Wednesday, April 26, 2017

,

Operasi Katarak Gratis dari Yayasan Dharmais, Dokter: "Jika Operasi Mandiri Biayanya Mencapai 10 Juta Lebih"


Perwakilan peserta Operasi Katarak dalam acara pembukaan

Katarak.

Sebelumnya aku hanya tahu bahwa katarak adalah nama salah satu penyakit mata. Aku tidak berminat untuk tahu lebih lanjut, sampai akhirnya Mbah Kakung, kakekku yang berusia 70an tahun, divonis menderita Katarak. Penglihatan mata kiri mbah Kakung saat itu sangat buruk, hampir tidak bisa melihat. Akhirnya mbah Kakung menjalani operasi Katarak pada tahun 2016 lalu dan kini penglihatan beliau membaik. Alhamdulillah.

Sejak itu aku semakin aware dengan penyakit Katarak. Bagaimana tidak, hampir saja mbah Kakung tidak bisa melihat karena penyakit yang satu ini jika tidak segera ditangani. Ternyata memang benar, katarak adalah penyebab utama kebutaan di dunia. Bahkan 50% kebutaan di Indonesia disebabkan karena katarak. Nah kan, bahaya.

Hingga akhirnya pada hari Minggu (23/4) kemarin aku mendapat kesempatan untuk ikut hadir di kegiatan Operasi Katarak Gratis. Tidak, tidak ada saudara yang akan menjalani operasi. Tapi aku punya sesuatu yang akan aku bagikan, semoga bisa bermanfaat.

Operasi Katarak

Rumah Sakit Hoslistika Medika Yogyakarta, tempat dilaksanakannya kegiatan Operasi Katarak
Operasi Katarak gratis Minggu pagi lalu, diselenggarakan oleh Yayasan Dharmais, bekerja sama dengan Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) dan Universitas Ahmad Dahlan. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Sakit Holistika Medika, Sleman, Yogyakarta.


dr. Albanza Muady, salah satu tim dokter penyelenggara dari PERDAMI


Aku juga sempat berbincang dengan dr. Albanza Muady, salah satu dokter yang menjadi tim penyelenggara operasi. Btw, dokternya masih muda, uhuk, eh fokus, fokus. Berdasarkan informasi dari masnya dokter Alba, ada lebih dari 170 daftar calon peserta, baik dari Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulonprogo bahkan dari kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lain. Namun, dari sekian banyak yang mendaftar, hanya 74 orang saja yang akan mengikuti operasi. Kenapa?.

Hal ini karena sebelum pelaksanaan operasi, dilakukan screening atau tes pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu kepada calon peserta. Dari hasil screening akan diketahui apakah calon peserta benar mengidap penyakit katarak atau tidak.

"Sakit pada mata kan tidak hanya disebabkan karena katarak. Ada pula yang menderita sakit mata, tapi bukan katarak. Karena itu hanya ada 74 peserta saja yang bisa mengikuti operasi", kata dokter.

Untuk kegiatan kali ini, ada 2 metode operasi yang dilakukan yaitu menggunakan jahitan dan tanpa jahitan (laser). Apa perbedaannya?.

Metode jahitan digunakan untuk katarak yang sudah matang. Operasi dengan metode ini membutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Metode tanpa jahitan (laser)  digunakan untuk katarak yang belum matang. Walaupun belum matang, tapi tetap bisa dilakukan operasi, apalagi jika sudah dirasa mengganggu oleh penderita. Waktu operasi dengan metode laser cukup singkat, yaitu hanya 10-15 menit. Lebih sebentar karena tidak perlu ada jahitan.

Suasana Ruang Operasi. Sumber: twitter @irfahudaya
Suasana ruang tunggu Operasi Katarak

Operasi Katarak dari Yayasan Dharmais ini gratis, peserta tidak dipungut biaya sepeserpun. Bahkan tidak hanya operasi, peserta juga akan mendapatkan fasilitas akomodasi (kaos, snack, menginap di rumah sakit,dll) dan juga pengawasan pasca operasi. Setelah operasi, peserta wajib melakukan kontrol untuk cek kondisi pada H+2, H+5 dan H+28.

Ketua PERDAMI Yogyakarta, bapak Dr. Agus Supartoto, SpM(k) sangat mengapresiasi program Operasi Katarak gratis dari Yayasan Dharmais. Program ini membantu program pemerintah yaitu Indonesia bebas buta katarak. Maka dokter Agus menghimbau bagi siapa saja yang menderita katarak agar tidak ragu untuk mengikuti kegiatan Operasi Katarak gratis ini.

"Jika operasi katarak sendiri di luar, biayanya bisa mencapai 12 juta rupiah, tapi kali ini gratis tanpa biaya apapun. Jangan sia-siakan kesempatan yang baik ini, ikut saja", kata dokter Agus saat sambutan.

Kegiatan Operasi Katarak gratis merupakan program tetap Yayasan Dharmais yang dimulai sejak tahun 1986 dan rutin diadakan setiap tahun sampai sekarang. Kegiatan ini terbuka bagi siapa saja, terutama penderita yang tidak mampu serta peserta tidak dibatasi kuota tertentu. "Semakin banyak yang ikut, semakin baik, akan kami tampung semua", begitu kata Bapak Indra Kartasasmita dalam kesempatan konferensi pers bersama Yayasan Dharmais, Sabtu (22/4).

Ibu Titek Soeharto memberikan obat tetes mata kepada peserta Operasi Katarak. Sumber: Instagram @hallomegh

Selain Operasi Katarak, di hari yang sama Yayasan Dharmais juga mengadakan Operasi Bibir Sumbing dan Langit-langit di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB), Yogyakarta.

Poster Kegiatan Operasi Katarak

Poster Kegiatan Operasi Bibir Sumbing dan Langit-langit

Mengenal Yayasan Dharmais


Ibu Titiek Soeharto, Bapak Indra Kartasasmita, beserta jajaran pengurus Yayasan Dharmais
Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) merupakan yayasan di bidang sosial kemanusiaan yang berdiri di Jakarta sejak 8 Agustus 1975. Salah satu pendirinya yaitu Presiden RI kedua, bapak H. M. Soeharto, beserta bapak H. Sudharmono, dan bapak H. Bustanil Arifin. Yayasan ini masih aktif sampai sekarang. Sebagai pembina yaitu Putri dari bapak Soeharto, Ibu Hj. Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (Titiek Soeharto), dan sebagai Ketua yaitu bapak Indra Kartasasmita.

Mengusung visi dan misi "Memberikan bantuan di bidang sosial dan kemanusiaan", Yayasan Dharmais memiliki program-program yang mendukung visi dan misi tersebut. 

Untuk bidang sosial, program-programnya meliputi:
- Bantuan kepada panti asuhan
- Bantuan paket pakaian
- Pesantren singkat pelatihan usaha produktif
- Bantuan anak asuh, dan
- Perpustakaan yayasan.

Sedangkan untuk bidang kemanusiaan, Yayasan Dharmais menggerakkan program:
- Operasi katarak
- Operasi bibir sumbing dan langit-langit mulut
- Pengobatan Thalassemia
- Bank mata, dan
- Penanggulangan penyakit kusta

Tidak hanya itu, Yayasan Dharmais juga terbuka dalam memberikan bantuan di bidang lain, seperti:
- Bantuan operasional Puskesmas Seroja Bekasi
- Bantuan modal kerja bagi penderita cacat tubuh dan tuna netra
- Membangun rumah sederhana bagi Korps Cacad Veteran RI, dan masih banyak lagi.

Sekretariat Dharmais:
Gedung Granadi Lantai 5
Jl. HR. Rasuna Said Kav. 8-9
Kuningan - Jakarta Selatan 12950
Telp. 021-2522745 Fax. 021. 2521625
http://www.yayasandharmais.or.id



Perwakilan peserta Operasi Katarak dalam acara pembukaan

Katarak.

Sebelumnya aku hanya tahu bahwa katarak adalah nama salah satu penyakit mata. Aku tidak berminat untuk tahu lebih lanjut, sampai akhirnya Mbah Kakung, kakekku yang berusia 70an tahun, divonis menderita Katarak. Penglihatan mata kiri mbah Kakung saat itu sangat buruk, hampir tidak bisa melihat. Akhirnya mbah Kakung menjalani operasi Katarak pada tahun 2016 lalu dan kini penglihatan beliau membaik. Alhamdulillah.

Sejak itu aku semakin aware dengan penyakit Katarak. Bagaimana tidak, hampir saja mbah Kakung tidak bisa melihat karena penyakit yang satu ini jika tidak segera ditangani. Ternyata memang benar, katarak adalah penyebab utama kebutaan di dunia. Bahkan 50% kebutaan di Indonesia disebabkan karena katarak. Nah kan, bahaya.

Hingga akhirnya pada hari Minggu (23/4) kemarin aku mendapat kesempatan untuk ikut hadir di kegiatan Operasi Katarak Gratis. Tidak, tidak ada saudara yang akan menjalani operasi. Tapi aku punya sesuatu yang akan aku bagikan, semoga bisa bermanfaat.

Operasi Katarak

Rumah Sakit Hoslistika Medika Yogyakarta, tempat dilaksanakannya kegiatan Operasi Katarak
Operasi Katarak gratis Minggu pagi lalu, diselenggarakan oleh Yayasan Dharmais, bekerja sama dengan Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) dan Universitas Ahmad Dahlan. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Sakit Holistika Medika, Sleman, Yogyakarta.


dr. Albanza Muady, salah satu tim dokter penyelenggara dari PERDAMI


Aku juga sempat berbincang dengan dr. Albanza Muady, salah satu dokter yang menjadi tim penyelenggara operasi. Btw, dokternya masih muda, uhuk, eh fokus, fokus. Berdasarkan informasi dari masnya dokter Alba, ada lebih dari 170 daftar calon peserta, baik dari Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulonprogo bahkan dari kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lain. Namun, dari sekian banyak yang mendaftar, hanya 74 orang saja yang akan mengikuti operasi. Kenapa?.

Hal ini karena sebelum pelaksanaan operasi, dilakukan screening atau tes pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu kepada calon peserta. Dari hasil screening akan diketahui apakah calon peserta benar mengidap penyakit katarak atau tidak.

"Sakit pada mata kan tidak hanya disebabkan karena katarak. Ada pula yang menderita sakit mata, tapi bukan katarak. Karena itu hanya ada 74 peserta saja yang bisa mengikuti operasi", kata dokter.

Untuk kegiatan kali ini, ada 2 metode operasi yang dilakukan yaitu menggunakan jahitan dan tanpa jahitan (laser). Apa perbedaannya?.

Metode jahitan digunakan untuk katarak yang sudah matang. Operasi dengan metode ini membutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Metode tanpa jahitan (laser)  digunakan untuk katarak yang belum matang. Walaupun belum matang, tapi tetap bisa dilakukan operasi, apalagi jika sudah dirasa mengganggu oleh penderita. Waktu operasi dengan metode laser cukup singkat, yaitu hanya 10-15 menit. Lebih sebentar karena tidak perlu ada jahitan.

Suasana Ruang Operasi. Sumber: twitter @irfahudaya
Suasana ruang tunggu Operasi Katarak

Operasi Katarak dari Yayasan Dharmais ini gratis, peserta tidak dipungut biaya sepeserpun. Bahkan tidak hanya operasi, peserta juga akan mendapatkan fasilitas akomodasi (kaos, snack, menginap di rumah sakit,dll) dan juga pengawasan pasca operasi. Setelah operasi, peserta wajib melakukan kontrol untuk cek kondisi pada H+2, H+5 dan H+28.

Ketua PERDAMI Yogyakarta, bapak Dr. Agus Supartoto, SpM(k) sangat mengapresiasi program Operasi Katarak gratis dari Yayasan Dharmais. Program ini membantu program pemerintah yaitu Indonesia bebas buta katarak. Maka dokter Agus menghimbau bagi siapa saja yang menderita katarak agar tidak ragu untuk mengikuti kegiatan Operasi Katarak gratis ini.

"Jika operasi katarak sendiri di luar, biayanya bisa mencapai 12 juta rupiah, tapi kali ini gratis tanpa biaya apapun. Jangan sia-siakan kesempatan yang baik ini, ikut saja", kata dokter Agus saat sambutan.

Kegiatan Operasi Katarak gratis merupakan program tetap Yayasan Dharmais yang dimulai sejak tahun 1986 dan rutin diadakan setiap tahun sampai sekarang. Kegiatan ini terbuka bagi siapa saja, terutama penderita yang tidak mampu serta peserta tidak dibatasi kuota tertentu. "Semakin banyak yang ikut, semakin baik, akan kami tampung semua", begitu kata Bapak Indra Kartasasmita dalam kesempatan konferensi pers bersama Yayasan Dharmais, Sabtu (22/4).

Ibu Titek Soeharto memberikan obat tetes mata kepada peserta Operasi Katarak. Sumber: Instagram @hallomegh

Selain Operasi Katarak, di hari yang sama Yayasan Dharmais juga mengadakan Operasi Bibir Sumbing dan Langit-langit di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB), Yogyakarta.

Poster Kegiatan Operasi Katarak

Poster Kegiatan Operasi Bibir Sumbing dan Langit-langit

Mengenal Yayasan Dharmais


Ibu Titiek Soeharto, Bapak Indra Kartasasmita, beserta jajaran pengurus Yayasan Dharmais
Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) merupakan yayasan di bidang sosial kemanusiaan yang berdiri di Jakarta sejak 8 Agustus 1975. Salah satu pendirinya yaitu Presiden RI kedua, bapak H. M. Soeharto, beserta bapak H. Sudharmono, dan bapak H. Bustanil Arifin. Yayasan ini masih aktif sampai sekarang. Sebagai pembina yaitu Putri dari bapak Soeharto, Ibu Hj. Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (Titiek Soeharto), dan sebagai Ketua yaitu bapak Indra Kartasasmita.

Mengusung visi dan misi "Memberikan bantuan di bidang sosial dan kemanusiaan", Yayasan Dharmais memiliki program-program yang mendukung visi dan misi tersebut. 

Untuk bidang sosial, program-programnya meliputi:
- Bantuan kepada panti asuhan
- Bantuan paket pakaian
- Pesantren singkat pelatihan usaha produktif
- Bantuan anak asuh, dan
- Perpustakaan yayasan.

Sedangkan untuk bidang kemanusiaan, Yayasan Dharmais menggerakkan program:
- Operasi katarak
- Operasi bibir sumbing dan langit-langit mulut
- Pengobatan Thalassemia
- Bank mata, dan
- Penanggulangan penyakit kusta

Tidak hanya itu, Yayasan Dharmais juga terbuka dalam memberikan bantuan di bidang lain, seperti:
- Bantuan operasional Puskesmas Seroja Bekasi
- Bantuan modal kerja bagi penderita cacat tubuh dan tuna netra
- Membangun rumah sederhana bagi Korps Cacad Veteran RI, dan masih banyak lagi.

Sekretariat Dharmais:
Gedung Granadi Lantai 5
Jl. HR. Rasuna Said Kav. 8-9
Kuningan - Jakarta Selatan 12950
Telp. 021-2522745 Fax. 021. 2521625
http://www.yayasandharmais.or.id


Monday, April 24, 2017

[Daily] Gimana Rasanya Lihat Teman-Teman Udah Pada Nikah Duluan?

Telah tiba masanya. Di mana undangan bergambar love berdatangan. 

Telah tiba waktunya. Di mana teman posting foto resepsi nikah. 

Dan telah tiba zamannya. Di mana akun sosmed teman nggak lagi dipenuhi foto selfie, tapi diganti dengan foto bayi. Iya, bayi lucu imut menggemaskan anak mereka.





Mari kita list... 

Teman sekelasku di SD, emm udah ada yang nikah, dan udah punya baby. Teman sekelas di SMP udah ada juga. Teman sekelas di SMK udah banyak. Tinggal teman sekelas pas kuliah yang belum. Tapi kayaknya sih bentar lagi ada yang ngirim undangan. Ehem, ehem *lirik temen sebelah* *bukan gue*.

Temen di BEM FT ada 1 yang udah nikah. Temen KKN udah 4 yang nikah (dan ini agak surprise sebenarnya). Kakak angkatan di HIMA udah banyak yang gendong baby. Kurang temen-temen PH HIMANIKA 2013 yang belum karena masih banyak yang jomblo *atau backstreet? (Uhuk Iim, uhuk Adit). 

Guru-guru di kantor pun udah nikah semua, kecuali beberapa yang belum(coba absen: aku, Rangga, bu Jannah, mas Subhan, siapa lagi?). Bahkan muridku di SMK juga ada yang udah nikah dan punya anak. Hohoho *ketawa getir*.

Sebagai seorang perempuan berumur 23 tahun, rasanya wajar jika lingkungan pergaulanku kini adalah orang-orang yang sudah berkeluarga. Secara usia boleh nikah di Indonesia kan mulai dari 17 tahun kan ya. Eh iya nggak sih? Atau 18? Atau berapa?. Kayaknya dulu mas A, anaknya ustad AI yang mau nikah tapi belum cukup umur terus harus ikut sidang dulu dan dibolehin nikah. Jadi sebenernya usia berapa aja bisa ya?. Eh ini nggak niat gosip, cuma info. 

Dulu aku pernah dapat nasehat, perempuan itu baiknya nikah mulai umur 20 tahun, kalau laki-laki mulai umur 25 tahun. Mungkin karena pertimbangan, makin berumur makin matang tingkat emosinya. 

Walaupun orang bilang, "tua itu pasti, dewasa itu pilihan", tapi buat aku ada benarnya juga dewasa itu berbanding lurus sama umur. Aku sewaktu umur 17 tahun jauh lebih alay daripada sekarang. Padahal sekarang juga masih alay. Kekeke, uwoo uwoo. Alaynya termasuk dalam hal emosi, tanggung jawab, konsistensi, persistensi, resistansi, apalah-apalah. 

Tapi aku menghargai teman-teman yang sudah menikah, usia berapa pun itu. Usia 18 tahun kalau mereka sudah siap, ya monggo. Usia 28 tahun kalau merasa belum siap ya disiapin dulu. Usia 23 tahun, kalau merasa sudah siap, tapi kok belum ada calon, ya nyari dulu gih

Sekarang aku sudah mulai terbiasa lihat postingan di sosmed tentang kehidupan rumah tangga mereka. Eh, maksudnya tentang persiapan pernikahan, atau lagi liburan sama pasangan ke mana, atau gimana rasanya waktu hamil, atau progress bayinya udah bisa apa, dll. Banyak lah ceritanya. 

Jadi, gimana rasanya lihat teman-teman sudah pada nikah duluan? 

Sincerely, I'm happy for them, a lot. Ya pastinya ikutan seneng dong lihat temen kita seneng. 

Kadang ada baper juga. "Ih gelo ya, temen-temen udah pada punya anak tapi akunya masih kayak anak-anak". Tapi abis itu jadi terpacu, "Oh iya berarti mulai sekarang aku kudu mulai dewasa".

Rasanya juga seru. Aku jadi bisa belajar banyak dari mereka. Bisa tanya-tanya apa aja yang perlu disiapin sebelum nikah. Bisa tau, wah ini mbak sama masnya LDR tapi langgeng terus, o gini to caranya. Bisa tau, mas sama mbak ini selalu kompak di manapun dan kapanpun, o itu rahasianya. Bisa nyimak cara parenting ke anak-anak, dll. 

Kamu kapan (nyusul nikah)? 




Ini nih, pertanyaan yang seolah nggak boleh ketinggalan ditanyakan ke orang-orang semacam aku yang umur segini masih single. Entah nanya dalam rangka basa-basi, nggak ada topik lain, atau seriusan mereka pengen tahu. 

Jadi gini, aku percaya kita punya zona waktu masing-masing. We have our own Greenwich Meredian Time. Nanti juga akan tiba masanya aku jawab pertanyaan itu, bahkan tanpa kalian tanya. Kalem aja, kalem. 

Yang suka nanya begitu, emang udah nyiapin kado apa? 

Telah tiba masanya. Di mana undangan bergambar love berdatangan. 

Telah tiba waktunya. Di mana teman posting foto resepsi nikah. 

Dan telah tiba zamannya. Di mana akun sosmed teman nggak lagi dipenuhi foto selfie, tapi diganti dengan foto bayi. Iya, bayi lucu imut menggemaskan anak mereka.





Mari kita list... 

Teman sekelasku di SD, emm udah ada yang nikah, dan udah punya baby. Teman sekelas di SMP udah ada juga. Teman sekelas di SMK udah banyak. Tinggal teman sekelas pas kuliah yang belum. Tapi kayaknya sih bentar lagi ada yang ngirim undangan. Ehem, ehem *lirik temen sebelah* *bukan gue*.

Temen di BEM FT ada 1 yang udah nikah. Temen KKN udah 4 yang nikah (dan ini agak surprise sebenarnya). Kakak angkatan di HIMA udah banyak yang gendong baby. Kurang temen-temen PH HIMANIKA 2013 yang belum karena masih banyak yang jomblo *atau backstreet? (Uhuk Iim, uhuk Adit). 

Guru-guru di kantor pun udah nikah semua, kecuali beberapa yang belum(coba absen: aku, Rangga, bu Jannah, mas Subhan, siapa lagi?). Bahkan muridku di SMK juga ada yang udah nikah dan punya anak. Hohoho *ketawa getir*.

Sebagai seorang perempuan berumur 23 tahun, rasanya wajar jika lingkungan pergaulanku kini adalah orang-orang yang sudah berkeluarga. Secara usia boleh nikah di Indonesia kan mulai dari 17 tahun kan ya. Eh iya nggak sih? Atau 18? Atau berapa?. Kayaknya dulu mas A, anaknya ustad AI yang mau nikah tapi belum cukup umur terus harus ikut sidang dulu dan dibolehin nikah. Jadi sebenernya usia berapa aja bisa ya?. Eh ini nggak niat gosip, cuma info. 

Dulu aku pernah dapat nasehat, perempuan itu baiknya nikah mulai umur 20 tahun, kalau laki-laki mulai umur 25 tahun. Mungkin karena pertimbangan, makin berumur makin matang tingkat emosinya. 

Walaupun orang bilang, "tua itu pasti, dewasa itu pilihan", tapi buat aku ada benarnya juga dewasa itu berbanding lurus sama umur. Aku sewaktu umur 17 tahun jauh lebih alay daripada sekarang. Padahal sekarang juga masih alay. Kekeke, uwoo uwoo. Alaynya termasuk dalam hal emosi, tanggung jawab, konsistensi, persistensi, resistansi, apalah-apalah. 

Tapi aku menghargai teman-teman yang sudah menikah, usia berapa pun itu. Usia 18 tahun kalau mereka sudah siap, ya monggo. Usia 28 tahun kalau merasa belum siap ya disiapin dulu. Usia 23 tahun, kalau merasa sudah siap, tapi kok belum ada calon, ya nyari dulu gih

Sekarang aku sudah mulai terbiasa lihat postingan di sosmed tentang kehidupan rumah tangga mereka. Eh, maksudnya tentang persiapan pernikahan, atau lagi liburan sama pasangan ke mana, atau gimana rasanya waktu hamil, atau progress bayinya udah bisa apa, dll. Banyak lah ceritanya. 

Jadi, gimana rasanya lihat teman-teman sudah pada nikah duluan? 

Sincerely, I'm happy for them, a lot. Ya pastinya ikutan seneng dong lihat temen kita seneng. 

Kadang ada baper juga. "Ih gelo ya, temen-temen udah pada punya anak tapi akunya masih kayak anak-anak". Tapi abis itu jadi terpacu, "Oh iya berarti mulai sekarang aku kudu mulai dewasa".

Rasanya juga seru. Aku jadi bisa belajar banyak dari mereka. Bisa tanya-tanya apa aja yang perlu disiapin sebelum nikah. Bisa tau, wah ini mbak sama masnya LDR tapi langgeng terus, o gini to caranya. Bisa tau, mas sama mbak ini selalu kompak di manapun dan kapanpun, o itu rahasianya. Bisa nyimak cara parenting ke anak-anak, dll. 

Kamu kapan (nyusul nikah)? 




Ini nih, pertanyaan yang seolah nggak boleh ketinggalan ditanyakan ke orang-orang semacam aku yang umur segini masih single. Entah nanya dalam rangka basa-basi, nggak ada topik lain, atau seriusan mereka pengen tahu. 

Jadi gini, aku percaya kita punya zona waktu masing-masing. We have our own Greenwich Meredian Time. Nanti juga akan tiba masanya aku jawab pertanyaan itu, bahkan tanpa kalian tanya. Kalem aja, kalem. 

Yang suka nanya begitu, emang udah nyiapin kado apa? 

Monday, April 10, 2017

, ,

Kuliner All You Can Eat di Swiss-Belhotel Cafe, Edisi: Korean Buffet


Saat ini jumlah hotel dan restoran di Jogja semakin banyak. Masing-masing memiliki karakteristik konsep yang berbeda. Selain itu, masing-masing juga menyediakan berbagai tawaran yang menarik. Kita tinggal pilih, mau menginap atau makan di mana. Jika bingung pilih tempat mana yang recommended,coba ke Swiss-Belhotel Yogyakarta saja.

Lokasi

Swiss-Belhotel Yogyakarta merupakan hotel bintang 4 yang berlokasi di Jalan Jendral Sudirman. Itu lho, depan Gramedia. Tempatnya strategis sekali. Jalan sedikit, udah bisa ke Gramedia, Calais, KFC, McD, Pizza Hut, dll. Ke barat sedikit, udah sampai Tugu. Ke utara, udah sampai UGM. Ke Timur, ada Galeria Mall dan Rumah Sakit Bethesda. Akses ke mana-mana mudah karena Swiss-Belhotel terletak di pusat kota Yogyakarta.


Swiss Café 

Di Swiss-Belhotel, kita bisa mencoba kuliner di Swiss Café, restoran hotel yang bertempat di dekat lobby. Dari pintu utama, restoran ini sudah langsung terlihat. 

Uniknya dari Swiss Café, setiap bulan di sini ada sajian menu tematik pada hari Rabu dan Sabtu malam. Untuk bulan ini temanya adalah Oriental Food Festival. Hmm... seketika terbayang menu-menu masakan Asia yang khas.

Oriental Food Festival

Oriental Food Festival: Korean Buffet

Hari Rabu (5/4) lalu, aku mendapatkan kesempatan untuk mencoba Oriental Food Festival di Swiss Café dengan menu Korean Buffet. Aku tidak sendiri, namun juga bersama blogger Jogja, bapak Ang Tek Khun dan mbak Agata Vera.

Bersama Blogger Jogja, Mbak Agata Vera dan Pak Ang Tek Khun

Di undangan yang diberikan, tertulis acara dimulai pukul 18.30. Aku sampai sana lebih awal, eh ternyata makanan sudah siap tersaji. Aku pun bisa leluasa berkeliling selagi restoran masih sepi. 

Ada 3 meja utama yang menyajikan menu utama, menu pendamping, dan dessert.
Menu utama

Daegu Tang

Makgalbijjim
Gaji Bokkeum

Algamja Jorim

Guriltai Shul


Menu Pendamping
Kimchi
Kimbab


Cucumber and Wakame Seaweed Korean Salad

Sangchu Geotjori

Dessert

Yaksik
Hotteok

Hwagwaja, Korean Donut

Baesuk

Kkwabaegi
Masih ada beberapa menu lain yang tidak sempat terfoto. Yang jelas, semua menu bisa kita coba sepuasnya alias All-You-Can-Eat.

Lucunya, walaupun tema malam itu adalah Korean, tapi aneka krupuk dan aneka sambal tetap tersedia. Hehehe.

"Ini yang selalu dicari pengunjung", kata Chief Satrio

Live Cooking

Selain makanan yang sudah siap tersaji, ada juga makanan yang baru dimasak ketika kita pesan. Misalnya menu malam ini yaitu beef bulgogi. Kita pesan dulu, lalu Chief akan memasak sesuai jumlah pesanan. Live cooking gitu. Sehingga makanan tersaji fresh from the cook.

Live Cooking Beef Bulgogi oleh Chief Tyo

Tidak hanya itu, di Swiss Café kita juga bisa melihat proses memasak para Chief di dapur. Pilih spot tempat duduk di pojok, di sana dapur dan meja makan hanya dibatasi dengan kaca sehingga kita bisa menyaksikan kegiatan para Chief di dapur. Seru.

Serunya Live Kitchen di Swiss-Cafe
***

Di kesempatan kali ini, kita juga bertemu dengan Bapak Dedik selaku General Manager Swissbel Hotel Yogyakarta. Wah, kesempatan langka seperti ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bisa menambah pengetahuan baru (ceileh pengetahuan).

Dari Pak Dedik, kita jadi makin tahu keunikan-keunikan lain dari Swissbel Hotel Yogyakarta terutama Swiss Café nya. Misalnya, Swiss Café ini terbuka untuk umum lho. Tidak hanya tamu hotel yang bisa makan di sini, pengunjung luar kayak aku pun sangat welcome untuk mencoba kuliner Swiss Café. Cocok untuk ibu-ibu yang mau arisan, reuni bersama teman-teman, anniversary bersama pasangan, dll.

Bersama Pak Dedik dan Pak Khun

Di Swiss Café menunya sangat variatif. Menu lokal Jogja pasti ada, seperti Gudeg (khusus untuk pagi hari), mie godhok, ayam geprek, dll. Tamu hotel yang ingin mencicipi masakan khas Jogja tidak perlu berkeliling jauh, cukup datang ke Swiss Café, dan menu ini sudah tersedia. Tidak hanya itu, ada juga menu Indonesia, Asia, dan Internasional. Pengunjung yang ingin wisata kuliner, mencicipi menu-menu ala daerah lain, sangat bisa ke sini.

Soal rasa bagaimana?

Nggak perlu ditanya, enak-enak sekali makanannya. Aku mencoba hampir semua menu yang tersedia (pukpuk perut). Favorit aku: beef bulgogi, kimchi, baesuk, yaksik dan chocolate candy. Sayang aku nggak kebagian kimbabnya, huhuhu. Untuk rasa, sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia sehingga sangat aman, bikin doyan. Kecuali kimchi dan Korean saladnya yang korea banget. Satu yang penting, walaupun Korean Food, pastinya semua menu di sini halal.

Beef Bulgogi dari Swiss-Belhotel

Oh iya, sembari kita makan, ada alunan lagu keroncong yang menemani. Kata Pak Khun, setiap malam di sini selalu ada hiburan. Rabu malam jadwalnya keroncong. Hari Sabtu nanti ada sendratari kecil. Wih, lucu nih, makanannya Korea, lagunya Keroncong. 

Sedikit tips ketika ikut sajian All-You-Can-Eat seperti ini, yaitu: ambilnya sedikit-sedikit aja. Menunya kan ada banyak tuh, nah dari setiap menu cukup ambil sedikit, nanti dikumpulkan di piring juga jadi banyak. Biar apa? Biar kamu bisa nyoba setiap menunya, biar nggak penasaran. Terutama nasi, ambil nasi cukup sedikit aja atau nggak usah sama sekali. Kalau nanti ada yang kamu suka, boleh deh nambah lagi.

Karena tiap bulan temanya berubah, kira-kira bulan depan temanya apa ya?. Cek aja info ter-up-to-date dari Swiss-Belhotel Yogyakarta di

Facebook - swissbelhotelyogyakarta
Twitter - @swissbeljogja
Instagram - @swissbelhoteljogja

Harga: 175.000/pax net.



Saat ini jumlah hotel dan restoran di Jogja semakin banyak. Masing-masing memiliki karakteristik konsep yang berbeda. Selain itu, masing-masing juga menyediakan berbagai tawaran yang menarik. Kita tinggal pilih, mau menginap atau makan di mana. Jika bingung pilih tempat mana yang recommended,coba ke Swiss-Belhotel Yogyakarta saja.

Lokasi

Swiss-Belhotel Yogyakarta merupakan hotel bintang 4 yang berlokasi di Jalan Jendral Sudirman. Itu lho, depan Gramedia. Tempatnya strategis sekali. Jalan sedikit, udah bisa ke Gramedia, Calais, KFC, McD, Pizza Hut, dll. Ke barat sedikit, udah sampai Tugu. Ke utara, udah sampai UGM. Ke Timur, ada Galeria Mall dan Rumah Sakit Bethesda. Akses ke mana-mana mudah karena Swiss-Belhotel terletak di pusat kota Yogyakarta.


Swiss Café 

Di Swiss-Belhotel, kita bisa mencoba kuliner di Swiss Café, restoran hotel yang bertempat di dekat lobby. Dari pintu utama, restoran ini sudah langsung terlihat. 

Uniknya dari Swiss Café, setiap bulan di sini ada sajian menu tematik pada hari Rabu dan Sabtu malam. Untuk bulan ini temanya adalah Oriental Food Festival. Hmm... seketika terbayang menu-menu masakan Asia yang khas.

Oriental Food Festival

Oriental Food Festival: Korean Buffet

Hari Rabu (5/4) lalu, aku mendapatkan kesempatan untuk mencoba Oriental Food Festival di Swiss Café dengan menu Korean Buffet. Aku tidak sendiri, namun juga bersama blogger Jogja, bapak Ang Tek Khun dan mbak Agata Vera.

Bersama Blogger Jogja, Mbak Agata Vera dan Pak Ang Tek Khun

Di undangan yang diberikan, tertulis acara dimulai pukul 18.30. Aku sampai sana lebih awal, eh ternyata makanan sudah siap tersaji. Aku pun bisa leluasa berkeliling selagi restoran masih sepi. 

Ada 3 meja utama yang menyajikan menu utama, menu pendamping, dan dessert.
Menu utama

Daegu Tang

Makgalbijjim
Gaji Bokkeum

Algamja Jorim

Guriltai Shul


Menu Pendamping
Kimchi
Kimbab


Cucumber and Wakame Seaweed Korean Salad

Sangchu Geotjori

Dessert

Yaksik
Hotteok

Hwagwaja, Korean Donut

Baesuk

Kkwabaegi
Masih ada beberapa menu lain yang tidak sempat terfoto. Yang jelas, semua menu bisa kita coba sepuasnya alias All-You-Can-Eat.

Lucunya, walaupun tema malam itu adalah Korean, tapi aneka krupuk dan aneka sambal tetap tersedia. Hehehe.

"Ini yang selalu dicari pengunjung", kata Chief Satrio

Live Cooking

Selain makanan yang sudah siap tersaji, ada juga makanan yang baru dimasak ketika kita pesan. Misalnya menu malam ini yaitu beef bulgogi. Kita pesan dulu, lalu Chief akan memasak sesuai jumlah pesanan. Live cooking gitu. Sehingga makanan tersaji fresh from the cook.

Live Cooking Beef Bulgogi oleh Chief Tyo

Tidak hanya itu, di Swiss Café kita juga bisa melihat proses memasak para Chief di dapur. Pilih spot tempat duduk di pojok, di sana dapur dan meja makan hanya dibatasi dengan kaca sehingga kita bisa menyaksikan kegiatan para Chief di dapur. Seru.

Serunya Live Kitchen di Swiss-Cafe
***

Di kesempatan kali ini, kita juga bertemu dengan Bapak Dedik selaku General Manager Swissbel Hotel Yogyakarta. Wah, kesempatan langka seperti ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bisa menambah pengetahuan baru (ceileh pengetahuan).

Dari Pak Dedik, kita jadi makin tahu keunikan-keunikan lain dari Swissbel Hotel Yogyakarta terutama Swiss Café nya. Misalnya, Swiss Café ini terbuka untuk umum lho. Tidak hanya tamu hotel yang bisa makan di sini, pengunjung luar kayak aku pun sangat welcome untuk mencoba kuliner Swiss Café. Cocok untuk ibu-ibu yang mau arisan, reuni bersama teman-teman, anniversary bersama pasangan, dll.

Bersama Pak Dedik dan Pak Khun

Di Swiss Café menunya sangat variatif. Menu lokal Jogja pasti ada, seperti Gudeg (khusus untuk pagi hari), mie godhok, ayam geprek, dll. Tamu hotel yang ingin mencicipi masakan khas Jogja tidak perlu berkeliling jauh, cukup datang ke Swiss Café, dan menu ini sudah tersedia. Tidak hanya itu, ada juga menu Indonesia, Asia, dan Internasional. Pengunjung yang ingin wisata kuliner, mencicipi menu-menu ala daerah lain, sangat bisa ke sini.

Soal rasa bagaimana?

Nggak perlu ditanya, enak-enak sekali makanannya. Aku mencoba hampir semua menu yang tersedia (pukpuk perut). Favorit aku: beef bulgogi, kimchi, baesuk, yaksik dan chocolate candy. Sayang aku nggak kebagian kimbabnya, huhuhu. Untuk rasa, sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia sehingga sangat aman, bikin doyan. Kecuali kimchi dan Korean saladnya yang korea banget. Satu yang penting, walaupun Korean Food, pastinya semua menu di sini halal.

Beef Bulgogi dari Swiss-Belhotel

Oh iya, sembari kita makan, ada alunan lagu keroncong yang menemani. Kata Pak Khun, setiap malam di sini selalu ada hiburan. Rabu malam jadwalnya keroncong. Hari Sabtu nanti ada sendratari kecil. Wih, lucu nih, makanannya Korea, lagunya Keroncong. 

Sedikit tips ketika ikut sajian All-You-Can-Eat seperti ini, yaitu: ambilnya sedikit-sedikit aja. Menunya kan ada banyak tuh, nah dari setiap menu cukup ambil sedikit, nanti dikumpulkan di piring juga jadi banyak. Biar apa? Biar kamu bisa nyoba setiap menunya, biar nggak penasaran. Terutama nasi, ambil nasi cukup sedikit aja atau nggak usah sama sekali. Kalau nanti ada yang kamu suka, boleh deh nambah lagi.

Karena tiap bulan temanya berubah, kira-kira bulan depan temanya apa ya?. Cek aja info ter-up-to-date dari Swiss-Belhotel Yogyakarta di

Facebook - swissbelhotelyogyakarta
Twitter - @swissbeljogja
Instagram - @swissbelhoteljogja

Harga: 175.000/pax net.


Tuesday, April 4, 2017

,

Bakar-Bakar Daging Sesukamu di Hayaku Jogja

Bulan Maret kemarin, ada tempat makan baru di Jogja, namanya Hayaku. Konsepnya ala-ala Jepang gitu. Menu utamanya ada Yakiniku dan Steamboat (kayak Sukiyaki menurutku).





Hayaku Jogja ini buka hari Jumat tanggal 17 Maret. Selain di Jogja ternyata Hayaku juga ada di  Mumpung lagi promo, hari Sabtu tanggal 18 Maret aku ke sana deh. Waktu datang, masih sepi gitu. Baru ada 2 pengunjung lain. Maklum karena baru hari kedua buka mungkin ya.

Lokasi dan Tempat


Hayaku Jogja ini berlokasi di Ruko Raflesia, Babarsari. Satu kompleks dengan Larizzo, Bank Papua, dan GH Corner (baca juga: Review GH Corner Jogja). Gampang dicari kok, terlihat jelas dari jalan.

Tempatnya nggak begitu luas, tapi bisa muat beberapa meja. Ada bagian dalam dan bagian luar. Aku pilih bagian dalam supaya adem. Pertama masuk, wah nuansanya cukup eye catching. Terlihat bersih, rapi, dan cantik.

Di setiap meja ada 2 kompor yang menempel, yang 1 untuk memasak yakiniku, yang 1nya untuk memasak steamboat. Selain itu ada juga sumpit, garam, tisu, dkk.


Menu dan Harga

Kita pesan yakiniku mix, yang berisi campuran beberapa daging, ada daging sapi, daging ayam, sosis, dan udang. Di buku menu ada keterangan menu ini porsinya cukup untuk 2-4 orang. Wah, dapat banyakkah?

Selain yakiniku mix, ada juga menu lain. Dua menu utamanya yaitu yakiniku (bakar) dan steamboat (rebus).

Selain itu kita pesan nasi dan greentea latte. Greentea latte nya pas ada promo free, dengan syarat upload foto kita sedang makan di Hayaku di akun Instagram. Tapi di hari biasa kayaknya udah nggak ada promo ini lagi. Oh iya, akun Instagramnya Hayaku bisa dilihat di @hayakujogja.






Review

Sebenarnya aku dari dulu pengen nyoba makanan ala-ala gini. Efek sering liat drama korea, heheu. Kemarin nyoba nyari, adanya yang sukiyaki. Kalau sukiyaki kan rebus ya, kurang begitu ini. Eh, sekarang ada yang sedia yakiniku murah meriah. Suka, suka.

Dari segi konsep, menurutku asik. Kita bisa custom bakar-bakar sesuai selera. Sebenarnya bisa juga minta dimasakin pegawai nya sana sih. Tapi lebih seru masak sendiri. Masaknya yang agak lama ya biar matang. Nggak baik makan daging setengah matang.

Dari segi rasa, lumayan enak kok, dagingnya ada rasanya, nggak plain. Saosnya pedasnya pas. Greentea lattenya juga enak.

Kalau dari segi porsi, ternyata nggak sebanyak yang aku perkirakan. Walaupun tulisannya cukup untuk 2-4 orang, sebenarnya buat 1 orang aja masih sanggup itu abis sendiri. Tapi buat berdua juga okelah, nggak nyampe buat berempat menurutku.

Dari segi harga, masih terjangkau kok. Bisalah sesekali dicoba.



Bulan Maret kemarin, ada tempat makan baru di Jogja, namanya Hayaku. Konsepnya ala-ala Jepang gitu. Menu utamanya ada Yakiniku dan Steamboat (kayak Sukiyaki menurutku).





Hayaku Jogja ini buka hari Jumat tanggal 17 Maret. Selain di Jogja ternyata Hayaku juga ada di  Mumpung lagi promo, hari Sabtu tanggal 18 Maret aku ke sana deh. Waktu datang, masih sepi gitu. Baru ada 2 pengunjung lain. Maklum karena baru hari kedua buka mungkin ya.

Lokasi dan Tempat


Hayaku Jogja ini berlokasi di Ruko Raflesia, Babarsari. Satu kompleks dengan Larizzo, Bank Papua, dan GH Corner (baca juga: Review GH Corner Jogja). Gampang dicari kok, terlihat jelas dari jalan.

Tempatnya nggak begitu luas, tapi bisa muat beberapa meja. Ada bagian dalam dan bagian luar. Aku pilih bagian dalam supaya adem. Pertama masuk, wah nuansanya cukup eye catching. Terlihat bersih, rapi, dan cantik.

Di setiap meja ada 2 kompor yang menempel, yang 1 untuk memasak yakiniku, yang 1nya untuk memasak steamboat. Selain itu ada juga sumpit, garam, tisu, dkk.


Menu dan Harga

Kita pesan yakiniku mix, yang berisi campuran beberapa daging, ada daging sapi, daging ayam, sosis, dan udang. Di buku menu ada keterangan menu ini porsinya cukup untuk 2-4 orang. Wah, dapat banyakkah?

Selain yakiniku mix, ada juga menu lain. Dua menu utamanya yaitu yakiniku (bakar) dan steamboat (rebus).

Selain itu kita pesan nasi dan greentea latte. Greentea latte nya pas ada promo free, dengan syarat upload foto kita sedang makan di Hayaku di akun Instagram. Tapi di hari biasa kayaknya udah nggak ada promo ini lagi. Oh iya, akun Instagramnya Hayaku bisa dilihat di @hayakujogja.






Review

Sebenarnya aku dari dulu pengen nyoba makanan ala-ala gini. Efek sering liat drama korea, heheu. Kemarin nyoba nyari, adanya yang sukiyaki. Kalau sukiyaki kan rebus ya, kurang begitu ini. Eh, sekarang ada yang sedia yakiniku murah meriah. Suka, suka.

Dari segi konsep, menurutku asik. Kita bisa custom bakar-bakar sesuai selera. Sebenarnya bisa juga minta dimasakin pegawai nya sana sih. Tapi lebih seru masak sendiri. Masaknya yang agak lama ya biar matang. Nggak baik makan daging setengah matang.

Dari segi rasa, lumayan enak kok, dagingnya ada rasanya, nggak plain. Saosnya pedasnya pas. Greentea lattenya juga enak.

Kalau dari segi porsi, ternyata nggak sebanyak yang aku perkirakan. Walaupun tulisannya cukup untuk 2-4 orang, sebenarnya buat 1 orang aja masih sanggup itu abis sendiri. Tapi buat berdua juga okelah, nggak nyampe buat berempat menurutku.

Dari segi harga, masih terjangkau kok. Bisalah sesekali dicoba.