Monday, September 24, 2018

,

Review Purbasari BB Cream Hydra Series varian Honey Beige


Setelah diingat-ingat, ternyata aku udah lama banget nggak nulis review tentang make up. Jadi kangen pengen nulis. Kebetulan bulan ini Shopee lagi ada promo kosmetik dan aku beli beberapa make up baru (baru buat aku lho, bukan berarti produk baru). Maklum, mata jadi ijo kalau lihat promo. Salah satu yang masuk kantong belanja adalah BB Cream Hydra Series Brightening Cool dari Purbasari ini. Aku mau bikin reviewnya ah.....

Review Purbasari BB Cream Hydra Series Honey Beige

By the way, ini honest review kok bukan sponsored content :3

Harga
Ekonomis, khas Purbasari

Di Shopee, Purbasari BB Cream dengan berat bersih 35ml ini dibanderol dengan harga Rp 42.000
Sepertinya beli online lebih murah dari harga toko. Kisaran harga di toko sekitar Rp 45.000

Varian
Terbatas 2 warna

Ada 2 varian base warna yang bisa kita pilih, yaitu Natural atau Honey Beige. Natural lebih ke kulit yang warna dasarnya terang (ya gitulah), sedangkan honey beige lebih ke kulit dengan warna dasar kuning. Aku sendiri pilih yang varian Honey Beige.

Klaim
Matte, Melembabkan dan Melindungi Kulit Sepanjang Hari

Di kotaknya, terdapat keterangan-keterangan cukup lengkap, mulai dari ingredients, expired date, petunjuk penggunaan, dan deskripsi produk. Produk BB Cream ini diklaim

“Menghasilkan tampilan matte alami sekaligus membantu melembabkan dan melindungi kulit dari sinar UV. Dilengkapi formula yang tahan lama dengan cooling agent, natural moisturizer dan antioksidan yang membantu melindungi kulit dari polusi debu dan kotoran sepanjang hari.”



Packaging
Kesan Mewah, tapi cukup bikin susah

Satu hal yang menarik dari Purbasari BB Cream ini adalah packagingnya yang berupa tube dengan ujung pump.

Packaging Purbasari BB Cream dengan ujung pump

Idenya boleh juga, beda dari yang lain. Tapi boleh dikatakan aku agak kesulitan saat akan mengambil produk pertama kali. Aku coba pump sekali, nggak keluar.  Coba lagi lebih dari sekali, nggak keluar. Aku pikir, apa pump nya bisa di-lock kayak pump foundationnya Make Over?. Ternyata enggak, hehe. Eh di percobaan ke sekian produknya keluar lebih banyak dari perkiraan!!. Ommo, bingung akutu jadinya.

Tapi hanya sekali itu sih kesulitannya. Lama-lama udah terbiasa dan bisa kontrol mau ambil produk seberapa banyak.

Review

Ekspektasi awal akan sebuah produk BB cream nggak jauh-jauh dari: ringan, for daily use, dan coverage-nya light to medium. Setelah mencoba Purbasari BB cream Hydra Series varian Honey Beige ini, ternyata melebihi ekspektasi. How happy I am!!.

Tekstur Purbasari BB Cream

Untuk tekstur, menurutku tekstur BB cream Purbasari ini lebih kental daripada BB cream kebanyakan. Malahan teksturnya nggak beda jauh dari foundation. Dengan tekstur seperti ini, Purbasari BB cream cukup mudah untuk di-blend. Aku pribadi lebih suka apply ke wajah pakai blender atau spons (((atau tangan kalau kepepet))).

Ketika selesai apply si BB cream, aku suka dengan hasil akhirnya. Hasil akhirnya matte, dan bikin wajah aku terlihat jauh lebih halus. I don’t even know how to explain it. Mungkin karena dia menimpa pori-pori di kulit. Entahlah.

Lalu, aku jadi paham kenapa ada embel-embel “Brightening Cool” di namanya. Ternyata memang BB cream ini menimbulkan efek adem setelah di-apply. Pernah coba Whitening Serum Cream nya Garnier?. Nah kurang lebih seperti itu sensasi “semriwing” yang timbul dalam versi lebih soft (Semriwingnya Garnier kenceng banget soalnya).

Coverage yang dihasilkan ternyata medium, aku curiga bahkan bisa sampai high coverage kalau kita pakai lebih banyak produk. Aku pernah coba pakai BB cream Purbasari di wajah bagian kiri dan Maybelline Fit Me foundation varian natural beige di wajah bagian kanan. Hasilnya nggak jauh beda, bahkan hampir sama. Malahan aku langsung pergi ke mall dengan tampilan begitu. Huehehe

Bare face. Sebelum menggunakan Purbasari BB Cream

Setelah menggunakan Purbasari BB Cream

Apakah lantas produk ini bikin “dempul”?. I’ll say no, karena buat aku ini masih sangat sangat ringan. Oh iya, walaupun dia medium coverage, tapi dia nggak membuat kulit wajah kita jadi rata. Get what I mean?. Jadi kalau ada bagian wajah yang warnanya lebih gelap atau lebih terang, ya masih akan keliatan gitu perbedaan warnanya.

Untuk pilihan warna, aku nggak bermasalah dengan varian warnanya yang terbatas hanya ada 2 pilihan. Varian Honey Beige menurutku sudah menjadi pilihan yang tepat karena warna kulit wajahku memang yellow undertone. Apalagi karena ini BB cream, warnanya lama-kelamaan akan menyatu sama warna kulit kita. 

Ketahanan Purbasari BB Cream menjadi satu faktor yang bikin aku sayang sama produk ini. Aku pakai ke sekolah dari pagi sampai siang, dia masih stay di wajah. Waktu itu bahkan aku wudhu dan sholat, setelahnya aku ngaca dan aku masih merasa cantik (eh gimana). Dalam artian, ketika aku pakai krim-krim lain, biasanya ujung hidung udah berkilat, pipi udah coreng moreng. Tapi BB cream Purbasari ini enggak, menipis tapi terbilang masih stay. 

Repurchase? For sure, why not.




Setelah diingat-ingat, ternyata aku udah lama banget nggak nulis review tentang make up. Jadi kangen pengen nulis. Kebetulan bulan ini Shopee lagi ada promo kosmetik dan aku beli beberapa make up baru (baru buat aku lho, bukan berarti produk baru). Maklum, mata jadi ijo kalau lihat promo. Salah satu yang masuk kantong belanja adalah BB Cream Hydra Series Brightening Cool dari Purbasari ini. Aku mau bikin reviewnya ah.....

Review Purbasari BB Cream Hydra Series Honey Beige

By the way, ini honest review kok bukan sponsored content :3

Harga
Ekonomis, khas Purbasari

Di Shopee, Purbasari BB Cream dengan berat bersih 35ml ini dibanderol dengan harga Rp 42.000
Sepertinya beli online lebih murah dari harga toko. Kisaran harga di toko sekitar Rp 45.000

Varian
Terbatas 2 warna

Ada 2 varian base warna yang bisa kita pilih, yaitu Natural atau Honey Beige. Natural lebih ke kulit yang warna dasarnya terang (ya gitulah), sedangkan honey beige lebih ke kulit dengan warna dasar kuning. Aku sendiri pilih yang varian Honey Beige.

Klaim
Matte, Melembabkan dan Melindungi Kulit Sepanjang Hari

Di kotaknya, terdapat keterangan-keterangan cukup lengkap, mulai dari ingredients, expired date, petunjuk penggunaan, dan deskripsi produk. Produk BB Cream ini diklaim

“Menghasilkan tampilan matte alami sekaligus membantu melembabkan dan melindungi kulit dari sinar UV. Dilengkapi formula yang tahan lama dengan cooling agent, natural moisturizer dan antioksidan yang membantu melindungi kulit dari polusi debu dan kotoran sepanjang hari.”



Packaging
Kesan Mewah, tapi cukup bikin susah

Satu hal yang menarik dari Purbasari BB Cream ini adalah packagingnya yang berupa tube dengan ujung pump.

Packaging Purbasari BB Cream dengan ujung pump

Idenya boleh juga, beda dari yang lain. Tapi boleh dikatakan aku agak kesulitan saat akan mengambil produk pertama kali. Aku coba pump sekali, nggak keluar.  Coba lagi lebih dari sekali, nggak keluar. Aku pikir, apa pump nya bisa di-lock kayak pump foundationnya Make Over?. Ternyata enggak, hehe. Eh di percobaan ke sekian produknya keluar lebih banyak dari perkiraan!!. Ommo, bingung akutu jadinya.

Tapi hanya sekali itu sih kesulitannya. Lama-lama udah terbiasa dan bisa kontrol mau ambil produk seberapa banyak.

Review

Ekspektasi awal akan sebuah produk BB cream nggak jauh-jauh dari: ringan, for daily use, dan coverage-nya light to medium. Setelah mencoba Purbasari BB cream Hydra Series varian Honey Beige ini, ternyata melebihi ekspektasi. How happy I am!!.

Tekstur Purbasari BB Cream

Untuk tekstur, menurutku tekstur BB cream Purbasari ini lebih kental daripada BB cream kebanyakan. Malahan teksturnya nggak beda jauh dari foundation. Dengan tekstur seperti ini, Purbasari BB cream cukup mudah untuk di-blend. Aku pribadi lebih suka apply ke wajah pakai blender atau spons (((atau tangan kalau kepepet))).

Ketika selesai apply si BB cream, aku suka dengan hasil akhirnya. Hasil akhirnya matte, dan bikin wajah aku terlihat jauh lebih halus. I don’t even know how to explain it. Mungkin karena dia menimpa pori-pori di kulit. Entahlah.

Lalu, aku jadi paham kenapa ada embel-embel “Brightening Cool” di namanya. Ternyata memang BB cream ini menimbulkan efek adem setelah di-apply. Pernah coba Whitening Serum Cream nya Garnier?. Nah kurang lebih seperti itu sensasi “semriwing” yang timbul dalam versi lebih soft (Semriwingnya Garnier kenceng banget soalnya).

Coverage yang dihasilkan ternyata medium, aku curiga bahkan bisa sampai high coverage kalau kita pakai lebih banyak produk. Aku pernah coba pakai BB cream Purbasari di wajah bagian kiri dan Maybelline Fit Me foundation varian natural beige di wajah bagian kanan. Hasilnya nggak jauh beda, bahkan hampir sama. Malahan aku langsung pergi ke mall dengan tampilan begitu. Huehehe

Bare face. Sebelum menggunakan Purbasari BB Cream

Setelah menggunakan Purbasari BB Cream

Apakah lantas produk ini bikin “dempul”?. I’ll say no, karena buat aku ini masih sangat sangat ringan. Oh iya, walaupun dia medium coverage, tapi dia nggak membuat kulit wajah kita jadi rata. Get what I mean?. Jadi kalau ada bagian wajah yang warnanya lebih gelap atau lebih terang, ya masih akan keliatan gitu perbedaan warnanya.

Untuk pilihan warna, aku nggak bermasalah dengan varian warnanya yang terbatas hanya ada 2 pilihan. Varian Honey Beige menurutku sudah menjadi pilihan yang tepat karena warna kulit wajahku memang yellow undertone. Apalagi karena ini BB cream, warnanya lama-kelamaan akan menyatu sama warna kulit kita. 

Ketahanan Purbasari BB Cream menjadi satu faktor yang bikin aku sayang sama produk ini. Aku pakai ke sekolah dari pagi sampai siang, dia masih stay di wajah. Waktu itu bahkan aku wudhu dan sholat, setelahnya aku ngaca dan aku masih merasa cantik (eh gimana). Dalam artian, ketika aku pakai krim-krim lain, biasanya ujung hidung udah berkilat, pipi udah coreng moreng. Tapi BB cream Purbasari ini enggak, menipis tapi terbilang masih stay. 

Repurchase? For sure, why not.



Tuesday, September 18, 2018

,

Genset Eco Power, Pilihan Ramah Lingkungan dan Menguntungkan

Image from pexels.com


Listrik telah menjadi bagian dari kebutuhan hidup manusia. Kehadiran listrik di masa sekarang memiliki peran dan fungsi yang sangat krusial pada setiap aspek kehidupan. Lihat saja di sekitar kita: memasak dengan rice cooker listrik, cuci baju dengan mesin cuci listrik, menghilangkan gerah dengan AC listrik, smartphone pun juga perlu listrik untuk charge baterai. 

Di Indonesia, sebagian besar masyarakat menggunakan listrik yang berasal dari pemerintah melalui PLN. Namun, kadang kala listrik dari pemerintah mengalami gangguan bahkan mengalami pemadaman pada suatu daerah tertentu. Seperti yang terjadi awal bulan September kemarin, karena adanya gangguan di PLTU Paiton menyebabkan pemadaman bergilir di pulau Jawa dan Bali.

Kasus gangguan dan pemadaman listrik seperti ini tentunya dirasa sangat merugikan bagi pengguna, terutama bagi perusahaan yang memang sangat mengandalkan teknologi dan juga tenaga listrik dalam skala besar. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan listrik menjadi terhenti akibatnya efisiensi kerja jadi menurun. Untuk mengatasi masalah ini, solusinya bisa dengan menggunakan generator set (genset) sebagai pengganti sumber listrik agar bisnis dan usaha dapat terus berjalan dengan baik. Akan tetapi, pemakaian genset tersebut sering kali menimbulkan dampak pencemaran yang berakibat merusak lingkungan sekitar atau pun mempercepat proses pemanasan global. Namun tidak perlu khawatir, karena sekarang ini Sewatama sudah menghadirkan solusinya.

Perusahaan pemberi jasa yang khusus bergerak pada bagian genset ini tentunya sudah banyak dikenal oleh beberapa perusahaan terkenal di Indonesia. Pastinya perusahaan ini terkenal karena ada begitu banyak fasilitas yang diberikan dan juga mendatangkan keuntungan bagi penggunanya. Salah satunya adalah penghasil tenaga listrik yang sangat ramah lingkungan bernama Eco Power yang bisa kita pergunakan pada perusahaan atau pun perindustrian.

Disamping itu, Eco Power ini juga memberikan beberapa keuntungan bagi kita, seperti:

  • Sewatama memberikan garansi selama 2 tahun lamanya.
  • Sudah lulus uji B2TKE BPPT.
  • Mesin penghasil tenaga listrik ini memiliki kapasitas minimum sebesar 100kW dan mampu bertahan hingga 10 tahun penggunaannya.
  • Dapat dipantau secara langsung dengan menggunakan gadget.
  • Sebagai bentuk investasi untuk masa yang akan datang.

Itulah beberapa keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan menggunakan Eco Power. Genset Eco Power sangat ramah lingkungan sehingga menggunakannya pun tidak akan membuat kita merasa bersalah atau pun terbebani dengan memikirkan lingkungan sekitar. Selain itu, jumlah pembayaran listrik pun akan jauh lebih murah dan terjangkau jika menggunakan jenis genset ini. Kita pun dapat mengirit dana yang seharusnya dibayarkan untuk penggunaan genset dan menggunakannya untuk hal yang jauh lebih penting.


Image from: pexels.com

Image from pexels.com


Listrik telah menjadi bagian dari kebutuhan hidup manusia. Kehadiran listrik di masa sekarang memiliki peran dan fungsi yang sangat krusial pada setiap aspek kehidupan. Lihat saja di sekitar kita: memasak dengan rice cooker listrik, cuci baju dengan mesin cuci listrik, menghilangkan gerah dengan AC listrik, smartphone pun juga perlu listrik untuk charge baterai. 

Di Indonesia, sebagian besar masyarakat menggunakan listrik yang berasal dari pemerintah melalui PLN. Namun, kadang kala listrik dari pemerintah mengalami gangguan bahkan mengalami pemadaman pada suatu daerah tertentu. Seperti yang terjadi awal bulan September kemarin, karena adanya gangguan di PLTU Paiton menyebabkan pemadaman bergilir di pulau Jawa dan Bali.

Kasus gangguan dan pemadaman listrik seperti ini tentunya dirasa sangat merugikan bagi pengguna, terutama bagi perusahaan yang memang sangat mengandalkan teknologi dan juga tenaga listrik dalam skala besar. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan listrik menjadi terhenti akibatnya efisiensi kerja jadi menurun. Untuk mengatasi masalah ini, solusinya bisa dengan menggunakan generator set (genset) sebagai pengganti sumber listrik agar bisnis dan usaha dapat terus berjalan dengan baik. Akan tetapi, pemakaian genset tersebut sering kali menimbulkan dampak pencemaran yang berakibat merusak lingkungan sekitar atau pun mempercepat proses pemanasan global. Namun tidak perlu khawatir, karena sekarang ini Sewatama sudah menghadirkan solusinya.

Perusahaan pemberi jasa yang khusus bergerak pada bagian genset ini tentunya sudah banyak dikenal oleh beberapa perusahaan terkenal di Indonesia. Pastinya perusahaan ini terkenal karena ada begitu banyak fasilitas yang diberikan dan juga mendatangkan keuntungan bagi penggunanya. Salah satunya adalah penghasil tenaga listrik yang sangat ramah lingkungan bernama Eco Power yang bisa kita pergunakan pada perusahaan atau pun perindustrian.

Disamping itu, Eco Power ini juga memberikan beberapa keuntungan bagi kita, seperti:

  • Sewatama memberikan garansi selama 2 tahun lamanya.
  • Sudah lulus uji B2TKE BPPT.
  • Mesin penghasil tenaga listrik ini memiliki kapasitas minimum sebesar 100kW dan mampu bertahan hingga 10 tahun penggunaannya.
  • Dapat dipantau secara langsung dengan menggunakan gadget.
  • Sebagai bentuk investasi untuk masa yang akan datang.

Itulah beberapa keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan menggunakan Eco Power. Genset Eco Power sangat ramah lingkungan sehingga menggunakannya pun tidak akan membuat kita merasa bersalah atau pun terbebani dengan memikirkan lingkungan sekitar. Selain itu, jumlah pembayaran listrik pun akan jauh lebih murah dan terjangkau jika menggunakan jenis genset ini. Kita pun dapat mengirit dana yang seharusnya dibayarkan untuk penggunaan genset dan menggunakannya untuk hal yang jauh lebih penting.


Image from: pexels.com

Saturday, September 15, 2018

, ,

Review Disawa Pawon, Rumah Makan Vintage ala Pedesaan Jawa Bali



Cari tempat vintage ala-ala pedesaan di Jogja?. Ada nih tempat baru yang perlu kamu tahu, namanya Disawa Pawon. Disawa Pawon adalah salah satu tempat makan di Jogja bagian utara. Tepatnya di dusun Sawahan Lor, Wedomartani, Ngemplak Sleman.

Disawa Pawon. Foto oleh www.ardiankusuma.com

Mulai berdiri sejak awal Agustus 2018 lalu, Disawa Pawon mengusung konsep pedesaan. Rumah makannya dikelilingi oleh sawah (literally sawah) dan berbentuk Joglo. Uniknya, bangunan Joglo di Disawa Pawon tidak hanya berwarna coklat tua alami seperti Joglo kebanyakan, melainkan dicat warna hijau dan kuning. Rupanya ada filosofi di balik hal ini. Kata Pak Budi, owner Disawa Pawon, pada zaman dahulu rumah yang dicat menandakan "kelas" pemilik rumah yang tinggi, seperti rumah bangsawan.

Apakah lantas Disawa Pawon menyasar pengunjung dari kelas atas?.

Tentunya tidak. Disawa Pawon sangat ramah untuk semua kalangan, baik pengunjung lokal hingga wisatawan mancanegara. Menu yang ditawarkan pun beragam, namun dalam garis besar yang sama yaitu menu tradisional Indonesia khususnya Jawa-Bali.

Menu Sate Lilit di Disawa Pawon


Untuk paket makanan, ada opor, nila bakar Bali, sayur asem lengkap, ikan asin, sate lilit, dan berbagai menu lainnya mulai dari Rp 20.000an.

Menu Sayur Asem Ikan Asin

Menu Nila Bakar Bali

Untuk paket makanan ringan alias cemilan, kita bisa memesan tahu goreng, tempe goreng, pisang goreng dan pisang aroma dengan harga mulai dari Rp 7.500.

Berbagai minuman dapat kita pilih di sini mulai dari Rp 5.000. Ada minuman biasa seperti teh, jus, softdrink, yang agak nggak biasa ada kelapa muda alias degan (ini degannya lucu banget, ada tulisan “Disawa Pawon”nya gitu) hingga jamu seperti jamu beras kencur atau jamu kunir asem, atau minuman kopi. Kopi pun ada berbagai varian, arabica, robusta bahkan kopi luwak original. Di dekat meja kasir, ada toples-toples berisi biji-biji kopi. Aku baru lihat biji kopi luwak secara langsung di sini. Masih “mrengkel” jadi satu gitu, huehehe.



Karena Disawa Pawon memang menyasar pengunjung dari wisatawan mancanegara, jangan kaget jika menu untuk turis lokal dan asing berbeda dari segi harga. Tapi dari rasa tetap sama kokkk.

Oh iya, satu hal lagi yang menarik di sini adalah: kita bisa berfoto dengan menggunakan baju kebaya dan jarik yang disediakan secara gratis. Cukup bilang ke penjaga, kita bisa memilih baju kebaya mana yang ingin kita kenakan dan berfoto di spot-spot kece yang ada di segenap penjuru Disawa Pawon. Konsep yang patut diacungi jempol, menurutku. Kan di tempat lain ada juga tuh yang kita bisa sewa baju tradisional negara lain kayak Korea atau Jepang, nah kalau di sini baju tradisional Jawa. Keren, keren..



Kalau kamu anak Instagram banget, nggak perlu bingung mencari background foto yang instagrammable. Setiap sudut Disawa Pawon kayaknya patut diabadikan. Pematang sawah, rumah Joglo yang vintage, dan lukisan-lukisan cantik di dinding. Tapi ada satu tempat yang telah disediakan dan jadi signature spotnya Disawa Pawon, kamu kudu banget foto di bagian depan Disawa Pawon ini. Vintage maksimal.



Tempat dan Lokasi



Lokasi: Dusun Sawahan Lor, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

Kapasitas: +- 50 orang
Fasilitas: toilet, mushola, parkir luas.
Jam operasional: pukul 11.00 – 23.00 WIB



Menu dan Harga

Menu andalan: Opor, Nila bakar Bali, Degan




Review

Sebagai penduduk Jogja, aku sering banget ditanyain

“Tempat makan di Jogja yang enak di mana ya?”

“Tempat wisata di Jogja yang bagus di mana ya?”

Dan berbagai pertanyaan lain dari orang-orang yang akan piknik ke Jogja.

Agak bingung juga sih jawab pertanyaan kayak gini. Bukan karena apa-apa, tapi karena di Jogja ada banyak banget rekomendasi tempat makan dan tempat wisata yang keren!!. Huhu.

Disawa Pawon patut nih dimasukkan dalam daftar rekomendasi tempat yang kudu dikunjungi. Konsep pedesaannya unik banget dengan rumah Joglo ala jadul dikelilingi sawah. Makanannya pun lezat. Aku mencoba pesanan ayam goreng dan sate lilit. Semuanya enak, dengan paduan bumbu yang pas. Sambelnya.... beuh, pedesnya totalitas.



Kalau cuma ingin nongkrong dan makan cemilan, pesan saja kopi dan psang goreng atau tempe goreng tepung (kalau bilang mendoan, takut persepsinya beda). Kata teman yang suka ngopi, kopi luwak original di sini mantap banget. Hm, patut dicoba tuh.

Setelah kenyang mengisi perut di Disawa Pawon, kita bisa melanjutkan jalan-jalan ke tempat wisata terdekat seperti: Kaliurang, Blue Lagoon, Embung Tambakboyo, Embung Watu Nganten, ataupun tempat wisata lainnya.

Disawa Pawon
Instagram: @disawa_pawon



Cari tempat vintage ala-ala pedesaan di Jogja?. Ada nih tempat baru yang perlu kamu tahu, namanya Disawa Pawon. Disawa Pawon adalah salah satu tempat makan di Jogja bagian utara. Tepatnya di dusun Sawahan Lor, Wedomartani, Ngemplak Sleman.

Disawa Pawon. Foto oleh www.ardiankusuma.com

Mulai berdiri sejak awal Agustus 2018 lalu, Disawa Pawon mengusung konsep pedesaan. Rumah makannya dikelilingi oleh sawah (literally sawah) dan berbentuk Joglo. Uniknya, bangunan Joglo di Disawa Pawon tidak hanya berwarna coklat tua alami seperti Joglo kebanyakan, melainkan dicat warna hijau dan kuning. Rupanya ada filosofi di balik hal ini. Kata Pak Budi, owner Disawa Pawon, pada zaman dahulu rumah yang dicat menandakan "kelas" pemilik rumah yang tinggi, seperti rumah bangsawan.

Apakah lantas Disawa Pawon menyasar pengunjung dari kelas atas?.

Tentunya tidak. Disawa Pawon sangat ramah untuk semua kalangan, baik pengunjung lokal hingga wisatawan mancanegara. Menu yang ditawarkan pun beragam, namun dalam garis besar yang sama yaitu menu tradisional Indonesia khususnya Jawa-Bali.

Menu Sate Lilit di Disawa Pawon


Untuk paket makanan, ada opor, nila bakar Bali, sayur asem lengkap, ikan asin, sate lilit, dan berbagai menu lainnya mulai dari Rp 20.000an.

Menu Sayur Asem Ikan Asin

Menu Nila Bakar Bali

Untuk paket makanan ringan alias cemilan, kita bisa memesan tahu goreng, tempe goreng, pisang goreng dan pisang aroma dengan harga mulai dari Rp 7.500.

Berbagai minuman dapat kita pilih di sini mulai dari Rp 5.000. Ada minuman biasa seperti teh, jus, softdrink, yang agak nggak biasa ada kelapa muda alias degan (ini degannya lucu banget, ada tulisan “Disawa Pawon”nya gitu) hingga jamu seperti jamu beras kencur atau jamu kunir asem, atau minuman kopi. Kopi pun ada berbagai varian, arabica, robusta bahkan kopi luwak original. Di dekat meja kasir, ada toples-toples berisi biji-biji kopi. Aku baru lihat biji kopi luwak secara langsung di sini. Masih “mrengkel” jadi satu gitu, huehehe.



Karena Disawa Pawon memang menyasar pengunjung dari wisatawan mancanegara, jangan kaget jika menu untuk turis lokal dan asing berbeda dari segi harga. Tapi dari rasa tetap sama kokkk.

Oh iya, satu hal lagi yang menarik di sini adalah: kita bisa berfoto dengan menggunakan baju kebaya dan jarik yang disediakan secara gratis. Cukup bilang ke penjaga, kita bisa memilih baju kebaya mana yang ingin kita kenakan dan berfoto di spot-spot kece yang ada di segenap penjuru Disawa Pawon. Konsep yang patut diacungi jempol, menurutku. Kan di tempat lain ada juga tuh yang kita bisa sewa baju tradisional negara lain kayak Korea atau Jepang, nah kalau di sini baju tradisional Jawa. Keren, keren..



Kalau kamu anak Instagram banget, nggak perlu bingung mencari background foto yang instagrammable. Setiap sudut Disawa Pawon kayaknya patut diabadikan. Pematang sawah, rumah Joglo yang vintage, dan lukisan-lukisan cantik di dinding. Tapi ada satu tempat yang telah disediakan dan jadi signature spotnya Disawa Pawon, kamu kudu banget foto di bagian depan Disawa Pawon ini. Vintage maksimal.



Tempat dan Lokasi



Lokasi: Dusun Sawahan Lor, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

Kapasitas: +- 50 orang
Fasilitas: toilet, mushola, parkir luas.
Jam operasional: pukul 11.00 – 23.00 WIB



Menu dan Harga

Menu andalan: Opor, Nila bakar Bali, Degan




Review

Sebagai penduduk Jogja, aku sering banget ditanyain

“Tempat makan di Jogja yang enak di mana ya?”

“Tempat wisata di Jogja yang bagus di mana ya?”

Dan berbagai pertanyaan lain dari orang-orang yang akan piknik ke Jogja.

Agak bingung juga sih jawab pertanyaan kayak gini. Bukan karena apa-apa, tapi karena di Jogja ada banyak banget rekomendasi tempat makan dan tempat wisata yang keren!!. Huhu.

Disawa Pawon patut nih dimasukkan dalam daftar rekomendasi tempat yang kudu dikunjungi. Konsep pedesaannya unik banget dengan rumah Joglo ala jadul dikelilingi sawah. Makanannya pun lezat. Aku mencoba pesanan ayam goreng dan sate lilit. Semuanya enak, dengan paduan bumbu yang pas. Sambelnya.... beuh, pedesnya totalitas.



Kalau cuma ingin nongkrong dan makan cemilan, pesan saja kopi dan psang goreng atau tempe goreng tepung (kalau bilang mendoan, takut persepsinya beda). Kata teman yang suka ngopi, kopi luwak original di sini mantap banget. Hm, patut dicoba tuh.

Setelah kenyang mengisi perut di Disawa Pawon, kita bisa melanjutkan jalan-jalan ke tempat wisata terdekat seperti: Kaliurang, Blue Lagoon, Embung Tambakboyo, Embung Watu Nganten, ataupun tempat wisata lainnya.

Disawa Pawon
Instagram: @disawa_pawon

Saturday, September 8, 2018

, ,

Review Sate Ratu Jogja, Sate Ayam Favorit Turis Mancanegara


Sate

Adalah kuliner dengan potongan daging yang ditata berjejer sedemikian rupa, kemudian ditusuk (hmm) dan dibakar (kyaaa) di atas bara api.

Adalah menu yang populer di setiap kalangan masyarakat.

Adalah cinta.

Adalah lyfe.

Wesseh.

Orang Indonesia tentu sudah familiar dengan sajian sate yang jenisnya ada beragam. Ada sate madura dengan bumbu kacang, sate padang dengan saus kental, sate kambing dengan bumbu kecap, sate lilit bali dengan olahan daging yang empuk, hingga sate taichan dengan bumbu pedasnya yang baru muncul beberapa tahun ke belakang. Tapi ternyata, ada satu sate di Jogja yang belum terlalu dikenali oleh orang Jogja sendiri, namun justru sudah dikenal luas oleh wisatawan mancanegara.

Sate Ratu, Kesukaan Turis Mancanegara dan Indonesia

Konon kabarnya, Sate Ratu yang memiliki outlet di Jogja Paradise ini telah menjadi langganan turis asing. Banyak wisatawan dari berbagai negara yang rela mencari-cari outlet Sate Ratu untuk merasakan kelezatan sate yang satu ini.

Wah, aku jadi penasaran. Masa’ “orang luar” udah datang dari jauh buat nyobain Sate Ratu tapi aku yang deket malah belum pernah. Apalagi ternyata outlet Sate Ratu ini ada di Jogja Paradise Foodcourt. Lha ini mah deket bingits dari rumah.

Rabu (5/9) kemarin, aku berjanjian dengan mbak Vera, Nisya, dan mas Priyo untuk makan bareng Sate Ratu.  Jam 4 sore, sesuai waktu janjian, aku telah sampai di Jogja Paradise. Saat masuk ke outlet Sate Ratu yang bertempat di area belakang, ternyata aku menjadi yang datang paling akhir. Mbak Vera, Nisya, mas Priyo telah duduk di satu meja ditemani oleh seorang bapak, yang kemudian aku ketahui bernama Pak Budi yang merupakan owner Sate Ratu.  Sambil menunggu pesanan tiba, kami termasuk Pak Budi berbincang-bincang bersama.



Sebelum Sate Ratu menjadi seperti sekarang, Pak Budi awalnya memulai bisnis kuliner pada tahun 2016 dengan membuka angkringan di depan Galeria Mall. Di antara aneka menu yang ada di angkringan, menu sate lilit dan sate merah lah yang menjadi best seller. Karena itu, kemudian pak Budi memutuskan untuk menekuni menu tersebut dan membuka Sate Ratu ini. Penggunaan kata Ratu dipilih untuk menunjukkan bahwa sate ini adalah kuliner yang tradisional, namun disajikan secara premium.

Dari mendengar cerita Pak Budi dan melihat jejak pelanggan dari turis mancanegara yang ditampilkan di dinding outlet, aku jadi tahu Sate Ratu ini sudah dikunjungi oleh lebih dari 2.500 turis dari 65 negara. Kereeen.




Lokasi

Sate Ratu bisa kita temukan di Jogja Paradise Foodcourt. Outletnya berada di dalam, bagian belakang. Berdekatan dengan toilet, dan masjid.

Sate Ratu hanya memiliki satu outlet di sini dan tidak membuka cabang ya.

Baca juga: Ada Apa Saja di Jogja Paradise?

Lokasi:
Jalan Magelang km 6. Seberang Hotel Rich Jogja.

Jam operasional: 11.00-21.00

Go Food Partner? Yes.

Menu dan Harga


Ada 2 rekomendasi menu yang wajib dicoba saat ke sini, yaitu Lilit Basah dan Sate Merah. Menu lain ada Ceker Tugel, tapi tidak sewaktu-waktu tersedia.

Harga
Lilit Basah: Rp 23.000/porsi isi 4
Sate Merah: Rp 23.000/porsi isi 6 tusuk
Ceker Tugel: Rp 23.000/porsi

Review

Akhirnya pesanan kami datang. Kami memesan 2 menu andalan dari Sate Ratu, yaitu Lilit Basah dan Sate Merah. Oh iya, pertama kali lihat daftar menu, aku cukup kaget karena di luar bayangan awal. Tadinya aku pikir Sate Ratu adalah outlet dengan aneka jenis sate, seperti sate sambal kacang dan kawan-kawannya. Tapi rupanya sate di sini justru beda dari sate-sate yang lain. I found something new here. Harta karun!.



Lilit Basah awalnya adalah sate lilit khas Bali. Namun karena pak Budi kesulitan mendapatkan tusuk satenya (tusuk sate lilit berbentuk pipih, bukan lancip seperti tusuk sate biasa), akhirnya olahan daging dibuat berbentuk kotak-kotak. Selain itu, alih-alih dibakar, dagingnya dimasak dengan cara dikukus. Karena konsepnya yang cukup jauh dari sate lilit pada umumnya, namanya pun diubah menjadi Lilit Basah.

1 porsi Lilit Basah terdiri dari 4 potong daging lilit dengan sedikit siraman kuah yang menggenang. Pertama kali dilihat, penampilan Lilit Basah ini seperti tahu (apa cuma perasaanku aja ya? Hehe). Tapi ketika kita icip, dagingnya sangat terasa dengan tekstur yang lembut khas kukus. Di dalam adonannya ada biji cabai, namun tidak membuat rasanya menjadi pedas.

Rasa Lilit Basah ini tidak jauh berbeda dari Sate Lilit. Hanya saja jika sate lilit biasanya ada sensasi kering karena dibakar, Lilit Basah justru sangat lembut. Rasa kuahnya pun gurih.



Sementara Sate Merah merupakan olahan daging ayam dengan bumbu pedas manis yang di-marinate kemudian dibakar. Dinamakan Sate Merah karena warnanya yang demikian merah dari bumbu-bumbu yang digunakan.

Apakah rasanya pedas?. Ternyata rasa pedasnya justru ringan saja, berdampingan secara pas dengan rasa manisnya. Tidak ada satu rasa yang lebih menonjol dari rasa yang lain.

Tekstur dagingnya pun empukkk sekali. Serius deh. Aku perlu nulis empukkk pakai triple k karena dari 4 tusuk yang aku makan semua memang empuk. Nyaman untuk dikunyah.

Satu porsi Sate Merah terdiri dari 6 tusuk sate. Ukuran daging di setiap tusuk terbilang cukup besar, nggak pelit.



Baiklah, misteri terpecahkan. Sekarang aku tahu kenapa wisatawan mancanegara begitu gemar makan di Sate Ratu. Satenya memang enak, dan berbeda dari sate-sate yang lain. Pulang dari sini, perbendaharaan rasaku jadi bertambah.

Oh iya, di sini juga menyediakan Lilit Basah dalam bentuk frozen dan bumbu Sate Merah botolan. Jadi kalau kita ingin bawa pulang atau untuk oleh-oleh, bisa beli saja "mentahnya" kemudian diolah sendiri di rumah. Lilit Basah frozen bisa bertahan lama di freezer. Bumbu Sate Merah bisa bertahan seminggu di suhu ruang, atau makin lama jika dimasukkan ke dalam kulkas.



Tertarik ke sini?.

Sate

Adalah kuliner dengan potongan daging yang ditata berjejer sedemikian rupa, kemudian ditusuk (hmm) dan dibakar (kyaaa) di atas bara api.

Adalah menu yang populer di setiap kalangan masyarakat.

Adalah cinta.

Adalah lyfe.

Wesseh.

Orang Indonesia tentu sudah familiar dengan sajian sate yang jenisnya ada beragam. Ada sate madura dengan bumbu kacang, sate padang dengan saus kental, sate kambing dengan bumbu kecap, sate lilit bali dengan olahan daging yang empuk, hingga sate taichan dengan bumbu pedasnya yang baru muncul beberapa tahun ke belakang. Tapi ternyata, ada satu sate di Jogja yang belum terlalu dikenali oleh orang Jogja sendiri, namun justru sudah dikenal luas oleh wisatawan mancanegara.

Sate Ratu, Kesukaan Turis Mancanegara dan Indonesia

Konon kabarnya, Sate Ratu yang memiliki outlet di Jogja Paradise ini telah menjadi langganan turis asing. Banyak wisatawan dari berbagai negara yang rela mencari-cari outlet Sate Ratu untuk merasakan kelezatan sate yang satu ini.

Wah, aku jadi penasaran. Masa’ “orang luar” udah datang dari jauh buat nyobain Sate Ratu tapi aku yang deket malah belum pernah. Apalagi ternyata outlet Sate Ratu ini ada di Jogja Paradise Foodcourt. Lha ini mah deket bingits dari rumah.

Rabu (5/9) kemarin, aku berjanjian dengan mbak Vera, Nisya, dan mas Priyo untuk makan bareng Sate Ratu.  Jam 4 sore, sesuai waktu janjian, aku telah sampai di Jogja Paradise. Saat masuk ke outlet Sate Ratu yang bertempat di area belakang, ternyata aku menjadi yang datang paling akhir. Mbak Vera, Nisya, mas Priyo telah duduk di satu meja ditemani oleh seorang bapak, yang kemudian aku ketahui bernama Pak Budi yang merupakan owner Sate Ratu.  Sambil menunggu pesanan tiba, kami termasuk Pak Budi berbincang-bincang bersama.



Sebelum Sate Ratu menjadi seperti sekarang, Pak Budi awalnya memulai bisnis kuliner pada tahun 2016 dengan membuka angkringan di depan Galeria Mall. Di antara aneka menu yang ada di angkringan, menu sate lilit dan sate merah lah yang menjadi best seller. Karena itu, kemudian pak Budi memutuskan untuk menekuni menu tersebut dan membuka Sate Ratu ini. Penggunaan kata Ratu dipilih untuk menunjukkan bahwa sate ini adalah kuliner yang tradisional, namun disajikan secara premium.

Dari mendengar cerita Pak Budi dan melihat jejak pelanggan dari turis mancanegara yang ditampilkan di dinding outlet, aku jadi tahu Sate Ratu ini sudah dikunjungi oleh lebih dari 2.500 turis dari 65 negara. Kereeen.




Lokasi

Sate Ratu bisa kita temukan di Jogja Paradise Foodcourt. Outletnya berada di dalam, bagian belakang. Berdekatan dengan toilet, dan masjid.

Sate Ratu hanya memiliki satu outlet di sini dan tidak membuka cabang ya.

Baca juga: Ada Apa Saja di Jogja Paradise?

Lokasi:
Jalan Magelang km 6. Seberang Hotel Rich Jogja.

Jam operasional: 11.00-21.00

Go Food Partner? Yes.

Menu dan Harga


Ada 2 rekomendasi menu yang wajib dicoba saat ke sini, yaitu Lilit Basah dan Sate Merah. Menu lain ada Ceker Tugel, tapi tidak sewaktu-waktu tersedia.

Harga
Lilit Basah: Rp 23.000/porsi isi 4
Sate Merah: Rp 23.000/porsi isi 6 tusuk
Ceker Tugel: Rp 23.000/porsi

Review

Akhirnya pesanan kami datang. Kami memesan 2 menu andalan dari Sate Ratu, yaitu Lilit Basah dan Sate Merah. Oh iya, pertama kali lihat daftar menu, aku cukup kaget karena di luar bayangan awal. Tadinya aku pikir Sate Ratu adalah outlet dengan aneka jenis sate, seperti sate sambal kacang dan kawan-kawannya. Tapi rupanya sate di sini justru beda dari sate-sate yang lain. I found something new here. Harta karun!.



Lilit Basah awalnya adalah sate lilit khas Bali. Namun karena pak Budi kesulitan mendapatkan tusuk satenya (tusuk sate lilit berbentuk pipih, bukan lancip seperti tusuk sate biasa), akhirnya olahan daging dibuat berbentuk kotak-kotak. Selain itu, alih-alih dibakar, dagingnya dimasak dengan cara dikukus. Karena konsepnya yang cukup jauh dari sate lilit pada umumnya, namanya pun diubah menjadi Lilit Basah.

1 porsi Lilit Basah terdiri dari 4 potong daging lilit dengan sedikit siraman kuah yang menggenang. Pertama kali dilihat, penampilan Lilit Basah ini seperti tahu (apa cuma perasaanku aja ya? Hehe). Tapi ketika kita icip, dagingnya sangat terasa dengan tekstur yang lembut khas kukus. Di dalam adonannya ada biji cabai, namun tidak membuat rasanya menjadi pedas.

Rasa Lilit Basah ini tidak jauh berbeda dari Sate Lilit. Hanya saja jika sate lilit biasanya ada sensasi kering karena dibakar, Lilit Basah justru sangat lembut. Rasa kuahnya pun gurih.



Sementara Sate Merah merupakan olahan daging ayam dengan bumbu pedas manis yang di-marinate kemudian dibakar. Dinamakan Sate Merah karena warnanya yang demikian merah dari bumbu-bumbu yang digunakan.

Apakah rasanya pedas?. Ternyata rasa pedasnya justru ringan saja, berdampingan secara pas dengan rasa manisnya. Tidak ada satu rasa yang lebih menonjol dari rasa yang lain.

Tekstur dagingnya pun empukkk sekali. Serius deh. Aku perlu nulis empukkk pakai triple k karena dari 4 tusuk yang aku makan semua memang empuk. Nyaman untuk dikunyah.

Satu porsi Sate Merah terdiri dari 6 tusuk sate. Ukuran daging di setiap tusuk terbilang cukup besar, nggak pelit.



Baiklah, misteri terpecahkan. Sekarang aku tahu kenapa wisatawan mancanegara begitu gemar makan di Sate Ratu. Satenya memang enak, dan berbeda dari sate-sate yang lain. Pulang dari sini, perbendaharaan rasaku jadi bertambah.

Oh iya, di sini juga menyediakan Lilit Basah dalam bentuk frozen dan bumbu Sate Merah botolan. Jadi kalau kita ingin bawa pulang atau untuk oleh-oleh, bisa beli saja "mentahnya" kemudian diolah sendiri di rumah. Lilit Basah frozen bisa bertahan lama di freezer. Bumbu Sate Merah bisa bertahan seminggu di suhu ruang, atau makin lama jika dimasukkan ke dalam kulkas.



Tertarik ke sini?.

Wednesday, September 5, 2018

,

Let’s Get Started with Qwords!


Bulan Mei tahun 2017 yang lalu adalah kali pertama aku mengenal Qwords. Saat itu, aku mendapat kesempatan untuk ikut acara buka bersama yang diadakan oleh Qwords di Yellow Star Hotel jalan Solo. Tidak hanya aku, ada juga kakak-kakak blogger dan teman-teman lintas komunitas yang hadir. Dari acara itulah aku jadi tahu bahwa ada penyedia jasa web hosting, cloud dan domain yang kece kayak Qwords ini.

Nggak bisa aku pungkiri, awal mula aku melirik Qwords adalah karena harga domainnya yang sangat terjangkau, udah gitu, saat itu ada promo pula. Kalau tidak salah, promonya yaitu beli domain .com atau .net dari harga normal 100an ribu rupiah jadi 55 ribuan saja. Saat itu aku langsung mencoba membeli domain .net untuk blog youngteacher.net. Sayangnya saat ini blog tersebut sudah tidak aktif lagi karena aku kewalahan me-manage. Huehehe.

Sejak itu, aku pun tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentang Qwords. Dengan menyimpan harap supaya aku tidak akan ketinggalan info saat ada update atau promo dari Qwords. Ups.

Qwords adalah....



Barangkali ada dari pembaca yang belum tahu, Qwords adalah perusahaan penyedia hosting di Indonesia. Paket layanan unggulannya meliputi Cloud Hosting, Ekstensi Nama Domain Indonesia dan Internasional, Cloud Virtual Private Server, dan Dedicated Server untuk kebutuhan pelanggan dalam dan luar negeri. Pengguna layanan Qwords kini sudah mencapai lebih dari 55.000 pengguna, meliputi perseorangan macam blogger seperti aku ini, hingga pebisnis mulai dari UMKM hingga corporate. Beberapa hal lain yang menjadi keunggulan Qwords seperti “24 hours customer support”, “unmetered bandwidth”, “private data center”, “99,99% uptime server”, dan “cloud technology”.

Di tahun 2018, akan ada produk baru dari Qwords yaitu “Website Builder Platform”. Dengan teknologi ini, pengguna dapat membuat website dengan lebih mudah, cukup easy drag and drop, tanpa perlu setting yang ribet-ribet. Website yang dibangun juga nantinya dapat terintegrasi dengan berbagai sistem pembayaran. Website Builder Platform memang dirancang khusus bagi pengguna yang ingin membangun website personal dan e-commerce dalam waktu singkat.

Percayalah, teknologi ini adalah dambaan bagi siapa saja. Aku sebagai lulusan TI yang udah 7 tahun mengenyam pendidikan seputar TI (3 tahun di SMK, 4 tahun di kuliah) aja sering dibuat pusing tujuh keliling waktu harus edit template atau ubah settingan blog. Can’t wait for this!.

QTalk Anniversary

Nah pada 24 Agustus 2018 lalu, Qwords memperingati ulang tahunnya yang ke-13. Waah kalau misal Qwords ini adalah ABG (Anak Baru Gede, -red), umur segini lagi labil-labilnya tuh. Hehehe *krik. Tapi sebagai sebuah start-up, usia 13 tahun tentu merupakan sebuah waktu yang cukup lama.




Dalam perjalanannya, Qwords selalu berupaya agar semakin dekat dengan pelanggan, komunitas, dan sahabat Qwords dengan rutin mengadakan event Qtalk (sharing, workshop, seminar). Di sepanjang tahun 2018, Qtalk telah diselenggarakan sebanyak 14 kali di 9 kota di Indonesia. Khusus dalam rangka merayakan hari jadi Qwords ke-13 ini, Qwords mengadakan acara Qtalk Anniversary yang diselenggarakan di 2 kota, yakni Bandung dan Yogyakarta. Qtalk Anniversary mengangkat tema seputar perkembangan Digital Entrepreneur yang mengundang pembicara dari kalangan komunitas dan praktisi yang ahli di bidangnya.

Di Jogja, Qtalk Anniversary kemarin mengangkat topik “Creativepreneur: From Hobby to Extraordinary”. Berlangsung di Mezzanine Eatery and Coffee, acara ini diikuti oleh banyak orang dari berbagai komunitas. Komunitas Blogger Jogja nggak mau ketinggalan, aku dan beberapa blogger lain pun ikut datang.



Sebagai pembicara, ada mas Agit Naeta (Software Development Manager Qwords sekaligus Youtuber) dan mas Agus Mulyadi (pemimpin redaksi Mojok.co yang juga seorang blogger). Selama kurang lebih 90 menit, pembicara, pembawa acara, dan peserta sharing-sharing seputar dunia developing dan blogging.

Mas Agit membagikan ceritanya saat merintis sebagai seorang programmer. Sebagai seorang mahasiswa yang mengambil jurusan TI, mas Agit sering membantu proyek yang dikerjakan oleh teman-temannya. Dari situ, kemudian mas Agit menerima proyek TI yang ternyata untuk 6 proyek yang dikerjakan “hanya” dihargai sebesar Rp 260.000, angka yang terbilang cukup kecil. Lalu mas Agit juga mulai membuka perusahaan sendiri, namun seiring berjalannya waktu justru merasa jalan di tempat. Barulah di tahun 2015 mas Agit mulai bekerja di Qwords sebagai junior programmer. Dalam jangka waktu 3 tahun, mas Agit mencicipi naik tingkat dari junior programmer menjadi senior programmer, system analyst, kemudian berada di posisinya sekarang sebagai manager. Tak hanya itu, mas Agit pun kini merambah ke dunia Youtube menjadi seorang Youtuber.

Berikutnya giliran mas Agus Mulyadi yang menceritakan perjalanan hidupnya hingga seperti sekarang. Sebagai lulusan sekolah menengah atas, mas Gus Mul ternyata pernah bekerja sebagai operator warnet, bahkan hampir menjadi satpam mall Artos di Magelang. Sebelum terkenal sebagai blogger seperti sekarang, mas Agus pun dulu sempat menerima jasa edit foto. Dari cerita yang cukup rumit seputar edit foto itulah yang menjadikan mas Agus dikenal luas oleh publik. Bahkan kini mas Agus menjadi pemimpin redaksi mojok.co (portal berita dengan karakter khasnya yang kocak) dan telah menerbitkan beberapa buku.

Cerita mas Agit dan mas Agus memang berbeda. Tapi keduanya pun memiliki kesamaan. Sama-sama masih muda. Sama-sama menekuni hobi hingga memiliki pencapaian dalam karir masing-masing.

Kata mas Agit,
“Kalau mengerjakan sesuatu, ya kerjakan dulu aja. Toh nanti hasilnya nggak akan jauh dari proses”.





Bulan Mei tahun 2017 yang lalu adalah kali pertama aku mengenal Qwords. Saat itu, aku mendapat kesempatan untuk ikut acara buka bersama yang diadakan oleh Qwords di Yellow Star Hotel jalan Solo. Tidak hanya aku, ada juga kakak-kakak blogger dan teman-teman lintas komunitas yang hadir. Dari acara itulah aku jadi tahu bahwa ada penyedia jasa web hosting, cloud dan domain yang kece kayak Qwords ini.

Nggak bisa aku pungkiri, awal mula aku melirik Qwords adalah karena harga domainnya yang sangat terjangkau, udah gitu, saat itu ada promo pula. Kalau tidak salah, promonya yaitu beli domain .com atau .net dari harga normal 100an ribu rupiah jadi 55 ribuan saja. Saat itu aku langsung mencoba membeli domain .net untuk blog youngteacher.net. Sayangnya saat ini blog tersebut sudah tidak aktif lagi karena aku kewalahan me-manage. Huehehe.

Sejak itu, aku pun tertarik untuk mencari tahu lebih banyak tentang Qwords. Dengan menyimpan harap supaya aku tidak akan ketinggalan info saat ada update atau promo dari Qwords. Ups.

Qwords adalah....



Barangkali ada dari pembaca yang belum tahu, Qwords adalah perusahaan penyedia hosting di Indonesia. Paket layanan unggulannya meliputi Cloud Hosting, Ekstensi Nama Domain Indonesia dan Internasional, Cloud Virtual Private Server, dan Dedicated Server untuk kebutuhan pelanggan dalam dan luar negeri. Pengguna layanan Qwords kini sudah mencapai lebih dari 55.000 pengguna, meliputi perseorangan macam blogger seperti aku ini, hingga pebisnis mulai dari UMKM hingga corporate. Beberapa hal lain yang menjadi keunggulan Qwords seperti “24 hours customer support”, “unmetered bandwidth”, “private data center”, “99,99% uptime server”, dan “cloud technology”.

Di tahun 2018, akan ada produk baru dari Qwords yaitu “Website Builder Platform”. Dengan teknologi ini, pengguna dapat membuat website dengan lebih mudah, cukup easy drag and drop, tanpa perlu setting yang ribet-ribet. Website yang dibangun juga nantinya dapat terintegrasi dengan berbagai sistem pembayaran. Website Builder Platform memang dirancang khusus bagi pengguna yang ingin membangun website personal dan e-commerce dalam waktu singkat.

Percayalah, teknologi ini adalah dambaan bagi siapa saja. Aku sebagai lulusan TI yang udah 7 tahun mengenyam pendidikan seputar TI (3 tahun di SMK, 4 tahun di kuliah) aja sering dibuat pusing tujuh keliling waktu harus edit template atau ubah settingan blog. Can’t wait for this!.

QTalk Anniversary

Nah pada 24 Agustus 2018 lalu, Qwords memperingati ulang tahunnya yang ke-13. Waah kalau misal Qwords ini adalah ABG (Anak Baru Gede, -red), umur segini lagi labil-labilnya tuh. Hehehe *krik. Tapi sebagai sebuah start-up, usia 13 tahun tentu merupakan sebuah waktu yang cukup lama.




Dalam perjalanannya, Qwords selalu berupaya agar semakin dekat dengan pelanggan, komunitas, dan sahabat Qwords dengan rutin mengadakan event Qtalk (sharing, workshop, seminar). Di sepanjang tahun 2018, Qtalk telah diselenggarakan sebanyak 14 kali di 9 kota di Indonesia. Khusus dalam rangka merayakan hari jadi Qwords ke-13 ini, Qwords mengadakan acara Qtalk Anniversary yang diselenggarakan di 2 kota, yakni Bandung dan Yogyakarta. Qtalk Anniversary mengangkat tema seputar perkembangan Digital Entrepreneur yang mengundang pembicara dari kalangan komunitas dan praktisi yang ahli di bidangnya.

Di Jogja, Qtalk Anniversary kemarin mengangkat topik “Creativepreneur: From Hobby to Extraordinary”. Berlangsung di Mezzanine Eatery and Coffee, acara ini diikuti oleh banyak orang dari berbagai komunitas. Komunitas Blogger Jogja nggak mau ketinggalan, aku dan beberapa blogger lain pun ikut datang.



Sebagai pembicara, ada mas Agit Naeta (Software Development Manager Qwords sekaligus Youtuber) dan mas Agus Mulyadi (pemimpin redaksi Mojok.co yang juga seorang blogger). Selama kurang lebih 90 menit, pembicara, pembawa acara, dan peserta sharing-sharing seputar dunia developing dan blogging.

Mas Agit membagikan ceritanya saat merintis sebagai seorang programmer. Sebagai seorang mahasiswa yang mengambil jurusan TI, mas Agit sering membantu proyek yang dikerjakan oleh teman-temannya. Dari situ, kemudian mas Agit menerima proyek TI yang ternyata untuk 6 proyek yang dikerjakan “hanya” dihargai sebesar Rp 260.000, angka yang terbilang cukup kecil. Lalu mas Agit juga mulai membuka perusahaan sendiri, namun seiring berjalannya waktu justru merasa jalan di tempat. Barulah di tahun 2015 mas Agit mulai bekerja di Qwords sebagai junior programmer. Dalam jangka waktu 3 tahun, mas Agit mencicipi naik tingkat dari junior programmer menjadi senior programmer, system analyst, kemudian berada di posisinya sekarang sebagai manager. Tak hanya itu, mas Agit pun kini merambah ke dunia Youtube menjadi seorang Youtuber.

Berikutnya giliran mas Agus Mulyadi yang menceritakan perjalanan hidupnya hingga seperti sekarang. Sebagai lulusan sekolah menengah atas, mas Gus Mul ternyata pernah bekerja sebagai operator warnet, bahkan hampir menjadi satpam mall Artos di Magelang. Sebelum terkenal sebagai blogger seperti sekarang, mas Agus pun dulu sempat menerima jasa edit foto. Dari cerita yang cukup rumit seputar edit foto itulah yang menjadikan mas Agus dikenal luas oleh publik. Bahkan kini mas Agus menjadi pemimpin redaksi mojok.co (portal berita dengan karakter khasnya yang kocak) dan telah menerbitkan beberapa buku.

Cerita mas Agit dan mas Agus memang berbeda. Tapi keduanya pun memiliki kesamaan. Sama-sama masih muda. Sama-sama menekuni hobi hingga memiliki pencapaian dalam karir masing-masing.

Kata mas Agit,
“Kalau mengerjakan sesuatu, ya kerjakan dulu aja. Toh nanti hasilnya nggak akan jauh dari proses”.