" dari Tanya Kopi adalah taglinenya: #InginSegeraBertanya 

Apaan tuh?

Sesuai namanya, konsep Tanya Kopi yaitu tentang pertanyaan. Jadi di setiap cup minuman dari Tanya Kopi, ada berbagai pertanyaan yang akan customer terima. Tapi kita sebagai customer nggak tahu kita akan dapat pertanyaan apa. Kayak Pandora Box gitu lho, customer dibuat menebak-nebak pertanyaan apa yang diberikan oleh barista.

Nih kemarin aku dapet pertanyaan yang bikin baper. Kekeke. Buat lucu-lucuan bisa, buat modus juga bisa. Eh.



Nggak cuma itu, pertanyaan ini nggak cuma sekadar pertanyaan. Ada hadiah menarik buat customer yang bisa menjawab berbagai pertanyaan kejutan dari Pandora Box Tanya Kopi dan membagikannya via instastory. Jawaban yang paling unik dan menarik akan mendapat hadiah berupa kopi gratis dari Tanya Kopi setiap minggunya. Mayan banget kan!?. 

Jam operasional: Buka pukul 10 pagi - 10 malam.

OVO Payment 👍
Go-Jek 👍



Lokasi

Jalan Lembu Andini Pakuncen, Wirobrajan. 







Tiap ke coffee shop buat wifian gratis nongki cantik, aku selalu pesen... menu selain kopi. Ehe ehe ehe. Ya monmaap, bukan coffee person akutu.

Pernah suatu waktu gegayaan pesen signature coffee di salah satu coffee shop. Pas ngicip, ya amplopp ternyata kopinya arabica. Wakkk... aku doyannya kopi robusta doang. Salah sendiri sih nggak pake acara tanya dulu. Endingnya kopinya diminum suami, aku pesen lagi menu latte.

Kebalikan dari aku, suami tuh kopi mania.... mantapp.  Hidup dia berasa ada yang kurang kalo sehari aja nggak ngopi.

Ngomong-ngomong soal kopi, sekarang yang namanya coffee shop atau kedai kopi emang lagi hype banget. Keberadaannya menjamur di mana-mana, termasuk di Jogja. Kayak gini nih yang bikin senang, sekaligus bingung. Senang karena jadi punya banyak pilihan. Tapi bingung pilih mau ke mana, soalnya setiap coffee shop punya karakter yang beda-beda. Entah itu konsep tempat, varian menu, atau bahkan rasa dari kopi atau minumannya. Kayaknya semua kok pada lucu-lucu gituu.

Nah, kemarin aku nemu salah satu coffee shop yang oke. Minumannya enak, ada kopi buat Abang, ada non kopi buat aku. Wifi-nya kencang. Harganya ramah di kantong pula. Nama coffee shopnya: Tanya Kopi.

Nongki di Tanya Kopi

Tanya Kopi Jogja

Barangkali ada dari kamu yang belum pernah dengar tentang Tanya Kopi. Tanya Kopi memang terhitung baru. Berumur kurang dari satu tahun, Tanya Kopi berdiri sejak 20 Juli 2019 dan berlokasi di Jalan Lembu Andini Pakuncen, Wirobrajan.



Kedai Tanya Kopi

Meskipun brand Tanya Kopi adalah new comer di circle perkopian Jogja, tapi Tanya Kopi nggak kalah dari kopi-kopi yang lain. Dengan mengusung konsep kopi kekinian express, Tanya Kopi tetap menjunjung kualitas produk. Bahan baku yang digunakan berupa fresh bean sehingga rasa yang dihasilkan dari minumannya menjadi lebih autentik.

Dari segi harga, seperti yang aku bilang di atas, harga yang ditawarkan di sini lebih terjangkau dibandingkan kedai kopi tetangga. Harga satu cup minumannya dibanderol mulai dari Rp 10.000.

Menu Tanya Kopi

Minuman

Buat kamu Tim Kopi, Tanya kopi menyuguhkan variasi berbagai minuman es kopi susu dengan berbagai varian mulai dari es kopi susu ori hingga es kopi susu aren, hazelnut, tiramisu dan karamel.

Es Kopi Susu Aren
  
Nah buat kamu Tim Non Kopi kayak aku, di sini ada berbagai variasi menu diantaranya Matcha, Taro dan Red Velvet.

Kalau lagi pengen yang segar-segar, bisa juga pesan varian Tanya Buah, yaitu fresh juice dan juga minuman segar dengan variasi buah di dalamnya, seperti Orange Juice, Es Lecy tea, Telang tea dll.


Varian Tanya Buah

Kemarin aku cobain 2 varian Tanya Buah terfavorit, yaitu: Sunrise dan Sunset. Sunrise ini perpaduan antara fresh lemon dan fresh orange, menghasilkan rasa asam dan manis. Sedangkan Sunset itu mix strawberry, orange, selasih, dan soda. Sensasi sodanya bikin segar.

Sunset
Sunrise
Makanan

Nah buat kamu Tim Non Kopi kayak aku, di sini ada berbagai variasi menu diantaranya Matcha, Taro dan Red Velvet.

Kalau lagi pengen yang segar-segar, bisa juga pesan varian Tanya Buah, yaitu fresh juice dan juga minuman segar dengan variasi buah di dalamnya, seperti Orange Juice, Es Lecy tea, Telang tea dll.

#InginSegeraBertanya


Satu yang "lucu" dari Tanya Kopi adalah taglinenya: #InginSegeraBertanya 

Apaan tuh?

Sesuai namanya, konsep Tanya Kopi yaitu tentang pertanyaan. Jadi di setiap cup minuman dari Tanya Kopi, ada berbagai pertanyaan yang akan customer terima. Tapi kita sebagai customer nggak tahu kita akan dapat pertanyaan apa. Kayak Pandora Box gitu lho, customer dibuat menebak-nebak pertanyaan apa yang diberikan oleh barista.

Nih kemarin aku dapet pertanyaan yang bikin baper. Kekeke. Buat lucu-lucuan bisa, buat modus juga bisa. Eh.



Nggak cuma itu, pertanyaan ini nggak cuma sekadar pertanyaan. Ada hadiah menarik buat customer yang bisa menjawab berbagai pertanyaan kejutan dari Pandora Box Tanya Kopi dan membagikannya via instastory. Jawaban yang paling unik dan menarik akan mendapat hadiah berupa kopi gratis dari Tanya Kopi setiap minggunya. Mayan banget kan!?. 

Jam operasional: Buka pukul 10 pagi - 10 malam.

OVO Payment 👍
Go-Jek 👍



Lokasi

Jalan Lembu Andini Pakuncen, Wirobrajan. 



Monday, December 23, 2019

, ,

Merawat Kesehatan Diri Saat Kondisi Hamil Dengan Konsumsi Vitamin

Saat dalam kondisi hamil, seorang wanita memang harus menjaga kondisi tubuhnya dengan sebaik mungkin. Hal yang paling harus dijaga salah satunya adalah menjaga asupan gizi dan juga nutrisi selama masa kehamilannya. Bagi kita yang masih dalam masa kehamilan pertama maka kita bisa banyak belajar tentang pemenuhan asupan nutrisi secara online. Salah satunya kita bisa kunjungi laman https://www.guesehat.com/penuhi-7-zat-gizi-ini-saat-hamil-jika-ingin-anak-cerdas-/slideshow/kalsium.

Selain belajar tentang makanan atau minuman apa yang harus dikonsumsi saat hamil, kita juga perlu belajar tentang vitamin untuk ibu hamil. Hal ini mengingat kondisi ibu hamil yang satu dengan lainnya pasti memiliki perbedaan. Ada kalanya kondisi ibu hamil tersebut akan lebih banyak membutuhkan asupan vitamin. Akan tetapi kita tidak bisa sembarangan membeli vitamin atau mengkonsumsinya tanpa resep dari dokter.

Photo by JESHOOTS.com from Pexels


Hal Yang Harus Dilakukan Sebelum Konsumsi Vitamin Saat Hamil

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kondisi setiap ibu hamil adalah berbeda-beda. Bagi kondisi ibu hamil yang sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang bagus maka kemungkinan besar tidak akan membutuhkan vitamin tambahan selain makanan dan minuman yang sehat untuk dikonsumsinya.

Sebaliknya, bagi ibu hamil yang memiliki daya tahan tubuh yang kurang maka kemungkinan besar akan membutuhkan asupan vitamin tambahan agar selama kehamilan tetap bisa sehat dan kuat. Lantas apakah baik bagi ibu hamil untuk mengkonsumsi vitamin tambahan? Di bawah ini bisa kita simak beberapa hal yang harus kita pastikan sebelum kita mengkonsumsi vitamin tambahan tersebut :

1. Konsultasi pada dokter kehamilan. 

Konsultasi kepada dokter spesialis kehamilan dirasa sangat penting untuk kita lakukan saat kita dalam masa hamil. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan kita dan juga calon bayi kita yang ada dalam kandungan kita. Saat kondisi kesehatan kita semasa hamil melemah, maka dokter kehamilan pun akan memberikan resep vitamin yang dirasa aman untuk dikonsumsi. Dan bukan sembarang vitamin.

2. Membeli vitamin sesuai resep dokter. 

Seorang dokter tentu sudah memikirkan vitamin mana yang aman dan tidak aman untuk dikonsumsi oleh pasiennya dengan kondisi yang telah diketahuinya. Maka jangan sampai kita membeli atau mengkonsumsi vitamin lainnya selain dari resep yang telah dituliskan oleh dokter kita.

3. Pilihlah apotek terpercaya untuk mendapatkan vitamin yang kita butuhkan. 

Saat ini ada banyak sekali apotek yang menyediakan beragam vitamin. Bahkan kita juga bisa membelinya pada apotek via online. Namun hal yang perlu kita garis bawahi adalah pilihlah apotek online yang memang sudah memiliki lisensi resmi dan telah mendapatkan gelar terpercaya. Hal ini mengingat ada banyak tindak kriminal dalam dunia online yang dilakukan oleh orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan bagi dirinya sendiri.


Saat dalam kondisi hamil, seorang wanita memang harus menjaga kondisi tubuhnya dengan sebaik mungkin. Hal yang paling harus dijaga salah satunya adalah menjaga asupan gizi dan juga nutrisi selama masa kehamilannya. Bagi kita yang masih dalam masa kehamilan pertama maka kita bisa banyak belajar tentang pemenuhan asupan nutrisi secara online. Salah satunya kita bisa kunjungi laman https://www.guesehat.com/penuhi-7-zat-gizi-ini-saat-hamil-jika-ingin-anak-cerdas-/slideshow/kalsium.

Selain belajar tentang makanan atau minuman apa yang harus dikonsumsi saat hamil, kita juga perlu belajar tentang vitamin untuk ibu hamil. Hal ini mengingat kondisi ibu hamil yang satu dengan lainnya pasti memiliki perbedaan. Ada kalanya kondisi ibu hamil tersebut akan lebih banyak membutuhkan asupan vitamin. Akan tetapi kita tidak bisa sembarangan membeli vitamin atau mengkonsumsinya tanpa resep dari dokter.

Photo by JESHOOTS.com from Pexels


Hal Yang Harus Dilakukan Sebelum Konsumsi Vitamin Saat Hamil

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kondisi setiap ibu hamil adalah berbeda-beda. Bagi kondisi ibu hamil yang sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang bagus maka kemungkinan besar tidak akan membutuhkan vitamin tambahan selain makanan dan minuman yang sehat untuk dikonsumsinya.

Sebaliknya, bagi ibu hamil yang memiliki daya tahan tubuh yang kurang maka kemungkinan besar akan membutuhkan asupan vitamin tambahan agar selama kehamilan tetap bisa sehat dan kuat. Lantas apakah baik bagi ibu hamil untuk mengkonsumsi vitamin tambahan? Di bawah ini bisa kita simak beberapa hal yang harus kita pastikan sebelum kita mengkonsumsi vitamin tambahan tersebut :

1. Konsultasi pada dokter kehamilan. 

Konsultasi kepada dokter spesialis kehamilan dirasa sangat penting untuk kita lakukan saat kita dalam masa hamil. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan kita dan juga calon bayi kita yang ada dalam kandungan kita. Saat kondisi kesehatan kita semasa hamil melemah, maka dokter kehamilan pun akan memberikan resep vitamin yang dirasa aman untuk dikonsumsi. Dan bukan sembarang vitamin.

2. Membeli vitamin sesuai resep dokter. 

Seorang dokter tentu sudah memikirkan vitamin mana yang aman dan tidak aman untuk dikonsumsi oleh pasiennya dengan kondisi yang telah diketahuinya. Maka jangan sampai kita membeli atau mengkonsumsi vitamin lainnya selain dari resep yang telah dituliskan oleh dokter kita.

3. Pilihlah apotek terpercaya untuk mendapatkan vitamin yang kita butuhkan. 

Saat ini ada banyak sekali apotek yang menyediakan beragam vitamin. Bahkan kita juga bisa membelinya pada apotek via online. Namun hal yang perlu kita garis bawahi adalah pilihlah apotek online yang memang sudah memiliki lisensi resmi dan telah mendapatkan gelar terpercaya. Hal ini mengingat ada banyak tindak kriminal dalam dunia online yang dilakukan oleh orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan bagi dirinya sendiri.


,

Pameran Tunggal Seni Rupa Karya Ekwan Marianto, "The Journey of Happiness"

Happy Holiday!!

Setelah melewati satu semester yang penuh lika-liku: PPDB zonasi, latsar, rancangan aktualisasi, PIGP, proktor, PDSS dan terakhir ada e-raport. Akhirnya.... ketemu libur juga.

Liburan kali ini pun tetap dibumbui dengan drama. Jadwal awal libur sekolah dimulai tanggal 19 Desember sampai 1 Januari, dan jadwal piketku sehari di tanggal 30 Desember. Eh tiba-tiba ada nota dinas, tanggal 19 Desember masuk buat upacara Hari Bela Negara. Okelah, masuk. Eh ada nota dinas lagi, guru minimal piket 3 hari dan harus fingerprint. Di sini mulai: ha???. Disusul dengan nota dinas yang lain: tanggal 23 Desember ada upacara peringatan Hari Ibu. Ditambah pula nota dinas yang menerangkan libur guru disamakan dengan PNS lain yaitu maksimal 12 hari kerja dalam setahun.

Polemik.

Pusing lah kalau dipikirin. Makanya mending nggak usah dipikir aja. Wqwq. Sungguh mengatasi masalah tanpa solusi.

Singkat cerita, hari Sabtu kemarin menjadi hari pertama aku libur. Nggak tanggung-tanggung, hari itu juga aku sama mas Azaz meluncur ke Jogja. Tepatnya kita hinggap (haha, kumbang kalik, hinggap) di Taman Budaya Yogyakarta alias TBY.  

Ngapain kita ke TBY? Karena ada pembukaan Pameran Tunggal Seni Rupa Karya Ekwan Marianto yang bertajuk “The Journey of Happiness”.

I’m bad at arts but I’m enjoying it.

Akutu paling nggak bisa deh yang namanya berkreasi apalagi membuat-karya-seni. Makanya aku senang kalau bisa berkesempatan mengapresiasi karya seni dari seorang seniman. Datang ke pameran seni kayak gini adalah momen-momen di mana aku seketika jadi orang gumunan dengan isi kepala penuh pertanyaan

“Ya amplopp keren banget. Gimana cara bikinnya ya?”

“Kok bisa kepikiran sih??”

“Ini maknanya apa kira-kira???”

Endesbre.

Entah kenapa aku merasa berubah jadi sosok Cinta di AADC. Walaupun kalau dipikir yha... apa hubungannyaa???.


Setiap orang punya wajah yang berbeda-beda (?)

Mengenal Sosok Ekwan Marianto

Bersama Pak Ekwan Marianto

Ternyata aku beruntung bisa bertemu langsung dengan “sang seniman”, Bapak Ekwan Marianto. (Pak) Ekwan, begitu beliau kerap disapa, lahir di Tuban (18 Desember 1977). Akan tetapi beliau telah menetap di Jogja selama 25 tahun lamanya.

Pak Ekwan, yang kini tinggal di Nitiprayan bersama sang istri, mulai mempelajari seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Di sinilah beliau belajar dasar-dasar menggambar, melukis, mengukir kayu, membatik, membuat cetakan, membuat ilustrasi dan sebagainya. Tak butuh waktu lama bagi beliau untuk memutuskan untuk terjun dalam dunia lukis.

Beragam teknik dan gaya lukis telah ditekuni oleh beliau. Awalnya pak Ekwan melukis dengan aliran realis. Namun, kini beliau beralih ke aliran naif. Saat ditanya,

“Kenapa Bapak lebih memilih aliran (naif) ini?. Bukannya aliran realis lebih mudah diterima oleh masyarakat kita?”

Jawab pak Ekwan,

“Karena hati saya sreknya saat menggambar seperti (aliran naif) ini. Polos, seperti gambar anak-anak”

Oooo...

Dalam benakku, aku mengangguk-angguk kecil. Sebenarnya pertama kali aku melihat karya beliau dari akun Instagram. Saat itu aku kaget, karena sebagai orang awam, lukisan pak Ekwan kok malah terlihat seperti gambar anak kecil. Aku baru tahu kalau ternyata namanya aliran naif.

Tapi kemudian, setelah aku perhatikan lebih seksama, ternyata justru lukisan pak Ekwan ini menyimpan banyak makna. Memperlihatkan kepolosan. Kesan yang ceria. Cerita yang relatable. Multi tafsir. Serta teknik yang mengagumkan.

Ternyata apa yang aku pikirkan juga diamini oleh Jean Couteau (penulis)

Kesederhanaan karya Ekwan tak hanya menyamarkan kepekaan sang seniman yang luar biasa namun juga keahlian yang dilatih selama bertahun-tahun serta, yang paling penting, beragam lapis interpretasi terhadap karya-karyanya. Lukisan Ekwan yang tampaknya kekanakan justru menyimpan rahasia kegembiraan yang selalu dicari-cari oleh manusia layaknya sebuah pencapaian.


“The Journey of Happiness”

Ruang Galeri Pameran di TBY
Pameran kali ini adalah pameran tunggal Ekwan Marianto yang ke 5. Menggandeng Bapak Agung Tobing (kolektor seni sekaligus promotor pameran), di pameran “The Journey of Happiness” ini Pak Ekwan menampilkan lebih dari 40 karya terbarunya, baik dua dimensi (lukisan) maupun tiga dimensi (patung fiber, perunggu, relief kayu).

Proses persiapan pameran ini memakan waktu 2 tahun lebih karena perlu waktu untuk berkarya”

Pak Ekwan dan karya lukisan dengan media kayunya

Jika biasanya lukisan beliau dituangkan dalam kanvas, kini pak Ekwan juga melukis di media lain seperti patung hingga kayu. Hal ini membawa tantangan tersendiri bagi pak Ekwan. 


Relief di atas kayu karya Ekwan Marianto
Selain itu, di pameran ini juga akan menghadirkan buku tentang perjalanan berkesenian Ekwan Marianto.

Apa maksud dari tema pameran “The Journey of Happiness”?

Karya-karya yang ada di sini membawa pesan “kebahagiaan”. Bahkan pak Ekwan selaku kreator pun mengakui bahwa dalam membuat karya-karya tersebut beliau harus dalam keadaan bahagia. Karena jika dalam berkarya pelukis merasa tidak bahagia, bagaimana bisa kebahagiaan itu muncul di karya yang dihasilkan?

Hal senada juga dikemukakan oleh Sri Rahayu (nama panggilan ms. Gabrielle, penikmat seni)

Happiness, kebahagiaan, bukan hal yang mudah untuk ditemukan, apalagi untuk bertahan bahagia. Karya-karya di pameran ini menunjukkan unsur inspiratif. Contohnya, dari pemilihan warna saja telah dapat memperlihatkan kebahagiaan itu....”

“Kita juga diajak untuk merasakan. Bahwa kadang kita menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.


Melihat lukisan ini aku teringat masa kecil saat dibonceng Papa jalan-jalan. Juga saat naik komedi putar di taman hiburan. Entah kenapa.

Bahagia bermain di dalam air, berenang, menyelam, bertemu ikan (?)

Bahagia bermain dengan hewan peliharaan (?)


Bahagia seorang Ibu mendampingi masa tumbuh kembang sang anak (?)

Bahagia saat berdua bersama pasangan (?)


Melihat lukisan ini aku jadi teringat masa kecil yang bahagia saat libur Lebaran di rumah mbah, bertemu saudara, ngasih makan ayam, metik rambutan
Akhir kata...

Jangan lupa bahagia !! 

Pameran Tunggal Seni Rupa Ekwan Marianto 
“The Journey of Happiness”.
21 Desember 2019 - 4 Januari 2020
Buka pukul 09.00 - 21.00
di Taman Budaya Yogyakarta
Jl Sriwedani No 1 Yogyakarta

Informasi & narahubung :
Nunuk Ambarwati – 081.827.7073


Happy Holiday!!

Setelah melewati satu semester yang penuh lika-liku: PPDB zonasi, latsar, rancangan aktualisasi, PIGP, proktor, PDSS dan terakhir ada e-raport. Akhirnya.... ketemu libur juga.

Liburan kali ini pun tetap dibumbui dengan drama. Jadwal awal libur sekolah dimulai tanggal 19 Desember sampai 1 Januari, dan jadwal piketku sehari di tanggal 30 Desember. Eh tiba-tiba ada nota dinas, tanggal 19 Desember masuk buat upacara Hari Bela Negara. Okelah, masuk. Eh ada nota dinas lagi, guru minimal piket 3 hari dan harus fingerprint. Di sini mulai: ha???. Disusul dengan nota dinas yang lain: tanggal 23 Desember ada upacara peringatan Hari Ibu. Ditambah pula nota dinas yang menerangkan libur guru disamakan dengan PNS lain yaitu maksimal 12 hari kerja dalam setahun.

Polemik.

Pusing lah kalau dipikirin. Makanya mending nggak usah dipikir aja. Wqwq. Sungguh mengatasi masalah tanpa solusi.

Singkat cerita, hari Sabtu kemarin menjadi hari pertama aku libur. Nggak tanggung-tanggung, hari itu juga aku sama mas Azaz meluncur ke Jogja. Tepatnya kita hinggap (haha, kumbang kalik, hinggap) di Taman Budaya Yogyakarta alias TBY.  

Ngapain kita ke TBY? Karena ada pembukaan Pameran Tunggal Seni Rupa Karya Ekwan Marianto yang bertajuk “The Journey of Happiness”.

I’m bad at arts but I’m enjoying it.

Akutu paling nggak bisa deh yang namanya berkreasi apalagi membuat-karya-seni. Makanya aku senang kalau bisa berkesempatan mengapresiasi karya seni dari seorang seniman. Datang ke pameran seni kayak gini adalah momen-momen di mana aku seketika jadi orang gumunan dengan isi kepala penuh pertanyaan

“Ya amplopp keren banget. Gimana cara bikinnya ya?”

“Kok bisa kepikiran sih??”

“Ini maknanya apa kira-kira???”

Endesbre.

Entah kenapa aku merasa berubah jadi sosok Cinta di AADC. Walaupun kalau dipikir yha... apa hubungannyaa???.


Setiap orang punya wajah yang berbeda-beda (?)

Mengenal Sosok Ekwan Marianto

Bersama Pak Ekwan Marianto

Ternyata aku beruntung bisa bertemu langsung dengan “sang seniman”, Bapak Ekwan Marianto. (Pak) Ekwan, begitu beliau kerap disapa, lahir di Tuban (18 Desember 1977). Akan tetapi beliau telah menetap di Jogja selama 25 tahun lamanya.

Pak Ekwan, yang kini tinggal di Nitiprayan bersama sang istri, mulai mempelajari seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Di sinilah beliau belajar dasar-dasar menggambar, melukis, mengukir kayu, membatik, membuat cetakan, membuat ilustrasi dan sebagainya. Tak butuh waktu lama bagi beliau untuk memutuskan untuk terjun dalam dunia lukis.

Beragam teknik dan gaya lukis telah ditekuni oleh beliau. Awalnya pak Ekwan melukis dengan aliran realis. Namun, kini beliau beralih ke aliran naif. Saat ditanya,

“Kenapa Bapak lebih memilih aliran (naif) ini?. Bukannya aliran realis lebih mudah diterima oleh masyarakat kita?”

Jawab pak Ekwan,

“Karena hati saya sreknya saat menggambar seperti (aliran naif) ini. Polos, seperti gambar anak-anak”

Oooo...

Dalam benakku, aku mengangguk-angguk kecil. Sebenarnya pertama kali aku melihat karya beliau dari akun Instagram. Saat itu aku kaget, karena sebagai orang awam, lukisan pak Ekwan kok malah terlihat seperti gambar anak kecil. Aku baru tahu kalau ternyata namanya aliran naif.

Tapi kemudian, setelah aku perhatikan lebih seksama, ternyata justru lukisan pak Ekwan ini menyimpan banyak makna. Memperlihatkan kepolosan. Kesan yang ceria. Cerita yang relatable. Multi tafsir. Serta teknik yang mengagumkan.

Ternyata apa yang aku pikirkan juga diamini oleh Jean Couteau (penulis)

Kesederhanaan karya Ekwan tak hanya menyamarkan kepekaan sang seniman yang luar biasa namun juga keahlian yang dilatih selama bertahun-tahun serta, yang paling penting, beragam lapis interpretasi terhadap karya-karyanya. Lukisan Ekwan yang tampaknya kekanakan justru menyimpan rahasia kegembiraan yang selalu dicari-cari oleh manusia layaknya sebuah pencapaian.


“The Journey of Happiness”

Ruang Galeri Pameran di TBY
Pameran kali ini adalah pameran tunggal Ekwan Marianto yang ke 5. Menggandeng Bapak Agung Tobing (kolektor seni sekaligus promotor pameran), di pameran “The Journey of Happiness” ini Pak Ekwan menampilkan lebih dari 40 karya terbarunya, baik dua dimensi (lukisan) maupun tiga dimensi (patung fiber, perunggu, relief kayu).

Proses persiapan pameran ini memakan waktu 2 tahun lebih karena perlu waktu untuk berkarya”

Pak Ekwan dan karya lukisan dengan media kayunya

Jika biasanya lukisan beliau dituangkan dalam kanvas, kini pak Ekwan juga melukis di media lain seperti patung hingga kayu. Hal ini membawa tantangan tersendiri bagi pak Ekwan. 


Relief di atas kayu karya Ekwan Marianto
Selain itu, di pameran ini juga akan menghadirkan buku tentang perjalanan berkesenian Ekwan Marianto.

Apa maksud dari tema pameran “The Journey of Happiness”?

Karya-karya yang ada di sini membawa pesan “kebahagiaan”. Bahkan pak Ekwan selaku kreator pun mengakui bahwa dalam membuat karya-karya tersebut beliau harus dalam keadaan bahagia. Karena jika dalam berkarya pelukis merasa tidak bahagia, bagaimana bisa kebahagiaan itu muncul di karya yang dihasilkan?

Hal senada juga dikemukakan oleh Sri Rahayu (nama panggilan ms. Gabrielle, penikmat seni)

Happiness, kebahagiaan, bukan hal yang mudah untuk ditemukan, apalagi untuk bertahan bahagia. Karya-karya di pameran ini menunjukkan unsur inspiratif. Contohnya, dari pemilihan warna saja telah dapat memperlihatkan kebahagiaan itu....”

“Kita juga diajak untuk merasakan. Bahwa kadang kita menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.


Melihat lukisan ini aku teringat masa kecil saat dibonceng Papa jalan-jalan. Juga saat naik komedi putar di taman hiburan. Entah kenapa.

Bahagia bermain di dalam air, berenang, menyelam, bertemu ikan (?)

Bahagia bermain dengan hewan peliharaan (?)


Bahagia seorang Ibu mendampingi masa tumbuh kembang sang anak (?)

Bahagia saat berdua bersama pasangan (?)


Melihat lukisan ini aku jadi teringat masa kecil yang bahagia saat libur Lebaran di rumah mbah, bertemu saudara, ngasih makan ayam, metik rambutan
Akhir kata...

Jangan lupa bahagia !! 

Pameran Tunggal Seni Rupa Ekwan Marianto 
“The Journey of Happiness”.
21 Desember 2019 - 4 Januari 2020
Buka pukul 09.00 - 21.00
di Taman Budaya Yogyakarta
Jl Sriwedani No 1 Yogyakarta

Informasi & narahubung :
Nunuk Ambarwati – 081.827.7073


Wednesday, December 4, 2019

Another Life Crisis Hit Me (Again)!

(((Nb. Post ini hanya berisi sambat)))

Nggak usah pake pembukaan deh. Langsung aja ke poin-poin inti sambat. Wqwq.

1. Berat badanku naik!!!

Sebenernya naiknya nggak seberapa, paling 1 kilo. Tapi komentar dari orang-orang sekitar tuh bikin insecure.

Iya iya aku gendut. So???




Gampang banget bilang, "Kok gendut sih, coba agak dikurusin biar bagusan".

Ya amploppp siapa sih yang nggak pengen kurusan. I've tried. Tapi emang
- badanku tipikal yang gampang gendut walaupun makan cuma dikit.
- ditambah males olahraga, ya maap.

Gegara jengkel sekarang aku bawaannya jadi laper mulu malahan. Huff.

Auk ah.

2. Ngerasa nggak punya temen

Ada banyak orang di sekitarku, tapi nggak ada seseorang yang temen-able. Maksud akutu yang kayak temen-temen dulu waktu zaman sekolah, atau kuliah, atau ngekos. Temen yang bisa diajak curhat bareng, ghibah bareng, main bareng, or do some other friend thingy.

Dari dulu belum nemu yang klik mulu. Kapan aku punya temennya???.

Atau emang kalo makin tua gini makin susah punya temen yang sejati???.

Di kerjaan banyak drama "politik" (politik intern sekolah maksudnya). Si A hard feeling sama si B. Si B kontra sama si C. Si C nggak sejalan sama si D. Pusing.


Temen-temen yang lama (eh apa sih namanya?, temen kuliah, temen sekolah gitu maksudnya) udah punya kesibukan masing-masing. Apalagi baru pada berkeluarga, baru pada punya baby. Mau sering-sering ngontak juga nggak enak, takut ngganggu.



Kalo aku sama keluarga beda cerita yaa. Keluarga kan bukan temen.

Baca juga: Curhat Random

3. LDM sama suami

Di kala nggak punya temen gini, suami adalah tempat bersandar paling nyaman (ceilah).

Masalahnya.... suami saya ada nun jauh di sana dong. Kapan aku bersandarnya?. Ketemu aja paling cuma Sabtu siang sampai Senin pagi. Alhasil hal-hal yang pengen dilakukan berdua bisanya dirapel selama waktu itu. Jajan mi ayam, nyari batagor, belanja, dkk. So much things to do, so little time we have.



En again, suami tuh orangnya ngeselin kalo di telepon. Nggak tau, ngeselin aja. Aku jadi males telepon-telepon video call doi. Kalo udah gitu resikonya intensitas komunikasi berkurang.

Baca juga: Awal Cerita Ketemu Suami

4. Feeling useless

Begini guys...

Aku kan ceritanya seorang guru TIK ya. Nah, di sekolah itu aku cuma ngajar 1 jam per minggu untuk 6 kelas XI, dan 2 jam per minggu untuk 1 kelas X. Kalau ditotal 1 minggu aku cuma ngajar 8 jam.

Bandingkan dengan guru yang lain, normalnya minimal beban mengajar guru itu 24 - 40 jam per minggu. 8 jam jelas nggak ada apa-apanya.

1 jam buat pelajaran TIK itu sangat sangat kurang pastinya. Bayangkan: siswa harus jalan dulu dari kelasnya ke lab komputer, siswa mempersiapkan diri, apalagi kalau komputernya masih mati perlu dinyalakan dulu, terus menyampaikan materi, terus siswa coba praktek, yang sebagian sudah bisa, yang sebagian lagi masih bingung jadi harus diulang-ulang. Eh tiba-tiba waktunya udah abis.

Belum lagi kalau jam pertama ada pembacaan asmaul husna, kajian hadist, sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, kepotong berapa menit tuh. Terus kalau jam siang kepotong 15 menit untuk literasi. Terus kalau hari Senin/Jumat ada pembinaan nanti jam pelajarannya dipotong dari 45 menit jadi 40 menit/35 menit.



Hmmmmm *inhale* *exhale*.

Tapi emang nggak bisa diapa-apain lagi. Pembelajaran di kelas mengikuti aturan Kurikulum. Hebatnya, di Kurikulum sekarang emang nggak mengakomodir jam khusus untuk TIK. Kenapa? Karena TIK dianggap udah include di masing-masing mapel.

Oke.

Banyak tuh yang tadinya guru TIK sekarang beralih jadi guru mapel lain. Kewirausahaan, misalnya.

Oh iya karena mapelku adalah BK TIK jadi nggak ada ulangan/ ujian sebagai bentuk laporan penilaian untuk siswa. Nggak ada bahan evaluasi selama pelajaran TIK.

Udahlah. Akumah guru apaan atuh.


Kadang sering kangen ngajar di sekolah lama aja karena ngerasa lebih punya meaning daripada di sini. Ya dulu kan aku ngajar mapel produktif di SMK. Jam ngajar turah-turah. Berasa jadi orang penting.

Baca juga: Cah Kerjo

5. Nggak punya sesuatu yang digemari.

Dulu aku senang baca apa aja, buku segala genre, majalah, komik, bahkan label keterangan di produk shampoo. Sekarang masih seneng baca sih, tapi intensitasnya jauh berkurang dan jauh lebih picky sama apa yang aku baca.

Dulu aku senang nonton film ataupun drama, genre apapun. Mau film horror kek, romance kek, bahkan yang receh kek, aku suka. Sekarang aku nggak suka nonton. Sama kayak baca buku di atas, aku juga picky sama tontonan, apalagi tontonan yang baru. Nggak kuat nonton konfliknya. Malahan aku lebih pilih nonton film-film lawas yang udah aku tau ceritanya.

Dulu aku aktivis sosmed. FB, IG, Twitter, Path, Line, hampir di semua sosmed aku aktif. Sekarang udah jarang banget buka sosmed. Paling sesekali buka Twitter buat sambat. Sesekali juga buka Quora buat baca-baca. Lainnya nganggur.



Dulu aku main at least 1 game, yang walaupun mainnya simpel kayak Pou, 2048, Ball Breaker, Candy Crush, dll. Sekarang aku udah bosen main game dan nggak punya aplikasi game yang bisa aku mainkan.

Dulu aku senang kulineran, foto-foto makanan, diupload di IG, bikin post di blog, dst. Sekarang udah jarang banget kulineran. Sekalinya kulineran di tempat baru paling cuma update di Google Local Guide.

Sekarang juga udah nggak pernah lagi ikutan event blogger. Padahal aku kangen keseruannya. Huhu.

Entah deh.

I think I need new hobby.

Nggak punya gairah untuk melakukan sesuatu itu petaka.

Yah... itulah beberapa sambatanku hari ini. Sambat bukan bermaksud nggak bersyukur, tapi sebagai pengingat kalau hidup ini kadang naik kadang turun. Ndilalah ini kok lagi ngerasa down.

At last.... remember one thing, that's okay not to be okay.

Gif from giphy.com 
(((Nb. Post ini hanya berisi sambat)))

Nggak usah pake pembukaan deh. Langsung aja ke poin-poin inti sambat. Wqwq.

1. Berat badanku naik!!!

Sebenernya naiknya nggak seberapa, paling 1 kilo. Tapi komentar dari orang-orang sekitar tuh bikin insecure.

Iya iya aku gendut. So???




Gampang banget bilang, "Kok gendut sih, coba agak dikurusin biar bagusan".

Ya amploppp siapa sih yang nggak pengen kurusan. I've tried. Tapi emang
- badanku tipikal yang gampang gendut walaupun makan cuma dikit.
- ditambah males olahraga, ya maap.

Gegara jengkel sekarang aku bawaannya jadi laper mulu malahan. Huff.

Auk ah.

2. Ngerasa nggak punya temen

Ada banyak orang di sekitarku, tapi nggak ada seseorang yang temen-able. Maksud akutu yang kayak temen-temen dulu waktu zaman sekolah, atau kuliah, atau ngekos. Temen yang bisa diajak curhat bareng, ghibah bareng, main bareng, or do some other friend thingy.

Dari dulu belum nemu yang klik mulu. Kapan aku punya temennya???.

Atau emang kalo makin tua gini makin susah punya temen yang sejati???.

Di kerjaan banyak drama "politik" (politik intern sekolah maksudnya). Si A hard feeling sama si B. Si B kontra sama si C. Si C nggak sejalan sama si D. Pusing.


Temen-temen yang lama (eh apa sih namanya?, temen kuliah, temen sekolah gitu maksudnya) udah punya kesibukan masing-masing. Apalagi baru pada berkeluarga, baru pada punya baby. Mau sering-sering ngontak juga nggak enak, takut ngganggu.



Kalo aku sama keluarga beda cerita yaa. Keluarga kan bukan temen.

Baca juga: Curhat Random

3. LDM sama suami

Di kala nggak punya temen gini, suami adalah tempat bersandar paling nyaman (ceilah).

Masalahnya.... suami saya ada nun jauh di sana dong. Kapan aku bersandarnya?. Ketemu aja paling cuma Sabtu siang sampai Senin pagi. Alhasil hal-hal yang pengen dilakukan berdua bisanya dirapel selama waktu itu. Jajan mi ayam, nyari batagor, belanja, dkk. So much things to do, so little time we have.



En again, suami tuh orangnya ngeselin kalo di telepon. Nggak tau, ngeselin aja. Aku jadi males telepon-telepon video call doi. Kalo udah gitu resikonya intensitas komunikasi berkurang.

Baca juga: Awal Cerita Ketemu Suami

4. Feeling useless

Begini guys...

Aku kan ceritanya seorang guru TIK ya. Nah, di sekolah itu aku cuma ngajar 1 jam per minggu untuk 6 kelas XI, dan 2 jam per minggu untuk 1 kelas X. Kalau ditotal 1 minggu aku cuma ngajar 8 jam.

Bandingkan dengan guru yang lain, normalnya minimal beban mengajar guru itu 24 - 40 jam per minggu. 8 jam jelas nggak ada apa-apanya.

1 jam buat pelajaran TIK itu sangat sangat kurang pastinya. Bayangkan: siswa harus jalan dulu dari kelasnya ke lab komputer, siswa mempersiapkan diri, apalagi kalau komputernya masih mati perlu dinyalakan dulu, terus menyampaikan materi, terus siswa coba praktek, yang sebagian sudah bisa, yang sebagian lagi masih bingung jadi harus diulang-ulang. Eh tiba-tiba waktunya udah abis.

Belum lagi kalau jam pertama ada pembacaan asmaul husna, kajian hadist, sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, kepotong berapa menit tuh. Terus kalau jam siang kepotong 15 menit untuk literasi. Terus kalau hari Senin/Jumat ada pembinaan nanti jam pelajarannya dipotong dari 45 menit jadi 40 menit/35 menit.



Hmmmmm *inhale* *exhale*.

Tapi emang nggak bisa diapa-apain lagi. Pembelajaran di kelas mengikuti aturan Kurikulum. Hebatnya, di Kurikulum sekarang emang nggak mengakomodir jam khusus untuk TIK. Kenapa? Karena TIK dianggap udah include di masing-masing mapel.

Oke.

Banyak tuh yang tadinya guru TIK sekarang beralih jadi guru mapel lain. Kewirausahaan, misalnya.

Oh iya karena mapelku adalah BK TIK jadi nggak ada ulangan/ ujian sebagai bentuk laporan penilaian untuk siswa. Nggak ada bahan evaluasi selama pelajaran TIK.

Udahlah. Akumah guru apaan atuh.


Kadang sering kangen ngajar di sekolah lama aja karena ngerasa lebih punya meaning daripada di sini. Ya dulu kan aku ngajar mapel produktif di SMK. Jam ngajar turah-turah. Berasa jadi orang penting.

Baca juga: Cah Kerjo

5. Nggak punya sesuatu yang digemari.

Dulu aku senang baca apa aja, buku segala genre, majalah, komik, bahkan label keterangan di produk shampoo. Sekarang masih seneng baca sih, tapi intensitasnya jauh berkurang dan jauh lebih picky sama apa yang aku baca.

Dulu aku senang nonton film ataupun drama, genre apapun. Mau film horror kek, romance kek, bahkan yang receh kek, aku suka. Sekarang aku nggak suka nonton. Sama kayak baca buku di atas, aku juga picky sama tontonan, apalagi tontonan yang baru. Nggak kuat nonton konfliknya. Malahan aku lebih pilih nonton film-film lawas yang udah aku tau ceritanya.

Dulu aku aktivis sosmed. FB, IG, Twitter, Path, Line, hampir di semua sosmed aku aktif. Sekarang udah jarang banget buka sosmed. Paling sesekali buka Twitter buat sambat. Sesekali juga buka Quora buat baca-baca. Lainnya nganggur.



Dulu aku main at least 1 game, yang walaupun mainnya simpel kayak Pou, 2048, Ball Breaker, Candy Crush, dll. Sekarang aku udah bosen main game dan nggak punya aplikasi game yang bisa aku mainkan.

Dulu aku senang kulineran, foto-foto makanan, diupload di IG, bikin post di blog, dst. Sekarang udah jarang banget kulineran. Sekalinya kulineran di tempat baru paling cuma update di Google Local Guide.

Sekarang juga udah nggak pernah lagi ikutan event blogger. Padahal aku kangen keseruannya. Huhu.

Entah deh.

I think I need new hobby.

Nggak punya gairah untuk melakukan sesuatu itu petaka.

Yah... itulah beberapa sambatanku hari ini. Sambat bukan bermaksud nggak bersyukur, tapi sebagai pengingat kalau hidup ini kadang naik kadang turun. Ndilalah ini kok lagi ngerasa down.

At last.... remember one thing, that's okay not to be okay.

Gif from giphy.com