Tuesday, July 30, 2013

Analogikan dengan Membeli Sepatu

Sebagai seorang perempuan, tentunya aku pernah merasakan yang namanya belanja. Beli logistik , beli baju, beli tas, beli buku, beli aksesoris, beli sepatu, dan banyak beli lainnya. Membeli sepatu adalah salah satu kegiatan yang punya tantangan tersendiri buatku. Kenapa ?

Kata salah satu tokoh di salah satu drama yang pernah aku tonton, kurang lebih dia bilang seperti ini “Sepatu yang bagus akan menuntun kita ke tempat yang bagus juga". Di salah satu film juga ada dialog, “Pacaran itu kayak memilih sepatu…". Ternyata, quote tentang sepatu cukup populer juga ya.

Terlepas dari pemikiran orang lain, buat aku, sepatu emang unik sih. Sepatu itu kita pakai untuk diinjak. Kasian ya. Padahal, dia yang selalu mempermanis langkah kita. Definisi manis di sini bisa diartikan berbeda oleh orang yang berbeda. Sama seperti banyak jenis sepatu : ada high heels, platform, peep-toe, pump shoes, wedges, boots, flat shoes, loafers vantofel, kets, dan yang lain yang aku belum tau. Semua punya tingkat “kelucuan" masing-masing, tapi juga punya tingkat kenyamanan masing-masing.
Duh, sebelum aku ngelantur mending be right back buat fokus lagi. Saat beli sepatu di toko sepatu (ya iya dong, masa’ beli sepatu di toko buku). Dilema banget rasanya untuk menentukan pilihan. Sepatu yang ini warnanya bagus, sepatu yang itu bentuknya unik, sepatu yang anu nyaman di kaki, bla bla bla. Kadang juga pernah tu, pas udah srek sama satu sepatu, eh ukuran yang pas ternyata nggak ada. Mau nggak mau ya terima ukuran itu atau pilih model lain. Nyesek deh.

Jadi… jadi apanya ?
Iya, kasus membeli sepatu itu semacam salah satu pembuatan keputusan yang penting juga kan. Di antara banyak pilihan, kita nggak bisa mengambil semua pilihan itu (kalopun bisa, mau buat apa beli sepatu banyak-banyak. hei, kaki kita kan cuma ada 2). Apapun pilihan kita, yang penting adalah gimana kita bisa memperkuat pilihan itu supaya nggak menyesal. Kalau memilih sepatu yang bentuknya biasa tapi nyaman, oke kok itu, berarti kaki kita bakal selamat. Kalau memilih sepatu yang bentuknya cantik (hak tinggi misalnya) tapi agak nggak nyaman karena nanti bisa bikin jatuh, itu juga oke kok. Toh berarti kita bisa belajar untuk melatih keseimbangan. Hehe.

Dan, jangan lupa. Kalau segala sesuatu di dunia ini tu nggak semua sama dengan apa-yang-jadi-ideal-nya-kita. Iya, nggak semua hal berjalan sesuai yang kita ingin. Sama kayak kasus “nggak-ada-ukuran-yang-pas-padahal-sepatunya-cantik-banget-tur-nyaman-banget-itu-tadi". Lagi-lagi, kita harus memilih dan mengambil keputusan.

Andai praktek menentukan pilihan dan pengambilan keputusan itu sesederhana membeli sepatu ya. Yang kalaupun nantinya nggak cocok, bisa pilih lagi dan beli lagi. Eh, tapi siapa bilang membeli sepatu itu sederhana ?. 

Buatku, sepatu itu spesial. Sepatu yang tepat membuat penampilan kita terlihat tepat, membuat kita merasa tepat pula untuk melangkah.


Sebagai seorang perempuan, tentunya aku pernah merasakan yang namanya belanja. Beli logistik , beli baju, beli tas, beli buku, beli aksesoris, beli sepatu, dan banyak beli lainnya. Membeli sepatu adalah salah satu kegiatan yang punya tantangan tersendiri buatku. Kenapa ?

Kata salah satu tokoh di salah satu drama yang pernah aku tonton, kurang lebih dia bilang seperti ini “Sepatu yang bagus akan menuntun kita ke tempat yang bagus juga". Di salah satu film juga ada dialog, “Pacaran itu kayak memilih sepatu…". Ternyata, quote tentang sepatu cukup populer juga ya.

Terlepas dari pemikiran orang lain, buat aku, sepatu emang unik sih. Sepatu itu kita pakai untuk diinjak. Kasian ya. Padahal, dia yang selalu mempermanis langkah kita. Definisi manis di sini bisa diartikan berbeda oleh orang yang berbeda. Sama seperti banyak jenis sepatu : ada high heels, platform, peep-toe, pump shoes, wedges, boots, flat shoes, loafers vantofel, kets, dan yang lain yang aku belum tau. Semua punya tingkat “kelucuan" masing-masing, tapi juga punya tingkat kenyamanan masing-masing.
Duh, sebelum aku ngelantur mending be right back buat fokus lagi. Saat beli sepatu di toko sepatu (ya iya dong, masa’ beli sepatu di toko buku). Dilema banget rasanya untuk menentukan pilihan. Sepatu yang ini warnanya bagus, sepatu yang itu bentuknya unik, sepatu yang anu nyaman di kaki, bla bla bla. Kadang juga pernah tu, pas udah srek sama satu sepatu, eh ukuran yang pas ternyata nggak ada. Mau nggak mau ya terima ukuran itu atau pilih model lain. Nyesek deh.

Jadi… jadi apanya ?
Iya, kasus membeli sepatu itu semacam salah satu pembuatan keputusan yang penting juga kan. Di antara banyak pilihan, kita nggak bisa mengambil semua pilihan itu (kalopun bisa, mau buat apa beli sepatu banyak-banyak. hei, kaki kita kan cuma ada 2). Apapun pilihan kita, yang penting adalah gimana kita bisa memperkuat pilihan itu supaya nggak menyesal. Kalau memilih sepatu yang bentuknya biasa tapi nyaman, oke kok itu, berarti kaki kita bakal selamat. Kalau memilih sepatu yang bentuknya cantik (hak tinggi misalnya) tapi agak nggak nyaman karena nanti bisa bikin jatuh, itu juga oke kok. Toh berarti kita bisa belajar untuk melatih keseimbangan. Hehe.

Dan, jangan lupa. Kalau segala sesuatu di dunia ini tu nggak semua sama dengan apa-yang-jadi-ideal-nya-kita. Iya, nggak semua hal berjalan sesuai yang kita ingin. Sama kayak kasus “nggak-ada-ukuran-yang-pas-padahal-sepatunya-cantik-banget-tur-nyaman-banget-itu-tadi". Lagi-lagi, kita harus memilih dan mengambil keputusan.

Andai praktek menentukan pilihan dan pengambilan keputusan itu sesederhana membeli sepatu ya. Yang kalaupun nantinya nggak cocok, bisa pilih lagi dan beli lagi. Eh, tapi siapa bilang membeli sepatu itu sederhana ?. 

Buatku, sepatu itu spesial. Sepatu yang tepat membuat penampilan kita terlihat tepat, membuat kita merasa tepat pula untuk melangkah.


Friday, July 26, 2013

Aku "Sama" Ayong

Aku sama ayong.
@ Art Jog 

Ah, entah udah berapa orang yang bilang kita mirip, atau bilang kita kembar. Hei, coba simak baik-baik. Bagian mana dari kami yang mirip lantas kalian bisa bilang bahwa kami kembar ? Physically, we are different, although it isn’t at all. Persamaannya Cuma satu, sama-sama “embem”. Tapi kadar embemku dengan Soraya juga baru mirip akhir-akhir ini kok, dulu mah embem-an Soraya banget. Haha *pembelaan.

Walaupun secara fisik kita beda, tapi inner kita emang agak samaan sih. Inner ? wew, abot.
Iya, inner. Sedikit cerita “perkoncoan” antara aku dan Ayong (panggilan sayang aku buat dia ni, hehe) ya, biar bisa jadi gambaran apa aja sih persamaan kami berdua.

Ayong masuk daftar konco yang aku kenal di awal. Kita udah kenal dari jaman OSPEK dan berlanjut sampai kuliah. Hari pertama kuliah, di jadwal kosong kita ngobrol-ngobrol ini-itu. (selain Ayong, waktu itu sama Hilma sama Annis. Eh, lambat laun malah tercipta sekawanan yang terdiri dari Aku, Ayong, Hilma, Fatonah. Lupa gimana awal ceritanya. Semua mengalir seperti air sih, *eaak).

Seiring waktu berjalan, gencar tuh info Open Recruitment ELINFO 2011. Sebagai mahasiswa baru yang masih meluap semangatnya, aku pun nggak mau ketinggalan buat daftar. Ternyata, Ayong juga daftar. Singkat cerita, waktu Temu Perdana kita berangkat bareng temen-temen sekelas (yang telat gara-gara kuliah Fisika dulu). Tibalah waktu untuk penentuan sie. Pas ditawarin sie acara, aku sama Ayong ngacung, ternyata selain kita berdua, banyak banget yang juga pengen jadi sie acara. Kalo nggak salah waktu itu Mas Catur yang mimpin, bilang kalo sie acara yang dibutuhkan Cuma beberapa orang, jadi nanti bakal ada yang dipindah ke sie lain. Aku sama Ayong pun rembugan, kira-kira nanti kalo dicutat mau pindah ke sie apa. Kita pun sepakat: sie Konsumsi jadi pilihan selanjutnya. Kita singkat-singkatin lagi ceritanya, aku sama Ayong masuk sie Humas. Lhoh, kok bisa ?. Pokokmen bisa dan itulah yang terjadi.

Persamaan pertama : kita sama-sama daftar jadi Panitia ELINFO. Persamaan kedua : awalnya kita sama-sama pengen  masuk sie Acara ELINFO tapi sama-sama masuk ke sie Humas. Efeknya, tiap berangkat rapat kita janjian dulu berdua soalnya kost kita ke KPLT kan searah. Chemistry lebih lanjut pun terjalin.
Selain ELINFO, kita juga sama-sama jadi anggota KOPMA UNY, sama-sama ikut CBT KOPMA, sama-sama jadi panitia RAT KOPMA juga. Nah !.

Kelar ELINFO, ada Open Recruitment HIMANIKA 2012. Lagi-lagi, aku pun daftar. Setelah survey ke anak-anak kelas F, ternyata lumayan banyak juga yang daftar ikut Hima. Salah satunya, ya Ayong. Ini persamaan kita lagi : sama-sama jadi pengurus Hima. Selama satu tahun kepengurusan di Hima, banyak proker yang kami berdua ikut (malah kayaknya, kalo ada Ayong ada aku. Walaupun kalo ada Aku, belum tentu ada Ayong sih). HSC, Semnas, LFC, CCJ, TJ, KO, Indo-Jerman Exhibition, PMB, KI, ELINFO 2012 (ada lagi nggak ya, agak-agak lupa). Di LFC, kita sama-sama jadi sie Konsumsi, di PMB juga kita sama-sama jadi pemandu.

Selain HIMA, aku sama Ayong juga go eksternal dong. Hehe, istilahnya wagu. Kita ekspansi ke Fakultas. Study Comparative BEM FT 2012, aku sama Ayonglah yang jadi perwakilan Hima waktu itu. Kita juga ikut ELS 2012 dan jadi panitia OSPEK FT 2012. Senengnya adalah, kita sama-sama tergabung jadi PH OSPEK. Aku jadi koordinator sie Data, Ayong jadi Bendahara. Orang yang sering bilang kalo kita kembar, salah satunya adalah Pak Korfak, yap >> Bani Asrofuddin. Hmmm..

Di kuliah, kami pun hampir 11-12. Sama-sama sering nggak mudeng. Haha. Dan di Hima sekarang pun kami sama-sama jadi Pengurus Harian, atau lebih khususnya lagi, sama-sama Pengurus Inti. Ayong jadi Bendahara, aku jadi Sekretaris. Masalah berantakannya kamar kost ? mm.. nggak perlu aku sebutin di sini lah ya :D.

Here we goes. Kita lagi PI nih. Lagi-lagi di tempat yang sama, PPPPTK Matematika. Tiap pagi kita udah pasang-pasangan berangkat ke sana. Fatonah sama Hilma, aku sama Ayong.

Herannya, kalo aku pas males banget berangkat pagi-pagi terus aku sms Ayong biar berangkatnya agak siangan aja, eh di saat yang bersamaan pasti ada sms dari Ayong juga bilang hal yang sama. Terus ni ya, kalo pas aku kesiangan, pas di jalan kita cerita-cerita, Ayong juga pasti bangunnya sama-sama kesiangan. Pas aku nggak sahur, eh, bisa ketebak kan, Ayong paginya juga nggak sahur.

Kemaren kita berdua main ke Art Jog. Di sana, kita sama-sama melongo. Melongo kita ini disponsori oleh rasa kagum sama barang-barang unik yang didisplay di sana, sekaligus karena nggak mudeng sama makna di dalamnya. Haha. Ending-endingnya di ArtJog juga malah jadi ajang narsis-narsisan deh.

Back to PI. Sekarang kita berlima dipisah jadi 2. Kakak Rete, Fatonah sama Hilma ngerjain proyek video, aku sama Ayong ngerjain proyek web. Aku sama Ayong sama-sama galau web ni ceritanya. Selain itu, kemaren (sekarang juga masih sih), kita sama-sama galau laporan pertanggungjawaban tengah tahun. Jadi, kemaren di tempat PI tuh bukannya buka Dreamweaver atau localhost buat bikin web. Aku malah buka Ms Word buat ngetik laporan, dan Ayong malah buka Ms Excel buat ngerekap dana. Maaf ya pak, bu pembimbing. Hehee.

Sekian dulu deh cerita-ceriti soal sedikit persamaan aku sama Ayong. Nggak menutup kemungkinan, bakal tambah lagi hal-hal yang sama antara kami berdua. Tapi, toh kami nggak melulu sama kok, tetap ada hal yang beda pastinya. Kalau sama terus, nanti jadi bosen dong, tebakable, monoton. Kalau beda terus, nanti yang ada bakal nggak nyatu terus kisruh. Persamaan ataupun perbedaan itu bukan hal yang pokok, yang penting adalah gimana kita memadukannya supaya saling melengkapi. Kami bisa akur gini, selain karena saling menghargai, aku pikir juga karena takdir yang menggariskan kita jadi kayak gini.

Yang pasti,
Seorang sahabat tidak akan membiarkan kamu melakukan tindakan bodoh…
…sendirian ! :D


Aku sama ayong.
@ Art Jog 

Ah, entah udah berapa orang yang bilang kita mirip, atau bilang kita kembar. Hei, coba simak baik-baik. Bagian mana dari kami yang mirip lantas kalian bisa bilang bahwa kami kembar ? Physically, we are different, although it isn’t at all. Persamaannya Cuma satu, sama-sama “embem”. Tapi kadar embemku dengan Soraya juga baru mirip akhir-akhir ini kok, dulu mah embem-an Soraya banget. Haha *pembelaan.

Walaupun secara fisik kita beda, tapi inner kita emang agak samaan sih. Inner ? wew, abot.
Iya, inner. Sedikit cerita “perkoncoan” antara aku dan Ayong (panggilan sayang aku buat dia ni, hehe) ya, biar bisa jadi gambaran apa aja sih persamaan kami berdua.

Ayong masuk daftar konco yang aku kenal di awal. Kita udah kenal dari jaman OSPEK dan berlanjut sampai kuliah. Hari pertama kuliah, di jadwal kosong kita ngobrol-ngobrol ini-itu. (selain Ayong, waktu itu sama Hilma sama Annis. Eh, lambat laun malah tercipta sekawanan yang terdiri dari Aku, Ayong, Hilma, Fatonah. Lupa gimana awal ceritanya. Semua mengalir seperti air sih, *eaak).

Seiring waktu berjalan, gencar tuh info Open Recruitment ELINFO 2011. Sebagai mahasiswa baru yang masih meluap semangatnya, aku pun nggak mau ketinggalan buat daftar. Ternyata, Ayong juga daftar. Singkat cerita, waktu Temu Perdana kita berangkat bareng temen-temen sekelas (yang telat gara-gara kuliah Fisika dulu). Tibalah waktu untuk penentuan sie. Pas ditawarin sie acara, aku sama Ayong ngacung, ternyata selain kita berdua, banyak banget yang juga pengen jadi sie acara. Kalo nggak salah waktu itu Mas Catur yang mimpin, bilang kalo sie acara yang dibutuhkan Cuma beberapa orang, jadi nanti bakal ada yang dipindah ke sie lain. Aku sama Ayong pun rembugan, kira-kira nanti kalo dicutat mau pindah ke sie apa. Kita pun sepakat: sie Konsumsi jadi pilihan selanjutnya. Kita singkat-singkatin lagi ceritanya, aku sama Ayong masuk sie Humas. Lhoh, kok bisa ?. Pokokmen bisa dan itulah yang terjadi.

Persamaan pertama : kita sama-sama daftar jadi Panitia ELINFO. Persamaan kedua : awalnya kita sama-sama pengen  masuk sie Acara ELINFO tapi sama-sama masuk ke sie Humas. Efeknya, tiap berangkat rapat kita janjian dulu berdua soalnya kost kita ke KPLT kan searah. Chemistry lebih lanjut pun terjalin.
Selain ELINFO, kita juga sama-sama jadi anggota KOPMA UNY, sama-sama ikut CBT KOPMA, sama-sama jadi panitia RAT KOPMA juga. Nah !.

Kelar ELINFO, ada Open Recruitment HIMANIKA 2012. Lagi-lagi, aku pun daftar. Setelah survey ke anak-anak kelas F, ternyata lumayan banyak juga yang daftar ikut Hima. Salah satunya, ya Ayong. Ini persamaan kita lagi : sama-sama jadi pengurus Hima. Selama satu tahun kepengurusan di Hima, banyak proker yang kami berdua ikut (malah kayaknya, kalo ada Ayong ada aku. Walaupun kalo ada Aku, belum tentu ada Ayong sih). HSC, Semnas, LFC, CCJ, TJ, KO, Indo-Jerman Exhibition, PMB, KI, ELINFO 2012 (ada lagi nggak ya, agak-agak lupa). Di LFC, kita sama-sama jadi sie Konsumsi, di PMB juga kita sama-sama jadi pemandu.

Selain HIMA, aku sama Ayong juga go eksternal dong. Hehe, istilahnya wagu. Kita ekspansi ke Fakultas. Study Comparative BEM FT 2012, aku sama Ayonglah yang jadi perwakilan Hima waktu itu. Kita juga ikut ELS 2012 dan jadi panitia OSPEK FT 2012. Senengnya adalah, kita sama-sama tergabung jadi PH OSPEK. Aku jadi koordinator sie Data, Ayong jadi Bendahara. Orang yang sering bilang kalo kita kembar, salah satunya adalah Pak Korfak, yap >> Bani Asrofuddin. Hmmm..

Di kuliah, kami pun hampir 11-12. Sama-sama sering nggak mudeng. Haha. Dan di Hima sekarang pun kami sama-sama jadi Pengurus Harian, atau lebih khususnya lagi, sama-sama Pengurus Inti. Ayong jadi Bendahara, aku jadi Sekretaris. Masalah berantakannya kamar kost ? mm.. nggak perlu aku sebutin di sini lah ya :D.

Here we goes. Kita lagi PI nih. Lagi-lagi di tempat yang sama, PPPPTK Matematika. Tiap pagi kita udah pasang-pasangan berangkat ke sana. Fatonah sama Hilma, aku sama Ayong.

Herannya, kalo aku pas males banget berangkat pagi-pagi terus aku sms Ayong biar berangkatnya agak siangan aja, eh di saat yang bersamaan pasti ada sms dari Ayong juga bilang hal yang sama. Terus ni ya, kalo pas aku kesiangan, pas di jalan kita cerita-cerita, Ayong juga pasti bangunnya sama-sama kesiangan. Pas aku nggak sahur, eh, bisa ketebak kan, Ayong paginya juga nggak sahur.

Kemaren kita berdua main ke Art Jog. Di sana, kita sama-sama melongo. Melongo kita ini disponsori oleh rasa kagum sama barang-barang unik yang didisplay di sana, sekaligus karena nggak mudeng sama makna di dalamnya. Haha. Ending-endingnya di ArtJog juga malah jadi ajang narsis-narsisan deh.

Back to PI. Sekarang kita berlima dipisah jadi 2. Kakak Rete, Fatonah sama Hilma ngerjain proyek video, aku sama Ayong ngerjain proyek web. Aku sama Ayong sama-sama galau web ni ceritanya. Selain itu, kemaren (sekarang juga masih sih), kita sama-sama galau laporan pertanggungjawaban tengah tahun. Jadi, kemaren di tempat PI tuh bukannya buka Dreamweaver atau localhost buat bikin web. Aku malah buka Ms Word buat ngetik laporan, dan Ayong malah buka Ms Excel buat ngerekap dana. Maaf ya pak, bu pembimbing. Hehee.

Sekian dulu deh cerita-ceriti soal sedikit persamaan aku sama Ayong. Nggak menutup kemungkinan, bakal tambah lagi hal-hal yang sama antara kami berdua. Tapi, toh kami nggak melulu sama kok, tetap ada hal yang beda pastinya. Kalau sama terus, nanti jadi bosen dong, tebakable, monoton. Kalau beda terus, nanti yang ada bakal nggak nyatu terus kisruh. Persamaan ataupun perbedaan itu bukan hal yang pokok, yang penting adalah gimana kita memadukannya supaya saling melengkapi. Kami bisa akur gini, selain karena saling menghargai, aku pikir juga karena takdir yang menggariskan kita jadi kayak gini.

Yang pasti,
Seorang sahabat tidak akan membiarkan kamu melakukan tindakan bodoh…
…sendirian ! :D


Wednesday, July 17, 2013

,

Nulis Asik By Creative Charity

I. Mas Alit Susanto / Mas Alit / @shitlicious

Session nya mas Alit menjurus ke Nulis Komedi. Secara, beliau kan emang nuliser komedier gitu. ilmunya gimana ? Check it out

Preparation
? Who Are You 

  • Kenali dirimu. Caranya ? Seringlah nulis

! Be Honest

  • Jujur, tulis apa adanya tentang diri kamu, biar keliatan apa adanya. Nggak usah dilebih-lebihin atau dikurang-kurangin. Kalo kayak gitu ya kayak gitu aja.
  • Semua orang punya persona masing-masing. Punya idola sih boleh aja, tapi jangan sampai kamu kehilangan your own style. Tep kudu punya karakter sendiri. Jadi jangan sembarang ikut-ikutan orang lain.
  • Ambil referensi dari beberapa genre sekaligus. Referensi itu nggak dosa kok. Malah disaranin buat liat banyak referensi. Misalnya di genre komedi ada "Lupus"nya Hilman, "Kambing Jantan"nya Raditya Dika, di genre Drama ada Novel Mendayu-dayunya Mira W, di genre Horror ada buku "Gelonggong Kambing" (misalnya aja sih). Terus tujuannya buat apa ? jadi kita bisa tau tulisan nya si ini tu gimana, lebihnya apa, asiknya apa, tulisannya si anu tu gimane, uniknya apa, dll. Nah dari berbagai referensi tadi kita jadi bisa nemuin gaya khas kita. Syukur-syukur kalo bisa nggabungin beberapa genre dan jadi satu karya unik tersendiri.

*Never Think About Royalty

  • Apapun yang didasari karena duit, nggak akan maju deh. Cukup percaya aja, bonusnya Tuhan itu nggak pernah receh.

Let's Begin !

Catching Ideas 
Gimana sih caranya biar bisa dapet ide ? Di mana ?
"Biasanya gue dapet ide di jamban" kata mas Alit. It means that idea is everywhere. Ide itu ada di mana-mana. Inspirasi itu bisa dari mana aja. Bisa dari pengalaman pribadi, bisa juga dari pengalaman orang lain. Hey, curhatan temen juga bisa jadi sumber ide lho.

Emotional
Contoh :
Keresahan
Ketakutan
Kemarahan
Loh, gimana bisa emosi resah, takut dan marah bisa jadi suatu komedi ? bisa, jelas sangat bisa.
Menulis komedi itu bukan melucukan tulisan, tapi melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Tugas kita adalah memperhatikan lebih detail daripada apa yang orang lain perhatikan.
Caranya ?

a. Swap (Menukarkan)
Right person in wrong condition
Misalnya aja Syahrini. Dia kita ceritakan bukan sebagai artis, tapi sebagai kuli bangunan. Apa yang bakal terjadi ? si Jambul Khatulistiwa mungkin bakal dia pake buat ngaduk semen
Right person in wrong time
Misalnya aja Syahrini lagi. Dia kita ceritain hidup di jaman Belanda. Apa yang bakal terjadi ? si Jambul Khatulistiwa bisa tuh dijadikan sebagai pengganti bambu runcing buat ngusir penjajah. Nah lho.

b. Hook (Keterkaitan)
Awali suatu tulisan dengan kalimat yang memancing rasa penasaran pembaca. Jangan yang tebakable dan jangan pake kalimat yang bisa dijawab dengan "Ya emang". Misalnya, "Malam ini aku galau karena abis diputusin pacar". Duh, ini tebakable banget.
Tips : Awali dengan dialog

c. Delivery (Penyampaian)
Penting banget buat bikin pembaca bisa masuk ke imajinasi kita. Karena, hey, nggak semua pembaca kenal sama kamu. Nggak semua pembaca adalah teman karib kamu kan. Tugas kita adalah menunjukkan (showing), bukan mengatakan (telling).
Telling >> Directly tell the condition
Showing >> Showing the condition of something with detail
Tips : Hindari penggunaan kata sifat


"Penulis komedi nggak harus pernah mengalami semua hal lucu. Penulis komedi yang baik cukup adalah seorang analis yang tekun" - mas Alit.
II. Mbak Widya / Mbak Wiwid / @widya_oktavia
Next, materi dari mbak Wiwid, editor di penerbit BUKUNE. Materi ini lebih ke pengetahuan buat kita yang mau serius nulis biar bisa sukses bikin tulisan kita dilirik sama Editor dan diterbitin.

"Orang tidak ingin membaca curhatan kamu. Makanya ambil satu kondisi global yang juga dirasakan orang lain sehingga orang lain itu merasa tertarik untuk membaca tulisan kamu"
Itu dia pembuka dari mbak Wiwid.

Apa Genremu ?
Ini penting. Kamu harus tau dulu kamu punya warna apa. Punya karakter deh istilahnya. Hampir sama kayak yang mas Alit bilang di atas : nggak Cuma sekedar ikut-ikutan gaya orang lain.

Kembangkan Tokoh Utama
Tokoh Utama harus menarik. Kalo nggak menarik, trus apa yang jadi magnet buat pembaca ngabisin novel kamu sampe halaman terakhir ?. caranya buat mengembangkan tokoh utama ternyata gini ini:
- Dia memiliki masalah yang perlu diselesaikan
- Dia mampu berperan dalam cerita
- Dia memiliki alasan untuk bertindak
- Dia mengalami kehilangan sesuatu
- Dia memiliki sesuatu untuk diraih
- Dia memiliki kemampuan untuk berubah
- Dia memiliki rahasia
- Dia memiliki kualitas diri yang menarik / simpatik
- Dia memiliki kekurangan / kelemahan yang menarik
- Dia memiliki seseorang / sesuatu yang mengadangnya

Menurut mbak Wiwid, "Di dunia ini nggak ada sesuat yang benar-benar baru". Cerita tentang LDR, tentang Move On, tentang Putus-Nyambung, tentang Sakit-Parah, bukan sesuatu yang baru. Tapi cara kita mengemasnya yang bikin hal itu tetap menarik.

Cara Menyegarkan Plot Lama
- Mencoba sudut pandang baru
- Mencoba setting tempat baru
- Mencoba setting waktu yang beda
- Mencoba hal yang berkebalikan

"Berawal dari mimpi ingin jadi penulis dan akhirnya beneran jadi penulis itu AMAZING. Jadi, ayo jangan takut buat bermimpi" - mbak Wiwid.
Ciptakan sejarahmu sendiri dengan menulis - @shitlicious
I. Mas Alit Susanto / Mas Alit / @shitlicious

Session nya mas Alit menjurus ke Nulis Komedi. Secara, beliau kan emang nuliser komedier gitu. ilmunya gimana ? Check it out

Preparation
? Who Are You 

  • Kenali dirimu. Caranya ? Seringlah nulis

! Be Honest

  • Jujur, tulis apa adanya tentang diri kamu, biar keliatan apa adanya. Nggak usah dilebih-lebihin atau dikurang-kurangin. Kalo kayak gitu ya kayak gitu aja.
  • Semua orang punya persona masing-masing. Punya idola sih boleh aja, tapi jangan sampai kamu kehilangan your own style. Tep kudu punya karakter sendiri. Jadi jangan sembarang ikut-ikutan orang lain.
  • Ambil referensi dari beberapa genre sekaligus. Referensi itu nggak dosa kok. Malah disaranin buat liat banyak referensi. Misalnya di genre komedi ada "Lupus"nya Hilman, "Kambing Jantan"nya Raditya Dika, di genre Drama ada Novel Mendayu-dayunya Mira W, di genre Horror ada buku "Gelonggong Kambing" (misalnya aja sih). Terus tujuannya buat apa ? jadi kita bisa tau tulisan nya si ini tu gimana, lebihnya apa, asiknya apa, tulisannya si anu tu gimane, uniknya apa, dll. Nah dari berbagai referensi tadi kita jadi bisa nemuin gaya khas kita. Syukur-syukur kalo bisa nggabungin beberapa genre dan jadi satu karya unik tersendiri.

*Never Think About Royalty

  • Apapun yang didasari karena duit, nggak akan maju deh. Cukup percaya aja, bonusnya Tuhan itu nggak pernah receh.

Let's Begin !

Catching Ideas 
Gimana sih caranya biar bisa dapet ide ? Di mana ?
"Biasanya gue dapet ide di jamban" kata mas Alit. It means that idea is everywhere. Ide itu ada di mana-mana. Inspirasi itu bisa dari mana aja. Bisa dari pengalaman pribadi, bisa juga dari pengalaman orang lain. Hey, curhatan temen juga bisa jadi sumber ide lho.

Emotional
Contoh :
Keresahan
Ketakutan
Kemarahan
Loh, gimana bisa emosi resah, takut dan marah bisa jadi suatu komedi ? bisa, jelas sangat bisa.
Menulis komedi itu bukan melucukan tulisan, tapi melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Tugas kita adalah memperhatikan lebih detail daripada apa yang orang lain perhatikan.
Caranya ?

a. Swap (Menukarkan)
Right person in wrong condition
Misalnya aja Syahrini. Dia kita ceritakan bukan sebagai artis, tapi sebagai kuli bangunan. Apa yang bakal terjadi ? si Jambul Khatulistiwa mungkin bakal dia pake buat ngaduk semen
Right person in wrong time
Misalnya aja Syahrini lagi. Dia kita ceritain hidup di jaman Belanda. Apa yang bakal terjadi ? si Jambul Khatulistiwa bisa tuh dijadikan sebagai pengganti bambu runcing buat ngusir penjajah. Nah lho.

b. Hook (Keterkaitan)
Awali suatu tulisan dengan kalimat yang memancing rasa penasaran pembaca. Jangan yang tebakable dan jangan pake kalimat yang bisa dijawab dengan "Ya emang". Misalnya, "Malam ini aku galau karena abis diputusin pacar". Duh, ini tebakable banget.
Tips : Awali dengan dialog

c. Delivery (Penyampaian)
Penting banget buat bikin pembaca bisa masuk ke imajinasi kita. Karena, hey, nggak semua pembaca kenal sama kamu. Nggak semua pembaca adalah teman karib kamu kan. Tugas kita adalah menunjukkan (showing), bukan mengatakan (telling).
Telling >> Directly tell the condition
Showing >> Showing the condition of something with detail
Tips : Hindari penggunaan kata sifat


"Penulis komedi nggak harus pernah mengalami semua hal lucu. Penulis komedi yang baik cukup adalah seorang analis yang tekun" - mas Alit.
II. Mbak Widya / Mbak Wiwid / @widya_oktavia
Next, materi dari mbak Wiwid, editor di penerbit BUKUNE. Materi ini lebih ke pengetahuan buat kita yang mau serius nulis biar bisa sukses bikin tulisan kita dilirik sama Editor dan diterbitin.

"Orang tidak ingin membaca curhatan kamu. Makanya ambil satu kondisi global yang juga dirasakan orang lain sehingga orang lain itu merasa tertarik untuk membaca tulisan kamu"
Itu dia pembuka dari mbak Wiwid.

Apa Genremu ?
Ini penting. Kamu harus tau dulu kamu punya warna apa. Punya karakter deh istilahnya. Hampir sama kayak yang mas Alit bilang di atas : nggak Cuma sekedar ikut-ikutan gaya orang lain.

Kembangkan Tokoh Utama
Tokoh Utama harus menarik. Kalo nggak menarik, trus apa yang jadi magnet buat pembaca ngabisin novel kamu sampe halaman terakhir ?. caranya buat mengembangkan tokoh utama ternyata gini ini:
- Dia memiliki masalah yang perlu diselesaikan
- Dia mampu berperan dalam cerita
- Dia memiliki alasan untuk bertindak
- Dia mengalami kehilangan sesuatu
- Dia memiliki sesuatu untuk diraih
- Dia memiliki kemampuan untuk berubah
- Dia memiliki rahasia
- Dia memiliki kualitas diri yang menarik / simpatik
- Dia memiliki kekurangan / kelemahan yang menarik
- Dia memiliki seseorang / sesuatu yang mengadangnya

Menurut mbak Wiwid, "Di dunia ini nggak ada sesuat yang benar-benar baru". Cerita tentang LDR, tentang Move On, tentang Putus-Nyambung, tentang Sakit-Parah, bukan sesuatu yang baru. Tapi cara kita mengemasnya yang bikin hal itu tetap menarik.

Cara Menyegarkan Plot Lama
- Mencoba sudut pandang baru
- Mencoba setting tempat baru
- Mencoba setting waktu yang beda
- Mencoba hal yang berkebalikan

"Berawal dari mimpi ingin jadi penulis dan akhirnya beneran jadi penulis itu AMAZING. Jadi, ayo jangan takut buat bermimpi" - mbak Wiwid.
Ciptakan sejarahmu sendiri dengan menulis - @shitlicious

#Creative Charity

Kenal sama Alit Susanto ? atau pernah denger tentang Shitlicious ?
Mungkin sebagian langsung paham, sebagian lagi ada yang garuk-garuk kepala. Aku termasuk kategori yang kedua. Hehe.

Berawal dari lagi selo dan ngecek Timeline, aku liat ada tweet dari akun kampus : @standupuny tentang acara #CreativeCharity bareng @shitlicious. Pertama kali denger langsung  interest. @standupuny itu komunitas para comic yang rutin ngadain open mic (biasanya sih hari Rabu). Eksistensi mereka jangan ditanyain lagi. Udah sering menggoyang di mana-mana deh *jiaah berasa apa aja. Kalo @shitlicious itu…aku berasa familiar sama akun itu. pas aku cek, ternyata bener ni akun kocak. Secara yang ngadain orang-orang seru, terus acaranya juga sama orang seru, aku jadi curiga kalo acaranya bakal sama serunya. Brb mengajukan diri buat ikutan deh.

Aku juga nggak begitu kenal sama mas (duh, mas) Alit ini *mas, kamu belum begitu terkenal ternyata :D. Yang aku tau, mas Alit itu penulis buku Skripshit dan aku pernah baca tu buku. Bukunya tentang curhatan beliau selaku mahasiswa abadi yang lagi berjuang buat nyelesein skripsi, yang konon katanya masih belum kelar juga sampai sekarang. #pukpuk. Mas Alit juga mahasiswa kampus tetangga sebelah lho. UGM ? Bukan, bukan UGM, tapi Sadhar (Sanata Dharma).

Acara #CreativeCharity siang itu diadain di Aula FE. Sebagai anak Teknik, wajar dong ya bro kalo aku nggak familiar sama denah FE. Jadilah aku Tanya-tanya sama anak FE. Beruntung pas di sana ketemu temen jadi bisa ditunjukin jalan yang benar . Pas naik ke atas (aula nya di lantai 2), ternyata nemuin aula nggak segampang nemuin cerita galaunya @hanijava di twitter *duh #salahfokus. Intinya aku malah muter-muter gitu deh.

Di sebuah pojokan ada gerombolan mas-mas yang lagi nggerombol, tiap ada mahasiswa yang nyamperin, mereka selalu Tanya “mau seminar apa KRS-an ?”. wah, ini semacam kode kayaknya. Berawal dari keraguan untuk mendekat karena wajah mas-mas nya yang sangar, lambat laun akupun memantapkan langkah (duilah bahasaku). Apalagi ada wajah yang aku cukup kenal. Kalo nggak salah ini mas @dickimahardika. Akupun registrasi ulang di sana. Sempet bercanda juga.

Mas Dicki dkk : “Mau Seminar apa KRS-an ?”
Aku : “Emang ini acara seminar ya mas ?”
Mas Dicki dkk : “Ya enggak sih, ini acara Creative Charity”
Aku : “Nah, itu dia mas”
Mas Dicki dkk : “Mbak nya yang tadi sliwar-sliwer kan, bingung ya mau ke sini ?”
Aku : “Iya e mas, takut ke sini soalnya mas-masnya sangar”
Mas Dicki dkk : “(saling tunjuk temenna) Woo kowe kui wajahe sangar. (berpaling ke aku) Emang nggak tau aula di mana ya mbak ?”
Aku : “Nggak tau mas, bukan anak FE soalnya”
Mas Dicki : “emang anak mana ?”
Aku : “Anak UNY mas. (liat kolom nama dan tanda tangan) eh mas, ini namaku salah”
Mas Dicki : “Oo, yaudah, nggak pa-pa kok”
Aku : “Iya, nggak dapet sertifikat kan ? Hehe”
Mas Dicki : “Mbak nya pasti beneran anak UNY. Haha”

Yah begitulah. Anak UNY identik dengan pencari sertifikat. Duh, biyung. Btw, dapet booknote keren deh. Aaak, jadi semangat buat nulis. Hehe.

Di dalam ruangan udah ada cukup orang yang menempati sebagian deretan kursi yang ditata rapi di sana. Aku pilih buat duduk di sebelah 2 orang mbak-mbak biar aku nggak keliatan sendiri. Aku sapukan pandangan ke penjuru ruangan. Eh, ada viewer juga yang nampilin tweet-tweet dengan hashtag #CreativeCharity. *brb ngetwit deh.

Beberapa saat acara dibuka sama MC. Kak MC ngenalin 3 orang pembicara kita. Ternyata nggak Cuma ada @shitlicious, hari itu ada @CatatanSiDoy sama mbak @widya_oktavia. Mau tau apa aja ilmunya ? next post yak, biar nggak longpost numpuk di satu post ini. Hehe.

Finally, acaranya cukup seru kok. 3 dari 5 bintang deh. Sayang waktunya Cuma 2 jam (dari pukul 14.00 – 16.00). Walaupun acaranya sederhana dan tebakable (karena latihan kepenulisan kan emang paling Cuma gitu-gitu aja : materi tentang penggalian ide, teknik nulis, praktek nulis, sesi Tanya jawab, dll dll). Tapi kemasan acara yang fresh dan orangnya yang gokil-gokil bikin kita ngakakable.

Owh iya, dari acara ini aku jadi tau apa itu charity. Jadi, di acara-acara charity, nggak ada patokan harga dari panitia buat peserta yang ikut. Peserta yang ikut cukup ngasih seikhlas mereka. Nantinya uang tersebut bakal jadi donasi buat saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga acaranya berkah deh..

Nice to be a part of #CreativeCharity Jogja

Kenal sama Alit Susanto ? atau pernah denger tentang Shitlicious ?
Mungkin sebagian langsung paham, sebagian lagi ada yang garuk-garuk kepala. Aku termasuk kategori yang kedua. Hehe.

Berawal dari lagi selo dan ngecek Timeline, aku liat ada tweet dari akun kampus : @standupuny tentang acara #CreativeCharity bareng @shitlicious. Pertama kali denger langsung  interest. @standupuny itu komunitas para comic yang rutin ngadain open mic (biasanya sih hari Rabu). Eksistensi mereka jangan ditanyain lagi. Udah sering menggoyang di mana-mana deh *jiaah berasa apa aja. Kalo @shitlicious itu…aku berasa familiar sama akun itu. pas aku cek, ternyata bener ni akun kocak. Secara yang ngadain orang-orang seru, terus acaranya juga sama orang seru, aku jadi curiga kalo acaranya bakal sama serunya. Brb mengajukan diri buat ikutan deh.

Aku juga nggak begitu kenal sama mas (duh, mas) Alit ini *mas, kamu belum begitu terkenal ternyata :D. Yang aku tau, mas Alit itu penulis buku Skripshit dan aku pernah baca tu buku. Bukunya tentang curhatan beliau selaku mahasiswa abadi yang lagi berjuang buat nyelesein skripsi, yang konon katanya masih belum kelar juga sampai sekarang. #pukpuk. Mas Alit juga mahasiswa kampus tetangga sebelah lho. UGM ? Bukan, bukan UGM, tapi Sadhar (Sanata Dharma).

Acara #CreativeCharity siang itu diadain di Aula FE. Sebagai anak Teknik, wajar dong ya bro kalo aku nggak familiar sama denah FE. Jadilah aku Tanya-tanya sama anak FE. Beruntung pas di sana ketemu temen jadi bisa ditunjukin jalan yang benar . Pas naik ke atas (aula nya di lantai 2), ternyata nemuin aula nggak segampang nemuin cerita galaunya @hanijava di twitter *duh #salahfokus. Intinya aku malah muter-muter gitu deh.

Di sebuah pojokan ada gerombolan mas-mas yang lagi nggerombol, tiap ada mahasiswa yang nyamperin, mereka selalu Tanya “mau seminar apa KRS-an ?”. wah, ini semacam kode kayaknya. Berawal dari keraguan untuk mendekat karena wajah mas-mas nya yang sangar, lambat laun akupun memantapkan langkah (duilah bahasaku). Apalagi ada wajah yang aku cukup kenal. Kalo nggak salah ini mas @dickimahardika. Akupun registrasi ulang di sana. Sempet bercanda juga.

Mas Dicki dkk : “Mau Seminar apa KRS-an ?”
Aku : “Emang ini acara seminar ya mas ?”
Mas Dicki dkk : “Ya enggak sih, ini acara Creative Charity”
Aku : “Nah, itu dia mas”
Mas Dicki dkk : “Mbak nya yang tadi sliwar-sliwer kan, bingung ya mau ke sini ?”
Aku : “Iya e mas, takut ke sini soalnya mas-masnya sangar”
Mas Dicki dkk : “(saling tunjuk temenna) Woo kowe kui wajahe sangar. (berpaling ke aku) Emang nggak tau aula di mana ya mbak ?”
Aku : “Nggak tau mas, bukan anak FE soalnya”
Mas Dicki : “emang anak mana ?”
Aku : “Anak UNY mas. (liat kolom nama dan tanda tangan) eh mas, ini namaku salah”
Mas Dicki : “Oo, yaudah, nggak pa-pa kok”
Aku : “Iya, nggak dapet sertifikat kan ? Hehe”
Mas Dicki : “Mbak nya pasti beneran anak UNY. Haha”

Yah begitulah. Anak UNY identik dengan pencari sertifikat. Duh, biyung. Btw, dapet booknote keren deh. Aaak, jadi semangat buat nulis. Hehe.

Di dalam ruangan udah ada cukup orang yang menempati sebagian deretan kursi yang ditata rapi di sana. Aku pilih buat duduk di sebelah 2 orang mbak-mbak biar aku nggak keliatan sendiri. Aku sapukan pandangan ke penjuru ruangan. Eh, ada viewer juga yang nampilin tweet-tweet dengan hashtag #CreativeCharity. *brb ngetwit deh.

Beberapa saat acara dibuka sama MC. Kak MC ngenalin 3 orang pembicara kita. Ternyata nggak Cuma ada @shitlicious, hari itu ada @CatatanSiDoy sama mbak @widya_oktavia. Mau tau apa aja ilmunya ? next post yak, biar nggak longpost numpuk di satu post ini. Hehe.

Finally, acaranya cukup seru kok. 3 dari 5 bintang deh. Sayang waktunya Cuma 2 jam (dari pukul 14.00 – 16.00). Walaupun acaranya sederhana dan tebakable (karena latihan kepenulisan kan emang paling Cuma gitu-gitu aja : materi tentang penggalian ide, teknik nulis, praktek nulis, sesi Tanya jawab, dll dll). Tapi kemasan acara yang fresh dan orangnya yang gokil-gokil bikin kita ngakakable.

Owh iya, dari acara ini aku jadi tau apa itu charity. Jadi, di acara-acara charity, nggak ada patokan harga dari panitia buat peserta yang ikut. Peserta yang ikut cukup ngasih seikhlas mereka. Nantinya uang tersebut bakal jadi donasi buat saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga acaranya berkah deh..

Nice to be a part of #CreativeCharity Jogja

Tuesday, July 2, 2013

June On Review

 Fix, Juni jadi bulan di mana aku spaneng sekaligus sumringah. Bulan di mana aku naik ke atas sekaligus jatoh sejatoh-jatohnya ke bawah. Bulan di mana aku harus ke sana dan ke sini.

Spaneng karena udah memasuki masa-masa UAS. Galau RPL, galau SPK, galau Metal, galau KWU, dll jadi satu. Salah sendiri sih, suruh siapa nyantai-nyantai belajar kok dirapel di akhir, ngerjain proyek kok dirapel di akhir, nyusun proposal kok dirapel di akhir. Berasa sahur, semua serba mengakhirkan. Lhoh ?. Iya kan, kan sahur lebih utama kalo mengakhirkan. Apa jhal :D.

Akibat kebiasaan ngerjain mepet-mepet deadline, aku sebut bulan ini dan juga semester ini sebagai H-sehari. *only if you know what I mean.

Sumringah karena gaweanku dolan-dolan mulu. Bukan dolan sih sebenernya, tapi emang kegiatan yang ndilalah ke tempat-tempat yang dolanable.

Hari pertama di bulan ini aja (Sabtu, 1/6) udah dibuka dengan nonton film Epic The Movie di bioskop. Seminggu setelahnya (Sabtu, 8/6) ada survey FT Mengajar ke daerah Gunungkidul yang endingnya malah jadi jalan-jalan ke Gunung Purba sama temen-temen team.

Rentang seminggu kemudian (Minggu, 16/6) ada Lomba Masak sama Pengurus BEM KM UNY 2013, kalo ini sih masih di area kampus, cukup masak-masak di sebelah Masmuja aja kok. Eits, tapi malemnya aku dan beberapa temen kelas F nginep bareng di rumah simbahnya Ipeh, terus Senin (17/6) pagi kita ke Goa Jepang. Hehe.

Nggak butuh waktu lama. Selasa malem (18/6), ada agenda lagi nih : Progress Report Dagri yang kita “gelar” di rumah Tri (salah satu Dagri Holic, sebutan buat anak Dagri). Rumahnya Tri ini ada di cangkiran, Jakal ke sonooooo lagi lah. Kalo ditanya, “Ini Jakal KM berapa Tri ?”, jawabannya “Jakal KM entah njuk mbelok-mbelok”. Setelah malamnya evaluasi habis-habisan di progress report, paginya kita jalan-jalan habis-habisan mlipir ke Merapi. Merapi nya dekeeet banget.

Pasar Kangen jadi next dolan di bulan ini. Di Jumat (21/6) malam yang pekat, datanglah ajakan dari mbak Mega buat ke Pasar Kangen. Hayuk cuss cap cus. Aku berasa menyusup gegara ke sananya bareng sama anak kelas G semua. Tapi no problem. Yang jadi problem adalah, kita nggak bisa beli bensin. Berhubung esok hari harga BBM naik, antrian motor di pom bensin seakan ngalahin antrian penonton AADC di bioskop (duh, ini fenomena jaman kapan jhal).

Pasar Kangen ternyata emang bisa bikin kangen. Alhasil,  aku ke sana lagi hari Senin minggu depannya (24/6). Kali ini sama Aya, Hilma, Mimip, Fiani dan kakak Rete. Kita membawa misi rahasia : ngasih birthday surprise buat Mimip. Ssst, jangan bilang-bilang ya. Pasar Kangen Cuma jadi tempat persinggahan aja, tempat eksekusinya di taman monument Serangan Umum 1 Maret di 0 KM. Ceritanya di tengah kita istirahat dari jalan-jalan (capek lhoh broh), trus Fatonah, Budi dan Andri dateng bawa kue. Kita pun nyanyi-nyanyi gitu. Semarak.

Balik lagi, harusnya hari Sabtu (22/6) aku bisa jalan-jalan lagi ke Gunungkidul buat FT Mengajar. Tapi berhubung bentrok sama seleksi MCR dan aku milih seleksi MCR, jadi dibatalin dulu deh ke GKnya. Hiks. Hiksnya lagi aku gagal lho kepilih jadi MCR. Hihik. Jadi nih ya, modal niat doang itu nggak cukup. Itu nekat namanya. Kalo emang punya keinginan, bawa bekal kesiapan juga yah. *catet*.

Pungkasan dari Juni Dolan yaitu dengan Upgrading di Banguntapan Bantul. Berhubung panitia dari pihak PH, jadi kami lah yang menyiapkan segala sesuatunya. Tempat Upgrading kita di daerah sentra produksi batu bata gitu. Asap dan abu pembakaran batu bata ada di mana-mana. Asik atau enggak nya, silahkan langsung Tanya ke para peserta aja kalik ya. Soalnya kalo aku yang jawab jadi nggak objektif nanti. Hehe.


Pastinya, Juni adalah bulan ke-6 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah (wuiist, ilmiah). Itu artinya… ? kalau di HIMA ada yang namanya Progress Report. Progress Report itu semacam laporan pertanggungjawaban setengah tahun kepengurusan. Nah, karena bulan Juni ini berarti udah memasuki setengah tahun perjalanan hidup di 2013, kudunya ada Progress Report buat diri sendiri. Iya, kudunya.
 Fix, Juni jadi bulan di mana aku spaneng sekaligus sumringah. Bulan di mana aku naik ke atas sekaligus jatoh sejatoh-jatohnya ke bawah. Bulan di mana aku harus ke sana dan ke sini.

Spaneng karena udah memasuki masa-masa UAS. Galau RPL, galau SPK, galau Metal, galau KWU, dll jadi satu. Salah sendiri sih, suruh siapa nyantai-nyantai belajar kok dirapel di akhir, ngerjain proyek kok dirapel di akhir, nyusun proposal kok dirapel di akhir. Berasa sahur, semua serba mengakhirkan. Lhoh ?. Iya kan, kan sahur lebih utama kalo mengakhirkan. Apa jhal :D.

Akibat kebiasaan ngerjain mepet-mepet deadline, aku sebut bulan ini dan juga semester ini sebagai H-sehari. *only if you know what I mean.

Sumringah karena gaweanku dolan-dolan mulu. Bukan dolan sih sebenernya, tapi emang kegiatan yang ndilalah ke tempat-tempat yang dolanable.

Hari pertama di bulan ini aja (Sabtu, 1/6) udah dibuka dengan nonton film Epic The Movie di bioskop. Seminggu setelahnya (Sabtu, 8/6) ada survey FT Mengajar ke daerah Gunungkidul yang endingnya malah jadi jalan-jalan ke Gunung Purba sama temen-temen team.

Rentang seminggu kemudian (Minggu, 16/6) ada Lomba Masak sama Pengurus BEM KM UNY 2013, kalo ini sih masih di area kampus, cukup masak-masak di sebelah Masmuja aja kok. Eits, tapi malemnya aku dan beberapa temen kelas F nginep bareng di rumah simbahnya Ipeh, terus Senin (17/6) pagi kita ke Goa Jepang. Hehe.

Nggak butuh waktu lama. Selasa malem (18/6), ada agenda lagi nih : Progress Report Dagri yang kita “gelar” di rumah Tri (salah satu Dagri Holic, sebutan buat anak Dagri). Rumahnya Tri ini ada di cangkiran, Jakal ke sonooooo lagi lah. Kalo ditanya, “Ini Jakal KM berapa Tri ?”, jawabannya “Jakal KM entah njuk mbelok-mbelok”. Setelah malamnya evaluasi habis-habisan di progress report, paginya kita jalan-jalan habis-habisan mlipir ke Merapi. Merapi nya dekeeet banget.

Pasar Kangen jadi next dolan di bulan ini. Di Jumat (21/6) malam yang pekat, datanglah ajakan dari mbak Mega buat ke Pasar Kangen. Hayuk cuss cap cus. Aku berasa menyusup gegara ke sananya bareng sama anak kelas G semua. Tapi no problem. Yang jadi problem adalah, kita nggak bisa beli bensin. Berhubung esok hari harga BBM naik, antrian motor di pom bensin seakan ngalahin antrian penonton AADC di bioskop (duh, ini fenomena jaman kapan jhal).

Pasar Kangen ternyata emang bisa bikin kangen. Alhasil,  aku ke sana lagi hari Senin minggu depannya (24/6). Kali ini sama Aya, Hilma, Mimip, Fiani dan kakak Rete. Kita membawa misi rahasia : ngasih birthday surprise buat Mimip. Ssst, jangan bilang-bilang ya. Pasar Kangen Cuma jadi tempat persinggahan aja, tempat eksekusinya di taman monument Serangan Umum 1 Maret di 0 KM. Ceritanya di tengah kita istirahat dari jalan-jalan (capek lhoh broh), trus Fatonah, Budi dan Andri dateng bawa kue. Kita pun nyanyi-nyanyi gitu. Semarak.

Balik lagi, harusnya hari Sabtu (22/6) aku bisa jalan-jalan lagi ke Gunungkidul buat FT Mengajar. Tapi berhubung bentrok sama seleksi MCR dan aku milih seleksi MCR, jadi dibatalin dulu deh ke GKnya. Hiks. Hiksnya lagi aku gagal lho kepilih jadi MCR. Hihik. Jadi nih ya, modal niat doang itu nggak cukup. Itu nekat namanya. Kalo emang punya keinginan, bawa bekal kesiapan juga yah. *catet*.

Pungkasan dari Juni Dolan yaitu dengan Upgrading di Banguntapan Bantul. Berhubung panitia dari pihak PH, jadi kami lah yang menyiapkan segala sesuatunya. Tempat Upgrading kita di daerah sentra produksi batu bata gitu. Asap dan abu pembakaran batu bata ada di mana-mana. Asik atau enggak nya, silahkan langsung Tanya ke para peserta aja kalik ya. Soalnya kalo aku yang jawab jadi nggak objektif nanti. Hehe.


Pastinya, Juni adalah bulan ke-6 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah (wuiist, ilmiah). Itu artinya… ? kalau di HIMA ada yang namanya Progress Report. Progress Report itu semacam laporan pertanggungjawaban setengah tahun kepengurusan. Nah, karena bulan Juni ini berarti udah memasuki setengah tahun perjalanan hidup di 2013, kudunya ada Progress Report buat diri sendiri. Iya, kudunya.