Jumat, 11 Agustus 2017

,

Review Batoer Hill Resort and Resto, Ada yang Baru Nih di Gunungkidul

Penat. Mengingat sebulan terakhir ini waktuku hanya dihabiskan di tempat kerja dan rumah. Berangkat pagi, pulang sore, malam untuk persiapan bahan ajar, gitu aja terus sampai ladang gandum berubah jadi kokokrans. Senin jadi Selasa, Selasa jadi Rabu, Kamis Jumat Sabtu Minggu, eh setelah Minggu udah Senin lagi. Bayangkan, butuh waktu 6 hari dari Senin untuk ketemu hari Minggu. Tapi jarak dari hari Minggu ke hari Senin Cuma 1 hari. Hiks.

Dedek lelah, Bang. Dedek butuh piknik, Bang.

Kurang piknik emang terasa sekali pengaruhnya. Berkutat terus dengan rutinitas bikin jadi gampang spaneng. Sensitif. Aku bocahnya jadi nggak asik gitu deh. Sampai teman-teman banyak yang bilang, “Santai lho”.

Luckily, minggu kemarin aku diajakin salah satu temen blogger buat ikut acara Blogger Jogja Jalan-Jalan ke Batoer Hill Resort and Resto. Tempat apakah itu?. Langsung deh aku kepoin Instagramnya, @batoerhillresort. Dan..... kece asli. Foto-foto yang diunggah di akunnya keren semua. Huaa jadi nggak sabar pengen buruan ke sana.

Batoer Hill Resort and Resto

Lokasi

Batoer Hill resort and resto ini berada di Dusun Batur, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Akses jalan menuju Batoer Hill sudah aspal halus dan cukup lebar untuk dilewati mobil. Tapi tetap perlu hati-hati karena medan jalan cukup menanjak dan berkelok-kelok.

Jarak lokasi dari pusat kota Jogja sekitar 40 km dengan jarak tempuh kurang lebih 1,5 jam menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan jarak dari Batoer Hill ini ke Gunung Api Purba Nglanggeran, yang juga termasuk destinasi wisata favorit di Pathuk, sekitar 10 menit saja.

Senja di Batoer Hill

Harga Tiket Masuk

Batoer Hill Resort and Resto tidak hanya melayani pengunjung yang ingin menginap, tapi juga terbuka untuk pengunjung umum. Selain menginap, pengunjung bisa datang ke sini untuk makan di resto, berenang, berfoto di spot selfie, atau mencoba wahana permainan yang ada.

Bagi pengunjung yang ingin masuk ke area Batoer Hill Resort and Resto akan dikenakan biaya Rp 25.000. Namun jangan khawatir, dengan membayar seharga sekian, kita juga akan mendapatkan voucher sebesar Rp 25.000. Voucher ini dapat digunakan untuk potongan makan di resto, berenang maupun menginap di resort. Jadi uang yang kita bayarkan sebenarnya tetap kembali kepada kita.

Penetapan tarif untuk masuk ke area resort ini bukan tanpa alasan. Adanya HTM bertujuan untuk memfilter area resort dari pengunjung yang tidak berkepentingan sehingga privasi resort terjaga dan pengunjung tetap nyaman. Kan sekarang banyak tuh tempat-tempat wisata yang bagus tapi jadi rusak karena pengunjung yang datang ke sana pada alay. Kebun bunga amarilys, misalnya, yang bunganya diinjak-injak seenak udel. Duh, jangan sampai deh Batoer Hill Resort ini ikutan dirusak juga. Eman-eman.

HTM: Rp 25.000, mendapatkan voucher senilai Rp 25.000 (bisa digunakan untuk makan dan renang)

Mas Bre dan Mama Bre berpose di kolam renang

Batoer Hill Resort and Resto

Sesampainya di sana, kita langsung disambut dengan pemandangan alam Pathuk yang sangattt cantik. Hamparan hutan membentang di bawah resort. Dilihat dari sudut manapun, tetap saja viewnya juara.
Resort baru di Jogja ini merupakan buah dari gagasan Ibu Irma Devita dan Pak Suswinarno beserta 5 orang pendiri lainnya yang kemudian membentuk PT Cipta Wening. Batoer Hill dibangun di atas lahan khas desa. Lahan yang tadinya “tidak menghasilkan” tersebut diolah bersama  warga desa sekitar menjadi tempat destinasi wisata.

Menggandeng warga desa sekitar sebagai mitra, tenaga kerja di Batoer Hill Resort and Resto merupakan warga setempat pula. Tidak ada ketentuan syarat pendidikan formal bagi pekerja, pihak manajemen justru siap memberikan pelatihan dan pendidikan dalam mengolah tempat wisata.

Selain itu, Batoer Hill juga mendukung kebudayaan desa. Desa setempat terkenal dengan kerajinan topeng dan batik kayunya. Nah, di sini disiapkan showroom khusus untuk menjual hasil kerajinan tersebut, seperti topeng, batik kayu, dll. Kesenian khas desa seperti tarian dan gamelan juga senantiasa disajikan pada pengunjung. Penari dan pemain gamelan juga menggandeng dari warga.

Fasilitas

Selain resort dan resto yang menjadi fokus utama, Batoer Hill juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang lain.

Ada 1 joglo utama sebagai center point. Di sinilah pertunjukan kesenian diadakan untuk menghibur para tamu.
Pendopo Utama Batoer Hill Resort and Resto

Di samping joglo utama, terdapat pendopo resto. Kita bisa menikmati makanan dan minuman di pendopo tersebut.

Ngopi duluuu

Ada pula kolam renang outdoor dengan latar belakang pemandangan asri. Pasti banyak yang tergoda untuk berenang di sini.

Kolam Renang Batoer Hill dengan view tjakep paripurna

Ada spot selfie di ketinggian

Spot Selfie Batoer | Dokumentasi @anotherorion

Ada kebun lidah buaya. Kata Pak Win, kebun lidah buaya ini juga akan dijadikan tujuan wisata edukasi. Lidah buaya kan memiliki segudang manfaat lho. Sedangkan lidah buayanya dijadikan  bahan baku es krim lidah buaya dan produk lain. Hah, es krim lidah buaya???. Aku juga baru tahu.

Kebun Lidah Buaya terhampar di dekat bungalow 

Resort

Untuk saat ini, telah ada 12 bungalow di sini. 9 bungalow di sisi bawah, 2 bungalow di sisi atas, dan 1 suite bungalow di tempat spesial.

Bungalow standar memiliki ukuran 4 x 6 meter, sedangkan suite bungalow ukurannya lebih besar. Bangunan bungalow terbentuk dari susunan kayu-kayu sehingga nuansa vintage nya amat terasa. Di tiap-tiap bungalow telah tersedia fasilitas seperti: king size bed, meja, lemari, televisi, kursi, kamar mandi, dan AC.

Bungalow Batoer Hill Resort

Rate harga berkisar antara Rp 500.000 – Rp 800.000.

Resto

Sama seperti resortnya, resto di Batoer Hill pun mengusung tema pedesaan. Menu-menu yang disajikan mulai dari minuman, makanan ringan, hingga makanan berat. Menu spesial di sini, yaitu ingkung kering dengan kombinasi unik ala desa setempat. Sedangkan signature dish yang menjadi andalan Batoer resto yaitu Bebek Peking ala Batoer.

Ingkung Kering khas Batoer yang wajib dicoba

Satu yang istimewa, bahan baku resto dipasok oleh Badan Usaha Desa. Sehingga dapat dipastikan bahwa bahan-bahan yang digunakan sangat fresh.

Kisaran harga
Minuman: Rp 4.000 – Rp 20.000
Makanan Ringan: Rp 10.000 – Rp 20.000
Makanan Berat: Rp 5.000 – Rp 40.000

Review

Beneran deh, Batoer Hill Resort and Resto ini kece pake banget. Di siang hari, kita bisa memanjakan mata dengan melihat hamparan hijau di sekeliling resort. Foto-foto selfie dengan latar belakang pemandangan sangat wajib dicoba. Spot foto yang instagramable ada banyak, tinggal pilih.

Instagramable

Di sore hari, viewnya tidak kalah cantik. Semburat senja mulai menggelayut manja di pelupuk mata, tsah. Kita bisa menantikan sunset yang terlihat dengan jelas. Fix, romantis. #panggilAbang.

Sunset dari Batoer Hill

Ketika malam hari, kita bisa mencoba menerbangkan lampion kertas. Pernah lihat semaraknya menerbangkan lampion di Borobudur saat malam Waisak?. Nah suasana semarak seperti itu juga bisa kita rasakan di sini.

Menerbangkan lampion kertas

Sebenarnya, Batoer Hill Resort and Resto belumlah resmi dibuka untuk umum. Saat ini Batoer Hill masih dalam tahap penyempurnaan di sana-sini. Untuk Grand Openingnya akan diluncurkan pada akhir September atau awal Oktober. Wiw, belum “sempurna” aja udah keren begini, gimana kalo udah jadi nanti #matabelo.

Pendopo resto

Selain resort dan resto, ada pula wahana permainan seperti flying fox, seluncuran, ayunan langit, paint ball, rumah pohon, perkemahan dengan nuansa hutan, dll yang cocok sebagai tempat outbound dewasa dan anak-anak. Akan dikembangkan permainan baru yang belum ada di tempat lain.

Sedikit bocoran, kabarnya di sini akan dibuat wahana flying fox yang berbeda dari tempat lain. Jika biasanya kita bermain flying fox dengan posisi tangan bergantung pada tali, nah di sini nantinya kita akan bermain flying fox dengan posisi terbang sungguhan. Hmm kira-kira bakal jadi kayak gimana ya? Seru deh pasti.

Satu yang paling akhir dan paling penting. Tempat ini cucok meong untuk dijadikan sebagai tujuan foto prewed. Belum mainstream, jadi belum banyak yang nyamain. Ehem, abang mana abang. 


No caption needed @dismonimo

Minggu, 18 Juni 2017

, ,

Review Jogja Scrummy: Oleh-Oleh dari Dude Harlino

Minggu depan udah mulai libur panjang (libur kenaikan kelas dan libur Lebaran, hampir sebulan bo'). Walaupun cuma mudik ke Magelang, tapi ternyata perlu persiapan juga. Packing apa aja yang perlu dibawa kayak baju, laptop, paketan lebaran dari sekolah, dan yang nggak kalah penting: oleh-oleh

Aku kan sering posting tentang makanan di Instagram. Eh jadilah ditagih sama mbak Devi (kakakku yang di Karawang) buat bawain oleh-oleh makanan yang khas dari Jogja. "Mingin-mingini doang", katanya. Hoho. 

Review Premium Carrot Cake dari Jogja Scrummy. Abaikan wajah lelahku yaa.

Biasanya aku bawain bakpia, tapi bosen. Apalagi di Magelang juga ada yang jual bakpia, hoho.  Mau bawain gudeg, tapi keburu basi. Jadilah aku memutuskan untuk beli Jogja Scrummy aja. Oleh-oleh kekinian dari artis Dude Harlino itu. Eh, ndilalah pas sebelum mudik ada undangan buka bersama Blogger Jogja sama Jogja Scrummy. Luckily aku bisa ikut. Jadi bisa icip-icip Jogja Scrummy sebelum beli buat dibawa pulang.


Jogja Scrummy

Kalau biasanya aku hanya sering lewat di outletnya Jogja Scrummy dan lihat postnya di Instagram, kemarin aku jadi makin kenal dengan Jogja Scrummy. Jogja Scrummy pertama membuka outlet di Jogja pada 23 Juni 2016, terbilang cukup baru ya karena baru berumur setahun. Outlet pertamanya bertempat di Jalan Kaliurang km 5,5. Ini deket banget dari kost. Di depan outletnya ada papan petunjuk Jogja Scrummy dengan foto Dude Harlino dan warna dominan oranye. Keliatan cetar-cetar segar gitu.

Di dalam outlet, selain ada produk dari Jogja Scrummy, kita juga bisa menemukan produk-produk dari UMKM Jogja. Misalnya aneka keripik, cokelat Monggo, kaos Jogist, dll. Jogja Scrummy memang terbuka untuk memberikan support pada masyarakat Jogja. Selain memberi wadah bagi UMKM, Jogja Scrummy juga merekrut warga Jogja sebagai karyawan. Kini jumlah karyawan di Jogja Scrummy sudah mencapai lebih dari 120 orang, berasal dari Sleman, Kulonprogo, bahkan Gunungkidul.

Lokasi dan Jam Operasional Outlet

Jogja Scrummy buka setiap hari dari pukul 07.00 - 10.00. Tenang saja, Lebaran tetap buka kok.
Sekarang sudah ada 4 outlet Jogja Scrummy di Jogja, yaitu:

1. Outlet Kaliurang
Ruko Cakra, Jalan Kaliurang km 5,5, Depok, Sleman

2. Outlet Malioboro
Jl. Jogonegaran, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta

3. Outlet Katamso
Jl. Brigjen Katamso no. 1988, Keparakan, Mergangsan, Kota Yogyakarta

4. Outlet Adi Sucipto
Jl. Laksda Adisucipto km 7,5, Depok, Sleman

Beruntunglah sekarang Jogja Scrummy ini punya beberapa outlet, jadi kalau mau beli nggak perlu antri panjaaaang. Aku sering lewat di outlet Kaliurang dan aman sentosa. Ramainya masih wajar lah, nggak yang antri sampai ke luar-luar outlet. Kata mbak Mentari, digital marketingnya Jogja Scrummy sih pernah kejadian kayak gitu. Makanya dibuat beberapa outlet itu tadi.

Jogja Scrummy tidak (atau belum) melayani order via online. Untuk yang di Jogja ingin beli online bisa via Go-Food di Gojek, walaupun belum jadi Go-Food Partner. Untuk yang di luar kota dan ingin beli Jogja Scrummy bisa titip teman, beli di reseller, atau menggunakan jasa titip beli. 

Menu dan Harga

Jogja Scrummy Rasa Srikaya, signature dish dari Jogja Scrummy

Jogja Scrummy ada 6 varian rasa, yaitu:
- Karamel harga Rp 45.000/box
- Taro (Talas) harga Rp 45.000/box
- Srikaya harga Rp 48.000/box
- Mangga harga Rp 48.000/box
- Coklat harga Rp 50.000/box
- Cheese/Keju, harga Rp 52.000/box

Premium Carrot Cake Caramel, Peanut, dan Coklat dari Jogja Scrummy
Ada juga menu baru dari Jogja Scrummy, Premium Carrot Cake, dengan 5 varian rasa yaitu:

- Frozting Cheese
- Cheese Original
- Peanut
- Karamel
- Coklat

Harga Premium Carrot Cake mulai dari Rp 65.000 - Rp 68.000. 

Daya Tahan

Karena Jogja Scrummy dibuat tanpa bahan pengawet, ketahanan kue hanya sekitar 3 hari jika disimpan di suhu ruang, dan 5 hari disimpan di kulkas yaa. 

Review

Jogja Scrummy ini bentuknya kue semacam brownies kukus, lalu di atasnya ada puff pastry yang di dalamnya ada isian sesuai rasa (misal keju ya isiannya keju, coklat ya isiannya coklat), Puff pastrynya lembut, nggak crunchy. Aku udah cobain yang rasa coklat, keju dan mangga. Rasanya... enak. Beneran deh, nggak bohong.

Searah jarum jam: Jogja Scrummy Coklat, Keju, dan Mangga

Untuk yang keju, aku suka kue "brownies"nya karena rasanya enak banget.

Untuk yang coklat, aku suka coklat di isian puff pastrynya. Coklatnya tuh penuh, dan rasanya asli enak.

Untuk yang mangga, rasanya segar khas mangga, manis-manis ada asamnya gitu.

Btw, karena yang mangga ini warnanya oranye jadi aku pikir ini yang rasa srikaya, ternyata bukan, huhu. Mau nyoba yang srikaya udah terlanjur kenyang. Padahal varian rasa srikaya adalah produk unggulannya Jogja Scrummy. Tuh kan, jadi masih penasaran.

Premium Carrot Cake Peanut dari Jogja Scrummy

Selain nyobain scrummy-nya, aku juga bawa pulang Premium Carrot Cake yang peanut. Pas dibuka wadahnya, emang kelihatan banget kenapa disebut premium. Topping peanutnya penuh banget, nggak pelit.

Slice Premium Carrot Cake Peanut dari Jogja Scrummy

Beda dengan scrummy, premium carrot cake ini bentuknya dua lapis kue wortel yang di tengah-tengahnya terdapat krim sesuai rasa, dan ditaburi topping sesuai rasa juga.

Premium Carrot Cake Frozting Cheese dari Jogja Scrummy

Aku udah sering baca tentang carrot cake (dari akun IG resep-resep masak), tapi ini pertama kalinya nyobain. Tadinya nggak yakin, gimana coba rasanya wortel kok dijadiin kue. Bakal aneh nggak ya rasanya.

Ternyata premium carrot cakenya Jogja Scrummy ini enak. Kuenya empuk, nggak begitu gampang ambyar, nggak seret, manisnya pas, dan rasa wortelnya tuh blend, familiar buat lidah aku. Di potongan kuenya, terutama bagian bawah, kita bisa menemukan serat-serat wortel. Kalo nggak jeli, paling orang-orang nggak nyadar kalo kue ini dibuat dari wortel. Kekeke.

Oh iya, aku makan setengah dari slice-nya Premium Carrot Cake juga udah berasa kenyang. Krim kacang di tengah-tengahnya padat banget, enak sih, tapi seret. Tau dong ya sifat kacang kayak gimana. Tapi aku penggemar kacang kok, jadi nggak begitu masalah.

Beli lagi nggak?. 

Iyap. Terutama buat Jogja Scrummy yang varian keju sama coklat. Enakkk.




Premium Carrot Cake Cheese dari Jogja Scrummy




Kamis, 08 Juni 2017

,

Foto-foto Seru di Museum Trick Eye De Mata dan Museum Patung Lilin De Arca

Bersama Mr. Bean yang lagi cemberut.


Free Entry untuk Pengunjung yang Ulang Tahun. Sebenarnya aku ke De Mata dan De Arca udah dari bulan Januari lalu. Hoho, latepost amat yak. Ceritanya bulan Januari lalu kan ulang tahun aku. Karena di De Mata ada promo Free Entry alias gratis masuk buat yang ulang tahun, jadi aku ke sana deh. Beneran gratis, cukup menunjukkan KTP atau kartu identitas aja.

Jam operasional di sini pukul 10.00-20.00 WIB. Untuk harga tiket masuk ke De Mata dan De Arca cukup terjangkau, tapi dibagi-bagi menurut waktu. Lebih hemat ke sana saat happy hour, yaitu pukul 10 pagi sampai pukul 3 sore. Dan karena dibagai menjadi 3 zona: De Mata 1, De Mata 2, dan De Arca, jadi ada tiket yang satuan, ada pula yang terusan. Lebih untung beli yang tiket terusan ya.

HTM
Hari Senin - Jumat (pukul 10-15)
De Mata 1: Rp 30.000
De Mata 2 : Rp 30.000
De Arca : Rp 35.000
Terusan Rp 90.000

Hari Senin - Jumat (pukul 15-22)
De Mata 1: Rp 40.000
De Mata 2 : Rp 40.000
De Arca : Rp 50.000
Terusan Rp 100.000

Hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional (pukul 10-22)
De Mata 1: Rp 50.000
De Mata 2 : Rp 50.000
De Arca : Rp 60.000
Terusan Rp 120.000

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka De Mata De Arca Museum
De Mata Trik Eye Museum. De Mata ini sudah buka di Jogja sejak tahun 2013. Di Museum Trick Eye De Mata kita bisa berfoto dengan latar belakang foto/lukisan 3 dimensi (3D). Kemudian De Arca menyusul buka pada tahun 2014. Berbeda dengan De Mata, De Arca berisi koleksi patung lilin seperti di Madame Tussaud yang terkenal itu lho. Lalu pada tahun 2016 ada penambahan ruang baru yaitu De Mata 2, dengan koleksi lukisan 3D yang baru. Tapi di De Mata 2 kita tidak hanya menemukan lukisan 3D, ada juga yang 4D, ilusi cermin, dan foto kostum.

Lokasi De Mata dan De Arca.  Sayangnya kemarin aku cuma ke De Mata 2 dan De Arca. Itupun awalnya nggak rencana masuk ke De Arca, tapi biar nggak penasaran jadi sekalian ke sana deh. Baik De Mata 1, De Mata 2, dan De Arca berada di lokasi yang sama, yaitu di XT Square. Agak bingung waktu nyari pintu masuknya, waktu itu salah masuk dari pintu belakang dan nggak dibolehin. Akhirnya nyari-nyari pintu depannya yang kudu muter dulu. Hoho.

Review De Mata De Arca. In the end, puas banget jalan-jalan ke sini. Kebetulan waktu itu hari Selasa, dan hari kerja, jadi di sana nggak begitu ramai. Bisa foto-foto sepuasnya tanpa perlu antri lama. Awal-awal rasanya canggung berfoto dilihat banyak orang. Tapi karena pengunjung lain juga totalitas dalam berpose, kitanya jadi ikutan cuek juga deh. Oh iya, kalau bingung bergaya bagaimana, di setiap spot foto sudah ada contoh foto dan rekomendasi pengambilan gambarnya kok.

Koleksi foto De Mata De Arca. Dan setelah 2 jam muter-muter, inilah beberapa hasil foto yang berhasil terabadikan di De Mata 2 dan De Arca. Sebagian sudah aku post di Instagram beberapa bulan yang lalu. Daripada nanti jadi spam di Instagram, dan daripada nganggur di HP menuhin memori, mending diupload di blog deh. Biar mejeng :D

Oppa Saranghae
Lomba tembem-tembeman. Dan, pemenangnya adalah....

Aku menetas ke dunia ini
Sini, puk puk sini Can
Sek ya, aku nembe otw

Bismillah, semoga amanah dengan tugas baru yang diemban #eh

Tante, minta pizzanya satu ya tante *lirik*

Waa, aku jadi ada banyakk

Foto sama Presiden Jokowi dulu

Om Thor, pinjem palunya Om

Om Iron Man, ajak aku terbang Om

Marhaban yaa Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa

HPku merk China om, Xiaomi


Nyimak

That moment when you foto sama patung Ibu Kita Kartini dan patungnya lebih cantik

Seems like a real one

Wis, antengo ning kono

Giant cats!  Ommo, they are huge but still so cute

Nyam nyam, mie ayam. Favorit! 

Ilusi cermin. Nah kan, akunya jadi ada banyak lagi

Rabu, 07 Juni 2017

Teman-teman dan Panggilan Kesayanganku Untuk Mereka




Nama adalah doa. Nama adalah identitas. Nama adalah entitas, penanda, pembeda.

Iya, sepenting itulah arti nama. Bayangkan ketika kamu ketemu seseorang yang kamu kenal, dia tau nama kamu tapi kamu lupa siapa namanya. Nah lho, jadi nggak enak ati kan. Ngomongnya jadi "aa ee aa ee" karena nggak bisa nyebut nama.

Ngomong-ngomong soal nama, sering kan ya kita punya nama panggilan. Misalnya aku, namaku Disma tapi punya panggilan macam-macam, ada nimo, dismo, adek, mbek. Nah aku juga sering tuh bikin nama panggilan buat temen-temen. Misalnya,

Alifia Revan Prananda, panggilan resminya Revan, panggilan dari aku jadi Repang. Padahal Revan, ini anaknya kalem lho, nggak punk.

Soraya Mir'atun Miswah, panggilan resminya Soraya/Aya, sama aku jadi Ayong. Kalo Ayang nanti ketuker sama... ehem.

Andry Yulianto, panggilan normalnya Andry, jadi Atun. Nggak nyambung amat ya.

S Amalana Murdivien, panggilan orang lain Divin, di aku jadi Dipong.

Rahmawati Nafi'ah, panggilannya Rahma/Nana, aku manggilnya Rahme. Kalo yg ini nggak jauh kan.

Tisha Fatimasari, biasa dipanggil Tisha, aku biasa manggil dia Tishong. Setelah dipikir-pikir, emang banyak yg tak ganti jadi ong ong gitu ternyata.

Fitriyani Candra Kurniawati, alias Candra, sohib aku pas SMA, yang kemudian tak panggil-panggil sebagai Chun-chun. So cute.

Rahmadhani, dipanggilnya Dhani, dia cewek btw. Salah satu sohib aku juga dan aku manggilnya Ndhonik. Kekeke biar mantep.

Ahmad Syaefudin, mantan pacarnya Ndhonik (eh, dibahas) sekaligus ketua kelas abadi pas SMK, orang lain manggilnya Ahmad, tapi kalo aku manggilnya Mamad, kalo temen sekelas lainnya pada manggil Madek bahkan Mbambon.

Wildan Reiza Fanani, panggilannya Wildan, tapi karena dulu pernah ada insiden di kelas terus aku nyebut nama dia di depan guru jadi Yusuf, sejak itu dia malah sering dipanggil Ucup. Laaah, jauh yak.



Itu beberapa temen tanpa aku sadari ternyata aku bikin nama panggilan sendiri buat mereka. Tapi ada juga temen-temen lain yang memang punya nama panggilan kecil. Contohnya:

Imron, jadi Iim

Wulan, jadi Cicik

Hanifah, jadi Ipeh

Guruh, jadi Sobur

Rifa, jadi Ripet

Reta, jadi Rete

Hilma, jadi Hilzone

Mifta, jadi Mimip

Ahmad Salahudin, jadi Emon

Pintoko, jadi Kiyok

Fitri, jadi Petruk

Riris, jadi Ninok

Yulia, jadi Chelow

Ana, jadi Anton

Latif, jadi Sujak

Erwin, jadi Uwin (eh, ini nama mantan)

Dll, banyak deh.

Nama panggilan kayak gini tu semacam Kasih sayang dalam bentuk yang lain. Semacam ada kedekatan tersendiri ketika kita manggil temen dengan nama panggilan yang lain dari biasanya.

Tapi kemarin aku abis baca, katanya nama adalah doa, terdapat harapan orang tua di dalamnya. Makanya memberi nama ke anak nggak boleh asal-asalan, harus yang memiliki arti baik. Setelah itu aku jadi dilema deh. Mau panggil pake nama panggilan yg aneh-aneh tadi, takut kualat sama orang tuanya temen. Tapi kalo manggil pake nama resmi, jadi kayak nggak akrab. Yah, gimana dong?



Minggu, 21 Mei 2017

, ,

Review Mamahke Jogja, Oleh-oleh Kekinian dari Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo

Satu lagi oleh-oleh kekinian dari artis ibukota buka gerai di Jogja. Setelah 2016 lalu ada Jogja Scrummy dari Dude Harlino, bulan Mei ini ada Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo yang membuka Mamahke Jogja. 

Apa itu Mamahke Jogja? 

Jadi, Mamahke Jogja adalah bisnis kue dari Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo. Cara membaca huruf e di Mamahke sama dengan e di kecap ya, bukan e di keluar. Bagi orang Jawa, mamah sendiri berarti kunyah. Begini kata mas Hanung tentang penamaan kue ini, 
"Tadinya ingin diberi nama mamah cake, tapi  supaya Jogjanya kerasa, diubah jadi Mamahke. Mamah bisa berarti ibu, jika dalam bahasa Jawa bisa berarti "makan". Ini lho ada kue, tulung dimamahke, tulung dimakan"

Konon kue ini adalah resep dari ibunda mas Hanung yang dimodifikasi dengan konsep kekinian. Mas Hanung dan keluarga memang asli dari Jogja, sehingga menjadi alasan tersendiri kenapa membuka bisnis kue di sini. Alasan lain ternyata cukup lucu. Awalnya mas Hanung ingin membuka warung tengkleng, tapi karena tengkleng di Jogja sudah banyak dan enak-enak, jadi beralih ke toko kue aja. Hehehe.

Lokasi 

Mamahke Jogja berlokasi di Jalan Taman KT I, di Selatan Tamansari. Gampang dicari kok, pinggir jalan persis. Tempatnya juga seru gitu, instagrammable. Disediakan spot-spot foto ikonik untuk pembeli bisa bernarsis ria.

Menu dan Harga

Ada 6 variasi rasa: chocolate, cheese, choco banana, tiramisu, red velvet, dan greentea. 
Harga: 55.000/box, 60.000/box untuk greentea dan cheese. Di setiap box berisi 10 potong kue. 

Mamahke Jogja rasa Double Choco

Mamahke Jogja rasa Choco Banana

Mamahke Jogja rasa Cheese

Mamahke Jogja rasa Red Velvet

Mamahke Jogja rasa Tiramisu


Mamahke Jogja rasa Greentea


Review
Sebagai penggemar dessert, aku suka deh ada pilihan kue baru. Awalnya udah penasaran gitu, bakal kayak gimana resep dari ibu mas Hanung, apa bakal vintage-vintage gimana gitu ala mommy. Ternyata kuenya justru kekinian abis gini. Tapi lucu sih.

Kemarin aku nyoba 3 varian rasa: greentea, red velvet dan choco banana. Enak semua. Tiap rasa bener-bener kerasa, misal red velvet ya ada rasa red velvetnya, yang choco banana ya kerasa banget pisangnya. Kan kadang ada tuh yang namanya apa, warnanya beda, tapi rasanya sama semua. Kalo di sini emang kerasa. Favoritku yang.... favorit semua, kekeke. Kayaknya red velvet, karena rasanya lucu, apalagi warnanya ngejreng banget. Tapi kata temen yg tiramisu enak banget. Tapi yang greentea juga enak. Laah. 

As you can see, jadi mamahke ini bentuknya berlapis-lapis: kue - puff pastry (yg crispy) - coklat - puff pastry lagi - kue - topping.  Di setiap varian rasa pasti ada coklatnya gitu. Nah tekstur kuenya nggak moist (lembut), tapi nggak bisa dibilang seret juga, kalo aku bilang "gampang ambyar". Jadi kuenya gampang rontok dan tiap aku makan remah-remahnya jatuh ke mana-mana. 

Sebenarnya lapisan-lapisan ini cukup ganggu si buat aku. Makannya jadi serba salah. Dia kan ukurannya gede, terus berlapis-lapis. Mau dimakan per lapis, ambyar. Mau digigit sedikit demi sedikit, kegedean. 

Buat aku, kue mamahke jogja ini fine, bolehlah dicoba. Rasanya enak, varian rasanya up to date, kekinian. But sorry to say, belum istimewa rasane kayak jargonnya, apalagi dengan harga segitu.  Ini menurutku lho yaa. Tapi karena yang punya artis, feelingku ya tep bakal rame. Itu yang beli sampai antri-antri begitu.

Update: 
Bulan lalu aku beli Mamahke Jogja rasa Tiramisu, dan enak juga. Aku cukup beruntung waktu ke sana antriannya normal dan varian rasanya lengkap. Kabarnya di waktu-waktu tertentu antriannya bisa sampai depan pintu masuk Tamansari, itupun kadang ada rasa yang habis dan harus nunggu. Tapi ada jasa titip kok kalau nggak mau repot antri.

Review Mamahke Jogja