Minggu, 21 Mei 2017

, ,

Review Mamahke Jogja, Oleh-oleh Kekinian dari Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo

Satu lagi oleh-oleh kekinian dari artis ibukota buka gerai di Jogja. Setelah 2016 lalu ada Jogja Scrummy dari Dude Harlino, bulan Mei ini ada Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo yang membuka Mamahke Jogja. 

Apa itu Mamahke Jogja? 

Jadi, Mamahke Jogja adalah bisnis kue dari Zaskia Adya Mecca dan Hanung Bramantyo. Cara membaca huruf e di Mamahke sama dengan e di kecap ya, bukan e di keluar. Bagi orang Jawa, mamah sendiri berarti kunyah. Begini kata mas Hanung tentang penamaan kue ini, 
"Tadinya ingin diberi nama mamah cake, tapi  supaya Jogjanya kerasa, diubah jadi Mamahke. Mamah bisa berarti ibu, jika dalam bahasa Jawa bisa berarti "makan". Ini lho ada kue, tulung dimamahke, tulung dimakan"

Konon kue ini adalah resep dari ibunda mas Hanung yang dimodifikasi dengan konsep kekinian. Mas Hanung dan keluarga memang asli dari Jogja, sehingga menjadi alasan tersendiri kenapa membuka bisnis kue di sini. Alasan lain ternyata cukup lucu. Awalnya mas Hanung ingin membuka warung tengkleng, tapi karena tengkleng di Jogja sudah banyak dan enak-enak, jadi beralih ke toko kue aja. Hehehe.

Lokasi 

Mamahke Jogja berlokasi di Jalan Taman KT I, di Selatan Tamansari. Gampang dicari kok, pinggir jalan persis. Tempatnya juga seru gitu, instagrammable. Disediakan spot-spot foto ikonik untuk pembeli bisa bernarsis ria.

Menu dan Harga

Ada 6 variasi rasa: chocolate, cheese, choco banana, tiramisu, red velvet, dan greentea. 
Harga: 55.000/box, 60.000/box untuk greentea dan cheese. Di setiap box berisi 10 potong kue. 

Mamahke Jogja rasa Double Choco

Mamahke Jogja rasa Choco Banana

Mamahke Jogja rasa Cheese

Mamahke Jogja rasa Red Velvet

Mamahke Jogja rasa Tiramisu


Mamahke Jogja rasa Greentea


Review
Sebagai penggemar dessert, aku suka deh ada pilihan kue baru. Awalnya udah penasaran gitu, bakal kayak gimana resep dari ibu mas Hanung, apa bakal vintage-vintage gimana gitu ala mommy. Ternyata kuenya justru kekinian abis gini. Tapi lucu sih.

Kemarin aku nyoba 3 varian rasa: greentea, red velvet dan choco banana. Enak semua. Tiap rasa bener-bener kerasa, misal red velvet ya ada rasa red velvetnya, yang choco banana ya kerasa banget pisangnya. Kan kadang ada tuh yang namanya apa, warnanya beda, tapi rasanya sama semua. Kalo di sini emang kerasa. Favoritku yang.... favorit semua, kekeke. Kayaknya red velvet, karena rasanya lucu, apalagi warnanya ngejreng banget. Tapi kata temen yg tiramisu enak banget. Tapi yang greentea juga enak. Laah. 

As you can see, jadi mamahke ini bentuknya berlapis-lapis: kue - puff pastry (yg crispy) - coklat - puff pastry lagi - kue - topping.  Di setiap varian rasa pasti ada coklatnya gitu. Nah tekstur kuenya nggak moist (lembut), tapi nggak bisa dibilang seret juga, kalo aku bilang "gampang ambyar". Jadi kuenya gampang rontok dan tiap aku makan remah-remahnya jatuh ke mana-mana. Opo aku sek amatir yo?.

Sebenarnya lapisan-lapisan ini cukup ganggu si buat aku. Makannya jadi serba salah. Dia kan ukurannya gede, terus berlapis-lapis. Mau dimakan per lapis, ambyar. Mau digigit sedikit demi sedikit, kegedean. Mending makannya ditaruh di piring kecil terus pake sendok biar remah-remahnya nggak jatuh. Nanti dikerubung semut, aw aw.

Buat aku, kue mamahke jogja ini fine, bolehlah dicoba. Rasanya enak, varian rasanya up to date, kekinian. But sorry to say, belum istimewa rasane kayak jargonnya, apalagi dengan harga segitu.  Ini menurutku lho yaa. Tapi karena yang punya artis, feelingku ya tep bakal rame. Itu yang beli sampai antri-antri begitu.


Review Mamahke Jogja

Rabu, 17 Mei 2017

,

Calon Mahasiswa, Kooliah, dan Fenomena Salah Jurusan




Bulan-bulan ini, menjadi waktu yang krusial bagi para calon mahasiswa. Terutama calon mahasiswa dari siswa-siswi SMA/SMK yang baru lulus tahun ini. Di akhir bulan April kemarin telah keluar hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Tentunya dari sekian banyak yang mendaftar, ada yang lolos, ada pula yang gagal. Namun tak selesai sampai di sana, bagi yang tidak lolos SNMPTN bisa mengikuti tahapan masuk PTN selanjutnya, yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). SBMPTN dilaksanakan pada pertengahan bulan Mei dan hasilnya akan diumumkan pada pertengahan bulan Juni. 

Bagaimana jika tidak lolos SBMPTN?. Masih banyak jalan menuju Roma, alias masih banyak cara yang bisa kita lakukan untuk bisa "masuk kuliah". Caranya yaitu dengan mengikuti Ujian Masuk yang diselenggarakan oleh masing-masing PTN, berpindah mendaftar ke PTS (Perguruan Tinggi Swasta), atau mempersiapkan diri untuk mengikuti SBMPTN di tahun berikutnya.

Di tengah-tengah kesibukan mempersiapkan diri untuk tes ujian masuk, ada yang sering dilupakan oleh para calon mahasiswa. Banyak calon mahasiswa yang justru lupa tidak mempersiapkan bagaimana studi yang akan dijalani setelah masuk kuliah nanti. Ada beberapa hal yang perlu diluruskan dan perlu diketahui oleh calon mahasiswa, seperti hal-hal berikut ini:

1. Pemikiran "Yang penting masuk Universitas Negeri. Jurusannya apa aja nggak masalah, yang penting keterima di negeri". 

Tak jarang masih ada yang memiliki pemikiran seperti di atas. Masuk ke Perguruan Tinggi Negeri seolah menjadi tujuan utama. Entah karena dorongan orang tua, merasa prestige-nya lebih tinggi, biayanya lebih murah, atau karena alasan yang lain. Padahal masuk ke kampus negeri itu nggak cukup. 

2. Hanya Tahu Nama Program Studi

Ada juga calon mahasiswa yang hanya mencari tahu nama jurusan atau program studi, tanpa mencari informasi lebih lanjut tentang studi yang diterima. Misalnya tahu ada program studi Teknik Sipil, tapi nggak tahu di prodi tersebut belajar apa. Karena ada "embel-embel" sipil dikira ada hubungannya dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Seriously, it happened to my friend. Padahal jauh sekali, karena PNS berhubungan dengan pemerintahan sedangkan kuliah di Teknik Sipil lebih ke belajar tentang arsitektur bangunan dan perencanaan kota.

3. Sekedar Cari Jurusan yang Dianggap Keren

Disadari atau nggak, tapi memang faktanya ada jurusan-jurusan yang dianggap keren dan ada jurusan yang dianggap sebaliknya. Misalnya coba kamu pilih, mau masuk jurusan Hubungan Internasional (HI) atau Peternakan?. Menurut kamu dari 2 jurusan tadi, mana yang termasuk jurusan keren dan mana yang nggak?. Pasti banyak yang setuju bahwa HI dirasa lebih keren daripada Peternakan. Padahal, ini sama sekali nggak benar. Tanpa peternakan, harga daging saat menjelang Lebaran akan terus tinggi lho karena pasokan yang nggak mencukupi.

Jadi sebenarnya apa sih yang penting dan benar buat calon mahasiswa? 

Ini persiapan-persiapan yang perlu kita lakukan sebelum melanjutkan studi:

1. Kenali Minat dan Bakat Dalam Diri Masing-Masing

Ini yang paling penting dan paling utama, kenali dulu minat dan bakat dalam diri sendiri. Ketika kamu tertarik dengan sesuatu, kamu akan merasa senang untuk mempelajarinya. Tapi sebaliknya, ketika kamu nggak suka, jadinya akan belajar dengan terpaksa dan justru nggak maksimal.

Kalau kamu minat dan berbakat dengan seni tari, ya kembangkan dengan masuk ke jurusan yang berhubungan dengan tari. Jangan paksakan diri untuk masuk ke Teknik Industri, apa hubungannya dengan tari?. 

2. Cari Tahu Tentang Program Studi yang Dituju Secara Lengkap 


Kamu tidak cukup hanya tahu daftar nama-nama program studi/jurusan lalu mengira-ira jurusan itu nantinya belajar tentang apa. Tapi kamu perlu tahu, jika masuk prodi A nanti akan mendapat mata kuliah tentang a, b, c, d. Berapa SKS yang perlu ditempuh, setelah lulus nanti akan mendapat gelar akademik apa, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, sama-sama berhubungan dengan komputer, tapi program studi Ilmu Komputer, Teknik Informatika, Sistem Informasi, Manajemen Informasi, dan bahkan Pendidikan Teknik Informatika, masing-masing memiliki perbedaan. Supaya tahu, maka cari informasi secara lengkap.

3. Cari Tahu Perguruan Tinggi Mana yang Memiliki Program Studi Tujuan Kamu

Perguruan Tinggi Negeri memang baik, tapi bukan berarti yang terbaik. Tentukan dulu program studi apa yang ingin kamu coba, lalu cari tahu perguruan tinggi mana saja yang memiliki program studi tersebut. Kalau kamu ingin menjadi dokter gigi, ya jangan masukkan UNY di list tujuan kamu karena di sini nggak ada jurusan Kedokteran Gigi. Selain itu, cari tahu juga akreditasi Perguruan Tinggi yang kamu tuju. Perguruan Tinggi yang berakreditasi A atau B tentu berbeda dengan Perguruan Tinggi yang tidak terakreditasi. Jangan sampai salah pilih dengan masuk ke kampus abal-abal.



Nah, untuk membantu kita agar tidak ikut terjerumus dalam fenomena "salah jurusan", kini telah hadir aplikasi Kooliah. Kooliah adalah mobile apps yang membantu kita untuk lebih mempersiapkan diri sebelum melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Di aplikasi Kooliah, kita bisa membaca dan mempelajari materi-materi di berbagai program studi yang disediakan dalam bentuk presentasi/video. Tidak hanya itu, kita juga dapat mengukur kemampuan dengan mengikuti quiz yang ada di bawah materi.



Dalam perkembangannya, Kooliah menyediakan fitur-fitur layanan seperti:

1. Discussion, yang bisa kita gunakan untuk berdiskusi dengan mahasiswa terbaik dari jurusan favorit kita.

2. Study Trial, yaitu fitur yang memberikan kesempatan untuk mencoba model perkuliah di jurusan favorit kita.

3. Scholarship, yaitu fitur yang membantu meningkatkan keahlian kita sehingga bisa mendapatkan dana dari lembaga penyedia beasiswa.

4. Study Needs, di fitur ini kita bisa menemukan berbagai layanan untuk meningkatkan perkembangan studi selama kuliah seperti konsultasi jurnal, konferensi, seminar, dan lain-lain.


Seru sih, jadi di Kooliah ini kita bisa makin tahu materi-materi mata kuliah di jurusan yang kita mau, tampilan materi menarik karena disajikan dalam bentuk slide presentasi dan video, lalu kita juga tertantang menjawab quiz yang disediakan dengan benar. Sangat pas untuk membantu mempersiapkan studi. Apalagi cara menggunakannya sangat mudah, cukup dengan mendaftar menggunakan email dan kita bisa langsung mengakses setiap materi di sana. Selain itu kita juga bisa request tentang materi-materi tertentu dengan mengisi di menu Request. Mudah dan seru!.

Kooliah, Mobile Apps yang Membantu Mempersiapkan Studi


Karena Kooliah adalah mobile apps, untuk menggunakannya kita cukup download di Play Store lalu memasangnya di smartphone kita. Berbicara tentang smartphone, Asus Zenfone 2 Laser ZE601 KL bisa menjadi smartphone pilihan dalam penunjang kegiatan belajar dan kuliah. Asus Zenfone 2 Laser ZE601 KL memiliki spesifikasi yang menjadi dambaan setiap calon mahasiswa, mahasiswa, bahkan setiap orang. Berikut ini spesifikasi dari Asus Zenfone 2 Laser ZE601 KL :

Spesifikasi Asus Zenfone 2 Laser ZE601

- Processor Octa Core Snapdragon 616 64bit
- RAM 2 GB
- Baterai 3000 mAh
- Kamera belakang 13 mp, kamera depan 5 mp
- Dual SIM
- Layar IPS 6.0 inch dengan perlindungan Gorilla Glass
- Mendukung jaringan 2G/3G/4G 
- Sistem operasi Android Lollipop,  

Dengan spesifikasi seperti di atas, smartphone Asus yang satu ini bisa bekerja dengan cepat namun konsumsi daya baterai tetap hemat. Dari sisi konektivitas internet, kita bisa memilih untuk menggunakan jaringan 2G, 3G, ataupun 4G, tentunya dengan dukungan kecepatan internet yang tinggi. Layar 6 inch dengan teknologi IPS membuat tampilan apapun di smartphone-mu menjadi lebih tajam, dan kita tidak perlu takut layar HP pecah karena telah dilengkapi dengan Gorilla Glass. Untuk kamera, tidak perlu diragukan lagi karena resolusi kamera yang tinggi dan telah tersedia fitur auto-fokus, geo-tagging, HDR, dll. 

Nah kan, Smartphone Asus Zenfone 2 Laser ZE601 KL ini idaman bangetttt ya.



Senin, 15 Mei 2017

,

Bersyukur Hari Senin Kerja, Bukan Cari Kerja. Kamu Lagi Cari Kerja? Klik Di Sini

Hari Senin.

Biasanya tiap Senin adaa aja yang update di sosmed dengan keluhan-keluhan tentang hari Senin. Yang harus masuk kerja lagi lah, yang ada kuliah pagi lah, topi buat upacara nggak ketemu lah, dll. Padahal,

Bersyukurlah yang hari Seninnya diisi dengan kerja, bukan cari kerja. 

Nggak ada kerjaan itu nggak selamanya bikin bahagia lho, malah kadang bikin stress enough juga. Apalagi kalo udah lama lulus, temen-temen udah pada sibuk ngantor, eh kitanya belum juga dapat panggilan.

Tapi selama kita berusaha, pasti ada jalan. Yang penting coba, coba, coba terus. Ditolak sebelas kali, usahanya dua belas kali. Pokoknya sampai berhasil. Tsah, ini sih gue lagi curhat.

Nah, teman aku ada yang kece banget ni. Dia nggak nyari kerja, tapi malah membuka kesempatan kerja. Ada @kangkikur, lulusan (Pendidikan) Teknik Sipil dan Perencanaan yang jago desain dan akhirnya buka start-up desain icon sendiri bernama "IniPagi Studio". Eh, bener nggak sih Kur?.

Sekarang Kang Kikur lagi nyari "partner" buat kerja bareng di @inipagi. Buat kamu yang minat, merasa ada potensi, atau apapun itu, cobain aja gih. Nih ya tak kasih bocoran, Kikur itu orangnya penakan kok.

Kalo mau tau lebih lanjut, nih info lowongan yang lebih lengkap.... Check it dot.

***


Assalamualaikum

INIPAGI mencari 1 orang ICON DESIGNER untuk bergabung meramaikan studio kami. Tugas utamanya adalah memproduksi icon set berkualitas tinggi dengan software pengolah vektor. Mari berkreasi, membuat karya, dan mewarnai dunia bersama.

Persyaratan:
- Laki-laki/ Perempuan (usia max 24 tahun pada 2017)
- Muslim
- Rajin sholat berjamaah di Masjid
- Tidak merokok
- Tidak sedang menempuh jalur pendidikan (Sudah Lulus)
- Menguasai Adobe Illustrator dengan baik
- Terbiasa bekerja dalam tim
- Kreatif dan asik buat ngobrol

Segera kirim CV dan Portfoliomu (max 5 MB dalam bentuk .zip) ke:

Email: info@inipagi.com
Subject: "ICON DESIGNER"
Deadline: 26 Mei 2017

NB:
- Fulltime
- Pekerjaan dilakukan on site/ di kantor
- Jam kerja setiap hari Senin-Jumat (08.00-15.00 WIB)
- Hardware dan Software kami sediakan
- Tersedia dribbble invitation bagi yang belum memiliki
- Mulai kerja awal Juni 2017
- Penempatan di Yogyakarta

Terima kasih 🙂

Wassalamualaikum

Kenali kami lebih dekat di
http://inipagi.com/

Sabtu, 13 Mei 2017

Belajar Blogging di Rumah Kreatif Jogja

Weekend kali ini aku ikut kelas blogging bersama Oom Yahya di Rumah Kreatif Jogja (RKJ). Sebenarnya aku baru dengar ada tempat bernama RKJ, lucu uga. Akhirnya cek Google Maps dan ketemu lokasinya ada di Sagan. Ternyata RKJ memang baru berdiri sejak 12 Januari 2017, makanya masih terasa asing. 

Dari sini aku jadi tahu ada lebih dari 500 rumah kreatif yang tersebar di seluruh Indonesia. Rumah Kreatif ini didirikan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertujuan untuk memberikan wadah bagi para penggiat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam hal pelatihan, manajemen dan pemasaran.  RKJ sendiri dikelola oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan menjadi satu-satunya center point di area Yogyakarta. Selama 4 bulan dibuka, RKJ telah memiliki banyak kegiatan, program dan tak pernah sepi pengunjung. Kegiatan "kelas blogging" ini, salah satu contohnya. 

Di RKJ, ada 3 zona yang bisa kita temui yaitu zona inspirasi, zona kreatif, dan zona produktif. Kelas blogging yang aku ikuti bertempat di zona kreatif. Tempatnya nyaman, dengan nuansa yang cozy abis. Kita bisa leluasa duduk lesehan sambil asik mengikuti materi yang diberikan. Fasilitas yang disediakan juga lengkap, ada proyektor, TV, AC, dan yang paling penting: colokan listrik!.



Di daftar hadir aku lihat ada 29 peserta terdaftar, beberapa udah aku kenal kayak Fiani, mas Priyo, bahkan panitianya ada Ibnu, staf di HIMANIKA dulu. Konyolnya, peserta lain pada bawa laptop gitu, tapi aku nggak bawa sendiri. Kata Fiani sih diSMS panitia suruh bawa laptop. Tapi pas aku cek SMS, nggak ada kata-kata suruh bawa laptop tuh. Di situ saya merasa bagaikan bawang putih. Heu, ngekk.

Pemateri kelas blogging yaitu Oom Yahya Kurniawan, gadget blogger yang tulisannya bisa kita baca di www.yahyakurniawan.net. Oom Yahya memberikan materi seputar blog dengan ringan. Kita diberi tips tentang SEO, teknik blogging menggunakan wordpress, dan motivasi untuk aktif update post di blog.

Nah postku kali ini sebenarnya adalah tugas nulis dari kelas blogging. Kita diberi tantangan untuk menulis dengan tema "Berkreasi di Rumah Kreatif Jogja". Jadi, jadi, menurut kalian tulisanku gimana?.  Boleh dong dikomen *wink*.



Jumat, 05 Mei 2017

, ,

Review Cultural Food Festival: Sahara Middle East, Ada Belly Dance nya!

Like I always say, aku tuh sering banget disangka keturunan Arab sama orang-orang yang baru ketemu. Entah kenapa, alasannya masih menjadi misteri. Mungkin karena mata aku yang "dalam" (istilah dari beauty blogger), jadi kesannya Arab. Padahal yaaa jauh lah, orang Arab kan mancung, putih, tinggi. Sesuatu yang nggak aku banget. Atau jangan-jangan aku keturunan kedelapan kalik ya.

Ngomong-ngomong soal Arab, Arab kan ada di Timur Tengah tuh. Nah hari Rabu (3/5) kemarin, ada Cultural Food Festival dengan tema Sahara Middle East di Swiss-Belhotel Yogyakarta. Seru gitu kayaknya. Aku penasaran makanan ala negara-negara Arab ada apa aja ya, biasanya cuma tahu Kebab sama nasi kebuli doang. Terus yang lebih seru, ada Belly Dance nya!. Dulu aku pernah punya boneka yang bisa nari-nari belly dance gitu, lucu kayaknya kalo bisa lihat langsung. Tanpa pikir panjang, aku pun segera daftar biar bisa ikutan. 

Invitation Culturan Buffet Dinner: Shara Middle East di Swiss-Belhotel Yogyakarta

Oh iya, bulan April kemarin aku juga ikut Cultural Food Festival di Swiss-Belhotel Yogyakarta. Tapi waktu itu temanya Oriental Fest Food, dan aku ikut yang edisi Korean (Baca juga: Kuliner All You Can Eat Edisi Korean Buffet). Jadi ini kali kedua aku ikutan. Seru sih, sekali aja nggak cukup.

Di undangan kan ditulis acara dari jam 18, tapi sebelum jam 18 aku udah sampai di hotel dan langsung ke Swiss-Cafe. Ternyata masih sepi gitu. Sambil nunggu pembukaan, aku bisa eksplore ke sana ke mari. Ngerencanain bakal ngambil makanan apa aja, pilih tempat duduk yang asik, selfie di segala sudut, wifi-an, nonton koki yang lagi masak di open kitchen sampai kokinya grogi, hoho. Random lah.


Tempat dudukku kemarin di dekat Open Kitchen. Di situ kita bisa lihat dapur tempat koki masak. Seru sih, jadi nggak bosen sambil makan bisa lihat para koki beraksi. Nggak enaknya, tiap ada orang yang keluar-masuk ke dapur, terdengar bunyi "tok tok" pintu yang ketutup gitu. Di awal-awal sih "it's okay", lama-lama bikin kezel juga. Sering yang keluar-masuk soalnya, jadi bunyi "tok-tok" mulu, kan gengges.

Jam 18.30 acara dimulai. Dipandu oleh MC, ada juga sambutan dari Pak Dedik Abdillah selaku General Manager, singkat tapi ramah. Kemudian, saatnya yang ditunggu-tunggu, pembukaan acara dengan Belly Dance. Waa, clap clap clap.









Seketika musik khas Arab diputar dan ada 2 penari cewek yang mulai menari dari lorong pintu masuk Swiss Cafe. Penarinya pakai baju yang menurutku kayak sari-nya orang India gitu. Mirip kayak boneka India yang aku punya dulu waktu kecil. Hihi. Ngeliat Belly Dance aku jadi kepikiran tentang bakar kalori perut. Tapi nggak tau deh kalo mas-mas yang liat jadi kepikiran apa. Heu.

Usai Belly Dance, langsung ke acara utama, apalagi kalau bukan.... makan!. Akhirnya... setelah serasa berjuta-juta tahun menunggu *lebay sih*. Dalam sekejap piringku udah langsung penuh.

Menu

Appetizer

Sebelumnya, aku mau jujur, bahwa sesungguhnya aku nggak tertarik sama appetizer jadi aku skip begitu aja. Nggak banyak yang aku dokumentasiin, bahkan nggak ada yang aku icipin. Huhu, maafkeun ya Chief. Tapi di sana udah disediain berbagai macam appetizer macam salad dan krim beraneka ragam ini. Sebenernya aku penasaran sama saus Balsamic, tapi ya itu tadi, nggak sempet buat aku cobain. Hehe.

Malfoof Salad

Salad dan Beraneka Saus Dressingnya

Main Course

Meja Main Course, lengkap dengan aneka sambal dan kerupuk

Karena ini temanya Timur Tengah, aku udah cukup kebayang sih pasti menunya bakal seputar daging, terutama daging kambing. Tapi nggak nyangka kalau dagingnya bisa diracik jadi berbagai varian menu yang belum pernah aku tau sebelumnya. Biasanya kalo makanan Timur Tengah kan identiknya nasi Kebuli, kambing guling, kebab, gitu-gitu, tapi ternyata ada banyak menu lain lho.

Shish Taouk
Shish Taouk. Menu ini di dalamnya ada daging ayam dibakar medium dan sayuran macam paprika, tomat ditusuk dengan lidi kayu kayak sate. Dagingnya empuk banget. Potongan sayurnya juga pas untuk dimakan dan berasa segar.

Fish Harrah

Fish Harrah, dari namanya aja udah ketahuan kalau ini dari ikan. Keliatannya enak ya, crispy di luar lembut di dalam, dengan saus yang segar. Tapi karena aku food combining dan menghindari makan daging darat (ayam, kambing, sapi) sekaligus laut di satu waktu, jadi aku nggak nyobain fish harrahnya karena udah ngambil makanan daging.


Kibbeh. Awalnya aku pikir ini ayam crispy. Pas aku cobain, ternyata ini adalah daging (entah sapi atau kambing) cincang yang dibentuk bulatan terus luarnya dikasih tepung biar crunchy. Asli, ini enak banget. Rasa dagingnya tu bisa pas banget gitu lho.


Talafel. Bentuk talafel ini mirip sama perkedel ya. Karena aku pecinta kentang, aku ambil satu dan nggak lupa aku kasih sedikit saus di atasnya. Ketika aku coba makan, eh ternyata teksturnya cukup keras, nggak empuk kayak perkedel. Isiannya ada kentang dan campuran daging kayaknya. Rasanya "strong" banget, pedes-pedes merica gitu. Emang harus dicombine sama saus putihnya deh biar rasanya lebih blend.

Babaghanous

Babaghanous. Aku nggak tau ini harusnya masuk di appetizer atau main course, tapi karena ada di meja main course jadi ya aku anggap ini main course aja. Hehe. Pas di awal dateng tadi, aku sempat ngobrol-ngobrol sama chiefnya. Nah pas ditanya makanan apa yang rekomended, chief langsung nunjukin babaghanous ini ke kita. 

Di meja ada semacam pangsit/keripik-atau-apalah-itu, terus di sampingnya ada krim-saus-bubur-entah-apa. Ternyata mereka berdua memang tercipta untuk bersama. Cara makannya, si pangsit ini dicocolin ke krimnya ini. Jadi semacam nachos tapi ala Timur Tengah. Uniknya, krimnya ini kan rasanya enak, aku pikir ini campuran tepung sama daging diblender apa gimana. Setelah abis, baru dikasih tau mbak Vera kalo ini dari terong. Lho???. Beneran deh nggak nyangka karena rasanya bukan rasa terong.



Tharid. Nah kalo tharid ini dari lihat aja udah langsung bisa ngebayangin rasanya ya. Iya, ini (semacam) semur kentang sama daging kambing. Enak. Dan lagi-lagi, dagingnya empukk banget.



Tufteh. Ini makanan misterius amat dah. Dari luar penampilannya amat menipu. Coba menurut kamu, ini apa?. Yang jelas bukan takoyaki, walaupun sama-sama bulat. Jadi ini tuh aslinya nasi yang dibalut sama daging yang entah dimasaknya gimana dan pake bumbu apa yang bikin rasanya endeus markendeus. Enakk banget. Ciyus.


Last but the best!!!. Batata Harrah. Ini menurutku main course paling favorit. Emang "cuma" kentang panggang, tapi rasanya tuh enak banget nget nget gitu. Berasa makan Chitato rasa sapi panggang tapi versi lembut. Beuh, kebayang kan enaknya.

Selain yang udah tersedia di buffet, ada juga menu yang fresh from the cook, masaknya secara live cooking oleh salah satu Chief. Malam ini menu live cookingnya yaitu Chicken Shawarma, atau aku taunya sih kebab.



Dessert


Meja Dessert



Pas aku dateng, ini belum dikasih papan nama. Tapi kata Pak Khun, ini Pistacchio Baklave. Jadi lapisan kulitnya pie crunchy gitu, terus isian di dalamnya kacang pistacchio yang udah ditumbuk lembut gitu. Favorit pertama. Biasanya kacang kan kalo dimakan bikin "seret" gitu, tapi aftertaste abis makan ini bener-bener moist kacangnya, nggak bikin buru-buru nyari air minum.


Aduuh, nggak perlu dijelasin deh kalo ini mah. Cheese cakenya tuh lembuuut banget. Enak, nggak enek, manisnya pas. terus di bawahnya ada lapisan kacangnya, kayaknya pistacchio juga. Saking enaknya, ini cake cepet banget abisnya. Pas aku ambil, tinggal setengah. Coba telat sedikit, mungkin udah ga kebagian. Btw, ambilnya dikit aja. Kalorinya tinggi, kata Pak Khun. Iya sih, secara... cheese cake pake kacang juga.


Tahini Bukeyes. Semua bagian dari Tahini Bukeyes bisa dimakan karena ini full coklat. Yang bentuk kerang itu bukan pajangan atau apa, itu tuh coklat. Wadah bulatan coklat-coklat yang kayak mika warna putih itu juga coklat. Coklat diwadahin, wadahnya juga coklat. Jadi.... makan aja semuanya. Hihihi.


Pisang Turki. Ini adalah nama makanan yang paling gampang diinget. Kekeke. Sayangnya aku nggak nyobain karena gede banget. Sepertinya enak. Btw, di Turki beneran ada pisang?. Aku ciyusan nggak tau ini.

Cookies

Bentuknya sih cuma buletin biasa, keras gitu macam kue kering. Tapi pas dicoba, lho kok dalemnya lembut. Lho kok enaknya pake banget. Kalo menurut aku, ini rasanya kayak kastengel tapi versi gede dan ada campuran kacang almond di kuenya. Enteng banget buat dicemil.


Pas pertama kali aku samperin meja dessert, "benda" satu ini letaknya di antara piring-piring gitu. Aku pikir kan cuma aksesoris pajangan aja kan. Setelah tak amatin, eeeh baru nyadar kalo ini full coklat juga. Ya amplop, mana tega makannya chief kalo coklat kok bentuknya cantik begini. Huhu.

*note: nggak semua makanan aku dokumentasikan

***

Sekitar jam 20 piring-piring mulai kosong, isinya udah pindah ke perut. Kenyaang, alhamdulillah. Karena all-u-can-eat, jadi kita bebas mau ambil makanan apa aja, sebanyak apa, dan bahkan mau nambah berapa kali, bebas sebebas-bebasnya. Makanya itu perlu kontrol diri. Nggak semua makanan perlu diambil. Kalo aku lebih suka ngambil sedikit-sedikit supaya bisa rata nyobain tiap menu. Perutku nggak muat banyak soalnya, hehe. Sesuaikan dengan kebutuhan yaa. Jangan lupa food combiningnya. (Tapi kalo urusan dessert, biasanya aku khilaf mulu nih, gimana dong?)
My plate full of main course

Dessert time! 


Dan... lagi-lagi, Cultural Dinnernya Swiss-Belhotel ini emang juara banget deh. Apalagi di sini nggak cuma menu makanannya yang sesuai tema (di mana tema kali ini temanya Timur Tengah), tapi semua konsepnya juga mendukung tema banget. Dekorasi meja menunya, hiburannya (Belly Dance tadi), dan ada juga petugas hotel yang pakai baju ala Timur Tengah.

Tapi apapun temanya, mau Korean, mau Timur Tengah, hiburan utamanya tetap... musik keroncong!. Hihihi. Lidah boleh udah sampai luar negeri, tapi Jogja tetap di hati.

Oh iya, aku kan penasaran ya, kenapa bulan ini dipilih tema Timur Tengah. Ternyata karena bulan ini udah memasuki bulan Ramadhan bagi umat muslim. Leh uga deh korelasinya. Swiss-Belhotel Yogyakarta selama Ramadhan juga udah menyiapkan paket khusus. Kan kalo puasa banyak tuh yang sering buka puasa bareng, hari Senin sama temen SMA, hari Selasa sama temen kuliah, hari Rabu sama temen kerja, hari Kamis sama temen arisan, dll. Cocok lah kalo buka puasanya ke SwissCafe di Swiss-Belhotel Yogyakarta aja.

Harga: 175.000/pax, buy 1 get 1 free.




Selasa, 02 Mei 2017

,

Obrolan Bareng Si Abang: Sistem Pendidikan Kita Kok Labil Ya

Hello...

Tanggal 2 Mei nih. Tau nggak hari ini hari apa?. 

Hari Selasa?
Cupu ah jawabannya. 

Apa? 
Nah iya, tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional. Gitu dong, baru jawaban oke .

Selamat Hardiknas yaa untuk seluruh insan pendidik dan terdidik di Indonesia. Semoga makin bertakwa, mandiri dan cendekia. Tsah. UNY banget dooong.

Ngomong-ngomong soal pendidikan, pagi ini pas banget aku sama si Abang ngobrolin tentang pendidikan. Jadi kita emang sering banget ngobrol ngalur-ngidul, ngomongin apa aja. Mulai dari gosip artis (iya, si Abang nggak kalah update kalo soal beginian), tempat makan yang lagi ada promo, masalah kerjaan, politik, fashion, ekonomi, bisnis, lifestyle, budaya, lengkap deh pokoknya. 

Nah pagi tadi ketika di jalan, aku sama Abang ketemu anak SMP yang juga lagi berangkat sekolah. Karena hari ini sedang berlangsung UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di SMP, dan aku jadi proktor di SMP 4 Ngaglik, akhirnya topik obrolan kita beralih jadi ngomongin UN dan kawan-kawannya.

Disma (D)
Abang (A)

D: Itu anak SMP di depan pasti anak kelas 3

A: Iyalah, kelas 3 kan ujian. Kelas 2 sama kelas 1 ngapain berangkat kalo libur.

D: Iya, enak tu liburnya 4 hari.

A: Dulu waktu aku SMP UNnya cuma 3 hari.

D: Curang tu, mulai angkatanku UNnya jadi 4 hari, ketambahan IPA. Angkatan pertama mulai ada UN IPA di SMP.

A: Haha, kalo pas aku SMK UNnya 4 hari, udah mulai ada paket A sama B.

D: Nah, itu curang juga tu. Masa' pas angkatanku jadi ada 5 paket, paket A sampai E. Tapi enaknya pas angkatanku, walaupun 5 paket tapi soalnya sama, cuma diacak aja. Kalo yang 2 paket soalnya beda kan ya. Bisa menimbulkan rasa ketikadilan tu. Kekeke

A: Paling bedanya cuma beda angka aja sih. Misal matematika, yang paket A suruh ngitung angka 5 sama 10, yang paket B angkanya 3 sama 6 gitu. Tapi kalo bahasa Indonesia emang soalnya beda.

D: Pendidikan kita mah labil. Tiap tahun sistemnya gonta-ganti mulu. Mbok ya kalau mau inovasi tuh materinya yang diubah, ngikuti update perkembangan IPTEK. Lah ini inovasi malah di sistem. Buat anak kok coba-coba. Mana dari dulu sampai sekarang belum juga punya sistem yang tetap

A: Maklum, kalau nggak gitu dikira Menterinya nggak kerja

D: Tapi kan pendidikan itu hasilnya baru kelihatan jangka panjang. Nggak cukup waktu setahun dua tahun buat tahu sistem pendidikan udah bisa dibilang berhasil atau belum.
Masa' pemerintah nggak kepikiran hal kayak gini sih. Atau sebenarnya kepikiran, tapi tetep bikin kebijakan baru demi kepentingan mereka sendiri?.

A: Kalau ada kebijakan baru, ganti sistem, kan nanti ada proyek-proyek. Pelatihan lah, pengadaan lah, dari situ kan nanti ada anggarannya. Tau sendiri kan kalo udah nyangkut anggaran.

D: ...

Yaah dan kemudian speechless sampai aku turun di depan pintu gerbang sekolah.

Apa cuma aku yang suka gemes sendiri sama kondisi dunia pendidikan kita?. Well, kebetulan aku sama Abang kan emang berkecimpung di dunia pendidikan ya, makanya agak aware. Kalo buat yang lain, menurut kalian gimana sih?.

Jaman Praktek Industri pas kuliah tahun 2013 itu kan aku magang di salah satu instansi yang berhubungan sama kependidikan juga (bukan dinas sih tapi). Waktu itu lagi gencar-gencarnya kebijakan Kurikulum 2013 (K13) tuh. Tempat magangku jadi salah satu pihak yang ditugasi menyelenggarakan pelatihan K13 ke guru-guru mapel sekolah. Karena acaranya termasuk besar, dan mereka kekurangan orang, akhirnya aku sama temen-temen juga dilibatkan jadi panitia. Selama 3 hari (lupa tepatnya berapa hari) kita ber-6 pencar bantuin kepanitiaan. Aku dapet tugas di Hotel Inna Garuda, temen-temen di tempat lain tapi masih sama di hotel juga. 3 hari 3 malam pelatihan di hotel dengan jumlah peserta besar dan fasilitas lengkap. Hmm iya sih, kebayang anggarannya pasti gede.

Okelah, emang K13 cukup banyak yang beda dari kurikulum 2006 jadi emang butuh sosialisasi lebih intens kalik ya. Walaupun sebenernya aku nggak sepakat sama K13 di bagian menghapus mata pelajaran komputer di sekolah (abis ini dibahas di bawah). But the point is, ini K13 kan udah mulai diterapin tuh, terus ada Pemilu, terus ganti Presiden, terus ganti menteri pendidikan, eh kebijakan K13nya ada perubahan lagi lho, bahkan beberapa sekolah balik pakai KTSP lagi. Penyesuaian katanya. Haiss, kata-kata pemanis.

Masih banyak lagi deh kebijakan-kebijakan pendidikan yang immature, in my sotoy opinion, of course. Misalnya

- Mata pelajaran komputer atau KKPI dihapus di sekolah. 

Alasannya karena penggunaan komputer sudah terintegrasi di mata pelajaran lain. 

Emang udah yakin pak kalau setiap guru dan siswa itu punya bekal yang cukup dalam menggunakan komputer?. 

Sekarang apa-apa kan udah computer-based ya. Bisa menggunakan komputer, ngetik di word, bikin presentasi di power point, ngitung di excel, tau cara browsing, begitu-begitu, menurut aku nggak cukup deh. At least generasi sekarang perlu paham komputer itu sebagai teknologi. 

Komputer itu apa sih?. 

Kenapa sih bentuk tiap komputer bisa beda-beda?. 

Gimana sih cara pakai komputer yang benar? Nyalain dan matiinnya, misal. Jujur ya, dulu waktu SMP, aku tuh pernah bingung kalau mau nyalain komputer. Di casing CPU kan banyak tombol tuh, ini biar nyala mana yang kudu aku pencet tombolnya?. Dan aku yakin nggak cuma aku aja yang ngerasain hal ini. Eh, atau emang cuma aku aja?.

Komputer tuh bahaya nggak sih? Bisa meledak nggak sih?. Serius, ada muridku, anak SMK (tapi bukan jurusan TKJ) yang takut nyalain komputer karena takut meledak. Dulu waktu aku sekolah, juga ada temenku yang takut salah pegang komputer karena takut komputernya rusak. Well, setiap benda pasti bisa rusak sih, tapi ketika kita paham konsepnya, aku yakin kita nggak gampang takut menghadapi komputer rusak.

Apa sih gunanya mouse?. Gimana sih cara kerja keyboard?. Ini kok monitornya nyala tapi nggak ada gambar, terus gimana?. Ini printernya kok nggak mau nyetak?. Ini flashdisk fungsinya buat apa?. Dan banyak pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang sering aku jumpai dari orang-orang yang nggak paham sama komputer itu tadi. 

Ah auk deh, emesh #kembalikanMapelKomputer #biarLulusanKomputerKayakGueBanyakKesempatanKerja #eh #namanyaJugaUsaha

 - Masa studi S1 dibatasi hanya 5 tahun

Ini jaman aku kuliah, adek angkatan yang tahun 2013 (atau 2014?) katanya pakai kurikulum yang beda, dan salah satu kebijakannya yaitu: masa studi S1 hanya 5 tahun, untuk dapat predikat Cumlaude masa lulus maksimal 4 tahun. Kebijakan ini beda dari kebijakan di angkatanku (angkatan 2011 kok, nggak tua-tua amat kan?), masa studi S1 sampai 7 tahun dan untuk dapat predikat Cumlaude masa lulus maksimal 5 tahun. 

Kalau nggak salah sih kebijakan ini dibatalkan. Atau enggak?. Kalau ada yang tau plis komen.

Terlepas dari jadi diterapin atau enggak, menurutku... emang kenapa sih pak disuruh cepet-cepet lulus kuliah?. Kayak bapak udah nyiapin lapangan kerja yang turah-turah aja buat sarjana. 

Oh iya, sarjana kan harapannya bisa bikin lapangan kerja ding ya. Tapi buat bikin lapangan kerja kan nggak cuma butuh nilai A aja pak, perlu membangun relasi, nyari pengalaman, dll. Kenapa sih pak buat kuliah dibatasi 5 tahun doang?. Buat sebagian orang, 5 tahun itu waktu yang singkat lho pak. Kalo dianya cuma kuliah pulang kuliah pulang macem saya pas jaman skripsi sih ya lama. Tapi kan beberapa mahasiswa beneran aktif organisasi, aktif ngejar prestasi lomba, aktif buka bisnis, dan aktif kegiatan lain. Nggak semua mahasiswa yang telat lulus itu karena males kuliah kok, bisa jadi karena mereka rajin di tempat lain (halah Disma, kata-kata pemanis juga).

Mencoba mencari segi positif masa studi 5 tahun, dan entah kenapa yang ketemu malah, "Biar akreditasi kampus jadi bagus kalik". Haduh pikiran-pikiran macam ini. Enyahlah kamu.

Mungkin masa studinya dipersingkat biar nggak membebani orang tua, biar segera mengabdi di kampung halaman, biar segera meni.... ti karir. Ya begitulah, mau nggak mau kita emang mending percaya kalau pemerintah sayang sama kita. Unch unch. 

Tapi sejujurnya, aku berharap kampus nggak menjadi sekedar tempat untuk mencetak sarjana, tapi rahim yang melahirkan insan-insan cendekia pewaris peradaban. *muntah pelangi*


- Kampus Pendidikan nggak lagi mengeluarkan Akta IV, sertifikat mengajar didapatkan melalui PPG

Pas jaman aku jadi pengurus di BEM FT nih, pas isu ini lagi hangat-hangatnya, bahkan sampai sekarang. Aku kan kuliahnya di UNY tuh, yang notabene adalah kampus pendidikan. Kalo kata orang awam, lulusan UNY bakalnya jadi guru. Semacam itu lah.

Ketika masa itu, aku pernah ngobrol sama dosen (serius, aku lupa sama siapa). Bapaknya bilang kalau sebenarnya Universitas nggak boleh menerbitkan akta IV sebagai sertifikat mengajar. Hal ini karena sekarang sudah ada PPG, sertifikat mengajar akan dikeluarkan oleh PPG. Jadi ceritanya guru ingin disamakan dengan dokter. Mahasiswa kedokteran kan setelah lulus harus magang dulu tuh sebelum bisa jadi dokter. Nah mahasiswa keguruan juga setelah lulus diarahkan buat ikut PPG dulu nih sebelum bisa jadi guru.

Masalahnya, kalo magang dokter cuma bisa diikuti sama mahasiswa kedokteran, kalo PPG ini terbuka buat semua lulusan, nggak cuma lulusan keguruan aja. La kalo gitu dari awal nggak usah ada kampus pendidikan aja pak, nggak perlu buka prodi kependidikan, semua dibikin prodi ilmu murni. Nggak usah ada Pendidikan Teknik Informatika, yang belajar ilmu TI sama belajar ilmu pendidikan. Dibikin aja semua Teknik Informatika kalo ujungnya semua lulusan sarjana bisa jadi guru.

Lagian kita kan di kampus udah PPL tuh, praktek ngajar. Kalau dianggap nggak perlu ya nggak usah aja sekalian. Daripada PPL kok cuma sebulan (adek kelas sih, pas aku 2,5 bulan). Itu mah kayak pindah main doang pak. Baru kenalan sama siswa, baru nyampein materi pendahuluan, eh udah ditarik lagi.

Tapi btw, aku masih dapet Akta IV sih, walaupun nggak tau ini bakal kepake apa nggak. Sekarang kan kebijakan yang lagi berjalan ada PPG-SM3T, sama PPG mandiri. Kita lihat deh, tahun depan ada kebijakan baru apa lagi.

- Kebijakan lain

Sebenernya cukup banyak sih kebijakan di bidang pendidikan. Yang aku tau secara singkat ya:

Dulu ada Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), sekarang udah nggak ada. Dan aku kasian sama saudaraku yang di UNY ngambil prodi Internasional, udah bayar lebih mahal, materi kuliah lebih susah, eh sekolah RSBI nggak ada lagi.

Full day school. Sekarang di Magelang dan Jawa Tengah, anak SMA cuma sekolah dari hari Senin sampai Sabtu. No comment sih kalo ini, aku nggak begitu tau soalnya. Cuma kepikiran ekstrakurikulernya, itu di sekolah trus masih ada ekskulnya atau semua ekskul digabung di hari Sabtu atau gimana? Beneran nggak tau.

Ujian Nasional nggak lagi dijadikan syarat kelulusan. Kelulusan siswa lebih ditentukan oleh nilai ujian sekolah (yang pastinya tiap sekolah pengen siswanya lulus jadi nilainya pasti bagus). Terus segala persiapan UNBK yang riweuh dari 5 bulan yang lalu ini buat apa ya?

Apa lagi ya... Itu dulu deh.

Setelah aku scroll ke atas, ternyata tulisan ini cukup panjang, kekeke. Padahal aslinya nggak niat nulis, cuma mumpung selo aja pas nunggu di ruang ujian nggak ngapa-ngapain. No hard feeling lho ya. Sesungguhnya semua tulisan di atas adalah bentuk sotoynya aku yang apalah-apalah ini. Kalau ada fakta yang salah, feel free buat dikoreksi.

Sekali lagi, 

Selamat Hari Pendidikan Nasional

02 Mei 2017

Source: Grup Proktor UNBK DIY


Rabu, 26 April 2017

,

Operasi Katarak Gratis dari Yayasan Dharmais, Dokter: "Jika Operasi Mandiri Biayanya Mencapai 10 Juta Lebih"


Perwakilan peserta Operasi Katarak dalam acara pembukaan

Katarak.

Sebelumnya aku hanya tahu bahwa katarak adalah nama salah satu penyakit mata. Aku tidak berminat untuk tahu lebih lanjut, sampai akhirnya Mbah Kakung, kakekku yang berusia 70an tahun, divonis menderita Katarak. Penglihatan mata kiri mbah Kakung saat itu sangat buruk, hampir tidak bisa melihat. Akhirnya mbah Kakung menjalani operasi Katarak pada tahun 2016 lalu dan kini penglihatan beliau membaik. Alhamdulillah.

Sejak itu aku semakin aware dengan penyakit Katarak. Bagaimana tidak, hampir saja mbah Kakung tidak bisa melihat karena penyakit yang satu ini jika tidak segera ditangani. Ternyata memang benar, katarak adalah penyebab utama kebutaan di dunia. Bahkan 50% kebutaan di Indonesia disebabkan karena katarak. Nah kan, bahaya.

Hingga akhirnya pada hari Minggu (23/4) kemarin aku mendapat kesempatan untuk ikut hadir di kegiatan Operasi Katarak Gratis. Tidak, tidak ada saudara yang akan menjalani operasi. Tapi aku punya sesuatu yang akan aku bagikan, semoga bisa bermanfaat.

Operasi Katarak

Rumah Sakit Hoslistika Medika Yogyakarta, tempat dilaksanakannya kegiatan Operasi Katarak
Operasi Katarak gratis Minggu pagi lalu, diselenggarakan oleh Yayasan Dharmais, bekerja sama dengan Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) dan Universitas Ahmad Dahlan. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Sakit Holistika Medika, Sleman, Yogyakarta.


dr. Albanza Muady, salah satu tim dokter penyelenggara dari PERDAMI


Aku juga sempat berbincang dengan dr. Albanza Muady, salah satu dokter yang menjadi tim penyelenggara operasi. Btw, dokternya masih muda, uhuk, eh fokus, fokus. Berdasarkan informasi dari masnya dokter Alba, ada lebih dari 170 daftar calon peserta, baik dari Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulonprogo bahkan dari kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lain. Namun, dari sekian banyak yang mendaftar, hanya 74 orang saja yang akan mengikuti operasi. Kenapa?.

Hal ini karena sebelum pelaksanaan operasi, dilakukan screening atau tes pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu kepada calon peserta. Dari hasil screening akan diketahui apakah calon peserta benar mengidap penyakit katarak atau tidak.

"Sakit pada mata kan tidak hanya disebabkan karena katarak. Ada pula yang menderita sakit mata, tapi bukan katarak. Karena itu hanya ada 74 peserta saja yang bisa mengikuti operasi", kata dokter.

Untuk kegiatan kali ini, ada 2 metode operasi yang dilakukan yaitu menggunakan jahitan dan tanpa jahitan (laser). Apa perbedaannya?.

Metode jahitan digunakan untuk katarak yang sudah matang. Operasi dengan metode ini membutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Metode tanpa jahitan (laser)  digunakan untuk katarak yang belum matang. Walaupun belum matang, tapi tetap bisa dilakukan operasi, apalagi jika sudah dirasa mengganggu oleh penderita. Waktu operasi dengan metode laser cukup singkat, yaitu hanya 10-15 menit. Lebih sebentar karena tidak perlu ada jahitan.

Suasana Ruang Operasi. Sumber: twitter @irfahudaya
Suasana ruang tunggu Operasi Katarak

Operasi Katarak dari Yayasan Dharmais ini gratis, peserta tidak dipungut biaya sepeserpun. Bahkan tidak hanya operasi, peserta juga akan mendapatkan fasilitas akomodasi (kaos, snack, menginap di rumah sakit,dll) dan juga pengawasan pasca operasi. Setelah operasi, peserta wajib melakukan kontrol untuk cek kondisi pada H+2, H+5 dan H+28.

Ketua PERDAMI Yogyakarta, bapak Dr. Agus Supartoto, SpM(k) sangat mengapresiasi program Operasi Katarak gratis dari Yayasan Dharmais. Program ini membantu program pemerintah yaitu Indonesia bebas buta katarak. Maka dokter Agus menghimbau bagi siapa saja yang menderita katarak agar tidak ragu untuk mengikuti kegiatan Operasi Katarak gratis ini.

"Jika operasi katarak sendiri di luar, biayanya bisa mencapai 12 juta rupiah, tapi kali ini gratis tanpa biaya apapun. Jangan sia-siakan kesempatan yang baik ini, ikut saja", kata dokter Agus saat sambutan.

Kegiatan Operasi Katarak gratis merupakan program tetap Yayasan Dharmais yang dimulai sejak tahun 1986 dan rutin diadakan setiap tahun sampai sekarang. Kegiatan ini terbuka bagi siapa saja, terutama penderita yang tidak mampu serta peserta tidak dibatasi kuota tertentu. "Semakin banyak yang ikut, semakin baik, akan kami tampung semua", begitu kata Bapak Indra Kartasasmita dalam kesempatan konferensi pers bersama Yayasan Dharmais, Sabtu (22/4).

Ibu Titek Soeharto memberikan obat tetes mata kepada peserta Operasi Katarak. Sumber: Instagram @hallomegh

Selain Operasi Katarak, di hari yang sama Yayasan Dharmais juga mengadakan Operasi Bibir Sumbing dan Langit-langit di Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB), Yogyakarta.

Poster Kegiatan Operasi Katarak

Poster Kegiatan Operasi Bibir Sumbing dan Langit-langit

Mengenal Yayasan Dharmais


Ibu Titiek Soeharto, Bapak Indra Kartasasmita, beserta jajaran pengurus Yayasan Dharmais
Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) merupakan yayasan di bidang sosial kemanusiaan yang berdiri di Jakarta sejak 8 Agustus 1975. Salah satu pendirinya yaitu Presiden RI kedua, bapak H. M. Soeharto, beserta bapak H. Sudharmono, dan bapak H. Bustanil Arifin. Yayasan ini masih aktif sampai sekarang. Sebagai pembina yaitu Putri dari bapak Soeharto, Ibu Hj. Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (Titiek Soeharto), dan sebagai Ketua yaitu bapak Indra Kartasasmita.

Mengusung visi dan misi "Memberikan bantuan di bidang sosial dan kemanusiaan", Yayasan Dharmais memiliki program-program yang mendukung visi dan misi tersebut. 

Untuk bidang sosial, program-programnya meliputi:
- Bantuan kepada panti asuhan
- Bantuan paket pakaian
- Pesantren singkat pelatihan usaha produktif
- Bantuan anak asuh, dan
- Perpustakaan yayasan.

Sedangkan untuk bidang kemanusiaan, Yayasan Dharmais menggerakkan program:
- Operasi katarak
- Operasi bibir sumbing dan langit-langit mulut
- Pengobatan Thalassemia
- Bank mata, dan
- Penanggulangan penyakit kusta

Tidak hanya itu, Yayasan Dharmais juga terbuka dalam memberikan bantuan di bidang lain, seperti:
- Bantuan operasional Puskesmas Seroja Bekasi
- Bantuan modal kerja bagi penderita cacat tubuh dan tuna netra
- Membangun rumah sederhana bagi Korps Cacad Veteran RI, dan masih banyak lagi.

Sekretariat Dharmais:
Gedung Granadi Lantai 5
Jl. HR. Rasuna Said Kav. 8-9
Kuningan - Jakarta Selatan 12950
Telp. 021-2522745 Fax. 021. 2521625
http://www.yayasandharmais.or.id


Senin, 24 April 2017

[Daily] Gimana Rasanya Lihat Teman-Teman Udah Pada Nikah Duluan?

Telah tiba masanya. Di mana undangan bergambar love berdatangan. 

Telah tiba waktunya. Di mana teman posting foto resepsi nikah. 

Dan telah tiba zamannya. Di mana akun sosmed teman nggak lagi dipenuhi foto selfie, tapi diganti dengan foto bayi. Iya, bayi lucu imut menggemaskan anak mereka.





Mari kita list... 

Teman sekelasku di SD, emm udah ada yang nikah, dan udah punya baby. Teman sekelas di SMP udah ada juga. Teman sekelas di SMK udah banyak. Tinggal teman sekelas pas kuliah yang belum. Tapi kayaknya sih bentar lagi ada yang ngirim undangan. Ehem, ehem *lirik temen sebelah* *bukan gue*.

Temen di BEM FT ada 1 yang udah nikah. Temen KKN udah 4 yang nikah (dan ini agak surprise sebenarnya). Kakak angkatan di HIMA udah banyak yang gendong baby. Kurang temen-temen PH HIMANIKA 2013 yang belum karena masih banyak yang jomblo *atau backstreet? (Uhuk Iim, uhuk Adit). 

Guru-guru di kantor pun udah nikah semua, kecuali beberapa yang belum(coba absen: aku, Rangga, bu Jannah, mas Subhan, siapa lagi?). Bahkan muridku di SMK juga ada yang udah nikah dan punya anak. Hohoho *ketawa getir*.

Sebagai seorang perempuan berumur 23 tahun, rasanya wajar jika lingkungan pergaulanku kini adalah orang-orang yang sudah berkeluarga. Secara usia boleh nikah di Indonesia kan mulai dari 17 tahun kan ya. Eh iya nggak sih? Atau 18? Atau berapa?. Kayaknya dulu mas A, anaknya ustad AI yang mau nikah tapi belum cukup umur terus harus ikut sidang dulu dan dibolehin nikah. Jadi sebenernya usia berapa aja bisa ya?. Eh ini nggak niat gosip, cuma info. 

Dulu aku pernah dapat nasehat, perempuan itu baiknya nikah mulai umur 20 tahun, kalau laki-laki mulai umur 25 tahun. Mungkin karena pertimbangan, makin berumur makin matang tingkat emosinya. 

Walaupun orang bilang, "tua itu pasti, dewasa itu pilihan", tapi buat aku ada benarnya juga dewasa itu berbanding lurus sama umur. Aku sewaktu umur 17 tahun jauh lebih alay daripada sekarang. Padahal sekarang juga masih alay. Kekeke, uwoo uwoo. Alaynya termasuk dalam hal emosi, tanggung jawab, konsistensi, persistensi, resistansi, apalah-apalah. 

Tapi aku menghargai teman-teman yang sudah menikah, usia berapa pun itu. Usia 18 tahun kalau mereka sudah siap, ya monggo. Usia 28 tahun kalau merasa belum siap ya disiapin dulu. Usia 23 tahun, kalau merasa sudah siap, tapi kok belum ada calon, ya nyari dulu gih

Sekarang aku sudah mulai terbiasa lihat postingan di sosmed tentang kehidupan rumah tangga mereka. Eh, maksudnya tentang persiapan pernikahan, atau lagi liburan sama pasangan ke mana, atau gimana rasanya waktu hamil, atau progress bayinya udah bisa apa, dll. Banyak lah ceritanya. 

Jadi, gimana rasanya lihat teman-teman sudah pada nikah duluan? 

Sincerely, I'm happy for them, a lot. Ya pastinya ikutan seneng dong lihat temen kita seneng. 

Kadang ada baper juga. "Ih gelo ya, temen-temen udah pada punya anak tapi akunya masih kayak anak-anak". Tapi abis itu jadi terpacu, "Oh iya berarti mulai sekarang aku kudu mulai dewasa".

Rasanya juga seru. Aku jadi bisa belajar banyak dari mereka. Bisa tanya-tanya apa aja yang perlu disiapin sebelum nikah. Bisa tau, wah ini mbak sama masnya LDR tapi langgeng terus, o gini to caranya. Bisa tau, mas sama mbak ini selalu kompak di manapun dan kapanpun, o itu rahasianya. Bisa nyimak cara parenting ke anak-anak, dll. 

Kamu kapan (nyusul nikah)? 




Ini nih, pertanyaan yang seolah nggak boleh ketinggalan ditanyakan ke orang-orang semacam aku yang umur segini masih single. Entah nanya dalam rangka basa-basi, nggak ada topik lain, atau seriusan mereka pengen tahu. 

Jadi gini, aku percaya kita punya zona waktu masing-masing. We have our own Greenwich Meredian Time. Nanti juga akan tiba masanya aku jawab pertanyaan itu, bahkan tanpa kalian tanya. Kalem aja, kalem. 

Yang suka nanya begitu, emang udah nyiapin kado apa?